Pernah ngebaca novel atau main game yang bikin kamu bingung karena ceritanya loncat-loncat waktu? Itu tuh contoh alur campuran. Aku sendiri suka banget sama gaya kayak gini karena rasanya kayak lagi ngumpulin puzzle – setiap bagian baru yang muncul bikin kita makin penasaran gimana semua potongan ini akhirnya nyambung. Misalnya di 'Westworld' series, waktu pertama nonton pasti sempet pusing karena ada banyak timeline yang disambungin, tapi pas udah mulai nyambung, puas banget rasanya.
Beda banget sama alur linear yang lebih straight to the point. Kayak kebanyakan film Disney atau YA novel, jalan ceritanya dari A ke B terus ke C. Gak ada flashback atau flashforward yang kompleks. Aku sering nyari bahan bacaan kayak gini pas lagi pengen hiburan yang santai, gak perlu mikir berat. Tapi kadang-kadang justru karena terlalu predictable, rasanya kurang greget. Dua-duanya punya kelebihan sih, tergantung mood aja. Kadang pengen yang ribet dikit buat stimulasi otak, kadang pengen yang lancar kayak air mengalir.
Ada satu momen di mana Aul benar-benar mencuri perhatianku lewat karya 'Ruang Sunyi'. Awalnya cuma iseng scrolling timeline media sosial, eh tiba-tiba nemuin puisi-puisinya yang bikin merinding. Gak cuma puitis, tapi juga nyentuh sampai ke tulang. Kayak ada gemuruh emosi yang dibungkus dalam kata-kata sederhana tapi mematung. Karyanya itu semacam terapi buat yang lagi galau, terutama buat generasi muda yang sering merasa sendirian di keramaian.
Yang bikin menarik, Aul gak cuma menulis di atas kertas. Dia bikin instalasi seni interaktif di acara budaya tahun lalu, di mana pengunjung bisa meninggalkan cerita mereka di antara baris-baris puisinya. Seni jadi medium dialog, bukan sekadar pajangan. Kreativitas semacam ini yang menurutku jarang ditemui di seniman muda sekarang.
Aul itu sosok yang cukup aktif di platform Instagram dan Twitter. Di Instagram, dia sering membagikan momen sehari-hari, mulai dari kulineran, traveling, sampai cuplikan aktivitas kreatifnya. Postingannya selalu colorful dan enak dilihat, kayak feed yang curated banget. Sedangkan di Twitter, dia lebih sering ngobrol santai sama followers, kadang ngasih pendapat tentang tren terbaru atau sekedar retweet konten lucu. Uniknya, dia jarang banget overshare—everything feels just right.
Kalau mau liat sisi profesionalnya, LinkedInnya juga aktif, tapi lebih berisi project-project kolaborasi atau insight seputar industri kreatif. Oh iya, dia juga sempat buat TikTok untuk konten singkat yang lebih casual, tapi kayaknya sekarang udah jarang update. Mungkin lebih fokus ke Instagram Reels sekarang?
Ada beberapa tanda kecil yang bisa mengungkap kecintaan seseorang pada kucing tanpa mereka perlu mengatakannya langsung. Misalnya, perhatikan bagaimana mereka bereaksi ketika melihat kucing jalanan—apakah mereka langsung berhenti untuk mengelus atau memberi makan? Ailurofil sejati biasanya tidak bisa menahan diri untuk tidak berinteraksi dengan kucing, bahkan yang asing sekalipun.
Di media sosial, profil mereka mungkin dipenuhi foto kucing peliharaan atau repost video kucing lucu. Mereka juga cenderung menggunakan bahasa tubuh tertentu, seperti tersenyum sendiri saat melihat kucing atau mengubah nada suara jadi lebih manja ketika berbicara dengan hewan berbulu itu. Barang-barang sehari-hari seperti tas, gantungan kunci, atau bahkan kaos sering kali bermotif kucing.