Share

Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi
Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi
Author: Betshi

Bab 1

Author: Betshi
Ruang VIP itu mendadak hening selama beberapa detik.

Tangan Anderson masih berada di atas kepalaku.

Miranda duluan tertawa, seolah baru saja mendengar lelucon ringan. "Alicia, jangan begitu, dong. Hari ini hari ulang tahunmu."

Anderson menarik tangannya kembali, lalu mengernyit. "Alicia Winara, semua orang ada di sini. Jangan langsung cemberut hanya karena kalah."

Dulu, setiap kali Anderson memanggil nama lengkapku, aku pasti akan langsung menundukkan kepala. Aku takut dia marah, takut teman-temannya meledek kami, dan takut pada akhirnya semua orang akan menganggapku terlalu membesar-besarkan masalah.

Namun, kali ini, aku hanya mencabut satu per satu lilin di atas kue ulang tahunku. "Yang memalukan bukan aku."

Miranda segera menarik ujung lengan baju Anderson. "Anderson, bagaimana kalau lupakan saja? Aku nggak jadi nonton film saja."

Meskipun berkata seperti itu, dia justru menggenggam tiket di tangannya erat-erat.

Teman-teman mereka yang lain langsung bersorak.

"Hasil voting sudah keluar, mana bisa ada pengecualian."

"Kak, yang lapang dada, dong. Besok juga masih bisa merayakannya lagi."

Anderson melirik jam tangannya. Filmnya akan mulai 20 menit lagi. Setelah terdiam sejenak, dia mengambil jaketnya. "Aku antar dia ke sana. Kalau kamu masih mau merayakan ulang tahunmu, tunggu aku di sini. Jangan terus membuatku harus menenangkan kalian berdua."

Aku mengangkat pandangan menatapnya. "Sudah kubilang, nggak perlu dirayakan lagi."

Seolah tidak mendengar ucapanku, Anderson langsung melewatiku.

Miranda mengikuti langkah Anderson. Saat melewatiku, dia menghela napas pelan. "Alicia, kamu tahu sendiri dia paling benci dipaksa untuk memilih."

Begitu pintu tertutup, musik di ruang VIP kembali terdengar. Voting di layar besar belum ditutup. Pilihan teman masa kecil mendapat 17 suara, sedangkan pilihan pacar hanya mendapat satu suara. Angka satu di bagian bawah layar seolah menjadi satu-satunya sisa harga diriku.

Ponselku bergetar. Suara baru kembali muncul di grup teman-teman mereka. Kali ini, bukan lagi polling anonim.

[ Coba tebak, berapa menit lagi Alicia akan mengejar untuk meminta maaf? ]

Sepuluh menit.

Setengah jam.

Besok pagi.

Miranda memilih opsi sepuluh menit.

Seseorang tertawa, lalu ikut memilih opsi yang sama.

[ Jangan terlalu meremehkan dia. Lima menit saja sudah cukup. ]

[ Dia nggak tega dengan Anderson. ]

Anderson tidak ikut memilih. Namun, dia juga tidak berusaha menghentikan mereka.

Di grup itu, tiba-tiba seseorang bertanya.

[ Apa suara voting pacar itu dipilih sendiri oleh Alicia? ]

Miranda membalas dengan emoji tertawa sambil menutup mulut.

[ Kalau bukan dia, memangnya siapa lagi yang bakal memilih dirinya? ]

Aku menatap kalimat itu. Perlahan, ujung-ujung jariku terasa dingin.

Ternyata, mereka bahkan tidak percaya satu-satunya voting itu berasal dari orang lain.

Aku keluar dari grup. Mahkota ulang tahunku masih tergeletak di atas meja. Potongan kertas berwarna emas itu basah oleh minuman hingga lembek. Aku mengambil tas, lalu berbalik dan pergi.

Seseorang berseru dari belakang, "Kak, serius mau pergi?"

Aku tidak menoleh.

Lorong itu begitu panjang. Dinding kaca memantulkan bayanganku. Gaun putih, mata merah, dan tangan kosong. Aku seperti badut yang akhirnya tidak sanggup melanjutkan pertunjukannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 10

    Enam bulan kemudian, aku menjalin hubungan dengan Gerald. Tidak ada pernyataan cinta yang megah. Tidak ada pula teman-teman yang menjadi saksi.Hari itu, kami berteduh dari hujan di sebuah toko buku bekas. Gerald memilih sebuah buku kumpulan puisi yang kusukai, lalu menuliskan satu kalimat di halaman judulnya.[ Teruntuk Alicia, semoga kamu selamanya nggak perlu lagi dibandingkan dengan siapa pun. ]Aku menatap tulisan itu dalam waktu yang sangat lama, kemudian aku menggenggam tangannya. "Gerald, sekarang aku bisa menerimamu."Gerald terdiam selama beberapa detik. Perlahan, matanya berbinar. "Kalau begitu, bolehkah aku memelukmu?"Aku mengangguk.Dia memelukku dengan begitu lembut, seolah takut pelukannya akan melukaiku.Beberapa waktu kemudian, aku membuka sebuah studio kecil untuk merangkai bunga. Nama toko itu adalah "Tak Ikut Voting".Saat pertama kali melihat papan namanya, Sharon tertawa cukup lama. "Nama ini keras kepala sekali."Aku memasukkan seikat bunga platycodon putih ke d

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 9

    Anderson menghilang selama setengah bulan. Aku mengira dia akhirnya mengerti bagaimana bersikap dengan pantas.Ketika hari ulang tahun Miranda, seorang teman mengunggah foto kumpul bersama mereka. Tidak terlihat Anderson dalam foto itu.Miranda duduk di depan kue ulang tahunnya, lalu tersenyum dengan paksa.Seseorang berkomentar di bawah foto itu. [ Apa tahun ini Anderson nggak menemanimu menonton pemutaran perdana film? ]Miranda tidak membalas.Malam harinya, dia mengirimiku sebuah pesan suara."Alicia, aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu. Aku hanya sudah terbiasa dengan Anderson yang selalu berada di sisiku. Kamu tiba-tiba membuatnya berubah. Aku pun merasa takut."Suaranya lembut, terkendali, dan terdengar penuh kepiluan. Namun, tidak satu kalimat pun yang benar-benar mengakui kesalahannya. Sebaliknya, setiap kata justru mengingatkanku bahwa Miranda pernah menjadi prioritas Anderson, sementara aku sendiri tidak pernah mendapat tempat yang sama.Setelah mendengarkan pesan sua

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 8

    Anderson datang menemuiku pada suatu senja setelah hujan reda. Aku baru saja keluar dari toko bunga. Belakangan ini, aku mengikuti kelas merangkai bunga di dekat sana. Aku belum bisa menjadikannya karier. Aku hanya ingin menemukan sesuatu yang benar-benar menjadi milikku sendiri.Gerald membantuku membawa bunga-bunga itu hingga ke pintu masuk. Begitu melihat Anderson, dia menghentikan langkahnya. "Apa perlu aku tetap di sini?"Aku menoleh ke arah Anderson. Dia berdiri di bawah lampu jalan, dengan salah satu bahunya basah kuyup. Sebuah kantong kertas tergenggam di tangannya.Aku menggeleng. "Nggak perlu."Gerald tidak banyak bertanya. Dia hanya menyerahkan payungnya kepadaku. "Kalau begitu, aku tunggu kamu di mobil."Setelah Gerald pergi, Anderson baru berkata, "Dia memperlakukanmu dengan begitu baik."Aku tidak membalasnya.Anderson menyerahkan kantong kertas itu kepadaku. Di dalamnya terdapat tumpukan hasil voting yang sudah dicetak. Ada beberapa bagian dilingkari dengan tinta merah.

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 7

    Anderson mulai menyelidiki semua voting itu. Bukan karena tiba-tiba menyadari kesalahannya, melainkan karena dia tak sanggup menerima kenyataan yang baru diketahuinya.Dia ingin membuktikan bahwa semua tangkapan layar itu hanyalah candaan di antara teman-teman. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak seburuk yang kukatakan.Namun, semakin jauh dia menelusurinya, semakin buruk pula raut wajahnya. Sebagian besar voting itu dibuat oleh Miranda.Miranda selalu melontarkan pertanyaan di grup pada saat yang paling tepat. Baru saja aku bertanya kepada Anderson apakah dia bisa mengumumkan hubungan kami secara terbuka, Miranda langsung membuat voting. [ Apakah berpacaran akan memengaruhi hubungan pertemanan? ]Baru saja aku mengatakan bahwa aku tidak ingin Anderson mengantar Miranda pulang, Miranda langsung membuat voting. [ Apakah berbahaya bagi teman masa kecil perempuan untuk naik taksi sendirian pada malam hari? ]Baru saja mataku memerah karena masalah kursi penumpang depan, Miranda lang

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 6

    Sebulan kemudian, Anderson bertemu denganku di pesta pertunangan seorang teman.Aku duduk di dekat jendela. Rambutku telah dipotong sedikit lebih pendek. Di sampingku, seorang pria membantuku menyampirkan mantel di sandaran kursi. Gerakannya begitu alami, tanpa sedikit pun melewati batas. Namun, justru sikapnya yang sederhana itu terasa lebih menyakitkan bagi Anderson daripada kemesraan yang terang-terangan.Saat memperkenalkan pria itu, temanku berbicara dengan hati-hati, "Ini Gerald Cartin, teman kuliah Alicia. Dia baru saja kembali dari luar negeri. Waktu ulang tahun Alicia sebelumnya, Sharon tiba-tiba memasukkan Gerald ke grup. Katanya, dia ingin meminta bantuan Gerald untuk memesan buket bunga."Tatapan Anderson terhenti.Gerald mengulurkan tangan kepadanya. "Pak Anderson."Anderson tidak menyambut uluran tangannya. Tatapannya tertuju pada wajahku. "Apa kamu ganti nomor telepon?"Aku mengangkat pandanganku. "Iya.""Kenapa kamu nggak beri tahu aku?""Setelah putus, aku nggak perlu

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 5

    Anderson berdiri lama di bawah gedung itu. Awalnya, yang dia rasakan hanyalah kemarahan. Dia marah karena aku mempermalukannya di depan petugas jasa pindahan, terlebih karena aku mengembalikan kunci dan gelang itu sekaligus. Yang lebih membuatnya marah adalah ucapanku, "Aku memilih untuk mendepakmu."Selama tiga tahun terakhir, setiap kali kami bertengkar, Anderson tidak perlu mengejarku terlalu jauh. Aku akan lebih dulu mengirim pesan.[ Anderson, kita jangan seperti ini ya? ][ Aku bukan bermaksud memaksamu memilihku. ]Setiap kali membaca pesan-pesan itu, Anderson akan merasa semakin tenang. Selama aku masih mengirim pesan, itu berarti aku masih belum benar-benar pergi.Namun, kali ini, ruang obrolan kami benar-benar kosong. Aku tidak mengalah. Anderson pun meneleponku. Panggilan pertama, tidak ada yang mengangkat. Panggilan kedua, ponselku tidak aktif. Pada panggilan ketiga, sistem memberi tahu bahwa nomor yang dituju sedang sibuk. Pada saat ini, barulah Anderson menyadari bahwa ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status