Share

Bab 4

Author: Betshi
Pada hari pindahan, langit terus mendung. Aku berdiri di ruang tamu yang sudah kosong, menatap kardus-kardus yang telah dikemas dan ditumpuk satu per satu di dekat dinding.

Di dinding masih terlihat bekas samar tempat bingkai foto pernah tergantung. Seperti bekas luka yang tertinggal setelah sebuah hubungan dikoyak paksa.

Saat pemilik rumah meneleponku, nada bicaranya juga terdengar serbasalah. "Bu Alicia, Pak Anderson baru saja menghubungiku. Katanya kamu hanya sedang merajuk, jadi dia memintaku untuk nggak memproses pengakhiran sewa dulu."

Aku memasukkan kunci cadangan terakhir ke dalam amplop. "Proses saja sesuai kontrak."

Pemilik rumah sempat merasa ragu. "Katanya kamu akan menyesal."

Aku tersenyum tipis. "Itu kata dia."

Setelah mengakhiri telepon, bel pintu berbunyi. Dari layar, tampak Anderson sedang berdiri di luar pintu. Dia mengenakan jaket hitam yang dipakainya semalam, dengan tatapan muram.

Anderson tidak menekan bel untuk kedua kalinya. Dia hanya menundukkan kepala dan mengirimiku pesan.

[ Buka pintunya. ]

[ Jangan menakut-nakutiku dengan pindahan rumah. ]

[ Alicia, kesabaranku ada batasnya. ]

Aku tidak membalas.

Sepuluh menit kemudian, dia mengirim pesan lagi.

[ Jadi, sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku? ]

Aku menatap kalimat itu dan tiba-tiba teringat saat pertama kali mengalah tiga tahun lalu. Saat itu, aku juga pernah bertanya kepadanya, "Anderson, sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?"

Waktu itu, dia menjawab, "Kamu cukup jangan begitu sensitif saja."

Ternyata, terkadang ada kata-kata yang akan kembali kepada orang yang pernah mengucapkannya. Hanya saja, kini orang yang terluka sudah berganti.

Saat petugas jasa pindahan tiba, Anderson masih berdiri di lorong. Ketika melihat pintu terbuka, hal pertama yang dia lihat bukanlah aku, melainkan ruangan kosong di belakangku.

Rak sepatu di dekat pintu masuk sudah kosong. Meja kecil di ruang tamu juga sudah kosong. Bahkan tanaman sirih gading di dekat jendela, yang pernah dianggapnya norak, kini sudah kupeluk.

Akhirnya raut wajah Anderson berubah. "Apa kamu serius?"

Aku mengangguk. "Iya."

Anderson mengulurkan tangan untuk meraih koperku. "Kamu mau ke mana?"

Aku mundur setengah langkah. "Itu bukan urusanmu."

Anderson menggertakkan giginya. "Alicia, kamu jangan keterlaluan."

"Semalam, aku sudah mengantar Miranda pulang. Aku juga nggak ikut voting lagi bersama mereka. Apa lagi yang kamu inginkan dariku?"

Aku menatapnya. Ternyata, baginya, berhenti menyakitiku saja sudah dianggap sebagai bentuk kompensasi.

Aku mengeluarkan ponsel lamaku dari dalam tas. Di dalamnya hanya ada satu halaman yang tersisa.

Sebuah voting yang baru saja kubuat.

[ Apakah Anderson layak membuat Alicia berubah pikiran dan kembali padanya? ]

[ Pilihan pertama: Tidak layak. ]

[ Pilihan kedua: Tidak akan kembali. ]

Jumlah pemilih: 1 orang.

Aku memilih opsi kedua.

Begitu melihat layar dengan jelas, raut wajah Anderson langsung berubah muram. "Kamu kekanak-kanakan ya?"

"Aku hanya menirumu." Aku menyodorkan ponsel itu ke hadapannya. "Selama tiga tahun ini, kamu membiarkan mereka memilih untukmu sebanyak 1.276 kali. Anderson, sekarang giliranku untuk memilih."

Suara Anderson berubah dingin. "Berani-beraninya kamu."

Aku menyelipkan sebuah amplop ke saku jaketnya. Di dalamnya ada kunci, gelang yang pernah dia berikan kepadaku, serta tiket film lama yang telah kusobek menjadi dua. "Aku memilih untuk mendepakmu dari hidupku."

Anderson tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku erat-erat. "Alicia!"

Petugas jasa pindahan yang berdiri di dekat pintu lift menghentikan langkahnya dan menoleh dengan canggung ke arah kami.

Aku menunduk menatap tangan Anderson yang masih mencengkeram pergelangan tanganku. Dulu, setiap kali dia menahanku seperti ini, hatiku pasti akan luluh. Meskipun rasa sakit masih mengganjal di tenggorokan, bahkan meskipun air mataku belum kering, aku tetap akan berpikir, apakah akhirnya dia bersedia menahanku agar tidak pergi.

Namun, kali ini, yang kurasakan hanyalah sakit. Aku melepaskan jari-jarinya satu per satu. "Jangan sentuh aku."

Anderson tertegun. Jari-jarinya membeku di udara, seolah baru pertama kali menyadari bahwa aku juga bisa menolaknya.

Tepat saat itu, layar ponselnya menyala. Sebuah pesan dari Miranda masuk. Dia mengirimkan sebuah tangkapan layar. Ada sebuah voting baru.

[ Coba tebak, berapa hari lagi Alicia akan kembali kali ini? ]

[ Tiga hari. ]

[ Satu minggu. ]

[ Paling lama setengah bulan. ]

Foto profil Miranda terpampang di bawah pilihan "Tiga hari".

Jari Anderson mendadak kaku. Dia refleks mematikan layar ponselnya, tetapi semuanya sudah terlambat.

Saat itu, sisa rasa nyeri di dadaku akhirnya mereda. Aku meletakkan ponsel lamaku ke telapak tangannya.

"Kali ini, silakan kalian bertaruh sepuasnya. Aku nggak akan mengumumkan hasilnya lagi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 10

    Enam bulan kemudian, aku menjalin hubungan dengan Gerald. Tidak ada pernyataan cinta yang megah. Tidak ada pula teman-teman yang menjadi saksi.Hari itu, kami berteduh dari hujan di sebuah toko buku bekas. Gerald memilih sebuah buku kumpulan puisi yang kusukai, lalu menuliskan satu kalimat di halaman judulnya.[ Teruntuk Alicia, semoga kamu selamanya nggak perlu lagi dibandingkan dengan siapa pun. ]Aku menatap tulisan itu dalam waktu yang sangat lama, kemudian aku menggenggam tangannya. "Gerald, sekarang aku bisa menerimamu."Gerald terdiam selama beberapa detik. Perlahan, matanya berbinar. "Kalau begitu, bolehkah aku memelukmu?"Aku mengangguk.Dia memelukku dengan begitu lembut, seolah takut pelukannya akan melukaiku.Beberapa waktu kemudian, aku membuka sebuah studio kecil untuk merangkai bunga. Nama toko itu adalah "Tak Ikut Voting".Saat pertama kali melihat papan namanya, Sharon tertawa cukup lama. "Nama ini keras kepala sekali."Aku memasukkan seikat bunga platycodon putih ke d

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 9

    Anderson menghilang selama setengah bulan. Aku mengira dia akhirnya mengerti bagaimana bersikap dengan pantas.Ketika hari ulang tahun Miranda, seorang teman mengunggah foto kumpul bersama mereka. Tidak terlihat Anderson dalam foto itu.Miranda duduk di depan kue ulang tahunnya, lalu tersenyum dengan paksa.Seseorang berkomentar di bawah foto itu. [ Apa tahun ini Anderson nggak menemanimu menonton pemutaran perdana film? ]Miranda tidak membalas.Malam harinya, dia mengirimiku sebuah pesan suara."Alicia, aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu. Aku hanya sudah terbiasa dengan Anderson yang selalu berada di sisiku. Kamu tiba-tiba membuatnya berubah. Aku pun merasa takut."Suaranya lembut, terkendali, dan terdengar penuh kepiluan. Namun, tidak satu kalimat pun yang benar-benar mengakui kesalahannya. Sebaliknya, setiap kata justru mengingatkanku bahwa Miranda pernah menjadi prioritas Anderson, sementara aku sendiri tidak pernah mendapat tempat yang sama.Setelah mendengarkan pesan sua

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 8

    Anderson datang menemuiku pada suatu senja setelah hujan reda. Aku baru saja keluar dari toko bunga. Belakangan ini, aku mengikuti kelas merangkai bunga di dekat sana. Aku belum bisa menjadikannya karier. Aku hanya ingin menemukan sesuatu yang benar-benar menjadi milikku sendiri.Gerald membantuku membawa bunga-bunga itu hingga ke pintu masuk. Begitu melihat Anderson, dia menghentikan langkahnya. "Apa perlu aku tetap di sini?"Aku menoleh ke arah Anderson. Dia berdiri di bawah lampu jalan, dengan salah satu bahunya basah kuyup. Sebuah kantong kertas tergenggam di tangannya.Aku menggeleng. "Nggak perlu."Gerald tidak banyak bertanya. Dia hanya menyerahkan payungnya kepadaku. "Kalau begitu, aku tunggu kamu di mobil."Setelah Gerald pergi, Anderson baru berkata, "Dia memperlakukanmu dengan begitu baik."Aku tidak membalasnya.Anderson menyerahkan kantong kertas itu kepadaku. Di dalamnya terdapat tumpukan hasil voting yang sudah dicetak. Ada beberapa bagian dilingkari dengan tinta merah.

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 7

    Anderson mulai menyelidiki semua voting itu. Bukan karena tiba-tiba menyadari kesalahannya, melainkan karena dia tak sanggup menerima kenyataan yang baru diketahuinya.Dia ingin membuktikan bahwa semua tangkapan layar itu hanyalah candaan di antara teman-teman. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak seburuk yang kukatakan.Namun, semakin jauh dia menelusurinya, semakin buruk pula raut wajahnya. Sebagian besar voting itu dibuat oleh Miranda.Miranda selalu melontarkan pertanyaan di grup pada saat yang paling tepat. Baru saja aku bertanya kepada Anderson apakah dia bisa mengumumkan hubungan kami secara terbuka, Miranda langsung membuat voting. [ Apakah berpacaran akan memengaruhi hubungan pertemanan? ]Baru saja aku mengatakan bahwa aku tidak ingin Anderson mengantar Miranda pulang, Miranda langsung membuat voting. [ Apakah berbahaya bagi teman masa kecil perempuan untuk naik taksi sendirian pada malam hari? ]Baru saja mataku memerah karena masalah kursi penumpang depan, Miranda lang

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 6

    Sebulan kemudian, Anderson bertemu denganku di pesta pertunangan seorang teman.Aku duduk di dekat jendela. Rambutku telah dipotong sedikit lebih pendek. Di sampingku, seorang pria membantuku menyampirkan mantel di sandaran kursi. Gerakannya begitu alami, tanpa sedikit pun melewati batas. Namun, justru sikapnya yang sederhana itu terasa lebih menyakitkan bagi Anderson daripada kemesraan yang terang-terangan.Saat memperkenalkan pria itu, temanku berbicara dengan hati-hati, "Ini Gerald Cartin, teman kuliah Alicia. Dia baru saja kembali dari luar negeri. Waktu ulang tahun Alicia sebelumnya, Sharon tiba-tiba memasukkan Gerald ke grup. Katanya, dia ingin meminta bantuan Gerald untuk memesan buket bunga."Tatapan Anderson terhenti.Gerald mengulurkan tangan kepadanya. "Pak Anderson."Anderson tidak menyambut uluran tangannya. Tatapannya tertuju pada wajahku. "Apa kamu ganti nomor telepon?"Aku mengangkat pandanganku. "Iya.""Kenapa kamu nggak beri tahu aku?""Setelah putus, aku nggak perlu

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 5

    Anderson berdiri lama di bawah gedung itu. Awalnya, yang dia rasakan hanyalah kemarahan. Dia marah karena aku mempermalukannya di depan petugas jasa pindahan, terlebih karena aku mengembalikan kunci dan gelang itu sekaligus. Yang lebih membuatnya marah adalah ucapanku, "Aku memilih untuk mendepakmu."Selama tiga tahun terakhir, setiap kali kami bertengkar, Anderson tidak perlu mengejarku terlalu jauh. Aku akan lebih dulu mengirim pesan.[ Anderson, kita jangan seperti ini ya? ][ Aku bukan bermaksud memaksamu memilihku. ]Setiap kali membaca pesan-pesan itu, Anderson akan merasa semakin tenang. Selama aku masih mengirim pesan, itu berarti aku masih belum benar-benar pergi.Namun, kali ini, ruang obrolan kami benar-benar kosong. Aku tidak mengalah. Anderson pun meneleponku. Panggilan pertama, tidak ada yang mengangkat. Panggilan kedua, ponselku tidak aktif. Pada panggilan ketiga, sistem memberi tahu bahwa nomor yang dituju sedang sibuk. Pada saat ini, barulah Anderson menyadari bahwa ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status