Perselingkuhan itu kompleks, tapi kalau boleh disederhanakan, sering bermula dari gap antara ekspektasi dan realita. Banyak orang punya fantasi tentang hubungan 'ideal' yang tidak pernah bisa dipenuhi pasangannya. Ketidakmampuan menerima ketidaksempurnaan manusiawi ini yang mendorong mereka mencari pelarian.
Budaya konsumerisme juga ikut bermain. Kita terbiasa memandang segala sesuatu - termasuk hubungan - sebagai komoditas yang bisa diganti ketika sudah tidak memuaskan. Padahal hubungan yang sehat butuh investasi waktu, energi, dan kompromi dari kedua belah pihak.
Pernah denger pepatah 'rumput tetangga selalu lebih hijau'? Rasanya itu jadi salah satu akar masalah perselingkuhan di era sekarang. Di tengah banjirnya konten media sosial yang memamerkan hubungan 'sempurna', orang jadi gampang merasa hubungannya kurang memuaskan.
Ada juga faktor kebosanan yang nggak diakui. Banyak pasangan terjebak dalam rutinitas monoton tanpa usaha untuk menjaga percikan romansa. Alih-alih komunikasi, mereka memilih jalan pintas dengan mencari validasi di luar. Tapi yang paling sering kulihat sih, perselingkuhan terjadi ketika seseorang merasa nggak didengar atau dihargai lagi oleh pasangannya.
Dari pengamatanku, perselingkuhan sering muncul dari ketidakdewasaan emosional. Banyak orang masuk hubungan tanpa benar-benar paham diri sendiri atau kebutuhan mereka. Ketika masalah muncul, alih-alih berkonfrontasi atau memperbaiki, mereka kabur ke pelukan orang lain.
Budaya instan juga berpengaruh besar. Di era dimana segala sesuatu bisa didapat dengan satu klik, komitmen jadi terasa seperti beban. Orang ingin kepuasan instan tanpa mau melalui proses kerja keras membangun kepercayaan dan pengertian dalam hubungan jangka panjang.
Aku selalu penasaran dengan fenomena perselingkuhan di generasi digital. Salah satu pola yang sering muncul adalah 'emotional cheating' lewat chat atau media sosial. Banyak yang menganggap ini bukan perselingkuhan karena tidak ada kontak fisik, padahal sudah terjadi pengkhianatan emosional.
Faktor kesepian dalam hubungan juga patut dicatat. Banyak pasangan hidup bersama tapi merasa sendiri. Mereka berbagi tempat tidur tapi tidak berbagi kehidupan. Ketika kebutuhan akan kedekatan emosional tidak terpenuhi, orang akan mencari di tempat lain. Perselingkuhan modern seringkali lebih tentang kelaparan akan koneksi yang bermakna daripada sekadar nafsu fisik.
2026-07-23 19:49:47
8
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
Selingkuh itu Ilmiah
gilang
0
772
"Aku tidak selingkuh, aku meneliti."
Begitu kata Rayendra, seorang dosen psikologi pernikahan yang sedang membuat jurnal ilmiah bertajuk “Efek Ketidakpuasan Emosional Terhadap Perilaku Infidelitas di Kalangan Pasangan Urban”.
Tapi semua jadi rumit ketika subjek penelitiannya ternyata membuatnya benar-benar jatuh cinta.
Di satu sisi, Rayen harus tetap menjaga statusnya sebagai suami ideal di mata rekan kampus dan istrinya yang seorang psikiater terkenal.
Di sisi lain, ia mulai tenggelam dalam hubungan berbahaya dengan Amel, seorang istri yang menjadi relawan “eksperimen sosial”-nya.
Apakah cinta bisa dijustifikasi dengan logika ilmiah?
Ataukah justru ilmiah hanyalah kedok dari kebohongan paling manusiawi?
Di balik candaan dan teori-teori psikologi yang ia lontarkan, ada sebuah pertanyaan besar yang tak mampu ia jawab:
“Selingkuh itu dosa atau kebutuhan?”
"Suamiku berselingkuh, apa yang harus kulakukan? " Gumamku pada diriku sendiri. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi, jadi aku tidak panik. Cepat atau lambat dia memang akan berselingkuh, untungnya aku sudah mempersiapkan skenario tentang apa yang harus kulakukan saat menghadapi situasi ini.
Sari dan Yoko sama-sama dikhianati oleh pasangan mereka yang tertangkap basah berselingkuh hingga mengalami kecelakaan tunggal.
"Bagaimana kalau kita membalas perbuatan mereka?" tanya Yoko sambil menatap Sari dengan serius.
"Bagaimana caranya?"
"Kita selingkuh."
Sebuah kesepakatan yang awalnya hanya bertujuan membalas pengkhianatan justru menyeret mereka ke dalam hubungan yang tak pernah mereka bayangkan.
Takdir tuhan mempertemukan dua orang manusia dalam ikatan pernikahan.
berawalan dengan rasa penuh cinta namun pernikahan ini membawanya ke dalam sengsara.
"tuhan punya cara untuk membuat seseorang bahagia."
perselingkuhan sang ayah pun ikut terseret membuat retaknya rumah tangga mereka.
Menemukan sang suami berselingkuh tentu membuat dada terasa sakit. Stela merasakan dunianya runtuh melihat dengan mata kepalanya sendiri sang suami bercinta dengan wanita lain. Dia bertahan, tapi bukan untuk tetap bersama, melainkan dia sedang membuat pria itu menyesali perbuatannya dan merasakan sakit yang Stela rasakan.
"Gas ... kenapa ada kissmark di lehermu?"
Aruna Cahyani mengalami kecelakaan setelah melihat Bagas Birendra, suaminya, berselingkuh. Akibat kecelakaan tersebut, Aruna kehilangan calon anak dan divonis tidak bisa mengandung lagi. Aruna pun terpaksa menerima pernikahan kedua Bagas dengan wanita selingkuhannya. Namun lama kelamaan, Aruna merasa diperlakukan tidak adil dalam pernikahan poligami yang dijalaninya.
Suatu hari, Aruna mendapati kenyataan tentang identitas orang yang sudah menabraknya. Orang itu merupakan pria kaya sekaligus adik ipar dari suaminya sendiri. Aruna pun memutuskan untuk balas dendam pada suami, keluarganya, dan juga pria yang sudah membuatnya mandul dengan menggoda dan menjalin hubungan terlarang dengan pria tersebut. Bagaimana jika Aruna malah terjerat pesona selingkuhannya sendiri? Akankah Aruna berhasil menuntaskan dendamnya?
Ada kalanya hubungan yang sudah bertahun-tahun berjalan mulai kehilangan warnanya. Ketika komunikasi berubah jadi sekadar basa-basi, atau ketika pasangan mulai merasa dianggap remeh, beberapa orang mencari pelarian. Bukan selalu tentang nafsu semata—tapi lebih pada keinginan untuk merasa 'dilihat' lagi. Saya pernah membaca komentar di forum tentang bagaimana perselingkungan sering terjadi bukan karena tidak cinta, tapi karena kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Di sisi lain, ada juga yang memang memiliki komitmen rendah atau pola pikir 'grass is greener'. Mereka terjebak dalam ilusi bahwa hubungan lain pasti lebih baik, tanpa menyadari bahwa masalah yang sama bisa muncul di mana saja. Yang menarik, riset menunjukkan bahwa perselingkuhan seringkali lebih tentang pelaku daripada pasangannya.
Pernah lihat drama keluarga di TV yang awalnya harmonis lalu hancur karena satu pihak berselingkuh? Itu bukan cuma cerita fiksi. Perselingkuhan itu seperti gempa kecil yang meruntuhkan fondasi kepercayaan, perlahan-lahan. Aku ingat tetanggaku yang rumah tangganya berantakan setelah suaminya ketahuan selingkuh. Anak-anaknya yang masih SD jadi sering bolos sekolah, prestasinya jatuh. Istrinya yang biasanya ceria berubah murung dan sakit-sakitan. Yang paling menyedihkan, suasana rumah yang dulu hangat sekarang seperti kuburan - sunyi tetapi penuh luka yang tidak terlihat.
Dampaknya bukan cuma sesaat. Bahkan setelah mereka bercerai, bekas luka itu tetap ada. Anak sulungnya yang sekarang kuliah masih trauma dengan hubungan serius, takut mengalami nasib seperti orangtuanya. Perselingkuhan itu ibarat bom waktu - ledakan awalnya besar, tapi efek reruntuhannya bisa bertahun-tahun.
Pernah mengalami situasi di mana pasangan ternyata tidak setia? Aku merasakan dunia seperti runtuh saat itu. Langkah pertama yang kulakukan adalah memberi diri waktu untuk marah, sedih, dan merasakan semua emosi itu tanpa terburu-buru mengambil keputusan.
Setelah reda, aku mencoba melihat hubungan secara objektif. Apakah ini kesalahan satu pihak, atau ada dinamika yang sudah tidak sehat berdua? Terkadang perselingkuhan adalah gejala, bukan akar masalah. Aku akhirnya memilih untuk bicara terbuka tanpa emosi meledak-ledak, karena hanya dengan dialog jujur kita bisa memutuskan: memperbaiki atau berpisah dengan bijak.