เข้าสู่ระบบSeorang auditor jenius abad ke-21, Alesha Naraya, terhempas ke abad ke-14—ke jantung kerajaan terbesar Noesantara: Majapahti. Ia terpaksa menyamar sebagai seorang pemuda untuk bertahan hidup. Penyamaran itu menyeretnya ke gerbang menuju kekuasaan, dan perlahan namanya melekat dengan sosok legendaris: Mahapatih Gaja Mada. Ia terjebak antara ambisi, rahasia, dan cinta terlarang pada Sang Raja, Arya Wuruk.
ดูเพิ่มเติมThe Weight of What Remains
There are moments that split your life in two — the before and the after. You don’t always see them coming. Sometimes they’re quiet, slipping in on an ordinary night. Sometimes they arrive with the sound of a door being kicked in and a gun going off. Either way, when the dust settles, you realize the person you were before no longer exists. I’ve lived through more of those moments than I care to count. They don’t just change you — they carve you. Every scar, every ache, every tear you hold back becomes part of your foundation. I used to think strength meant standing tall no matter what, but now I know it’s about learning to stand again after you’ve fallen, even when you don’t want to. People see you smile and assume you’ve healed. They don’t see the weight you carry in silence — the ghosts you tuck behind every laugh, the memories that never fade no matter how many years pass. Twenty-six years since the night that stole everything from me, and I can still hear it sometimes — the shattering glass, the screams, the gunshots. I can still smell the gunpowder in the air.There are things you don’t ever forget. You just learn to live around them. But before all of that — before the heartbreak, before the loss, before the trial and the years of trying to rebuild — I had a beautiful life. A childhood full of sunshine and laughter and the kind of love that made you believe the world was safe. I grew up in a small hometown where everyone knew everyone, where kindness was a kind of currency, and neighbors were more like family. My mother was the heartbeat of it all. She didn’t just raise her own children; she raised everyone else’s too. Friends, cousins, strangers — it didn’t matter who you were or where you came from. If you needed help, you found it in her kitchen, where the coffee was always hot and her advice was soft but steady. She was everyone’s mom — the glue that held people together when life tried to pull them apart. My father was quieter — the steady hand, the silent pillar. He didn’t shout or demand. He listened, he guided, and he trusted me to make my own choices — mistakes included. Between the two of them, I learned what love should look like: patient, kind, forgiving. Life seemed simple then. But loss came early and often. My great-uncle passed away in our home, followed by both of my grandfathers — men who taught me the meaning of hard work, integrity, and love that didn’t need words. And then came the night the phone rang — the night that changed everything. My brother, my 6’3” wall of strength and smiles, the one who was always my protector, was gone. I remember punching walls until my hands bled, screaming until my voice broke, breaking anything I could get my hands on. It was the first time I ever truly lost control — the first time I learned that grief has no rules. That was the beginning of my education in pain — though I didn’t know it yet. Life wasn’t done testing me. Somewhere between the girl I was and the woman I became, I learned to survive things that should’ve destroyed me. I built homes, lost loves, had children born and children stolen, buried dreams, and started over more times than I can count. And even now, as I stand in the quiet aftermath once again — another husband gone, another chapter ended — I remind myself of one thing: I’ve lost everything before. And I still found a way to rise. And so, before the storm — before heartbreak, loss, and the long road that would shape the rest of my life — there was light. There was laughter echoing down dirt roads, Sunday dinners that stretched late into the night, and the kind of childhood that wrapped around you like a warm blanket. Before the pain, there was peace. Before the scars, there was innocence. This is where my story truly begins.Beberapa hari setelah peristiwa tragis di desa seniman, ketenangan palsu menyelimuti Istana Wilwatikta. Rahasia kematian Kebo Iwa terkunci rapat di antara segelintir orang—Arya, Alesha, Rendra, dan Samudra. Warga desa telah dibungkam dengan janji bantuan dan perintah keras dari Istana.Arya Wuruk dan Alesha (Gaja Mada) segera mengadakan pertemuan strategis tertutup dengan orang ketiga yang paling penting dalam rencana ekspedisi: Laksamana Nala.Mereka bertemu di sebuah ruang rapat kecil yang dindingnya diukir dengan peta Nusantara. Suasana tegang, bercampur dengan bau kertas lontar dan dupa yang menenangkan.Arya Wuruk membuka diskusi dengan wajah datar, menyampaikan informasi yang telah disepakati untuk dirilis secara internal."Laksamana Nala," ujar Arya, suaranya serius. "Aku harus menyampaikan kabar penting. Panglima Perang Bali, Kebo Iwa, telah meninggal dunia."Laksamana Nala, yang selama ini sibuk mengurus persiapan Jung Jawa dan armada, seketika terkejut. Ia menegakkan tubuhny
Alesha bersimpuh di tanah yang basah dan berlumur debu kapur. Ia meratapi kengerian yang baru saja terjadi. Di dunia modernnya, Kebo Iwa akan dengan mudah diselamatkan oleh tim SAR dengan peralatan hidrolik, crane, dan tabung oksigen. Tetapi di abad ke-14 ini, dengan kondisi Kebo Iwa yang besar dan lubang sumur yang telah longsor, ia terkubur secara efektif."Kebo Iwa..." bisik Alesha, air matanya mengalir deras, membasuh bekas luka palsu di pipinya hingga riasan itu mulai luntur. Ia memukul tanah di sampingnya dengan frustrasi.Arya Wuruk tetap duduk di tanah, memeluk Alesha erat. Raja yang biasanya tegar itu merasakan rasa sakit dan kepanikan yang luar biasa. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Alesha, Mahapatih Gaja Mada yang selalu kuat, strategis, dan penuh percaya diri, menangis tak berdaya. Air mata Alesha terasa seperti air matanya sendiri."Padahal, ia hanya ingin membantu warga Majapahit..." isak Alesha di antara tangisnya, rasa bersalah membebani jiwanya. "Ia datang untuk
Teriakan sorak sorai warga desa yang merayakan munculnya air di sumur Majapahit berubah menjadi kepanikan.Di dasar lubang, Kebo Iwa terhuyung. Tubuhnya yang bagaikan baja kini terasa seperti lumpur. Ia merasakan sensasi terbakar di kulitnya, tenggorokannya menyempit, dan pandangannya mulai kabur. Debu kapur yang terhirup dan menempel di keringatnya telah memicu reaksi alergi yang ekstrem, melumpuhkan seluruh kekuatannya."Le-Lestari..." Kebo Iwa merangkak, mencoba meraih tepi lubang, tetapi tangannya yang lemah hanya mencengkeram lumpur bercampur kapur. Ia ambruk, pandangannya menggelap.Di tengah kekacauan sorakan, Arya Wuruk tiba. Raja itu, yang tidak tahan menunggu dan khawatir dengan keselamatan Alesha, telah menyelinap keluar Istana, menyamar dalam pakaian rakyat jelata. Ia melihat kerumunan besar di desa seniman dan mendengar teriakan.Alesha, yang panik, sama sekali tidak menyadari kedatangan Arya. Ia hanya fokus pada Kebo Iwa. Mata Alesha melebar, melihat kondisi Kebo Iwa yan
Samudra membuka mulutnya, hendak memanggil nama Alesha atau setidaknya memberi salam, tetapi Alesha melihatnya lebih dulu.Alesha, yang menyadari bahaya besar jika Samudra bicara, dengan cepat dan hampir tak terlihat memberi isyarat menggelengkan kepala yang tegas pada Samudra. Mata Alesha penuh peringatan, meminta Samudra untuk diam.Samudra, yang cukup pintar itu, langsung mengerti: 'Ini adalah sandiwara. Bahaya. Jangan bicara.' Samudra segera menutup mulutnya dan berbalik, pura-pura kembali fokus pada cangkulnya.Kebo Iwa yang mendengar suara-suara itu penasaran, ia berjalan mendekati kelompok itu."Apa yang sedang kalian lakukan, Saudara?" tanya Kebo Iwa kepada salah satu pemuda.Pemuda itu, yang terintimidasi oleh postur Kebo Iwa, menjawab dengan hormat. "Kami sedang mencoba menggali sumur baru, Tuan. Tapi tanahnya terlalu keras, dan kami sudah menggali lama sekali. Kami butuh waktu lama untuk mencapai air."Kebo Iwa tersenyum kecil. Ia melihat kesulitan mereka."Sulit, ya?"Tanp
Malam itu hening menyelimuti ruang rahasia di bangsal raja. Hanya suara obor yang menari di sudut ruangan, membentuk bayangan gelap yang bergoyang di dinding kayu. Lembaran lontar yang berserakan di lantai tampak seperti lautan simbol yang menunggu untuk dipecahkan. Alesha, duduk di lantai sambil m
Sinar pagi menembus celah dinding kayu jati, menorehkan cahaya keemasan di ruangan rahasia bangsal raja. Aroma kayu basah bercampur dengan bau asap dupa tipis yang masih tersisa dari malam sebelumnya. Suara ayam jantan bersahut-sahutan, berpadu dengan langkah-langkah para abdi di kejauhan, membuat
Alesha menarik napas panjang, tubuhnya masih terasa segar setelah mandi, meskipun ia sempat merasa aneh mandi tanpa sabun dan sampo. Air yang dingin, kain tipis yang menempel di kulit, dan tangan Arya Wuruk yang tadi dengan tenang membantu membilas rambutnya, semuanya masih menempel jelas dalam ing
Hening memenuhi kamar. Hanya suara obor yang menari di sudut ruangan, membentuk bayangan gelap yang bergerak perlahan di dinding kayu jati yang megah. Detak jantung Alesha terdengar nyaring di telinganya sendiri, seolah setiap denyut menegaskan ketidaknyataannya. Dunia yang ia kenal—listrik, kendar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น