Seberapa Setia Adaptasi Film Sore Istri Dari Masa Depan Ke Novel?

2025-09-05 04:04:14 232

2 Jawaban

Ben
Ben
2025-09-10 05:12:14
Begini: kalau harus ringkas, film 'Sore Istri dari Masa Depan' cukup setia ke inti novel, tapi banyak memang yang dipangkas atau disusun ulang agar cocok jadi tontonan. Yang dipertahankan adalah twist besar dan konflik emosional antara pasangan utama; yang berubah adalah ritme, beberapa detail latar, dan kedalaman karakter pendukung.

Film mengandalkan visual dan akting untuk menyampaikan perasaan yang di-novel-kan lewat monolog panjang. Akibatnya beberapa motif terasa lebih sederhana, dan beberapa subplot yang memberi konteks di buku hilang atau disingkat. Sutradara juga menambah satu atau dua adegan orisinal untuk memperkuat klimaks dan memberi penonton kelegaan emosional yang lebih cepat.

Jadi, kalau kamu suka nuansa psikologis dan ingin memahami tiap keputusan karakter, baca novelnya. Kalau kamu mengutamakan pengalaman emosional yang terkurasi dan visual, filmnya tidak mengecewakan—dia mungkin bukan cermin 1:1, tapi tetap menghormati hati cerita. Aku sendiri senang keduanya karena masing-masing melengkapi kekurangan yang lain dan bikin cerita terasa lebih utuh di dua medium berbeda.
Xanthe
Xanthe
2025-09-11 03:07:48
Entah kenapa, sejak menutup halaman terakhir novel aku merasa ada dua cerita yang berjalan bersisian—satu di kepalaku sebagai bacaan, satu lagi sebagai gambar bergerak di layar.

Secara garis besar, adaptasi film 'Sore Istri dari Masa Depan' menjaga tulang punggung cerita: premis waktu, konflik emosional antar tokoh utama, dan momen-momen kunci yang menjadi titik balik. Namun, kesetiaan itu lebih terasa pada level plot besar daripada detail-detail kecil. Di novel, penekanan ada pada monolog batin tokoh utama, latar belakang karakter sampingan, dan ritme lambat yang membiarkan atmosfer romansa dan penyesalan berkembang perlahan. Film memilih jalan memadatkan beberapa subplot, menggabungkan dua karakter pendukung jadi satu, dan menggeser urutan beberapa peristiwa supaya tempo terasa lebih sinematik dan emosional di klimaks.

Yang paling kurasakan berubah adalah cara cerita mengomunikasikan motivasi. Novel memberi ruang untuk pergulatan internal, kilas balik yang panjang, serta deskripsi kecil yang membuat keputusan tokoh terasa dibenarkan. Film, karena keterbatasan durasi, menerjemahkan banyak itu ke dalam dialog singkat, ekspresi visual, dan satu atau dua adegan simbolik—yang efektif secara sinematik tapi mengurangi nuansa ambivalensi yang ada di halaman. Ada juga beberapa adegan baru yang tidak ada di novel; bukan untuk mengubah inti cerita, tapi lebih untuk menegaskan tema utama dan memberi penonton titik emosional yang langsung terasa.

Di sisi akhir, perbedaan paling mencolok adalah penyelesaian: novel meninggalkan ruang interpretasi yang lebih luas, sedangkan film memilih epilog yang sedikit lebih hangat dan menyudahi beberapa ketidakpastian. Kalau kamu menginginkan detail psikologis dan alasan di balik setiap tindakan, novel lebih memuaskan. Kalau mau pengalaman emosional intens yang dipadatkan dan dibantu akting serta musik yang pas, filmnya juga berhasil. Aku pribadi menyukai kedua versi—novel untuk kedalaman, film untuk bagaimana cerita itu dibawa ke bahasa visual. Baca dulu novelnya, lalu nonton filmnya, dan rasakan betapa tiap medium punya caranya sendiri membuat kisah itu hidup.
Lihat Semua Jawaban
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Buku Terkait

Istri Masa Depan Mafia
Istri Masa Depan Mafia
Siapa yang tidak mengenal Hector Sergos Salvator, seorang mafia yang menguasai wilayah-wilayah di negaranya. Seorang pemimpin komunitas gelapnya. Seorang presdir di perusahaan ternama yang menduduki peringkat pertama paling sukses di dunia. Setelah menjadi penguasa dunia, apakah Hector pernah merasa cukup? Tidak sama sekali. Hector tidak pernah merasa cukup. Kalimat cukup baginya hanya terasa saat ia bertemu dengan Xiana Eugene, putri dari Hugh Joséphene. Orang yang paling berpengaruh dalam dunia Entertainment. Xiana tidak sengaja menciumnya saat berada di klub miliknya. Ternyata, wanita itulah yang selama hidupnya ia cari. Belahan jiwanya, cinta matinya. Sebab, detik-detik pada ciuman itu, dalam bayangan Hector, ia melihat mereka berdua berada di atas ranjang yang sama. Berbalut kasih dan berbahagia. Benar, Hector bisa melihat masa depan ketika ia mencium seseorang, atau sekadar memegang tangan seseorang. Rahasia terbesar yang hanya ia, orang tuanya, dan dokter pribadinya yang tahu.
10
6 Bab
Istri Masa Depan Pembawa Keberuntungan
Istri Masa Depan Pembawa Keberuntungan
Li Mei terbangun dan menyadari bahwa dia tidak sedang berada di rumahnya.  Di mana ini? Bukankah tadi dia terjatuh dari tangga? Kenapa dia tidak berada di rumah sakit dan malah berada di dalam rumah reyot seperti ini? Dan … siapa pula laki-laki tampan yang tidur di sebelahnya ini? "Kalau kamu sudah tidak tahan dengan pernikahan kita, tunggulah beberapa hari lagi. Aku pasti akan menceraikanmu. Jangan berusaha bunuh diri lagi," ucap Bai Changyi menatapnya dengan muram. Bercerai? Kenapa dia mau bercerai dari suami yang tampan seperti ini? Bai Chanyi menatapnya dengan kebingungan? Bukankah perceraian adalah hal yang paling Li Mei inginkan selama ini? "Aku tidak ingin bercerai, aku hanya ingin menjadi kaya!" Bisakah Li Mei mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang pengusaha kaya di era kuno bersama suaminya? IG : @summerrainwriter FB : Summer Rain
9.9
136 Bab
Putri Kecil CEO dari Masa Depan
Putri Kecil CEO dari Masa Depan
Sejak lama, Rafli tidak pernah menyukai anak-anak dan tidak pernah ingin memiliki keluarga sendiri. Anehnya, anak-anak pun selalu merasa ketakutan di dekat Rafli. Sampai suatu hari, seorang gadis kecil tiba-tiba muncul di kamar Rafli dan mengaku sebagai anaknya dari masa depan. Keinginan Rafli untuk mengetahui kejadian-kejadian di masa depan pun terwujud. Namun, bagaimana jika masa depan yang putrinya ceritakan tidak seindah masa depan yang ia rencanakan? Terlebih saat ia tahu bahwa ibu dari putrinya adalah calon istri sahabatnya sendiri..
Belum ada penilaian
3 Bab
Wanita 3 Juta Dollar : Istriku dari Masa Depan
Wanita 3 Juta Dollar : Istriku dari Masa Depan
Berpindah abad dan menjadi wanita dari rumah bordil? Kecelakaan yang menimpanya, membuat Alessia Petrova harus hidup kembali di abad yang berbeda dan menjadi kekasih kontrak dari sang billionaire terkaya di negara ini. "Kau nikmat, Sia. Bisakah kita menambah kontrak?"."Tidak!" Alessia menolak dan kabur dari pria itu di hari pertama kontrak mereka selesai. Namun apakah hubungan mereka selesai begitu saja disana? Beberapa tahun kemudian saat semua keadaan berbalik, seorang balita bertanya “Dimana Daddy, mom?”.
Belum ada penilaian
81 Bab
MAHAPATIH DARI MASA DEPAN : Dark Romance di Istana Majapahti
MAHAPATIH DARI MASA DEPAN : Dark Romance di Istana Majapahti
Seorang auditor jenius abad ke-21, Alesha Naraya, terhempas ke abad ke-14—ke jantung kerajaan terbesar Noesantara: Majapahti. Ia terpaksa menyamar sebagai seorang pemuda untuk bertahan hidup. Penyamaran itu menyeretnya ke gerbang menuju kekuasaan, dan perlahan namanya melekat dengan sosok legendaris: Mahapatih Gaja Mada. Ia terjebak antara ambisi, rahasia, dan cinta terlarang pada Sang Raja, Arya Wuruk.
10
155 Bab
Perjalanan ke Masa Lalu Istri yang Diselingkuhi
Perjalanan ke Masa Lalu Istri yang Diselingkuhi
Awalnya Laras merasa bahwa dia memiliki keluarga bahagia dengan suami yang sangat menyayanginya. Akan tetapi sebuah kenyataan membuatnya sadar bahwa apa yang terlihat bukanlah yang sebenarnya. Hingga suatu hari, dia menyaksikan sendiri suaminya berselingkuh dengan perempuan yang tak lain adalah sekertarisnya! Tak mau bercerai, Laras bersumpah akan membuat Adhi menderita. Tetapi, kecelakaan naas membuat Laras tiba-tiba kembali ke masa lalu. Di mana dia masih duduk di kelas dua SMA dan dihadapkan banyak pilihan untuk menyingkirkan Adhi. Namun, jika dia menyingkirkan Adhi, bukankah dia tak akan melihat Abhi Satya, anaknya di masa depan? Lalu pilihan apa yang akan diambil oleh Laras?
10
33 Bab

Pertanyaan Terkait

Bagaimana Saya Bisa Baca Cerita Adaptasi Manga Ke Film?

3 Jawaban2025-10-18 11:19:30
Kupikir hal paling seru waktu mengikuti adaptasi manga ke film itu bukan cuma menilai mana yang 'lebih baik', tapi merasakan bagaimana cerita berubah bentuk. Aku biasanya mulai dengan menonton film dulu kalau adaptasinya punya hype besar dan aku nggak mau spoiler dari panel-panel manga yang kadang terlalu detil. Menonton dulu bikin pengalaman sinematiknya murni—musik, akting, framing—baru kemudian aku baca manganya untuk menikmati lapisan-lapisan tambahan: dialog yang dipanjangkan, monolog batin yang hilang, subplot yang mungkin dipotong. Contohnya, ketika nonton 'Rurouni Kenshin' aku berasa energi duel di film beda cara penyampaiannya dibanding manganya; baca ulang bikin aku sadar kenapa beberapa adegan diubah supaya pacing film tetap hidup. Sebaliknya, kalau kamu lebih suka memahami dunia secara penuh, baca manganya sampai titik adaptasi atau bahkan selengkapnya dulu. Ini bikin film terasa seperti ringkasan visual dari apa yang sudah kamu bayangkan sendiri—kadang bikin kecewa kalau ada yang dipotong, tapi seringkali mengagumkan melihat adegan favoritmu dihidupkan. Saran praktis: cari wawancara sutradara atau special features di DVD/Blu-ray, bandingkan panel manganya dengan screenshot film, dan jangan takut menganggap keduanya sebagai karya terpisah. Aku selalu senang ketika keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Bagaimana Film Terbaru Mengubah Akhir Kisah Cinderella?

4 Jawaban2025-10-19 13:49:13
Gak nyangka versi barunya benar-benar membalik ekspektasi soal 'Cinderella'—dan aku malah senang gara-gara itu. Film ini nggak cuma mengganti siapa yang naik ke singgasana, tapi juga merombak alasan kenapa Cinderella boleh bahagia. Alih-alih momen klimaks berupa pesta lalu lari-lari mengejar sepatu kaca, endingnya memberi ruang supaya Cinderella memilih hidup yang sesuai kemampuannya: dia menolak pernikahan semata-mata sebagai 'penyelamat' dan justru memulai sesuatu yang mandiri, semacam usaha atau lembaga yang membantu perempuan lain. Detail kecilnya beriak ke segala arah; pangeran juga digambarkan lebih sebagai partner yang harus membuktikan komitmen lewat tindakan nyata, bukan cuma perasaan cinta sekejap. Tokoh-tokoh pendukung, bahkan ibu tiri dan saudara tiri, diberi arc yang kompleks—bukan berubah total jadi baik atau jahat, melainkan melalui proses yang terasa manusiawi. Keberadaan peri/pembimbing magis diramu ulang sebagai figur mentor yang mendorong kemandirian, bukan memberi solusi instan. Akhirnya, yang bikin aku tersentuh adalah simbolisme sepatu kaca yang tetap ada, tapi kini jadi tanda pilihan dan tanggung jawab, bukan hanya bukti identitas. Film baru ini berhasil menjaga nuansa dongeng sambil memberi pesan modern: bahagia itu bukan hadiah, melainkan sesuatu yang dibangun. Aku pulang dari bioskop dengan perasaan hangat dan agak bangga lihat adaptasi klasik jadi relevan lagi.

Bagaimana Adaptasi Film Menggambarkan Suasana Menggapai Matahari?

3 Jawaban2025-10-19 06:48:57
Ada sesuatu di film yang selalu bikin dadaku sedikit melompat ketika adegan ’menggapai matahari’ muncul: itu bukan cuma soal cita-cita visual, tapi soal getar yang ditinggalkan di seluruh indra. Aku suka gimana sutradara sering memakai golden hour sebagai bahasa emosi — bukan sekadar estetika. Cahaya hangat memberi tubuh kehangatan, lens flare menempelkan nostalgia, dan siluet yang menengadah jadi simbol kerinduan. Dalam banyak adaptasi, momen itu dirangkai lewat komposisi sederhana: tokoh di muka lensa, langit luas di belakang, dan kamera pelan menaik yang membuat penonton ikut terangkat. Teknik seperti rack focus dan slow dissolve sering dipakai untuk mengubah aksi fisik menjadi momen lirikal, seolah mencapai matahari bukan sekadar gerakan, melainkan pencerahan. Suara juga penting: musik naik sedikit lebih cepat, atau justru menyisakan jeda hening sebelum klimaks, sehingga ketika cahaya menyapu layar kita merasakan 'ketibaan' bukan cuma visual tapi emosional. Aku teringat adegan di film seperti 'Sunshine' yang menempatkan elemen ilmiah dan mistik bersama-sama, atau potongan langit dalam 'The Tree of Life' yang membuat mencapai sesuatu yang besar terasa religius. Intinya, adaptasi film sering menggabungkan warna, suara, dan ritme kamera untuk menjadikan gagasan menggapai matahari terasa personal — dan itu bikin aku selalu mencari momen-momen kecil itu tiap kali nonton ulang.

Siapa Pemeran Utama Dalam Film Ratu Sejagad Versi Layar?

3 Jawaban2025-10-19 19:15:17
Ngomong soal pemeran utama 'Ratu Sejagad' versi layar, aku langsung membayangkan siapa yang bakal nongol di poster—sosok yang semua trailer dan wawancara tonjolkan sebagai karakter sentral. Karena aku nggak menaruh data spesifik soal daftar pemain di otakku sekarang, aku lebih suka ngasih cara cepat dan jitu buat kamu cek nama pemeran itu sendiri: buka trailer resmi di YouTube dan lihat judul video atau deskripsinya, cek kredit awal atau akhir film kalau bisa nonton, atau lihat halaman film di platform streaming yang menayangkan film tersebut. Sebagai penggemar yang suka ngulik berita film, aku biasanya juga ngecek IMDb atau situs film nasional seperti FilmIndonesia.or.id, serta artikel liputan di portal berita hiburan (contohnya yang sering update tentang casting dan press release). Akun resmi sutradara, rumah produksi, atau para pemeran di Instagram/Twitter sering kasih pengumuman cast lengkap, dan itu biasanya sumber paling cepat. Kalau filmnya sempat diputar di festival, program festival juga mencantumkan pemeran utama—bisa jadi petunjuk yang akurat. Intinya: pemeran utama biasanya tercantum di materi promosi dan kredit resmi, jadi cara tercepat adalah cek trailer + halaman film di platform resmi atau IMDb. Semoga cara-cara ini bantu kamu nemuin jawabannya dengan gampang—asyik aja rasanya saat kepo lalu nemu nama pemeran yang benar!

Adakah Buku Atau Film Yang Menjelaskan Apa Arti Friendzone Dengan Baik?

4 Jawaban2025-10-20 05:23:24
Ngomong soal friendzone, aku selalu kebayang adegan-adegan canggung di film romantis yang bikin hati cenat-cenut. Salah satu yang paling jujur menurutku adalah 'When Harry Met Sally' — film itu ngobrolin batas tipis antara persahabatan dan rasa, serta bagaimana waktu dan kejujuran mengubah dinamika. Ada momen-momen di sana yang nunjukin kalau friendzone bukan cuma soal ditolak, tapi soal ekspektasi yang nggak sejalan. Selain itu, '500 Days of Summer' menawarkan pelajaran penting: kadang masalahnya bukan cuma friendzone, tapi interpretasi kita terhadap sinyal-sinyal orang lain. Kalau mau referensi baca, aku sering menyarankan 'Attached' untuk memahami kenapa seseorang bisa tersangkut di posisi itu; buku itu nggak ngomongin istilah friendzone secara langsung, tapi menjelaskan attachment styles yang sering bikin satu pihak berharap lebih. Untuk sisi fiksi ringan dan relatable, ada novel-novel romcom modern yang membahas batas-batas persahabatan dan komunikasi, yang menurutku sangat berguna buat refleksi pribadi. Pada akhirnya, pelajaran terbesar adalah: komunikasi dan kejelasan intensi—itu yang sering terlupakan.

Bagaimana Cara Mengadaptasi Kumpulan Cerita Rakyat Ke Film Pendek?

4 Jawaban2025-10-20 18:11:06
Satu hal yang selalu bikin aku bersemangat adalah merombak legenda lokal jadi film pendek. Aku biasanya mulai dengan menciutkan cerita sampai hanya menyisakan satu konflik inti—misal keserakahan, kesetiaan, atau pembalasan—lalu merancang scene yang bisa mengkomunikasikannya secara visual. Langkah praktis yang aku pakai: baca beberapa versi cerita, tandai momen yang paling emosional, tentukan perspektif (apakah dari sang pahlawan, korban, atau bahkan objek seperti keris), lalu buat outline tiga babak yang ketat. Karena durasi pendek, tiap adegan harus punya tujuan ganda: majuin plot sekaligus ngebangun suasana. Aku selalu bikin moodboard visual dan soundscape sederhana agar kru kecil paham tone yang diincar. Selain itu, aku sadar pentingnya menghormati latar budaya—konsultasi dengan pemangku cerita atau sesepuh lokal membantu menghindari stereotip. Terakhir, uji coba ke audiens kecil: potongannya sering beda antara naskah dan realisasi. Kadang ide kecil yang tadinya cuma side detail malah jadi kunci emosional di layar; suka momen itu, rasanya cerita lama dapat napas baru.

Film Mana Termasuk Rekomendasi Movie Korea Klasik Populer?

1 Jawaban2025-10-21 05:17:53
Ngomongin film Korea klasik itu selalu bikin semangat, karena ada banyak judul yang tetap asyik ditonton berulang kali dan punya pengaruh besar ke perfilman Korea sekarang. Aku sering merekomendasikan film-film ini ke teman-teman yang mau kenalan lebih jauh dengan variasi genre dari negeri ginseng—dari romcom yang manis sampai thriller yang bikin kepala muter-muter. Berikut pilihan film klasik populer yang menurutku wajib ditonton, lengkap dengan alasan kenapa tiap film itu spesial dan suasana apa yang cocok buat menontonnya. 'Oldboy' (Park Chan-wook) — Ini wajib kalau kamu suka thriller psikologis yang gelap, penuh twist, dan visualnya kuat. Aku masih teringat adegan corridor fight yang jadi ikon; bukan cuma kejutan plot, tapi cara film ini mengajak penonton ikut merasakan kemarahan, kebingungan, dan obsesi karakter utamanya. 'Memories of Murder' (Bong Joon-ho) — campuran misteri pembunuhan nyata dengan humor pahit, cocok buat yang suka cerita detektif yang lebih 'manusiawi' daripada cuma teka-teki. 'The Host' (Bong Joon-ho) juga seru buat penonton yang mau melihat genre monster yang dikemas dengan satire sosial dan emosi keluarga. 'My Sassy Girl' (Kwak Jae-yong) — klasik romcom yang bikin geli dan baper sekaligus; kunci pesonanya ada chemistry yang natural dan momen-momen lucu yang masih bisa bikin ketawa hari ini. 'A Moment to Remember' (John H. Lee) lebih ke arena melodrama yang bikin tissues-ready; kalau mau nangis teratur dan merasakan cinta yang tragis, mulai di sini. Untuk film yang mengubah persepsi soal blockbusters Korea, coba 'Shiri' (Kang Je-gyu) — ini film aksi-thriller yang dulu jadi pionir suksesnya film Korea besar-besaran. Buat yang suka karya lebih meditatif dan artistik, 'Spring, Summer, Fall, Winter... and Spring' (Kim Ki-duk) adalah pilihan yang menenangkan dan penuh simbol; film ini bukan buat yang buru-buru, tapi cocok untuk refleksi. 'Peppermint Candy' (Lee Chang-dong) menawarkan narasi mundur yang menyakitkan namun jujur, membahas sejarah dan trauma pribadi. Di sisi kult dan absurd, 'Save the Green Planet!' (Jang Joon-hwan) luar biasa aneh tapi jenius—kalau kamu suka film yang nggak mau dipetakan gampang, ini seru. Untuk thriller modern yang tajam, 'The Chaser' (Na Hong-jin) juga sering masuk daftar rekomendasi karena pacing dan ketegangannya sangat efektif. Kalau bingung mau mulai dari mana, pilih berdasarkan mood: mau ketawa dan baper? Mulai dari 'My Sassy Girl'. Mau diguncang dan susah tidur? 'Oldboy' atau 'Memories of Murder' cocok. Butuh film yang menenangkan dan kontemplatif? 'Spring, Summer, Fall, Winter... and Spring' juaranya. Series judul-judul ini nggak cuma populer di zamannya, tapi juga punya pengaruh besar ke sineas-sineas baru. Selamat menjelajah—semoga salah satu film ini bikin kamu terpikat sama kekayaan dan keberagaman sinema Korea seperti aku yang nggak bisa berhenti nonton ulang beberapa di antaranya.

Bagaimana Adaptasi Film Modern Mengubah Adegan Kitab Ramayana?

3 Jawaban2025-10-20 00:50:21
Aku selalu merasa adaptasi modern kerap memainkan dua peran sekaligus: merayakan dan merombak. Saat menonton versi layar lebar dari 'Ramayana', yang pertama kali mencolok bagiku adalah skala visualnya — adegan pertempuran, adegan langit, dan panorama hutan yang dulunya hanya hidup lewat deskripsi, sekarang dibuat megah dengan CGI dan koreografi gerak. Efek visual bikin adegan-adegan legendaris terasa lebih 'nyata', tetapi juga kadang mengubah ritme cerita karena sutradara harus memilih momen-momen sinematik yang kuat demi spektakel. Akibatnya beberapa adegan reflektif yang semula memakan waktu dalam teks epik dipadatkan atau dihilangkan. Pendekatan karakter juga berubah; banyak adaptasi modern mengeksplor sisi psikologis tokoh seperti Sita atau Ravana, menghindari figurasi hitam-putih. Aku suka ketika Sita diberi lebih banyak suara dan motivasi yang terlihat di layar — itu membuat konflik moral terasa lebih relevan sekarang. Namun, ada kalanya perubahan itu terasa memaksa, misalnya menambahkan subplot romantis atau latar belakang yang tak ada dasarnya hanya demi menjanten drama kontemporer. Adaptasi lintas-budaya juga menarik: ketika 'Ramayana' di-set di konteks yang berbeda, tema seperti kewajiban, kehormatan, dan pengorbanan diuji ulang sehingga penonton baru bisa terhubung. Di sisi lain, aspek musikal dan kostum menonjol sebagai jembatan tradisi-modern. Lagu atau motif musik tradisional kadang dipadukan dengan aransemenn modern sehingga adegan ritual tetap terasa sakral tapi tidak asing bagi pendengar muda. Bagiku, adaptasi terbaik adalah yang peka terhadap akar budaya namun berani bereksperimen tanpa merusak inti cerita — yang membuat kisah lama itu tetap hidup untuk generasi sekarang dengan cara yang tetap membuatku merinding di kursi bioskop.
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status