Inicio / Rumah Tangga / Cara Menangani Perselingkuhan / BAB 1 : Terungkapnya Perselingkuhan

Compartir

Cara Menangani Perselingkuhan
Cara Menangani Perselingkuhan
Autor: Zakia

BAB 1 : Terungkapnya Perselingkuhan

Autor: Zakia
last update Fecha de publicación: 2026-02-24 12:16:42

Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya.

Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suaminya ada di sana, di atas kasur, bersama wanita itu.

"Ah, Mas Zain..." wanita itu mendesah. Saifanny spontan menyembunyikan diri di balik lemari yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari ranjang tempat mereka berbaring. Permainan yang panas membuat mereka tidak menyadari kehadirannya; pemandangan yang sungguh menjijikkan bagi Saifanny.

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke-8. Bukannya merayakannya di rumah, Zain malah menghabiskan waktu bersama wanita lain. Seharusnya Saifanny sadar saat Zain mulai berubah dan selalu pulang terlambat dengan alasan lembur. Inilah "lembur" yang suaminya maksud selama ini.

Saifanny merasa geram. Desahan wanita itu terdengar seperti ejekan di telinganya. Ia menggenggam ponsel, berniat mengabadikan semua yang terjadi saat itu, namun ia mengurungkan niatnya. Ia harus tenang dan menyusun rencana yang lebih matang untuk menangani perselingkuhan ini.

Desahan wanita itu semakin membuatnya kesal. Sebenarnya Saifanny tidak cemburu; bagaimanapun, pernikahannya sudah terasa hambar. Ia hanya bertahan demi Syahdan, putranya, agar memiliki keluarga yang utuh.

Selama mereka menikah, Zain selalu memberinya kabar jika ada acara kantor atau lembur. Saifanny semula berusaha berpikir positif, tetapi Zain tidak pernah menjelaskan apa pun saat pulang. Komunikasi mereka pun merenggang karena Zain bukan tipe orang yang suka mencurahkan isi hati.

Permainan mereka terdengar semakin liar seiring desahan wanita itu yang semakin keras. Saifanny memperhatikannya sekilas; wanita itu berambut panjang, persis seperti dirinya. Kemiripan itu membuatnya muak dan ingin segera menyingkirkan rambut panjangnya sendiri.

Saifanny terduduk lemas di balik lemari kamar hotel. Situasi ini sangat memalukan baginya. Semua ini terjadi karena ia mengabaikan tanda-tanda perselingkuhan suaminya. Ia harus mencari tahu siapa wanita itu.

Wajah sang pelakor tidak terlihat dari balik lemari, hanya punggungnya saja. Saifanny memutuskan untuk segera pergi karena udara di ruangan itu membuatnya sesak napas. Ia membuka pintu dan keluar dengan hati-hati. Mereka begitu asyik hingga tidak menyadari ada orang yang masuk dan keluar dari kamar tersebut.

Saifanny segera mengendarai motornya menuju rumah. Syahdan sudah menunggu. Di hari ulang tahun pernikahan ini, ia tidak boleh terlihat sedih di depan putranya. Ia mengesampingkan dulu kemarahannya; hari ini ia hanya ingin merayakan momen bersama Syahdan.

Sesampainya di rumah, Syahdan sedang duduk di sofa ruang keluarga. Wajah manis anaknya selalu berhasil membuat Saifanny tersenyum cerah, seolah semua beban masalahnya menguap. Begitu melihat ibunya pulang, Syahdan langsung menghambur ke pelukannya.

"Mama sudah pulang?" tanyanya antusias. Wajah imut itu membuat Saifanny gemas.

Saifanny membawa kue stroberi yang ia buat sejak siang dengan tulisan HAPPY 8TH ANNIVERSARY. Syahdan mengambil lilin di meja, lalu mereka berdua meniup lilin kue tersebut di ruang keluarga.

Setengah jam kemudian, suara mobil terdengar terparkir. Suaminya pulang. Ekspresi Saifanny seketika berubah, rasa kesal itu kembali bergejolak.

"Mama gak apa-apa?" Syahdan bertanya sambil memiringkan wajahnya, menatap lembut ke arah mata ibunya.

Saifanny tersenyum paksa. "Tidak apa-apa, Sayang. Sepertinya Papa sudah pulang, ayo kita potong kuenya untuk Papa." Ia terpaksa menelan rasa kesalnya bulat-bulat.

Syahdan berlari ke arah pintu untuk menyambut ayahnya. Sementara itu, Saifanny menatap pisau di hadapannya. "Apa aku tusukkan saja pisau ini padanya?" batinnya sambil memainkan mata pisau. Pikirannya baru tersadarkan saat mendengar teriakan ceria Syahdan.

"Ma, aku beliin ini lho, nanti buka ya!" Syahdan membawa sebuah kado besar dan menyerahkannya kepada Saifanny. Rupanya, ia meminta papanya membelikan hadiah itu. Saifanny segera mencium tangan Zain, dan suaminya membalas dengan mencium keningnya—satu-satunya kebiasaan yang tidak pernah berubah.

Mereka duduk bersama di meja makan bulat. Zain mengeluarkan semua makanan dari daftar yang ditulis Saifanny, dan semuanya lengkap. Saifanny tersenyum formal sebagai tanda terima kasih.

"Selamat ulang tahun pernikahan ya, Papa, Mama. Aku sayang kalian," ucap Syahdan manis. Saifanny menyentuh pipi putranya, berjanji dalam hati akan selalu memastikan anak itu tersenyum.

Saifanny membuka kado dari Syahdan: sebuah alat pijat berbentuk bantal leher. Ia tak menyangka anak berusia delapan tahun bisa sepintar itu. "Syahdan tahu sekali kalau Mama sering sakit leher. Terima kasih hadiahnya ya, Sayang," ucap Saifanny sambil menghujani pipi anaknya dengan ciuman.

"Mama sering pegang leher, kan? Jadi aku pikir Mama sedang sakit leher, hehe," sahut Syahdan, yang ternyata jauh lebih peka daripada ayahnya sendiri.

"Ini hadiah dariku," kata Zain sambil memberikan bungkusan besar. Saifanny sudah tahu isinya karena ia sendiri yang meminta: sebuah tas keluaran terbaru dari merek favoritnya. Namun, ada satu kotak tambahan di dalamnya. Ketika dibuka, isinya adalah satu set perhiasan.

Saifanny ternganga. Pria ini memberikan sesuatu yang tidak ada di daftar. "Ini untukku, Mas? Cantik sekali." Ia memperhatikan perhiasan itu, bertanya-tanya berapa karat harganya, namun ia mengakui selera suaminya memang bagus.

Zain tersenyum melihat istrinya menyukai hadiah tersebut. "Sini, aku bantu pakaikan." Zain mengambil kalung itu dan memasangkannya di leher Saifanny. Syahdan tersenyum lebar melihat momen itu, dan Saifanny merasa lega selama anaknya bahagia.

"Bagaimana, Mama cantik tidak?" tanya Saifanny pada Syahdan.

"Cantik sekali! Mama yang tercantik di seluruh dunia!" jawabnya riang, membuat Saifanny mencubit kedua pipi anaknya dengan gemas. Setelah itu, mereka memakan kue stroberi tersebut. Syukurlah, kue buatan Saifanny tidak gagal.

Setelah Syahdan tertidur, Saifanny dan Zain bersiap untuk tidur. Zain menatapnya dan berbisik, "Ma, aku akan lebih sering lembur mulai sekarang, jadi tidak perlu masak makan malam untukku."

Saifanny balik menatap suaminya dengan dingin. "Pertunjukan sudah selesai, anak kita sudah tidur. Tidak perlu bicara dengan suara lembut seperti itu. Lagipula, kamu sudah berminggu-minggu pulang malam, tapi baru ngasih tahu sekarang? Telat."

Ekspresi wajah Zain berubah kesal. Ia menarik selimut lalu tidur menyamping membelakangi Saifanny. Saifanny tidak peduli. Ia menunggu hingga waktu menunjukkan pukul 12 malam. Ia sengaja tidak tidur demi menyelidiki suaminya.

Langkah pertama yang Saifanny ambil adalah mencari tahu siapa selingkuhan suaminya. Perlahan, ia mengambil ponsel Zain yang terletak di dekat lampu tidur. Ia mencoba beberapa kata sandi: tanggal lahir Zain, tanggal lahir Syahdan, hingga tanggal lahirnya sendiri. Semuanya salah. Bahkan tanggal lahir ibu mertuanya pun tidak bisa membuka ponsel tersebut.

Saifanny memejamkan mata dan berpikir. TANGGAL HARI INI. Ia memasukkan tanggal pernikahan mereka, dan ponsel itu terbuka. Saifanny mendengus; pantas saja Zain tidak pernah lupa tanggal pernikahan mereka. Ia segera memeriksa media sosial, pesan, email, hingga galeri foto.

Tidak ada yang aneh di permukaan; Zain mungkin memiliki dua ponsel atau sudah menghapus riwayat pesan. Namun, Saifanny menemukan sebuah foto di galeri. Foto Zain bersama semua anggota timnya. Terdapat tiga perempuan berusia sekitar 20-an di foto itu, dan ketiganya berambut panjang. Saifanny yakin Zain berselingkuh dengan salah satu dari mereka. Ia mengirimkan foto tim tersebut dan semua kontak mereka ke ponselnya sendiri, lalu menghapus riwayat pesannya.

Keesokan harinya, Zain berangkat pukul 7 pagi. Setengah jam kemudian, Saifanny mengantar Syahdan ke sekolah. Setelah itu, ia langsung meluncur ke sebuah kafe, membuka laptop, dan siap menyelidiki para wanita tersebut.

Saifanny mulai melacak mereka melalui nama kontak yang terhubung ke media sosial. Ketiga wanita itu cantik, dan Saifanny sempat heran mengapa mereka mau menjadi selingkuhan Zain yang wajahnya biasa-biasa saja dan kini mulai tidak terawat.

Ia membedah profil mereka satu per satu. Wanita pertama sering mengunggah foto bersama teman-temannya; ia tampak seperti tipe wanita yang mencintai kebebasan, mirip dengan Saifanny dulu. Ia mencoret wanita pertama dari daftar tersangka.

Wanita kedua selalu berfoto mesra dengan pacarnya yang setampan model. Saifanny yakin wanita itu sangat mencintai pacarnya, sehingga kecil kemungkinan ia berselingkuh dengan Zain.

Perhatian Saifanny akhirnya terpaku pada sosial media wanita ketiga. Wanita ini selalu berfoto sendiri, namun tampak jelas foto-fotonya diambil oleh orang lain. Ia memperbesar salah satu foto yang diambil saat malam hari, di mana wanita itu berpose membelakangi kaca.

Saifanny mencerahkan layar laptopnya. Ia bersandar di kursi, menarik napas lega sekaligus kesal. Di pantulan kaca itu, terlihat jelas bayangan Zain sedang memegang kamera.

Firasatnya benar. Punggung, bahu, dan bentuk tubuh wanita itu adalah orang yang sama dengan yang ia lihat di hotel. Saifanny tidak panik, ia sudah menduga hal ini. Kini, waktunya menjalankan rencana kedua: mencari informasi lebih dalam tentang wanita itu.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 375 : Jejak Dingin dan Senyum Palsu

    Pagi hari yang diselimuti kabut tipis membungkus kawasan pemukiman mewah itu dalam keheningan yang mencekam.Dari balik semak-semak tinggi di seberang jalan, seorang pria muda berseragam serba hitam tampak tiarap, mengamati setiap celah pergerakan rumah di hadapannya menggunakan teropong jarak jauh berpresisi tinggi.​Tak!​Sebuah tepukan mendarat cukup keras di bahunya, membuat anggota muda itu terperanjat kaget sebelum refleks menahan napasnya agar tak menimbulkan suara.​Ia menoleh cepat, mendapati sang senior tengah menatapnya dengan raut wajah serius nan lelah.​"Sekarang sudah jam lima lewat, mending kamu shalat dulu sana. Aku yang akan mengawasi pergerakan orang-orang di rumah itu," perintah sang senior dengan bisikan bernada rendah.​Petugas junior itu mengangguk patuh. Ia memundurkan tubuhnya secara perlahan seraya menyerahkan teropong jarak jauh tersebut ke tangan seniornya.​Sudah tiga hari penuh ia dan empat anggota tim keamanan lainnya bergan

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 374 : Rencana Nekat dan Bayang Trauma

    ​Suasana di dalam ruang kerja panti jompo yang semula kaku mendadak berubah manis di mata Marcus. Senyuman lebar tak henti-hentinya tersungging di bibir pria itu, memancarkan binar kebahagiaan narsistik saat menatap sosok Saifanny yang duduk di hadapannya. ​"Jadi... Kapan kita akan berangkat?" Tanya Marcus dengan tatapan mata hangat yang sarat akan binar optimisme. ​Saifanny terdiam sejenak, mengunci jemarinya di bawah meja untuk menyembunyikan getaran taktis di tangannya, sebelum kembali menatap Marcus. ​"Ayo kita berangkat besok pagi saja," jawab Saifanny seraya mengangguk pelan. ​Marcus sedikit terkejut dengan keputusan mendadak itu. Keningnya berkerut rapat. "Secepat itu?" Tanyanya kebingungan. ​Saifanny mengangguk mantap. "Iya, lebih cepat, lebih baik, kan?" Sahut Saifanny seraya memiringkan kepalanya, memasang raut wajah polos tanpa dosa yang sempurna. ​Marcus mengangguk cepat. Sepasang matanya memancarkan binar penuh semangat yang sulit dibendung. Pria itu tiba-tiba ber

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 373 : Di Balik Ajakan Liburan

    ​Layar ponsel di genggaman Saifanny memancarkan cahaya redup yang memantulkan raut wajahnya yang tegang. Jemarinya terus mengusap layar, menelusuri lembar demi lembar berkas digital yang baru saja dikirimkan oleh Bima. ​Ruang kerja panti jompo yang hening menjadi saksi bisu bagaimana napas Saifanny perlahan tertahan. Di dalam berkas itu, tertera rekam jejak Mawar Sudrajat di Utama Group puluhan tahun silam. Laporan audit lama menunjukkan adanya kebocoran data rahasia pada sistem otomatisasi pengolahan makanan sehat milik Utama Group—sebuah insiden sabotase teknis yang fatal, yang pada masa itu hampir menghancurkan reputasi perusahaan dan membuat posisi Adnan Utama di ambang pemecatan oleh Kakek Arkana. ​Namun, saat Saifanny mencoba menggali lebih dalam mengenai keterkaitan langsung antara sabotase tersebut dengan pengalihan paten food-tech ke tangan Manggala Tech, lembaran dokumen itu mendadak terputus. ​Halaman berikutnya hanya beri

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 372 : Aksi Penyelamatan Palsu

    Cahaya matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah-celah jendela ruang utama proyek pembangunan panti jompo.Suasana di dalam ruangan berukuran luas yang sudah memasuki tahap penyelesaian akhir itu terasa begitu tenang.Saifanny berdiri tegak bersebelahan dengan Bara tepat di tengah ruangan yang dinding-dindingnya mulai terpoles rapi.Tidak jauh dari mereka, dua orang anak buah Bara tampak duduk bersimpuh di lantai dengan beragam peralatan pemindai frekuensi di tangan mereka.​Setelah sibuk mengotak-atik beberapa komponen elektronik, kedua pria itu mendongak lalu menganggukkan kepala kepada Bara—sebuah sinyal tak bersuara bahwa tugas teknis mereka telah selesai.​"Semua penyadap di dalam panti jompo ini sudah dikeluarkan, Bu. Apa ada yang Ibu butuhkan lagi?" Tanya Bara seraya mengalihkan lirikan matanya ke arah Saifanny.​Saifanny menggelengkan kepala pelan. Untuk saat ini, pikiran dan langkah selanjutnya masih terasa agak samar di kepalanya.​"Bu Saifanny sebelumnya sudah

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 371 : Luka dan Pengakuan dari sebuah Surat

    Keheningan yang pekat merayap cepat, menyelimuti setiap sudut ruang tengah apartemen itu. Indra masih membisu di atas sofa dengan raut wajah kaku dan keras. Di sampingnya, Andien terus memperhatikannya, memancarkan sorot mata lembut yang sarat akan bujukan hangat. ​Andien mengulurkan kedua tangannya perlahan, mendaratkannya di atas bahu Indra yang tegang untuk mengurai gelombang amarah pemuda itu. ​"Kalau kau tidak mau membacanya, biarkan aku membacakannya untukmu," bisik Andien lembut. ​Mendengar tawaran tersebut, Indra seketika menoleh. Sepasang matanya menatap Andien dengan kilatan emosi yang sulit diterjemahkan—antara rasa gengsi dan kebencian yang masih membara. ​Andien tersenyum tipis. Jemarinya terulur lambat ke atas meja, hendak meraih amplop putih yang tergeletak pasrah. Namun, sebelum ujung jarinya sempat menyentuh kertas itu... ​Grep! ​Dengan gerakan refleks secepat kilat, Indra menyambar amplop itu leb

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 370 : Sisa-Sisa Dendam

    Adrian mengulurkan tangan, meraih gelas kopi yang mulai mendingin dari atas meja perlahan. Pria itu menyeruputnya sedikit demi sedikit, merasakan kepahitan cairannya yang seolah mencerminkan kekeruhan pikirannya, lalu meletakkannya kembali secara hati-hati.​"Kita kesampingkan dulu soal Mawar Sudrajat. Bagaimana perkembangan kasus penyelidikan Ririn?" Tanya Adrian, mencoba mengalihkan arah pembicaraan ke lini penyelidikan lain yang tak kalah krusial.​Bima mendesah pendek, mengusap wajahnya yang menyiratkan kepenatan psikologis.​"Aku sudah menghubungi petugas kepolisian yang dulu membantu penangkapan ayahmu soal kasus klub malamnya. Tapi dia berkata, kepolisian tidak bisa mengeluarkan surat perintah penggeledahan hanya berdasarkan kata-kata dari Saifanny," ujar Bima seraya menggelengkan kepalanya pasrah.​"Polisi butuh bukti fisik untuk mengeluarkan surat penggeledahan. Selain itu, aku dan Ghina sudah mencari di setiap rekaman CCTV di sekitar rumah Marcus, tapi hasilnya nihil. Tidak

  • Cara Menangani Perselingkuhan   Bab 5

    Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 3

    Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 4

    Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 2

    Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status