Mag-log inDeandra selalu punya satu aturan sederhana dalam hidupnya: jangan pernah jatuh cinta. Di usia 24 tahun, ia sudah terlalu sering melihat bagaimana cinta menghancurkan orang. Jadi ia memilih aman-bertato, bersikap dingin, menjaga jarak. Semua orang boleh dekat, tapi tak boleh terlalu dalam. Sayangnya, hati tidak pernah benar-benar patuh pada logika. Di tengah terapi yang ia jalani untuk menyembuhkan trauma masa kecilnya, Deandra justru dipaksa menghadapi satu hal yang paling ia hindari: perasaan yang tumbuh tanpa izin. Tatapan yang terlalu lama. Kepedulian yang terasa berbeda. Seseorang yang tak pergi meski ia berkali-kali menyuruhnya menjauh. Ia tahu risikonya. Ia tahu bagaimana akhirnya nanti. Tapi bagaimana kalau untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak ingin menyelamatkannya, melainkan memilih tinggal dan berjalan bersamanya? Di antara luka yang belum sembuh dan masa lalu yang terus mengejar, Deandra harus memilih: tetap memeluk ketakutannya... atau mencoba mempercayai cinta, meski itu berarti membuka kemungkinan untuk hancur lagi. Karena terkadang, yang paling menakutkan bukanlah patah hati- melainkan bahagia, dan tidak tahu cara mempertahankannya. Esensi Cinta adalah cerita tentang trauma yang tidak selesai, tentang keluarga yang tidak sempurna, dan tentang keberanian paling sulit: membiarkan diri sendiri bahagia.
view more“Dari sanalah kedekatanku dengan Joana dimulai, Dra. Dua tahun berlalu, aku lulus… dan aku menepati janjiku untuk menjadi psikolog pribadinya,” ucap Aya, menutup jendela kisah masa lalunya. Gue terdiam. Banyak hal berputar di kepala, tapi hanya satu yang muncul ke permukaan.“Ay… sebenarnya apa yang Joana alami selama ini?” tanya gue, menahan penasaran yang sudah berkarat sejak dulu. “Aku udah bilang, untuk informasi itu aku nggak bisa kasih ke kamu, Dra.” Aya menghela napas panjang, seperti meredam sesuatu yang ingin sekali ia lepaskan, tapi tak bisa.“Oke. Lalu… sejak kapan kamu tahu kalau aku ada hubungan sama Joana?” tanya gue, lebih hati-hati. “Hmm… sebenarnya aku sudah tahu kisah kalian sejak lama. Joana pernah cerita tentangmu. Tapi aku nggak sadar kalau pria itu adalah kamu, Dra. Aku baru benar-benar paham saat terakhir kamu datang ke kantorku.” Suaranya datar, jujur, tanpa celah untuk ragu. Gue kembali diam. Mencerna serpihan-serpihan yang baru saja jatuh ke pangkuan ini.“Te
"Jadi..."Lima tahun laluMemang benar, aku dan Joana sudah saling mengenal satu sama lain. Bahkan sejak aku masih duduk di semester empat kuliah. Saat itu usiaku baru menginjak delapan belas tahun—usia yang terlalu muda untuk memahami dunia, tapi cukup dewasa untuk mulai terluka olehnya. Aku menjadi yang termuda di angkatanku, karena aku lulus SMA pada usia enam belas tahun melalui program akselerasi.Aku berasal dari sebuah kota kecil, kemudian merantau ke Ibu Kota dan tinggal bersama paman serta bibiku. Hari-hariku berjalan sangat sederhana: kampus—perpustakaan—rumah. Begitu terus, berulang, seperti jarum jam yang enggan bergerak keluar dari jalurnya.Aku memang kurang nyaman menghabiskan waktu bersama teman-teman seangkatan. Bukan karena aku tidak pandai bergaul, juga bukan karena aku anti-sosial. Aku hanya memiliki satu kebiasaan buruk: Aku cenderung mengamati manusia terlalu dalam.Bukan sekadar melihat. Melainkan membedah emosi, menelaah pola, membaca getaran yang bahkan mereka
“Stop! Kamu tidak dapat melanjutkan ke tahap penimbangan. Silakan kembali ke ruang tunggu,” ucap sosok berseragam putih itu, tangannya terangkat menahan langkah gue. Cahaya di belakangnya begitu menyilaukan, seolah sesuatu yang suci dan tak tersentuh manusia.“Siapa dia? Malaikat?” gumam gue dalam hati. “Kenapa? Apa amal ibadahku kurang?” Gue heran, karena orang-orang di depan dan belakang melangkah ringan melewati garis yang tak terlihat itu.“Tidak,” jawabNya singkat. “Lalu, apakah karena dosa yang kupunya terlalu banyak?” tanya gue. “Bukan itu,” gelengNya pelan.“Lalu apa?! Kenapa aku tidak bisa ke tahap penimbangan?” suara gue meninggi, campuran antara bingung dan takut. “Karena kuota cobaanmu masih banyak.” JawabanNya jatuh seperti petir yang menggelegar.“Hah?” Tubuh gue membeku. “Di sini tertulis dengan jelas, masih banyak cobaan yang harus kamu hadapi,” ucapNya, menunjuk sebuah buku tebal bercahaya. “Karena itu, kamu harus kembali ke bumi.”Gue panik. “Tidak… kumohon. Aku tida
“Sial… seharian ini gue belum makan apa pun,” gumam gue dalam hati. “Eh, maaf-maaf ya bro. Nggak sengaja,” ucap gue ramah. Tapi ia justru menatap dengan wajah menantang.“Bra bro bra bro. Jangan sok asik lo! Norak! Biasa minum di trotoar ya nyet.” Gue menguatkan diri. “Lho gue kan udah minta maaf. Nggak sengaja juga. Kenapa lo malah ngata-ngatain?”Temannya ikut memprovokasi, memaki sembarangan.Gue menghitung cepat—empat orang. Nafas gue menahan bara yang mulai berkumpul di kedua telapak tangan ini. “Pokoknya gue nggak mau mulai duluan,” bisik gue, mengingat janji kepada Sonya. Setelah semua pelatihan boxing yang dia ajarkan ke gue.“Yaudah, yang penting gue udah minta maaf, oke,” ucap gue sambil memanggil bartender untuk meminta bill. Tapi tampaknya mereka tidak puas. Sebuah tangan menarik bahu gue, dan sebelum sempat bereaksi, sebuah pukulan keras mendarat di wajah ini. Bukk! Gue jatuh tersungkur.Dan untuk sesaat, di antara kabur lampu-lampu neon, gue berpikir: mungkin ini caranya
“APAKAH INI YANG NAMANYA CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA!” seru gue, tiba-tiba membekukan suasana kantin sekolah. Dan semua tatapan pun tertuju ke arah gue. Hah! Kantin? Gue membeku begitu menyadarinya. Dan lebih terkejut lagi gue melihat Ibu kantin menatap gue dengan ekspresi herannya. “Cinta pad
“Hmm… Joana…” Tujuh tahun lalu Kata orang, masa-masa SMA itu adalah masa paling seru dalam hidup—tempat pertama kali kenal cinta, persahabatan bagai kedondong, dan pelajaran tentang tumbuh dewasa. Banyak orang dewasa yang sangat ingin mengulang masa SMA mereka, jika diberi kesempatan untuk
Pagi ini, rumah kami penuh aroma roti tawar gosong—hasil eksperimen Ibu yang selalu bertekad menciptakan sarapan hotel berbintang, tapi selalu berakhir jadi bintang jatuh. Di tengah kekacauan yang hangat itu, Diana tiba-tiba melintas seperti mobil Formula One tanpa permisi. Nguuueeeng! “Eh, mau
Whroom! Whroom! “Helloow epribadeeeh!” Beberapa saat kemudian, gue sampai di tempat kerja—Garageboy. Sebuah barbershop dengan jiwa bengkel klasik. Begitu pintu dibuka, aroma pomade bercampur wangi oli sintetis menyapa. Lampu-lampu kuning temaram, plat nomor antik, mural mesin, dan dekorasi ala


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.