3 Answers2026-01-01 14:25:53
Accismus adalah salah satu teknik retorika yang jarang dibahas tapi sering muncul dalam karya sastra dan film tanpa disadari. Ini adalah bentuk ironi di mana seseorang berpura-pura tidak tertarik pada sesuatu yang sebenarnya sangat diinginkannya. Di 'Pride and Prejudice', Elizabeth Bennet sering menggunakan accismus halus saat menanggapi Mr. Darcy—dia tampak acuh tak acuh, tapi pembaca tahu ada ketegangan emosional di baliknya.
Dalam film, accismus bisa menjadi alat karakterisasi yang powerful. Bayangkan adegan di 'The Social Network' ketika Mark Zuckerberg (diperankan Jesse Eisenberg) menyangkal keinginannya untuk diterima di klub elit, padahal ekspresi dan tindakannya menunjukkan sebaliknya. Teknik ini menciptakan lapisan kedalaman psikologis yang membuat penonton atau pembaca merasa seperti memecahkan teka-teki manusia.
3 Answers2026-01-01 17:37:10
Ada momen-momen dalam anime dan manga di mana karakter menolak sesuatu yang sebenarnya mereka inginkan, dan ini sering kali menjadi bagian dari dinamika karakter yang menarik. Misalnya, dalam 'Toradora!', Taiga terus-menerus menyangkal perasaannya terhadap Ryuuji meskipun jelas bahwa dia sangat peduli padanya. Ini bukan sekadar sikap tsundere klasik, tapi juga menunjukkan kompleksitas emosi manusia yang digarap dengan baik dalam cerita.
Dalam konteks accismus, penolakan seperti ini bisa menjadi alat naratif yang kuat. Karakter seperti Kaguya dari 'Kaguya-sama: Love is War' menggunakan penolakan sebagai strategi untuk mempertahankan harga diri, menciptakan ketegangan komedi sekaligus kedalaman emosional. Anime dan manga sering memanfaatkan trope ini karena resonansinya dengan pengalaman nyata—siapa yang tidak pernah pura-pura tidak tertarik pada sesuatu yang sebenarnya sangat diinginkan?
3 Answers2026-01-01 02:26:39
Ada satu karakter yang langsung terlintas dalam pikiran ketika membahas accismus—strategi berpura-pura menolak untuk menarik perhatian. Mr. Darcy dari 'Pride and Prejudice' adalah contoh sempurna. Dia sering menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya terhadap Elizabeth Bennet di balik sikap dingin dan acuh tak acuh. Justru karena sikapnya yang seperti itulah Elizabeth akhirnya penasaran dan tertarik padanya.
Nuansa ironi dalam dinamika mereka sangat memikat. Darcy jelas-jelas mencintainya, tapi malah bersikap seolah-olah dia tidak peduli. Ini adalah permainan psikologis yang cerdas, dan Jane Austen menggambarkannya dengan brilian. Kalau dipikir-pikir, accismus seperti ini sering muncul dalam cerita-cerita romansa klasik, tapi Darcy tetap yang paling iconic.
3 Answers2026-01-01 03:22:32
Accismus adalah teknik sastra yang menggambarkan penolakan palsu atau berpura-pura tidak tertarik pada sesuatu yang sebenarnya sangat diinginkan. Dalam 'Pride and Prejudice', Elizabeth Bennet sering menggunakan ini saat menanggapi Mr. Darcy. Dia berpura-pura acuh tak acuh terhadap perhatiannya, meski sebenarnya mulai tertarik. Adegan saat dia menolak tawaran dansa pertamanya dengan nada santai adalah contoh sempurna—gerak tubuhnya seolah mengatakan 'aku tidak peduli', tapi narasi membuka inner turmoil-nya.
Di 'The Great Gatsby', Daisy Buchanan juga memainkan accismus dengan elegan. Saat Gatsby memamerkan kekayaannya, Daisy berkata 'Semua itu sangat menyilaukan' dengan suara melankolis, seolah meremehkan, padahal dia terpukau. Kutipan seperti 'Aku tidak pantas mendapatkan semua ini' justru mengungkap ketertarikannya yang terselubung. Novel-novel klasik sering memanfaatkan dinamika psikologis ini untuk membangun ketegangan romantis atau sosial.