Ada sesuatu yang menggigit di balik judul 'Bukan Karena Kebaikanku' yang membuatku terus memikirkannya sejak pertama kali membacanya. Judul ini seperti pisau bermata dua—di satu sisi, terkesan rendah hati, tapi di sisi lain, justru menyimpan sikap defensif atau bahkan sinis. Aku melihatnya sebagai pengakuan bahwa setiap tindakan 'baik' manusia sebenarnya didorong oleh motif egois, entah itu pengakuan sosial, rasa bersalah, atau sekadar memenuhi ekspektasi. Novel ini mungkin ingin mengungkap bagaimana kita sering membungkus kepentingan diri dengan kemasan moral.
Dalam konteks cerita, bayangkan karakter utama yang membantu orang lain bukan karena altruisme murni, tapi karena ingin membuktikan sesuatu pada diri sendiri atau orang lain. Ini mengingatkanku pada tema 'performative kindness' di media sosial—kebaikan yang dipentaskan untuk likes dan validasi. Judul ini seperti tamparan halus yang memaksa kita bertanya: sejujurnya, berapa banyak dari kebaikan kita yang benar-benar tulus?
Ada sesuatu yang magnetis dari lukisan Kusni Kasdut yang membuatku terus kembali mengamatinya. Di balik goresan ekspresifnya, tersimpan narasi perlawanan dan ironi—sebuah cermin dari jiwa sang seniman yang hidup di tepian hukum. Karya-karyanya sering kali mengeksplorasi tema marginalisasi dengan palet warna yang berani, seolah ingin meneriakkan protes tanpa suara.
Yang menarik, Kusni bukan hanya pelukis tapi juga 'legenda urban' sebagai pencuri. Lukisannya menjadi semacam catatan harian visual yang mengabadikan kontradiksi hidupnya: antara hasrat kreatif dan insting survival. Aku melihatnya sebagai upaya untuk menemukan penebusan melalui seni, di tengah lingkaran setan kehidupannya yang kelam.
Ada satu momen dalam setahun yang selalu bikin suasana kampungku jadi berbeda, yaitu pas Bulan Mulud datang. Biasanya dimulai sekitar pertengahan bulan Rabiul Awal penanggalan Hijriyah, tapi tanggal pastinya bisa beda-beda tergantung penentuan hilal. Aku inget banget waktu kecil, ibu selalu siapin lampion dan cerita tentang Maulid Nabi. Nuansanya tuh hangat gitu, sampe akhir bulan yang ditutup dengan pengajian besar. Dulu sempet nanya ke kakek, kenapa perayaannya panjang? Katanya, ini bulan spesial untuk refleksi dan syukur.
Yang seru itu, tiap daerah punya cara unik merayakan. Di Jawa misalnya, ada Grebeg Maulud dengan gunungannya. Aku sendiri lebih suka partisipasi di acara bagi-bagi takjil meski bukan Ramadan. Bulan Mulud itu kayak 'prelude' sebelum masuk bulan-bulan besar lainnya, jadi endingnya selalu bikin pengen nunggu tahun depan.