Catalog
25 chapters
Bag 1
*"Maaf, no comment ya." Zeta menghentikan kunyahannya saat mendengar suara itu. Suara seseorang yang pernah singgah di hatinya. Tapi itu dulu... Dulu sekali, saat pertama kali Zeta mengenal apa itu cinta. Sekarang, hanya mendengar nama pria itu saja, Zeta pasti sudah kegerahan. *"Apakah Anda tidak akan kembali lagi dengan Rebecca Wiryawan?" *"Bagaimana dengan pernyataan cinta Rebecca Wiryawan yang mengatakan masih mencintai Anda?" *"Tidakkah Anda ingin kembali bersama dengan Mantan Istri Anda?" *"Maaf, ada hal penting yang harus saya kerjakan. Terima kasih." Zeta menatap senyum menawan yang keluar dari bibir pria itu, pria yang dikejar-kejar wartawan karena pernyataan cinta mantan istrinya beberapa hari yang lalu di depan media, Rebecca Wiryawan, yang a
Read more
Bag 2
Daru memijat pangkal hidungnya lelah. Pemberitaan tentang dirinya dan sang mantan istri masih terus ramai di media. Apa sih mau mantan istrinya itu?? Bukankah mereka sudah sepakat untuk berpisah? Mengapa malah bikin heboh khalayak luas?? Terlebih malah dirinya yang dicap jelek orang-orang karena tidak mau berkorban demi kebahagiaan anak mereka. Evan Rahadian Bratadikara... Anak lucunya yang berusia lima tahun itu. Bukannya Daru ingin egois, tapi untuk apa pernikahan dipertahankan jika tak ada cinta untuk Rebecca. Bukankah anaknya akan lebih kasihan lagi jika hidup di dalam kepura-puraan? "Papa!" Daru langsung menjauhkan tangannya dari pangkal hidung yang sejak tadi dipijatnya itu. Wajahnya sumringah saat sang jagoan menghampirinya dengan membawa mainan robot-robotan di tangannya. "Hai, Boy!" Daru langsung menangkap tubuh mungil itu, lalu memangku anak tersaya
Read more
Bag 3
"Menunggu lama?" "Ah tidak juga. Silahkan duduk." "Terima kasih." Daru langsung duduk di depan seorang pengacara sekaligus seniornya di salah satu kampus terkenal di Australia. Pria ini memperhatikan sekeliling cafe yang lumayan besar yang didatanginya saat ini. Hanya ada beberapa pengunjung yang sekedar memesan cake dan kopi.  "Cafe-nya bagus dan nyaman, Bang." Seniornya hanya memasang senyum kecil sebagai jawaban. "Tapi apa selalu sesepi ini?" "Kalau saat makan siang dan jam lima sore, biasanya akan kembali ramai." Daru ber-o ria sambil melihat arlojinya yang menunjukkan hampir pukul dua siang. "Abang suka ke sini?" "Hampir setiap hari." Daru bersiul, lalu memajukan tubuhnya ke arah sang kakak senior. "Ada yang Abang incer ya di sini?" tanya Daru me
Read more
Bag 4
Setelah jawaban ambigu Fahri, mereka berdua kembali berbincang hal lain, karena sepertinya Fahri tak nyaman dengan pembicaraan sebelumnya. Daru beberapa kali mencuri pandang ke arah wanita yang saat ini ada di meja kasir, wanita yang tadi mengantarkan Cappuccino buatannya yang memang enak luar biasa.  Tak salah jika Fahri merekomendasikan Cappuccino buatan Zeta, karena Daru bisa langsung jatuh cinta pada varian kopi itu di sesapan pertama. "Daru, sepertinya saya harus kembali ke kantor. Ada klien yang ingin bertemu setengah jam lagi." "Oh, oke Bang." "Kamu ingin pergi juga?" "Saya... kayaknya saya di sini dulu deh. Cappuccino dan mille feuille-nya enak dan belum habis," ucap Daru sambil menunjuk pastry yang terkenal di Perancis itu. Fahri tertawa renyah, lalu beranjak dari duduknya. "Sudah saya bilang, Cappuccino buatan Zetaya memang
Read more
Bag 5
"Kak Zeta, besok aku datang siangan ya, soalnya jam 11 ada kelas. Aku lupa izin Kakak tadi." "Jadinya kamu shift siang?" "Iya, Kak. Aku udah bilang Alana buat gantiin aku shift pagi." "Okay, gak pa-pa. Yang semangat ya ujiannya," ucap Zeta sambil menepuk pundak salah satu karyawan wanitanya itu. "Makasih Kak Zeta cantik~" "Tau aja kalau aku cantik. Hahaha..." Zeta dan sang karyawan tertawa seiring langkah kaki mereka keluar dari pintu cafe.  Para karyawan lain di belakang Zeta pun ikut tertawa. Wanita dua puluh tujuh tahun ini memang terkenal humble sejak kecil. Di manapun berada, Zeta pasti langsung disukai banyak orang. Tawa Zeta luntur saat melihat seorang pria yang sejak siang betah nangkring di cafenya sampai cafe wanita berambut merah ini hampir tutup. Zeta pikir pria ini sudah pergi. Wanita ini menghentika
Read more
Bag 6
"Andaru!" Daru menghentikan langkah saat seseorang memanggilnya. Pria ini membalikkan tubuh sampai berhadapan dengan seseorang itu, namun dengan jarak yang tidak dekat. "Kamu ke mana saja? Mama tadi ke kantor, dan kamu malah tidak ada!" "Habis ketemu teman lama. Ada apa Mama ke kantor?" "Lebih tepatnya mama dan Rebecca datang ke sana." Wajah Daru berubah datar mendengar nama mantan istrinya itu. "Becca? Untuk apa?" "Mama mau ajak kalian makan malam." "Tolong berhenti, Ma. Ansel dan Becca tidak akan kembali bersam—" "Setidaknya ingat anakmu!" potong sang mama. Mereka saling pandang beberapa saat, sampai akhirnya Daru menghela napas berat. "Ansel yakin Evan tidak akan kekurangan kasih sayang kalau itu yang Mama takutkan." "Kalau kalian kembali bersama, kasih sayang yang Ev
Read more
Bag 7
"Tutup?" "Iya, Bu. Sudah lebih dari satu minggu yang lalu dia pulang kampung. Kalau pulang kampung suka lama, Bu, bisa satu bulan." Zeta menghela napas berat. "Tukang tambal ban lain di daerah sini gak ada lagi ya, Pak?" "Ada, tapi jauh banget, di ujung jalan situ, ke depan lagi dan harus nyebrang." Zeta lagi-lagi menghela napas berat mendengar ucapan satpam yang berjaga di pos depan sekolah sang anak. Wanita ini mengalihkan pandangan ke arah Misha yang berdiri di sampingnya. "Panas ya, Nak?" tanya Zeta lembut dengan sebelah tangan mengusap dahi sang anak yang sudah mengeluarkan keringat, sementara sebelah tangan lagi memegang grip stang motor matic putih kesayangannya. "Enggak kok, Ma. Orang tambal bannya enggak ada ya?" "Tutup, Sayang..." "Mama Aya bannya kempes?" Tubuh Zeta menegang mendengar s
Read more
Bag 8
"Spaghetti Tante enaaakkkk!!!! Evvan suka!" Zeta tersenyum lebar saat mendengar teman anaknya menyukai spaghetti yang dia buat. Wanita ini mengusap sayang puncak kepala Evan. "Habisin ya." "Pasti, Tante!!" Zeta tertawa renyah, lalu pandangannya beralih ke arah sang anak yang duduk di sampingnya. "Misha mau susu?" "Endak ah, Ma. Di rumah ajah nanti." "Oke, Sayang..." "Bisa buatkan aku kopi seperti kemarin?" Zeta mengalihkan pandangan ke arah pria yang berada di samping Evan. Wanita ini menyandarkan punggungnya, lalu menaikkan sebelah alis sambil bersedekap. "Itu kan sudah ada di depan Anda, Papanya Evan." Zeta melirik kopi yang ada di depan mantannya itu. "Tapi ini bukan buatan kamu." "Sama-sama cappucinno kok." "Rasanya beda, aku nggak suka. Aku nggak mau
Read more
Bag 9
"Mama, akuh mau lagi!!!" "Habis itu, Evvan ya, Tante!!" Ucap dua bocah yang duduk berdampingan ini heboh. "Iya-iya gantian ya." Daru tersenyum sumringah saat melihat dua malaikat cilik itu saling berebut meminta Zeta yang duduk di samping Misha menyuapi mereka. Zeta terlihat telaten dan sangat sabar menghadapi keceriwisan dua bocah yang sejak tadi bermain beragam jenis permainan di sini tanpa kenal lelah.  "Uhuk!" "Hati-hati makannya, Evan... Minum dulu ya." "Ehm..." Setelah memberikan minum pada Evan yang tersedak makanan, Zeta mengalihkan pandangan ke arah pria yang sejak tadi duduk di depannya, karena mendengar suara yang keluar dari mulut Daru. Sejak mereka selesai memesan makanan di sebuah restoran cepat saji yang berada di area taman bermain yang mereka datangi, Daru tak pernah mengalihkan tatapannya dari w
Read more
Bag 10
"Maaf ya, Mas, aku lupa banget." >"Tidak apa-apa, Zetaya." "Ini sebentar lagi mau sampai rumah kok. Aku tutup dulu ya." >"Baiklah." Zetaya menjauhkan ponsel dari telinganya, setelah panggilan terputus. Wanita ini mengalihkan pandangan ke arah sampingnya, tempat di mana sang mantan kekasih mengemudi. Pria itu terlihat mengeraskan rahang, yang membuat Zeta mengernyitkan dahi bingung. "Udah selesai mesra-mesraannya sama si Mas Mantan?" tanya Daru sinis. Pria ini menoleh sekilas ke arah Zeta dengan wajah dingin, yang semakin membuat Zeta tak mengerti. Bukankah tadi Daru bersikap sangat bersahabat? Bahkan mereka beberapa kali saling menertawakan karena kekonyolan yang pernah mereka lakukan di masa lalu, yang tanpa sadar membuat Zeta kembali nyaman pada sosok Daru. Tapi kini, pria itu malah terlihat menyeramkan. Apa Daru salah makan? "Mes
Read more
DMCA.com Protection Status