LOGINBerpindah abad dan menjadi wanita dari rumah bordil? Kecelakaan yang menimpanya, membuat Alessia Petrova harus hidup kembali di abad yang berbeda dan menjadi kekasih kontrak dari sang billionaire terkaya di negara ini. "Kau nikmat, Sia. Bisakah kita menambah kontrak?"."Tidak!" Alessia menolak dan kabur dari pria itu di hari pertama kontrak mereka selesai. Namun apakah hubungan mereka selesai begitu saja disana? Beberapa tahun kemudian saat semua keadaan berbalik, seorang balita bertanya “Dimana Daddy, mom?”.
View MoreILS SONT VENUS ME TUER
POINT DE VUE : AZURIANE Le goût du sang emplissait ma bouche. Je courais. Je ne sentais plus mes jambes, seulement la douleur qui déchirait chacun de mes muscles. Les branches me fouettaient le visage. Les ronces s'accrochaient à ma robe déjà déchirée. Derrière moi, les hurlements des loups résonnaient dans toute la forêt. Ils étaient proches. Beaucoup trop proches. « Elle est par là ! » Cette voix. Je l'aurais reconnue entre mille. Kaïden. Mon souffle se brisa. Je trébuchai contre une racine, roulai dans les feuilles mortes et m'écrasai lourdement contre le tronc d'un vieux chêne. Une douleur fulgurante traversa ma cheville. Je mordis ma lèvre jusqu'au sang pour étouffer un cri. « Relève-toi » Ma voix n'était plus qu'un murmure. « Relève-toi, Azuriane » Je pris appui sur le tronc. Mes jambes tremblaient. Mon corps entier me suppliait d'abandonner. Mais je savais ce qui m'attendait si je cessais de courir. La mort. Les aboiements se rapprochaient. Ils étaient partout. À ma gauche. À ma droite. Devant. Derrière. Ils m'encerclaient. Une larme roula sur ma joue sans que je puisse l'empêcher. « Pourquoi ? » Je ne comprenais pas. J'avais toujours obéi. J'avais accepté les humiliations. J'avais supporté les coups. Je n'avais jamais levé la main contre un membre de la meute. Alors pourquoi. Pourquoi voulaient-ils ma mort ? Un craquement retentit derrière moi. Je me retournai brusquement. Deux loups noirs surgirent des fourrés. Leurs crocs luisaient sous la lumière de la lune. Leurs yeux étaient rivés sur moi. Ils grognèrent à l'unisson. Je reculai d'un pas. Puis d'un autre. Mon talon rencontra le vide. Je me retournai. Une falaise. La rivière grondait plusieurs mètres plus bas. Mon cœur s'arrêta. Je n'avais plus aucune issue. Les deux loups avancèrent lentement. Leurs babines retroussées découvraient des crocs immenses. Ils n'étaient plus qu'à quelques mètres. Puis des silhouettes humaines émergèrent des arbres. Une. Deux. Cinq. Dix. Toute la Meute d'Obsidienne. Des torches éclairaient leurs visages. Je les connaissais tous. J'avais grandi parmi eux. Ils avaient partagé mon pain. Je leur avais préparé leurs repas. J'avais lavé leurs vêtements. Soigné leurs chevaux. Nettoyé leurs maisons. Et pourtant, aucun regard ne contenait la moindre pitié. Seulement de la haine. Kaïden s'avança en premier. Un sourire cruel étira ses lèvres. « Tu ne peux plus fuir. » Je secouai lentement la tête. « Qu'est-ce que je vous ai fait ? » Personne ne répondit. Le silence fut plus douloureux que n'importe quelle insulte. Puis les guerriers s'écartèrent. Une silhouette imposante apparut. L'Alpha. Varkhan Crowe. Sa simple présence fit taire toute la forêt. Il s'arrêta devant moi. Ses yeux gris me fixaient avec une froideur que je ne lui avais jamais connue. Je rassemblai le peu de courage qu'il me restait. « Alpha. Dites-moi au moins pourquoi. » Il resta silencieux quelques secondes. Puis il déclara d'une voix glaciale : « Parce que ton existence est une menace pour cette meute. » Je sentis mon cœur se serrer. Une menace ? Moi ? Je n'étais qu'une simple humaine. Sans loup. Sans pouvoir. Sans famille. « Je ne comprends pas. » Il ne répondit pas. À sa droite, la Luna esquissa un sourire satisfait, comme si cet instant était celui qu'elle attendait depuis des années. L'Alpha leva lentement la main. Tous les guerriers retinrent leur souffle. Puis il prononça trois mots qui glacèrent mon âme : « Capturez-la vivante. » À cet instant précis, toute la meute se jeta sur moi.“Kau kembali begitu cepat.” Matteo menyambut Alessia dengan hangat di bandara.Pagi ini Alessia telah tiba, Matteo mengira jika wanita itu akan lama berada disana.“Aku merindukan Liam.” Jawab Alessia dengan tenang.“Aku? Apa kau juga merindukan aku, Sia?” Tanya Matteo dengan senyum manisnya.Alessia tampak tersenyum melihat itu, namun dia memilih untuk berjalan menuju ke parkiran mobil mereka.“Alessia, apa kau masih ingat penawaranku? Bagaimana? Apakah kau bisa menerimaku kembali?” Tanya Matteo dengan penuh harap.Sudah lama dia menunggu, dia tak bisa menunggu terlalu lama lagi.Alessia berhenti sejenak, memandang Matteo dengan serius. "Matteo, aku perlu waktu untuk memikirkannya dengan baik. Ini bukan keputusan yang bisa aku ambil begitu saja." Suaranya tenang, tetapi penuh dengan kepastian.Matteo menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan kegelisahannya. "Aku mengerti. Aku akan menunggu keputusanmu, Sia." Dia mencoba tersenyum, meskipun ada kekhawatiran yang tersembunyi di
“Bagaimana?” Alessia yang baru saja tiba di New York siang ini langsung menemui David untuk melakukan pengecekan terhadap sistem yang berhasil dibuat.“Ada di tanganku, ayo aku tunjukkan.” David memimpin jalan menuju ke ruangannya.Setiap langkahnya menggambarkan keraguan dan ketidaksabaran yang ketara.Hingga sampai diruangan, dia melihat sebuah alat yang benar-benar persis di bayangannya.Dia adalah sistem AI nya yang dia pasang di dalam mobil, dia adalah Lucy.Alessia menyentuh benda itu yang nantinya akan di pasang dalam mobilnya.“Apakah ii sudah berfungsi?” Tanyanya pada David.David mengangguk dengan senyum bangga. "Ya, sudah siap dan berfungsi dengan baik. Lucy dilengkapi dengan teknologi canggih yang akan memungkinkanmu untuk mengendalikan berbagai fitur mobil dari jarak jauh, mulai dari navigasi hingga pengaturan suhu."Alessia tersenyum puas, merasa lega melihat hasil kerja keras mereka. "Bagus sekali. Terima kasih, David. Kita telah mencapai titik ini berkat kerja kerasmu.
“Tuan Henrey datang menemui anda, tuan.” Josh memberikan informasi itu pada Matteo yang sedang fokus melihat dokumen perusahaan.Mendengar sang ayah ingin menemuinya, Matteo langsung melirik ke arah Josh.“Bawa dia masuk.” Ucapnya dengan dingin.Matteo menarik napas dalam-dalam. Dia menyadari bahwa pertemuan ini mungkin akan membawa banyak ketegangan, mengingat hubungan yang rumit antara mereka.Ketika Tuan Henrey memasuki ruangan, Matteo menatapnya dengan tatapan serius. "Apa yang bisa aku bantu, Ayah?" tanyanya tanpa menunjukkan ekspresi emosional apa pun.Tuan Henrey memandang anaknya dengan serius. "Aku mendengar tentang kehadiran Liam di mansionmu. Kau tidak memberitahuku bahwa anak itu disana," ujarnya dengan nada yang dingin.Matteo tetap tenang meskipun dihadapkan pada pertanyaan ayahnya yang mengejutkan. "Aku tidak melihat alasan untuk memberitahumu. Liam adalah urusanku, bukan urusanmu," jawabnya tegas.Tuan Henrey mengangguk dengan serius. "Namun, kau harus mempertimbangkan
“Tuan, ada nyonya besar dan nona muda.” Bisik Josh pada tuannya yang saat ini saat mereka sedang makan malam bersama.Matteo yang mendengar itu terdiam lalu melirik ke arah Alessia yang berada di sebelahnya.“Siapa?” Tanya Alessia ketika melihat Matteo meliriknya.“Ibu tiri.” Jawabnya dengan singkat.Alessia yang mendengar itu mengangguk.“Bawa dia masuk, kenapa kau malah diam?” Tanya Alessia dengan bingung.Matteo mengangguk dan memberi isyarat kepada Josh untuk mempersilakan tamu-tamu tersebut masuk. Dengan sigap, Josh meninggalkan meja makan untuk membuka pintu.Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang anggun dan elegan memasuki ruangan, diikuti oleh seorang gadis cantik di belakangnya. Wanita paruh baya tersebut adalah nyonya Irish dan Veronica."Kak Alessia!” Veronica langsung berlari menghampiri Alessia yang tak pernah dia temui begitu lama.Alessia berdiri dan menangkap pelukan Veronica dengan hangat.Nyonya Irish tersenyum dan menghampiri mereka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.