共有

Bab 2

作者: Betshi
Anderson baru pulang pukul satu dini hari.

Aku sedang membereskan barang-barang miliknya yang selama ini ditinggalkan di rumahku. Selama tiga tahun berpacaran, jejak keberadaannya hampir memenuhi setiap sudut rumah.

Sepatu olahraganya di dekat pintu masuk, alat cukurnya di kamar mandi, korek apinya terselip di celah sofa. Bahkan bantal sofa yang kubeli pun sudah kuganti dengan warna abu-abu kesukaannya.

Saat bunyi kunci pintu terdengar, aku baru saja memasukkan buku terakhir ke dalam kardus. Anderson berdiri di dekat pintu masuk. Hawa malam dan aroma parfum samar melekat padanya. Itu aroma parfum yang biasa dipakai Miranda.

Begitu melihat kardus-kardus itu, wajahnya langsung berubah muram. "Kamu pakai cara seperti ini lagi?"

Aku menarik selotip hingga terlepas. "Besok, suruh orang datang untuk mengambilnya."

Anderson berjalan kemari, lalu menahan tutup kardus. "Alicia, aku sudah mengalah demi kamu soal ulang tahun. Kamu mau merajuk sampai kapan lagi?"

Aku mengangkat kepala untuk menatapnya. "Aku nggak sedang merajuk. Aku sedang membereskan barang."

Anderson tertawa kesal. "Hanya karena aku menemani Miranda nonton film di bioskop, kamu malah mau minta putus? Bukannya kamu lihat sendiri, itu hasil voting semua orang."

Jari-jariku terhenti. "Jadi, menurutmu, kamu nggak bersalah?"

Anderson mengernyit. "Aku hanya mengikuti aturan."

Lagi-lagi aturan.

Tiga tahun lalu, saat pertama kali mengadakan voting, dia juga menggunakan dua kata itu. Hari itu, dia berjanji akan mengumumkan hubungan kami kepada publik. Namun, Miranda justru membuat voting di grup.

[ Kalau Anderson mengumumkan hubungannya sekarang, apakah itu akan memengaruhi hubungan kita semua? ]

Pilihan "iya" mendapat 15 suara, sedangkan "tidak" hanya mendapat dua suara.

Setelah melihat hasilnya, Anderson mengusap kepalaku. "Diumumkan nanti juga sama saja. Semua orang merasa sekarang belum waktunya."

Aku telah menunggunya selama tiga bulan. Sampai hari ulang tahun Miranda, dia mengunggah sembilan foto sekaligus. Foto pertama adalah foto dirinya bersama Miranda. Setelah itu, ada malam Tahun Baru, kursi penumpang depan mobilnya, hari jadi, hingga potongan kue pertama.

Berkali-kali aku dijadikan pilihan, lalu berkali-kali pula dia menyingkirkanku.

Aku membuka ponsel lamaku, lalu membuka sebuah folder. Itu adalah ponsel cadanganku. Di dalamnya tersimpan tangkapan layar selama tiga tahun terakhir, jumlahnya mencapai 276 lembar.

Anderson tertegun sejenak. "Buat apa kamu menyimpan semua ini?"

Aku memutar layar ponsel ke arahnya. "Karena aku takut suatu hari nanti hatiku luluh. Aku juga takut lupa dengan alasan kenapa aku harus pergi."

Wajah Anderson langsung menegang. "Alicia, belakangan ini ucapanmu semakin keterlaluan."

"Apa iya keterlaluan?" Aku tersenyum tipis. "Dibandingkan dengan kalian yang berkali-kali membuatku melihat perubahan perolehan suara, aku masih terbilang cukup menjaga sikap."

Anderson memalingkan wajah. Sesaat kemudian, dia berkata pelan, "Dulu, kamu nggak pernah mempermasalahkan hal-hal seperti ini."

"Dulu, aku pikir suatu saat nanti, kamu pasti akan memilihku, setidaknya sekali."

Anderson terdiam.

Aku mendorong kardus hingga berada tepat di dekat kakinya. "Satu suara untuk pacar malam ini, bukan aku yang memilihnya."

Anderson mengangkat pandangan, seolah baru saja mendengar sesuatu yang konyol. "Siapa lagi kalau bukan kamu?"

Aku tidak menjawab karena aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa saat hitung mundur dimulai, kedua tanganku terus berada di sisi tubuhku, tanpa menyentuh layar ponsel sedikit pun.

Mungkin karena sedikit harga diri yang masih tersisa, membuatku tidak sanggup lagi memohon agar seseorang memilihku di hadapan semua orang.

Anderson menatapku dalam waktu begitu lama, lalu tiba-tiba menendang kardus itu. "Oke. Kalau mau beres-beres, bereskan sekalian sampai tuntas."

Tepat saat itu, layar ponselnya menyala. Miranda mengirimnya pesan.

[ Anderson, Alicia sudah nggak marah lagi, ‘kan? Bagaimana kalau besok aku mentraktirnya makan dan meminta maaf secara langsung? ]

Anderson tidak berusaha menyembunyikan ponselnya dariku dan langsung membalas.

[ Dia masih ngambek. Kita bicarakan besok lagi. ]

Ketika melihat kata-kata itu, aku tiba-tiba merasa sangat konyol. Ternyata di mata Anderson, aku bukan sedang sedih dan juga kecewa, melainkan sedang mengambek.

Aku membungkuk untuk menegakkan kardus itu kembali, lalu merekatkannya kembali dengan selotip.

"Anderson, kita putus saja."

Anderson sedang membelakangiku. Setelah terdiam cukup lama, dia tertawa sinis. "Kamu sudah berkali-kali mengatakannya. Memangnya kapan kamu benar-benar pergi?"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 10

    Enam bulan kemudian, aku menjalin hubungan dengan Gerald. Tidak ada pernyataan cinta yang megah. Tidak ada pula teman-teman yang menjadi saksi.Hari itu, kami berteduh dari hujan di sebuah toko buku bekas. Gerald memilih sebuah buku kumpulan puisi yang kusukai, lalu menuliskan satu kalimat di halaman judulnya.[ Teruntuk Alicia, semoga kamu selamanya nggak perlu lagi dibandingkan dengan siapa pun. ]Aku menatap tulisan itu dalam waktu yang sangat lama, kemudian aku menggenggam tangannya. "Gerald, sekarang aku bisa menerimamu."Gerald terdiam selama beberapa detik. Perlahan, matanya berbinar. "Kalau begitu, bolehkah aku memelukmu?"Aku mengangguk.Dia memelukku dengan begitu lembut, seolah takut pelukannya akan melukaiku.Beberapa waktu kemudian, aku membuka sebuah studio kecil untuk merangkai bunga. Nama toko itu adalah "Tak Ikut Voting".Saat pertama kali melihat papan namanya, Sharon tertawa cukup lama. "Nama ini keras kepala sekali."Aku memasukkan seikat bunga platycodon putih ke d

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 9

    Anderson menghilang selama setengah bulan. Aku mengira dia akhirnya mengerti bagaimana bersikap dengan pantas.Ketika hari ulang tahun Miranda, seorang teman mengunggah foto kumpul bersama mereka. Tidak terlihat Anderson dalam foto itu.Miranda duduk di depan kue ulang tahunnya, lalu tersenyum dengan paksa.Seseorang berkomentar di bawah foto itu. [ Apa tahun ini Anderson nggak menemanimu menonton pemutaran perdana film? ]Miranda tidak membalas.Malam harinya, dia mengirimiku sebuah pesan suara."Alicia, aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu. Aku hanya sudah terbiasa dengan Anderson yang selalu berada di sisiku. Kamu tiba-tiba membuatnya berubah. Aku pun merasa takut."Suaranya lembut, terkendali, dan terdengar penuh kepiluan. Namun, tidak satu kalimat pun yang benar-benar mengakui kesalahannya. Sebaliknya, setiap kata justru mengingatkanku bahwa Miranda pernah menjadi prioritas Anderson, sementara aku sendiri tidak pernah mendapat tempat yang sama.Setelah mendengarkan pesan sua

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 8

    Anderson datang menemuiku pada suatu senja setelah hujan reda. Aku baru saja keluar dari toko bunga. Belakangan ini, aku mengikuti kelas merangkai bunga di dekat sana. Aku belum bisa menjadikannya karier. Aku hanya ingin menemukan sesuatu yang benar-benar menjadi milikku sendiri.Gerald membantuku membawa bunga-bunga itu hingga ke pintu masuk. Begitu melihat Anderson, dia menghentikan langkahnya. "Apa perlu aku tetap di sini?"Aku menoleh ke arah Anderson. Dia berdiri di bawah lampu jalan, dengan salah satu bahunya basah kuyup. Sebuah kantong kertas tergenggam di tangannya.Aku menggeleng. "Nggak perlu."Gerald tidak banyak bertanya. Dia hanya menyerahkan payungnya kepadaku. "Kalau begitu, aku tunggu kamu di mobil."Setelah Gerald pergi, Anderson baru berkata, "Dia memperlakukanmu dengan begitu baik."Aku tidak membalasnya.Anderson menyerahkan kantong kertas itu kepadaku. Di dalamnya terdapat tumpukan hasil voting yang sudah dicetak. Ada beberapa bagian dilingkari dengan tinta merah.

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 7

    Anderson mulai menyelidiki semua voting itu. Bukan karena tiba-tiba menyadari kesalahannya, melainkan karena dia tak sanggup menerima kenyataan yang baru diketahuinya.Dia ingin membuktikan bahwa semua tangkapan layar itu hanyalah candaan di antara teman-teman. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak seburuk yang kukatakan.Namun, semakin jauh dia menelusurinya, semakin buruk pula raut wajahnya. Sebagian besar voting itu dibuat oleh Miranda.Miranda selalu melontarkan pertanyaan di grup pada saat yang paling tepat. Baru saja aku bertanya kepada Anderson apakah dia bisa mengumumkan hubungan kami secara terbuka, Miranda langsung membuat voting. [ Apakah berpacaran akan memengaruhi hubungan pertemanan? ]Baru saja aku mengatakan bahwa aku tidak ingin Anderson mengantar Miranda pulang, Miranda langsung membuat voting. [ Apakah berbahaya bagi teman masa kecil perempuan untuk naik taksi sendirian pada malam hari? ]Baru saja mataku memerah karena masalah kursi penumpang depan, Miranda lang

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 6

    Sebulan kemudian, Anderson bertemu denganku di pesta pertunangan seorang teman.Aku duduk di dekat jendela. Rambutku telah dipotong sedikit lebih pendek. Di sampingku, seorang pria membantuku menyampirkan mantel di sandaran kursi. Gerakannya begitu alami, tanpa sedikit pun melewati batas. Namun, justru sikapnya yang sederhana itu terasa lebih menyakitkan bagi Anderson daripada kemesraan yang terang-terangan.Saat memperkenalkan pria itu, temanku berbicara dengan hati-hati, "Ini Gerald Cartin, teman kuliah Alicia. Dia baru saja kembali dari luar negeri. Waktu ulang tahun Alicia sebelumnya, Sharon tiba-tiba memasukkan Gerald ke grup. Katanya, dia ingin meminta bantuan Gerald untuk memesan buket bunga."Tatapan Anderson terhenti.Gerald mengulurkan tangan kepadanya. "Pak Anderson."Anderson tidak menyambut uluran tangannya. Tatapannya tertuju pada wajahku. "Apa kamu ganti nomor telepon?"Aku mengangkat pandanganku. "Iya.""Kenapa kamu nggak beri tahu aku?""Setelah putus, aku nggak perlu

  • Jangan Jadikan Aku Pilihan Lagi   Bab 5

    Anderson berdiri lama di bawah gedung itu. Awalnya, yang dia rasakan hanyalah kemarahan. Dia marah karena aku mempermalukannya di depan petugas jasa pindahan, terlebih karena aku mengembalikan kunci dan gelang itu sekaligus. Yang lebih membuatnya marah adalah ucapanku, "Aku memilih untuk mendepakmu."Selama tiga tahun terakhir, setiap kali kami bertengkar, Anderson tidak perlu mengejarku terlalu jauh. Aku akan lebih dulu mengirim pesan.[ Anderson, kita jangan seperti ini ya? ][ Aku bukan bermaksud memaksamu memilihku. ]Setiap kali membaca pesan-pesan itu, Anderson akan merasa semakin tenang. Selama aku masih mengirim pesan, itu berarti aku masih belum benar-benar pergi.Namun, kali ini, ruang obrolan kami benar-benar kosong. Aku tidak mengalah. Anderson pun meneleponku. Panggilan pertama, tidak ada yang mengangkat. Panggilan kedua, ponselku tidak aktif. Pada panggilan ketiga, sistem memberi tahu bahwa nomor yang dituju sedang sibuk. Pada saat ini, barulah Anderson menyadari bahwa ak

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status