Eksistensialisme Adalah Humanisme

Sang Miliarder yang Tersembunyi
Sang Miliarder yang Tersembunyi
Valentino Araya terpaksa harus menyamar menjadi seorang pria culun di perusahaan milik mendiang ayahnya, untuk menyelidiki kematian ayahnya yang menurutnya tidak wajar. Valentino juga harus merebut perusahaan milik ayahnya tersebut dari saudara tirinya. Akankah Valentino berhasil mendapatkan kembali apa yang menjadi haknya dan juga mengungkap misteri di balik meninggalnya ayahnya tersebut?
9.8
171 Chapters
DINIKAHI KONGLOMERAT
DINIKAHI KONGLOMERAT
[Heyyy! Gadis kampung! Ini peringatan saya yang ke sekian! Kamu pake guna-guna apa, hah?! Cepetan hilangkan ilmu hitam yang kamu kirimkan pada Ashraf! Kamu tidak pantas menjadi menantu di keluarga Adireja!] Aku menghela napas panjang. Sehari setelah aku menerima lamaran Tuan Muda Ashraf, aku selalu mendapatkan terror dari nomor yang tidak dikenal. Pikiranku yang sedang kacau oleh hal itu, bertambah runyam oleh omelan yang keluar dari mulut cabenya Teh Selvi. “Kalau semua ayam yang kamu goreng gosong? Kamu pergi lagi ke pasar beli ayam lagi pake duit kamu sendiri, punya gak?” cibirnya. Dia tak pernah bosan menghinaku karena kastaku yang dianggapnya rendahan. Aku lupa ada sepasang netra yang menatapku sambil berlinang. “Ibu kenapa?” Aku menoleh ke arahnya setelah Teh Selvi berlalu. “Maafin Ibu sama ayah kamu, Ta! Kalau saja kami punya uang dan menyekolahkan kamu tinggi, mungkin kakak-kakak sepupumu tidak akan merendahkanmu seperti ini?” isaknya. Wa’ Imah hanya sesekali melirik kearahku dan Ibu. “Bu, sudahlah! Sinta tidak apa-apa! Tuhan tidak akan salah memilih orang yang akan Dia tinggikan, Allah tidak hanya melihat dari pendidikannya. Meskipun seluruh dunia merendahkan orang itu, jika Allah meninggikannya semua bisa apa? Ibu hanya perlu mendoakanku agar tetap menjadi orang yang penuh syukur dan berada di jalan-Nya. Ibu mau kan jika Allah memilihku dan meninggikan derajat kita suatu hari nanti?”
9.7
127 Chapters
Sekali Gadis itu Memberontak, Paman Menjadi Patuh
Sekali Gadis itu Memberontak, Paman Menjadi Patuh
Pada hari perceraian Siska Leman, surat perjanjian perceraian menjadi trending topik teratas.[Karena disfungsi pria, dia tidak dapat melakukan kewajiban dasar suami istri!]Malam itu, seorang gadis diseret ke dalam mobil.Pria itu menggigit bibirnya dengan ekspresi galak di wajahnya, “Apakah aku yang bermasalah atau tidak, Nona Leman dapat membuktikannya malam ini.”Setelah bercerai, Siska menjadi desainer internasional dengan banyak pria tampan di sekitarnya.Melihat semakin banyak pria di sekitar Siska, mantan suami yang dingin itu tidak bisa duduk diam. Dia terus menerus mencarinya dan merayunya dengan arogan tapi juga lembut, “Siska, ayo pulang bersamaku.”“Tuan Oslan, semuanya sudah terlambat.”“Baiklah, memang sudah terlambat, aku salah. Siska, tolong kembalilah padaku...”
9.8
1883 Chapters
KABAR PERNIKAHAN SUAMIKU
KABAR PERNIKAHAN SUAMIKU
Suamiku menunjukkan gelagat aneh, tak seperti biasanya. Rupanya dia sedang berencana untuk menikah lagi. Setelah mengetahui hal itu, aku pun segera bersiap untuk membuatnya shock dengan cara yang tak akan pernah dia duga.
9.8
74 Chapters
Setelah Malam Itu
Setelah Malam Itu
Harusnya Rebecca menikah dengan pria yang selalu dia cintai, namun jebakan satu malam mengakibatkannya kehilangan segalanya. Keluarga dan cinta pun hilang. Tidak hanya itu saja, nama baik yang selama ini dia jaga telah hancur akibat rumor yang tidak sepenuhnya benar. Hingga suatu ketika, Rebecca tahu bahwa jebakan satu malam itu membuatnya terhubung pada Glenn Romanov. Semua hal menjadi semakin rumit. Dua orang asing yang tak saling mengenal, seakan tengah dipermainkan oleh takdir kehidupan. Lantas bagaimana kelanjutan kisah Rebecca dan Glenn? *** Follow me on IG: abigail_kusuma95
9.8
77 Chapters
Bos, Jangan di Sini!
Bos, Jangan di Sini!
Sevi bekerja di perusahaan susu segar, hidupnya tampak sempurna. Ia mencintai pekerjaannya sebagai milk tester, mencintai susu strawberry, dan hidup mandiri. Tapi semuanya berubah ketika ia menemukan susu baru yang justru membangkitkan ‘reaksi biologis’ aneh pada tubuhnya. Tanpa hamil, tanpa hubungan, tiba-tiba tubuhnya memproduksi ASI... beraroma strawberry. Lebih rumit lagi, bosnya yang dikenal dingin dan perfeksionis, Arlan, mulai mencium rahasia aneh yang disembunyikannya. Tapi siapa sangka? Keanehan itu justru jadi awal kedekatan mereka dengan cara yang tidak pernah terpikirkan Sevi sebelumnya. “Saya tahu cara supaya nggak terlalu sakit. Mau?”
10
172 Chapters

Bagaimana Eksistensialisme Adalah Humanisme Memengaruhi Sastra Modern?

4 Answers2025-12-30 23:58:25

Ada satu momen di tengah baca 'The Stranger' karya Camus di kereta commuter yang bikin aku tersentak: bagaimana sesuatu yang absurd bisa terasa begitu manusiawi? Eksistensialisme Sartre dalam 'Existentialism is a Humanism' itu kayak kunci pembuka bagi sastra modern buat ngungkapin kebebasan sekaligus kesepian manusia urban. Karya-karya seperti 'Norwegian Wood' Murakami atau 'Convenience Store Woman' Sayaka Murata nggak cuma cerita tentang individu, tapi juga pertanyaan filosofis terselubung tentang makna hidup yang kita konstruksi sendiri.

Yang menarik, pengaruhnya nggak melulu berat. Di 'BoJack Horseman' sekalipun, ada adegan Diane ngobrolin absurditas eksistensi sambil minum wine—itu humanisme eksistensialis dalam bentuk pop culture. Sastra modern sekarang lebih berani menggali 'kegagalan' sebagai bagian intrinsik dari menjadi manusia, bukan sesuatu yang perlu disembunyikan.

Apa Perbedaan Eksistensialisme Adalah Humanisme Dengan Filsafat Lain?

4 Answers2025-12-30 06:07:39

Membandingkan eksistensialisme Sartre dengan aliran filsafat lain selalu bikin jantung berdebar. Gagasan bahwa 'existence precedes essence' dalam 'Existentialism is a Humanism' benar-benar membalik cara pandang tradisional. Filsafat essensialis seperti Platonisme atau Thomisme menganggap manusia punya 'blueprint' ilahi sebelum lahir, sementara Sartre justru menempatkan kebebasan mutlak sebagai inti manusia. Lucunya, ini juga beda dengan determinisme Marxis atau Freudian yang melihat manusia sebagai produk struktur sosial/psikis semata. Aku sering tertegun bagaimana Sartre menggabungkan tanggung jawab moral yang berat dengan optimisme bahwa kita bisa mencipta makna sendiri.

Yang paling kusuka adalah kritiknya terhadap 'bad faith'—kita sering kabur dari kebebasan dengan berdalih 'sudah nasib' atau 'memang karakterku begitu'. Berbeda dengan Stoik yang menerima nasib atau Buddhisme yang lepas dari ego, eksistensialisme malah menyuruh kita menyelami kecemasan sebagai bukti kesadaran. Rasanya seperti diajak berdiri di tepi jurang oleh seorang filsuf yang sekaligus novelis brilian.

Apa Maksud Eksistensialisme Adalah Humanisme Dalam Filsafat?

4 Answers2025-12-30 23:38:03

Ada suatu momen ketika membaca 'Being and Nothingness' Sartre, tersadar bahwa eksistensialisme bukan sekadar teori abstrak—ia adalah panggilan untuk bertindak. Humanisme di sini berarti kita, sebagai manusia, punya kebebasan mutlak untuk menciptakan makna dalam kehidupan yang pada dasarnya absurd. Tak ada cetak biru ilahi atau hukum alam yang menentukan nilai kita. Keindahannya? Justru dalam keharusan kita untuk memilih, meski itu menakutkan. Setiap keputusan membentuk esensi kita, seperti pemain sandiwara yang menulis naskah sambil berakting.

Yang sering dilupakan orang: humanisme eksistensialis ini juga mengandung tanggung jawab brutal. Saat Sartre bilang 'manusia dikutuk untuk bebas', itu berarti kita tak bisa menyalahkan Tuhan, nasib, atau DNA atas pilihan buruk kita. Konsekuensinya? Kecemasan eksistensial itu nyata, tapi di situlah letak keagungan menjadi manusia—kita adalah lukisan yang sekaligus menjadi pelukisnya sendiri.

Siapa Penulis Eksistensialisme Adalah Humanisme Dan Karyanya?

4 Answers2025-12-30 06:58:49

Membahas 'Existentialism is a Humanism' selalu membuatku merinding! Karya ini adalah manifesto brilian Jean-Paul Sartre, filsuf Prancis yang jadi wajah eksistensialisme modern. Awalnya kuliah umum tahun 1945, kemudian dibukukan dan mengguncang dunia filsafat dengan ide bahwa manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas makna hidupnya sendiri.

Yang kusuka dari Sartre adalah cara dia membungkus konsep berat seperti 'kebebasan mutlak' dalam bahasa yang relatif mudah dicerna. Di tengah debat tentang humanisme pasca-Perang Dunia II, karyanya seperti tamparan sekaligus pelukan - mengingatkan kita bahwa keputusasaan dan keabsurdan hidup justru membuka ruang untuk penciptaan diri yang otentik. Karya-karya lain seperti 'Nausea' dan 'Being and Nothingness' juga layak dibaca untuk memahami pemikirannya secara utuh.

Mengapa Buku Albert Camus Sering Dikaitkan Dengan Eksistensialisme?

2 Answers2025-10-14 09:35:02

Membaca Camus itu seperti ditegur lembut oleh teman yang peka: dia menunjukkan bagaimana hidup kadang terasa hampa, lalu menantang kita untuk tetap bertindak. Aku suka cara itu—langsung, tanpa basa-basi, tapi juga penuh simpati. Salah satu alasan utama kenapa nama Albert Camus sering dikaitkan dengan eksistensialisme adalah karena tema-tema sentral yang ia angkat: absurditas hidup, kebebasan individu, pilihan moral di tengah ketidakberartian, dan konfrontasi dengan kematian. Itu mirip dengan apa yang banyak orang pikirkan sebagai inti eksistensialisme, jadi pengaitan itu terasa alami.

Tapi penting juga mengurai perbedaan: Camus sendiri menolak label eksistensialis. Dalam esainya 'The Myth of Sisyphus' dia merumuskan gagasan 'absurd'—konfrontasi antara kerinduan manusia akan makna dan alam semesta yang sunyi. Eksistensialis seperti Sartre menekankan kebebasan radikal dan tanggung jawab eksistensial yang sering berujung pada kecemasan atau keterasingan; Camus lebih fokus pada respon etis terhadap absurditas: pemberontakan tanpa harapan akan solusi metafisik. Dalam novelnya 'The Stranger' sang protagonis menunjukkan betapa dunia bisa tampak acuh tak acuh, sementara 'The Plague' menampilkan solidaritas manusia yang bertindak melawan penderitaan meski tidak ada jawaban ilahi. Jadi pembaca yang menyamakan keduanya sering melihat persilangan tema dan masa (pasca-perang Prancis) serta dialog publik antara intelektual yang membuat nama Camus dan Sartre selalu disebut berdampingan.

Selain tema, gaya juga membantu pengaitan itu: kalimat Camus jelas, nada moral tapi tidak dogmatis, dan tokoh-tokohnya sering dihadapkan pada pilihan sederhana yang berdampak moral besar. Karena itu, walau Camus menolak dikotomi eksistensialis, pembaca dan kritikus melihat cukup banyak irisan sehingga pengaitan itu bertahan. Bagi aku, bagian terbaiknya adalah bagaimana karya-karyanya memaksa kita bertanya bukan hanya apa arti hidup, tapi bagaimana kita harus hidup ketika jawaban pasti tak tersedia—dan itu, menurutku, membuat bacaan Camus terasa sangat manusiawi dan relevan sampai sekarang.

Di Mana Bisa Beli Buku Eksistensialisme Adalah Humanisme Terjemahan?

4 Answers2025-12-30 23:35:47

Pertama-tama, aku selalu merasa buku-buku filosofi seperti 'Eksistensialisme adalah Humanisme' karya Sartre ini punya pesona tersendiri. Kalau mencari versi terjemahannya, Tokopedia atau Shopee sering jadi pilihan utama karena harganya bersaing dan prosesnya cepat. Beberapa toko buku online seperti Bukukita atau Periplus juga biasanya menyediakan stok, meski kadang perlu pre-order.

Jangan lupa cek marketplace sosial seperti Instagram atau Facebook, karena banyak toko buku indie yang jual edisi langka dengan harga terjangkau. Aku sendiri pernah dapat cetakan lama dari lapak online yang justru lebih murah daripada toko besar. Oh iya, kalau mau langsung ke toko fisik, Gramedia atau Gunung Agung bisa dicoba, tapi lebih baik telepon dulu untuk pastikan ketersediaannya.

Apakah Buku Eksistensialisme Adalah Humanisme Cocok Untuk Pemula?

4 Answers2025-12-30 11:35:31

Ada semacam gemerlap ketika pertama kali memegang 'Eksistensialisme adalah Humanisme'—Sartre menyajikan konsep berat dengan bahasa yang relatif terjangkau. Sebagai pemula, aku sempat terjebak dalam keraguan: apakah ini terlalu filosofis? Ternyata tidak. Buku ini ibarat pintu masuk yang ramah, membongkar pemikiran eksistensialis tanpa jargon akademik berlebihan. Sartre berbicara tentang kebebasan, tanggung jawab, dan makna hidup dengan cara yang nyaris personal.

Meski begitu, beberapa bagian memang memerlukan pembacaan ulang. Aku menyarankan untuk membacanya perlahan, mungkin sambil menandai hal-hal yang mengganggu pikiran. Justru di situlah keasyikannya—kita diajak berdebat dengan diri sendiri. Jika kamu mencari pengantar eksistensialisme yang hangat dan provokatif, ini pilihan tepat. Jangan khawatir tersesat; tersesat dalam pemikiran Sartre itu bagian dari petualangannya.

Apa Arti Kata-Kata Rindu Dalam Filsafat Eksistensialisme?

1 Answers2026-03-20 03:46:52

Rindu dalam filsafat eksistensialisme itu seperti gelombang yang menghantam kesadaran kita tentang ketidakhadiran. Bukan sekadar perasaan sentimental, tapi sebuah eksposisi tentang bagaimana manusia mengalami 'ketiadaan' sebagai bagian dari keberadaannya. Sartre mungkin akan bilang ini tentang 'lack'—ruang kosong yang terus mengganggu karena kita menyadari diri kita sebagai makhluk yang selalu 'menjadi', tidak pernah utuh. Setiap kali merindukan seseorang atau sesuatu, kita sebenarnya sedang berhadapan dengan batas-batas kebebasan kita sendiri.

Heidegger mungkin melihat rindu sebagai 'being-toward'—keterarikan kita pada sesuatu yang absen adalah bentuk autentik dari 'Dasein'. Ketika merindukan kampung halaman atau masa kecil, itu bukan nostalgia biasa, melainkan upaya untuk menemukan 'rootedness' dalam dunia yang terasa asing. Rindu menjadi semacam kompas eksistensial yang menunjuk pada apa yang kita anggap bermakna, sekaligus mengungkap kecemasan akan keterpisahan dari makna itu sendiri.

Dalam 'Nausea'-nya Sartre, ada momen ketika Antoine Roquentin dilanda kerinduan akan masa lalu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ia miliki. Itu mirrors how longing often constructs idealized versions of reality—kita merindukan apa yang tidak pernah ada, karena eksistensialisme mengajarkan bahwa makna itu diciptakan, bukan ditemukan. Rindu adalah bukti bahwa kita terus-menerus bernegosiasi dengan absurditas ini.

Camus mungkin tersenyum getir melihat bagaimana rindu bisa jadi bentuk pemberontakan halus. Dengan merindukan sesuatu yang hilang atau mustahil, kita menolak untuk menerima dunia apa adanya. Tapi di sisi lain, kerinduan yang terlalu dalam bisa menjadi jebakan—seperti Sisyphus yang terjebak dalam imajinasi tentang gunung yang berbeda, alih-alih menemukan freedom dalam mendorong batu yang sama.

Aku selalu terpikir bagaimana Simone de Beauvoir akan menganalisis rindu dalam konteks 'the other'. Ketika merindukan seseorang, apakah kita benar-benar merindukan 'mereka', atau justru merindukan versi diri kita yang ada ketika bersama mereka? Ini seperti tarian antara pengakuan dan objektifikasi—kerinduan menjadi ruang di mana kita terus-menerus menegosiasikan hubungan antara diri dan liyan.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status