Share

Bab 3

Author: Betshi
Keesokan siangnya, temanku, Sharon Lismana, meneleponku dengan suara terdengar sedikit ragu, "Alicia, Anderson baru saja menghubungiku. Katanya, semalam kamu meninggalkan barang di klub itu. Dia bilang kamu nggak menjawab teleponnya, jadi dia memintaku menyampaikan pesan ini kepadamu."

Aku terdiam selama beberapa detik.

Sharon segera menambahkan, "Aku akan menemanimu ke sana. Kita langsung pergi setelah ambil barang."

Namun, begitu tiba di sana, aku baru menyadari bahwa ruang VIP itu sudah dipenuhi orang.

Ekspresi Sharon juga berubah. Dia merendahkan suaranya dan mengumpat pelan, "Dia cuma bilang ada hadiahmu di sini. Dia nggak bilang kalau ada begitu banyak orang."

Anderson duduk di kursi utama, sementara Miranda duduk di sampingnya. Mata Miranda kelihatan merah, seolah telah menangis sepanjang malam.

Di atas meja terletak sebuah kue kecil. Lilin-lilinnya sudah dinyalakan. Begitu melihatku, Miranda langsung berdiri.

"Alicia, maafkan aku." Miranda membawa gelas minuman dan berjalan menghampiriku. Suaranya bergetar. "Semalam itu salahku. Nggak seharusnya aku bercanda soal tiket film. Jangan sampai kamu putus dengan Anderson hanya gara-gara aku ya?"

Anderson mengangkat kepala dan menatapku. "Mimi sudah meminta maaf. Jangan terus jual mahal. Semua orang ingin menyelesaikan masalah ini baik-baik."

Begitu selesai berbicara, layar besar menyala.

Seseorang tertawa sambil mengangkat ponselnya. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita pakai cara lama?"

Pertanyaan voting pun muncul di layar.

[ Haruskah Alicia bersulang untuk Miranda sebagai tanda resmi bahwa mereka sudah berdamai? ]

Hitung mundurnya bahkan belum selesai, tetapi hasil voting sudah jelas berpihak pada Miranda.

Pilihan "seharusnya" sebanyak 18 suara, sedangkan tidak ada suara untuk pilihan "tidak seharusnya"

Seolah-olah hasilnya sudah ditentukan sejak awal.

Miranda menggigit bibirnya. "Jangan begitu, nanti Alicia merasa nggak nyaman."

Anderson mendorong gelas minuman ke hadapanku. "Minum segelas, lalu lupakan semuanya."

Aku menunduk menatap gelas itu. Permukaan minuman beriak, memantulkan wajahku.

Selama tiga tahun ini, aku sudah terlalu sering minum seperti ini. Aku melakukan semua itu demi menjaga suasana tetap menyenangkan, mencairkan kecanggungan, menunjukkan bahwa aku bisa berlapang dada, dan membuat Anderson berhenti mengernyit.

Aku mengangkat gelas itu.

Ekspresi Anderson menjadi lebih lembut.

Miranda juga diam-diam mengembuskan napas lega.

Namun detik berikutnya, aku menuangkan alkohol di dalam gelas ke dalam ember es di sampingku. Bunyi dentingan es menggema di ruang VIP itu.

Semua orang tertegun.

Aku meletakkan gelas kosong kembali di atas meja. "Aku nggak akan minum. Aku juga nggak akan berpura-pura sudah berdamai dengan kalian. Kalian nggak perlu repot-repot memberitahuku bahwa semuanya sudah dilupakan."

Wajah Anderson seketika menjadi muram. "Alicia, apa kamu harus bersikap seperti ini?"

"Memangnya ada apa denganku?" Aku menatapnya. "Kalian membuat voting, memaksaku bersulang, memaksaku berlapang dada, bahkan memaksaku mengakui bahwa aku nggak merasa kesal. Pada akhirnya, kalian malah menyalahkanku karena menganggapku nggak tahu diri?"

Air mata Miranda menetes. "Aku hanya ingin menjalin hubungan baik denganmu." Dia berbalik hendak berjalan pergi. "Anderson, sebaiknya aku pergi saja. Jangan sampai Alicia semakin membenciku."

Anderson refleks berdiri untuk menopangnya. Gerakannya begitu cepat hingga dia sendiri tidak menyadarinya.

Namun, aku melihatnya dengan sangat jelas. Tidak perlu melakukan voting lagi. Gerak-geriknya sudah berkali-kali menunjukkan siapa yang sebenarnya dia pilih.

Sharon menarik tanganku dan bertanya dengan pelan, "Apa kita pergi saja?"

Aku mengangguk. Baru saja sampai di pintu, Anderson menyusul dan langsung mencengkeram pergelangan tanganku. "Hari ini, kamu harus menjelaskan semuanya sampai tuntas."

Aku melepaskan tangannya. "Semuanya sudah sangat jelas. Aku mau putus, dia minta maaf, lalu kalian lanjutkan seperti biasa."

Matanya menyiratkan amarah yang tertahan. "Aku belum menyetujuinya."

Aku tertawa. "Jadi, putus juga harus lewat voting?"

Tepat saat itu, ponselku bergetar. Ada polling baru yang dikirim ke grup.

[ Coba tebak, apa Alicia akan berubah pikiran malam ini? ]

[ Kembali. ]

[ Pasti kembali. ]

Hanya ada dua pilihan, tidak ada pilihan ketiga.

Aku menyodorkan ponselku ke hadapan Anderson. "Lihatlah. Bahkan soal apa aku akan kembali atau nggak, juga diatur oleh mereka."

Raut wajah Anderson berubah.

Miranda berdiri di belakangnya dan memanggilnya dengan suara pelan, "Anderson, jangan bertengkar dengan Alicia hanya gara-gara aku."

Anderson tidak mengejarku. Setidaknya, tidak pada saat itu.

Aku melangkah keluar dari klub itu. Langit tampak mendung.

Perusahaan pindahan mengirimkan pesan konfirmasi ke ponselku.

[ Bu Alicia, besok kami akan tiba tepat pada pukul tiga sore. ]

Aku membalas dengan satu kata.

[ Oke. ]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 10

    Enam bulan kemudian, aku menjalin hubungan dengan Gerald. Tidak ada pernyataan cinta yang megah. Tidak ada pula teman-teman yang menjadi saksi.Hari itu, kami berteduh dari hujan di sebuah toko buku bekas. Gerald memilih sebuah buku kumpulan puisi yang kusukai, lalu menuliskan satu kalimat di halaman judulnya.[ Teruntuk Alicia, semoga kamu selamanya nggak perlu lagi dibandingkan dengan siapa pun. ]Aku menatap tulisan itu dalam waktu yang sangat lama, kemudian aku menggenggam tangannya. "Gerald, sekarang aku bisa menerimamu."Gerald terdiam selama beberapa detik. Perlahan, matanya berbinar. "Kalau begitu, bolehkah aku memelukmu?"Aku mengangguk.Dia memelukku dengan begitu lembut, seolah takut pelukannya akan melukaiku.Beberapa waktu kemudian, aku membuka sebuah studio kecil untuk merangkai bunga. Nama toko itu adalah "Tak Ikut Voting".Saat pertama kali melihat papan namanya, Sharon tertawa cukup lama. "Nama ini keras kepala sekali."Aku memasukkan seikat bunga platycodon putih ke d

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 9

    Anderson menghilang selama setengah bulan. Aku mengira dia akhirnya mengerti bagaimana bersikap dengan pantas.Ketika hari ulang tahun Miranda, seorang teman mengunggah foto kumpul bersama mereka. Tidak terlihat Anderson dalam foto itu.Miranda duduk di depan kue ulang tahunnya, lalu tersenyum dengan paksa.Seseorang berkomentar di bawah foto itu. [ Apa tahun ini Anderson nggak menemanimu menonton pemutaran perdana film? ]Miranda tidak membalas.Malam harinya, dia mengirimiku sebuah pesan suara."Alicia, aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu. Aku hanya sudah terbiasa dengan Anderson yang selalu berada di sisiku. Kamu tiba-tiba membuatnya berubah. Aku pun merasa takut."Suaranya lembut, terkendali, dan terdengar penuh kepiluan. Namun, tidak satu kalimat pun yang benar-benar mengakui kesalahannya. Sebaliknya, setiap kata justru mengingatkanku bahwa Miranda pernah menjadi prioritas Anderson, sementara aku sendiri tidak pernah mendapat tempat yang sama.Setelah mendengarkan pesan sua

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 8

    Anderson datang menemuiku pada suatu senja setelah hujan reda. Aku baru saja keluar dari toko bunga. Belakangan ini, aku mengikuti kelas merangkai bunga di dekat sana. Aku belum bisa menjadikannya karier. Aku hanya ingin menemukan sesuatu yang benar-benar menjadi milikku sendiri.Gerald membantuku membawa bunga-bunga itu hingga ke pintu masuk. Begitu melihat Anderson, dia menghentikan langkahnya. "Apa perlu aku tetap di sini?"Aku menoleh ke arah Anderson. Dia berdiri di bawah lampu jalan, dengan salah satu bahunya basah kuyup. Sebuah kantong kertas tergenggam di tangannya.Aku menggeleng. "Nggak perlu."Gerald tidak banyak bertanya. Dia hanya menyerahkan payungnya kepadaku. "Kalau begitu, aku tunggu kamu di mobil."Setelah Gerald pergi, Anderson baru berkata, "Dia memperlakukanmu dengan begitu baik."Aku tidak membalasnya.Anderson menyerahkan kantong kertas itu kepadaku. Di dalamnya terdapat tumpukan hasil voting yang sudah dicetak. Ada beberapa bagian dilingkari dengan tinta merah.

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 7

    Anderson mulai menyelidiki semua voting itu. Bukan karena tiba-tiba menyadari kesalahannya, melainkan karena dia tak sanggup menerima kenyataan yang baru diketahuinya.Dia ingin membuktikan bahwa semua tangkapan layar itu hanyalah candaan di antara teman-teman. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak seburuk yang kukatakan.Namun, semakin jauh dia menelusurinya, semakin buruk pula raut wajahnya. Sebagian besar voting itu dibuat oleh Miranda.Miranda selalu melontarkan pertanyaan di grup pada saat yang paling tepat. Baru saja aku bertanya kepada Anderson apakah dia bisa mengumumkan hubungan kami secara terbuka, Miranda langsung membuat voting. [ Apakah berpacaran akan memengaruhi hubungan pertemanan? ]Baru saja aku mengatakan bahwa aku tidak ingin Anderson mengantar Miranda pulang, Miranda langsung membuat voting. [ Apakah berbahaya bagi teman masa kecil perempuan untuk naik taksi sendirian pada malam hari? ]Baru saja mataku memerah karena masalah kursi penumpang depan, Miranda lang

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 6

    Sebulan kemudian, Anderson bertemu denganku di pesta pertunangan seorang teman.Aku duduk di dekat jendela. Rambutku telah dipotong sedikit lebih pendek. Di sampingku, seorang pria membantuku menyampirkan mantel di sandaran kursi. Gerakannya begitu alami, tanpa sedikit pun melewati batas. Namun, justru sikapnya yang sederhana itu terasa lebih menyakitkan bagi Anderson daripada kemesraan yang terang-terangan.Saat memperkenalkan pria itu, temanku berbicara dengan hati-hati, "Ini Gerald Cartin, teman kuliah Alicia. Dia baru saja kembali dari luar negeri. Waktu ulang tahun Alicia sebelumnya, Sharon tiba-tiba memasukkan Gerald ke grup. Katanya, dia ingin meminta bantuan Gerald untuk memesan buket bunga."Tatapan Anderson terhenti.Gerald mengulurkan tangan kepadanya. "Pak Anderson."Anderson tidak menyambut uluran tangannya. Tatapannya tertuju pada wajahku. "Apa kamu ganti nomor telepon?"Aku mengangkat pandanganku. "Iya.""Kenapa kamu nggak beri tahu aku?""Setelah putus, aku nggak perlu

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 5

    Anderson berdiri lama di bawah gedung itu. Awalnya, yang dia rasakan hanyalah kemarahan. Dia marah karena aku mempermalukannya di depan petugas jasa pindahan, terlebih karena aku mengembalikan kunci dan gelang itu sekaligus. Yang lebih membuatnya marah adalah ucapanku, "Aku memilih untuk mendepakmu."Selama tiga tahun terakhir, setiap kali kami bertengkar, Anderson tidak perlu mengejarku terlalu jauh. Aku akan lebih dulu mengirim pesan.[ Anderson, kita jangan seperti ini ya? ][ Aku bukan bermaksud memaksamu memilihku. ]Setiap kali membaca pesan-pesan itu, Anderson akan merasa semakin tenang. Selama aku masih mengirim pesan, itu berarti aku masih belum benar-benar pergi.Namun, kali ini, ruang obrolan kami benar-benar kosong. Aku tidak mengalah. Anderson pun meneleponku. Panggilan pertama, tidak ada yang mengangkat. Panggilan kedua, ponselku tidak aktif. Pada panggilan ketiga, sistem memberi tahu bahwa nomor yang dituju sedang sibuk. Pada saat ini, barulah Anderson menyadari bahwa ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status