Kalau dipikir-pikir lagi, fenomena mertua jahat di sinetron itu mirip seperti trope wicked stepmother di dongeng Barat. Ini adalah karakter yang mudah dikenali dan langsung memancing reaksi emosional dari penonton. Produser kayaknya paham betul bahwa konflik keluarga adalah magnet rating, dan hubungan mertua-menantu itu ibarat ladang emas untuk ditambang. Aku sendiri sering geleng-geleng lihat betapa kreatifnya para penulis membuat skenario kejam si mertua—mulai dari menyembunyikan surat cerai sampai meracuni menantu!
Tapi menariknya, di balik semua drama itu, ada pesan tersirat tentang betapa rumitnya posisi mertua dalam struktur keluarga. Mereka sering terjepit antara ingin melindungi anak kandungnya dan menerima anggota baru. Sayangnya, nuansa psikologis seperti ini jarang dieksplorasi lebih dalam—kebanyakan sinetron lebih memilih jalur konflik bombastis yang instan menarik perhatian.
Dari semua sinetron yang pernah aku tonton, hampir bisa dipastikan mertua akan jadi sumber masalah utama. Rasanya seperti ada panduan naskah yang bilang 'harus ada satu mertua killer biar ceritanya seru'. Padahal sebenarnya kan nggak semua mertua seperti itu—tapi mungkin karena kebanyakan penonton lebih mudah terhibur dengan konflik daripada harmoni. Karakter antagonis seperti ini juga bikin penonton penasaran: sampai sejauh mana sih kekejamannya? Akankah menantu akhirnya menang?
Yang unik, meski sering jadi 'musuh bersama', justru aktor yang memerankan mertua jahat biasanya jadi sangat populer. Mereka seperti jadi 'penjahat yang dicintai'—ditakuti di cerita tapi dielu-elukan di dunia nyata. Mungkin ini karena mereka berhasil membawakan karakter yang begitu hidup sampai bikin kita gemas tapi juga... salut aktingnya.
Pernah nggak sih kamu perhatiin kalau hampir di setiap sinetron, sosok mertua selalu digambarkan sebagai tokoh antagonis yang suka bikin drama? Kayaknya ini udah jadi semacam formula wajib yang bikin penonton emosi tapi tetap betah nonton. Dari pengamatan aku, ini terjadi karena konflik antara mertua dan menantu itu universal—banyak penonton yang bisa relate, entah dari pengalaman pribadi atau cerita orang lain. Drama seperti ini juga bikin alur cerita lebih greget, apalagi kalau ditambah adegan 'perang dingin' di meja makan atau intrik terselubung soal warisan.
Di sisi lain, stereotip mertua galak ini sebenarnya juga jadi cerminan kekhawatiran budaya kita tentang perubahan dinamika keluarga setelah pernikahan. Mertua sering digambarkan sebagai 'penjaga tradisi' yang nggak terima menantu membawa nilai-nilai baru. Tapi lucunya, justru karena karakter ini sering kelewat jahat, akhirnya malah jadi sumber komedi atau bahkan pembelajaran—karena biasanya di episode akhir mereka akan 'luluh' juga.
2026-07-19 22:18:15
0
すべての回答を見る
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
関連書籍
Mertua yang Harus Mengalah
Emak siput
10
1.1K
Di usia 53 tahun, seorang ibu tunggal dihadapkan pada dilema pelik: bagaimana menjalani sisa hidupnya. Anak pertamanya telah menikah dengan wanita kaya raya, menuntut sang ibu untuk menjadi "mertua kalah" agar tak terusir, demi menjaga kesempatan tinggal sementara atau dukungan. Sementara itu, anak keduanya hidup pas-pasan di kontrakan bersama istri dan dua anaknya, dan tidak mampu menampungnya. Ibu ini berjuang untuk tetap menjadi "ibu hebat" bagi kedua anaknya yang sering salah paham, sambil menghadapi kenyataan pahit bahwa ia harus mencari jalan sendiri di tengah konflik internal dan eksternal, berbekal tekad untuk bertahan dan menemukan arti kebahagiaan dan sebuah 'rumah' yang sejati di usia senja.
Dibenci mertua karena kesehariannya selalu menggunakan daster rumahan, itu yang dialami oleh Rahayu istri seorang CEO super kaya raya. Tidak hanya itu, kebencian itu juga karena Rahayu belum dapat memberikan keturunan bagi suaminya.
Mertua Rahayu pun berkeinginan agar Dikta dapat menceraikan istrinya dalam jangka dekat jika masih belum hamil juga, tapi dikarenakan Dikta begitu mencintai Rahayu ucapan dari mamanya sendiri ditolak mentah-mentah.
Kebencian pada Rahayu semakin menjadi-jadi, sang mertua pun tidak tahan lagi akhirnya memilih mengirimkan wanita penggoda untuk merusak rumah tangga Dikta dan Rahayu. Tidak hanya itu, mertua Rahayu pun juga memberikan fitnah ketika Rahayu hamil anak pertama mereka di usia pernikahan yang ke sepuluh tahun.
Dan akhirnya Dikta terjerumus pada jebakan mamanya sendiri dan wanita penggoda tersebut, Dikta mengatakan kata cerai pada Rahayu ketika anak mereka lahir ke atas dunia. Rasa sakit, penyesalan, dendam dirasakan oleh Rahayu.
Rahayu pun bertekad untuk membalaskan dendam pada semua yang terlibat dalam penghancur rumah tangga bahagianya dengan Dikta, dibantu oleh Lisa yang merupakan sahabat dekat. Rahayu pun menjalankan beberapa cara dan mengumpulkan bukti untuk membungkam mulut mertua dan wanita penggoda kirimannya.
Aku adalah mertua dari kampung, tapi bukan kampungan. Aku ingin dekat dengan anakku satu-satunya, termasuk juga dengan menantuku. Tapi apa jadinya jika menantuku licik dan berusaha menyingkirkanku dari rumah anakku?
Ibu Mertua Mayang begitu membencinya, Mayang dianggap tak bisa memberikan cucu perempuan dan dianggap miskin.
Perlakuan berbeda diterimanya dibanding dengan menantu lainnya, Mayang layaknya babu di rumah Mertuanya, keadaan semakin berat bagi Mayang ketika suami tidak bekerja dan dianggap menumpang juga hanya sebagai beban saja.
Mayang kuat karena suaminya mendukungnya, tapi apa jadinya ketika suami yang baru saja bekerja tiba-tiba lebih memilih membela Ibunya saja yang sejatinya Ibu Mertua bagi Mayang.
Ditambah menghadapi Ibu Mertua yang penuh drama seakan ingin memperlihatkan ke pada semua orang bahwa Mayang adalah menantu terburuk.
Mampukah Mayang bertahan dengan segala sandiwara sang Mertua?
Hidupku tak lagi indah saat mulut mertua mengatakan aku tak bisa apa apa. Padahal, semua yang aku lakukan selama ini tak pernah aku perhitungkan. Tapi kenapa, justru mertua menganggapku seolah-olah menjadi beban anaknya saja? Baiklah, dia belum tahu saja aku siapa!
Jika bukan karena wajah sang suami yang begitu mirip dengan bapak mertua, Astri akan beranggapan bahwa suaminya itu adalah anak pungut. Sebab, begitu berbedanya perlakuan sang mertua pada suaminya. Hal ini kerap kali membuat Astri bertanya-tanya, ada apa gerangan? Apa kesalahan yang telah dilakukan suaminya hingga mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari orang tuanya sendiri?
Namun, melihat kesabaran sang suami menghadapi semua perlakuan tidak adil orang tuanya, Astri hanya bisa mengikuti. Untungnya sang suami bukanlah orang yang mudah putus asa hanya karena diperlakukan dengan tidak adil.
Mas Ruslan selaku suaminya ternyata sudah sejak lama mulai mengumpulkan pundi-pundi uang di belakang punggung orang tua yang tidak pernah menghargainya itu. Hal yang sama juga dilakukan oleh Astri. Hingga di mata mertua, mereka hanyalah orang miskin yang tak berarti.
Tetapi karena suatu peristiwa yang melanggar garis bawahnya, Astri mulai merasa muak menjadi orang yang selalu tertindas. Keinginan untuk memberontak pun perlahan muncul di dalam hatinya.
"Lalu lakukan apa yang menurut kamu benar, Tri. Asal jangan sampai ibu sama bapak masuk rumah sakit aja," ujar Mas Ruslan memberi dukungan.
"Jangan khawatir, Mas. Aku cuma mau kasih syok terapi sedikit aja!" jawab Astri dari balik senyum liciknya.
Bagaimana lika-liku keluarga kecil Astri dalam menghadapi ketidakadilan yang diterima di dalam keluarga sang suami?
Kalau ngomongin tokoh 'mertua perkasa' di sinetron Indonesia, sosok Bu Lies dari 'Anak Jalanan' langsung terngiang-ngiang di kepala. Karakter yang diperankan Ratu Felisha ini benar-benar jadi personifikasi mertua dari neraka—sok berkuasa, manipulatif, dan suka bikin drama. Yang bikin menarik, konfliknya selalu realistis: dari ngatur kehidupan anak menantu sampe intrik keluarga yang bikin penonton gemas tapi ketagihan.
Justru karena sifatnya yang over-the-top tapi relatable, Bu Lies malah jadi magnet cerita. Ada semacam kepuasan saat melihatnya kena karma, tapi juga ada sisi tragis di balik sikapnya yang posesif. Karakter seperti ini membuktikan bahwa antagonis yang ditulis dengan baik justru menjadi penggerak cerita yang efektif.
Sinetron memang punya kecenderungan untuk mengeksploitasi konflik keluarga, dan karakter ayah tiri jahat adalah salah satu alat narasi yang paling efektif untuk menciptakan drama. Dari pengamatan selama ini, pola ini muncul karena penonton seringkali terpaku pada ketegangan antara 'baik vs jahat' yang hitam putih. Ayah tiri menjadi simbol ancaman dari luar yang mengganggu harmoni keluarga, dan itu mudah dipahami oleh audiens dari berbagai usia.
Selain itu, stereotip ini juga berasal dari cerita rakyat atau dongeng seperti 'Cinderella' yang sudah mengakar dalam budaya populer. Produser sinetron tahu bahwa pola ini sudah terbukti menarik perhatian dan memicu emosi penonton, jadi mereka terus mengulanginya dengan variasi cerita yang berbeda. Meski klise, konflik semacam ini tetap laris karena penonton merasa 'puas' ketika si jahat akhirnya mendapat balasan.
Pernah nonton sinetron dimana mertua posesif jadi sumber konflik utama? Aku selalu tertarik ngamati dinamika ini karena seringkali lebih kompleks dari yang terlihat. Kuncinya adalah membangun batasan yang jelas tanpa terkesan menantang. Misalnya, dalam 'Anak Menteng', tokoh utama perlahan melibatkan mertuanya dalam keputusan kecil agar merasa dihargai, sambil tetap mempertahankan kendali atas rumah tangganya.
Strategi lain yang kubaca di novel 'Ibu Mertua' karya Dina Lorenza adalah teknik 'sandwich feedback' - selipkan kritik di antara dua pujian. Tapi yang paling penting, pastikan pasanganmu satu tim denganmu. Di 'Cinta Fitri', konflik justru membesar ketika suami mengambil posisi netral. Pelan-pelan bangun komunikasi tiga arah yang sehat, dan ingat, di sinetron sekalipun, karakter antagonis biasanya punya latar belakang yang membuat sikapnya bisa dimengerti.
Karakter mertua dari kampung dalam sinetron Indonesia sering digambarkan sebagai sosok yang sangat tradisional dan penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal. Mereka biasanya menjadi tokoh yang tegas, tapi sebenarnya sangat penyayang. Dialognya seringkali diisi dengan pepatah atau peribahasa Jawa atau Sunda yang membuat penonton tersenyum. Misalnya, mereka akan melarang anak menantu pakai celana pendek di rumah karena dianggap tidak sopan, tapi di balik itu semua, mereka justru yang paling rela berkorban untuk keluarga.
Uniknya, karakter ini juga sering jadi 'penengah' ketika konflik rumah tangga anak menantu memanas. Mereka bukan cuma lucu dengan logat kampungnya, tapi juga punya kedalaman emosi yang bikin penonton terharu. Aku selalu suka adegan ketika mereka diam-diam membantu secara finansial tanpa sepengetahuan keluarga, sambil bilang 'Nanti juga kembali sendiri rejekinya'. Itu bikin karakter mereka jadi begitu manusiawi.