Mertua perkasa dalam drama Korea itu kayak trademark—sulit dibayangkan dramanya tanpa mereka. Dari yang suka nyuruh-nyuruh menantu perempuan sampai yang sampe ancam putusin hubungan, mereka bikin rating drama naik karena emosi penonton langsung kebakar. Contoh klasiknya ya di 'Jang Bo Ri is Here', di mana mertua jahatnya sampai bikin plot twist gila-gilaan. Tapi lucunya, justru karakter-karakter kayak gini yang bikin penonton ketagihan, karena mereka menyediakan konflik yang sempurna untuk dipecahkan di episode-episode akhir.
Ada semacam pola yang selalu muncul di drama Korea tentang sosok mertua yang super dominan, terutama dari pihak perempuan. Mereka biasanya digambarkan sebagai figur yang super protektif terhadap anak mereka, sering campur tangan dalam hubungan rumah tangga pasangan, dan suka memaksakan standar mereka. Misalnya, di 'The World of the Married', mertua perempuan itu literally ngerusak pernikahan anaknya karena gak setuju dengan menantunya. Drama-drama kayak gini selalu bikin gemes karena konfliknya relatable banget—siapa yang gak kesel sama orang tua yang terlalu mengontrol?
Tapi di sisi lain, karakter mertua perkasa ini juga bikin cerita jadi lebih berwarna. Mereka sering jadi katalis untuk perkembangan karakter utama. Lihat aja di 'My Golden Life', di mana mertua yang kejam akhirnya memicu protagonis untuk jadi lebih mandiri. Jadi, meskipun bikin frustrasi, peran mereka penting banget dalam narasi.
Kalau diperhatikan, mertua perkasa di drama Korea itu nggak cuma sekadar antagonis satu dimensi. Mereka biasanya punya latar belakang yang kompleks—misalnya, trauma masa lalu atau ekspektasi sosial yang tinggi. Ambil contoh di 'Sky Castle', di mana tekanan untuk menjaga reputasi keluarga bikin seorang ibu jadi super keras terhadap menantunya. Nah, di sini kita liat bahwa tuntutan budaya Korea tentang hierarki keluarga dan kesuksesan itu memang sering jadi akar masalah.
Yang menarik, beberapa drama sekarang mulai ngejelasin sisi manusiawi dari mertua-mertua ini. Di 'When the Camellia Blooms', misalnya, karakter mertua awalnya antagonis tapi lambat laun berubah karena perkembangan plot. Ini menunjukkan bahwa konflik keluarga nggak selalu hitam putih, dan ada ruang untuk rekonsiliasi.
2026-07-21 07:01:55
2
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Buku Terkait
Mertua yang Harus Mengalah
Emak siput
10
1.1K
Di usia 53 tahun, seorang ibu tunggal dihadapkan pada dilema pelik: bagaimana menjalani sisa hidupnya. Anak pertamanya telah menikah dengan wanita kaya raya, menuntut sang ibu untuk menjadi "mertua kalah" agar tak terusir, demi menjaga kesempatan tinggal sementara atau dukungan. Sementara itu, anak keduanya hidup pas-pasan di kontrakan bersama istri dan dua anaknya, dan tidak mampu menampungnya. Ibu ini berjuang untuk tetap menjadi "ibu hebat" bagi kedua anaknya yang sering salah paham, sambil menghadapi kenyataan pahit bahwa ia harus mencari jalan sendiri di tengah konflik internal dan eksternal, berbekal tekad untuk bertahan dan menemukan arti kebahagiaan dan sebuah 'rumah' yang sejati di usia senja.
Albara Kaizer, seorang cleaning service di Hario Group, terpaksa menikahi anak pemilik perusahaan untuk menutupi aib istrinya yang ternyata telah hamil tanpa tahu siapa ayahnya. Sayangnya, Bara justru diperlakukan dengan rendah meski sudah menjadi menantu. Namun, Bara tak tinggal diam, terlebih ia bertemu kembali dengan ayah kandungnya yang ternyata miliarder kaya dan saingan Hario Group. Bara akan menunjukkan pembalasan sang menantu terkuat, hingga tidak ada yang bisa mengalahkannya!
Sehari setelah aku menikah, aku melihat ayah mertua memukul ibu mertua karena masalah makanan.
Aku ingin menghalanginya, tetapi ayah mertua memarahiku karena menganggapku tidak sopan.
Dia mengatakan bahwa ini adalah cara Keluarga Kuncoro dalam menundukkan orang.
Kegembiraan memenuhi hatiku ketika suamiku juga mencoba main tangan terhadapku.
Akhirnya, aku bisa menunjukkan kekuatan superku!
Dia dihina dan ditindas di keluarga istrinya. Tidak ada yang tahu tentang identitasnya yang tersembunyi. Dia adalah pewaris dari sebuah kekuatan terkuat yang pernah mengguncang dunia.
Dibenci mertua karena kesehariannya selalu menggunakan daster rumahan, itu yang dialami oleh Rahayu istri seorang CEO super kaya raya. Tidak hanya itu, kebencian itu juga karena Rahayu belum dapat memberikan keturunan bagi suaminya.
Mertua Rahayu pun berkeinginan agar Dikta dapat menceraikan istrinya dalam jangka dekat jika masih belum hamil juga, tapi dikarenakan Dikta begitu mencintai Rahayu ucapan dari mamanya sendiri ditolak mentah-mentah.
Kebencian pada Rahayu semakin menjadi-jadi, sang mertua pun tidak tahan lagi akhirnya memilih mengirimkan wanita penggoda untuk merusak rumah tangga Dikta dan Rahayu. Tidak hanya itu, mertua Rahayu pun juga memberikan fitnah ketika Rahayu hamil anak pertama mereka di usia pernikahan yang ke sepuluh tahun.
Dan akhirnya Dikta terjerumus pada jebakan mamanya sendiri dan wanita penggoda tersebut, Dikta mengatakan kata cerai pada Rahayu ketika anak mereka lahir ke atas dunia. Rasa sakit, penyesalan, dendam dirasakan oleh Rahayu.
Rahayu pun bertekad untuk membalaskan dendam pada semua yang terlibat dalam penghancur rumah tangga bahagianya dengan Dikta, dibantu oleh Lisa yang merupakan sahabat dekat. Rahayu pun menjalankan beberapa cara dan mengumpulkan bukti untuk membungkam mulut mertua dan wanita penggoda kirimannya.
Yudistira Aliando Aryaprasaja hanyalah seorang menantu yang dianggap tidak berguna oleh keluarga istrinya, padahal sebenarnya dia adalah pewaris utama dari salah satu keluarga terkaya di Indonesia. Keluarga Aryaprasaja.
Saat Aliando memutuskan kembali dan meneruskan takhta kekayaan keluarga Aryaprasaja, dia diam-diam membantu istrinya untuk menjadi wanita terhormat. Dia juga membiarkan bawahannya mengikuti perintahnya untuk menampar wajah semua orang yang berusaha merendahkan, mencelakai, atau menghina dirinya dan sang istri.
Ada daya tarik unik dalam karakter mama tiri di drama Korea yang sering kali membuat penonton terpikat. Mereka tidak sekadar menjadi antagonis datar, melainkan memiliki kompleksitas emosi yang ditampilkan dengan apik. Ambil contoh 'The World of the Married'—Kim Hee-ae sebagai Ji Sun-woo menunjukkan bagaimana sosok mama tiri bisa menjadi simbol ketangguhan sekaligus kerentanan. Drama ini berhasil membangun narasi tentang perempuan yang terperangkap dalam ekspektasi sosial, lalu memberontak dengan cara tak terduga.
Di sisi lain, ada juga karakter seperti Lee Kyung-jin di 'Penthouse', yang membawa pesona villain flamboyan. Justru karena kelebihan dramatisasinya, penonton merasa terhibur. Ini membuktikan bahwa mama tiri dalam drama Korea sering menjadi katalisator konflik sekaligus cermin kritik sosial—mulai dari kesenjangan kelas sampai tekanan pada perempuan.
Kalau ngomongin tokoh 'mertua perkasa' di sinetron Indonesia, sosok Bu Lies dari 'Anak Jalanan' langsung terngiang-ngiang di kepala. Karakter yang diperankan Ratu Felisha ini benar-benar jadi personifikasi mertua dari neraka—sok berkuasa, manipulatif, dan suka bikin drama. Yang bikin menarik, konfliknya selalu realistis: dari ngatur kehidupan anak menantu sampe intrik keluarga yang bikin penonton gemas tapi ketagihan.
Justru karena sifatnya yang over-the-top tapi relatable, Bu Lies malah jadi magnet cerita. Ada semacam kepuasan saat melihatnya kena karma, tapi juga ada sisi tragis di balik sikapnya yang posesif. Karakter seperti ini membuktikan bahwa antagonis yang ditulis dengan baik justru menjadi penggerak cerita yang efektif.
Pernah nggak sih kamu perhatiin kalau hampir di setiap sinetron, sosok mertua selalu digambarkan sebagai tokoh antagonis yang suka bikin drama? Kayaknya ini udah jadi semacam formula wajib yang bikin penonton emosi tapi tetap betah nonton. Dari pengamatan aku, ini terjadi karena konflik antara mertua dan menantu itu universal—banyak penonton yang bisa relate, entah dari pengalaman pribadi atau cerita orang lain. Drama seperti ini juga bikin alur cerita lebih greget, apalagi kalau ditambah adegan 'perang dingin' di meja makan atau intrik terselubung soal warisan.
Di sisi lain, stereotip mertua galak ini sebenarnya juga jadi cerminan kekhawatiran budaya kita tentang perubahan dinamika keluarga setelah pernikahan. Mertua sering digambarkan sebagai 'penjaga tradisi' yang nggak terima menantu membawa nilai-nilai baru. Tapi lucunya, justru karena karakter ini sering kelewat jahat, akhirnya malah jadi sumber komedi atau bahkan pembelajaran—karena biasanya di episode akhir mereka akan 'luluh' juga.