Keesokan siangnya, temanku, Sharon Lismana, meneleponku dengan suara terdengar sedikit ragu, "Alicia, Anderson baru saja menghubungiku. Katanya, semalam kamu meninggalkan barang di klub itu. Dia bilang kamu nggak menjawab teleponnya, jadi dia memintaku menyampaikan pesan ini kepadamu."Aku terdiam selama beberapa detik.Sharon segera menambahkan, "Aku akan menemanimu ke sana. Kita langsung pergi setelah ambil barang."Namun, begitu tiba di sana, aku baru menyadari bahwa ruang VIP itu sudah dipenuhi orang.Ekspresi Sharon juga berubah. Dia merendahkan suaranya dan mengumpat pelan, "Dia cuma bilang ada hadiahmu di sini. Dia nggak bilang kalau ada begitu banyak orang."Anderson duduk di kursi utama, sementara Miranda duduk di sampingnya. Mata Miranda kelihatan merah, seolah telah menangis sepanjang malam.Di atas meja terletak sebuah kue kecil. Lilin-lilinnya sudah dinyalakan. Begitu melihatku, Miranda langsung berdiri. "Alicia, maafkan aku." Miranda membawa gelas minuman dan berjalan me
Leer más