เข้าสู่ระบบDeandra selalu punya satu aturan sederhana dalam hidupnya: jangan pernah jatuh cinta. Di usia 24 tahun, ia sudah terlalu sering melihat bagaimana cinta menghancurkan orang. Jadi ia memilih aman-bertato, bersikap dingin, menjaga jarak. Semua orang boleh dekat, tapi tak boleh terlalu dalam. Sayangnya, hati tidak pernah benar-benar patuh pada logika. Di tengah terapi yang ia jalani untuk menyembuhkan trauma masa kecilnya, Deandra justru dipaksa menghadapi satu hal yang paling ia hindari: perasaan yang tumbuh tanpa izin. Tatapan yang terlalu lama. Kepedulian yang terasa berbeda. Seseorang yang tak pergi meski ia berkali-kali menyuruhnya menjauh. Ia tahu risikonya. Ia tahu bagaimana akhirnya nanti. Tapi bagaimana kalau untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak ingin menyelamatkannya, melainkan memilih tinggal dan berjalan bersamanya? Di antara luka yang belum sembuh dan masa lalu yang terus mengejar, Deandra harus memilih: tetap memeluk ketakutannya... atau mencoba mempercayai cinta, meski itu berarti membuka kemungkinan untuk hancur lagi. Karena terkadang, yang paling menakutkan bukanlah patah hati- melainkan bahagia, dan tidak tahu cara mempertahankannya. Esensi Cinta adalah cerita tentang trauma yang tidak selesai, tentang keluarga yang tidak sempurna, dan tentang keberanian paling sulit: membiarkan diri sendiri bahagia.
ดูเพิ่มเติมSeorang wanita di dalam kamar hotel yang terbilang mewah. Terlihat dari dalam gedung menjulang tinggi itu tengah mematri dirinya saat berada di depan kaca yang cukup besar. Kaca tersebut mampu memperlihatkan seluruh tubuhnya yang di baluti gaun putih nan cantik.
Riasan make up yang di poles pada wajahnya, terkesan natural. Menambah ke anggunan pada wanita itu. Bak ratu yang akan bersanding dengan sang pangeran.
Venna mencoba memutar tubuhnya di depan cermin di selingi senyuman yang begitu mengembang diraut wajah. Bagaimana tidak, setiap orang pasti bahagia pada hari pernikahannya. Apalagi lelaki itu orang yang di cintai dan mencintainya.
Ceklek...
Terdengar suara pintu di buka oleh gadis sebaya Venna. Yang tidak lain ialah Gina-Sahabat dekatnya. Tempat ia berbagi keluh kesah.
Dari sorotan mata Gina dapat dibaca. Jika dia sebagai sahabat ikut larut dalam kebahagiaan Venna. Gina berdecak kagum atas apa yang di lihat oleh matanya.
Ia mengayunkan langkah mendekati Venna. Sambil melebarkan tangan untuk mendekap Venna kedalam pelukan hangatnya.
"Kau cantik sekali, Venna! Benar-benar cantik." Gina mengendurkan pelukan mereka. Seiring kepala yang menggeleng pelan.
"Ah...bisa saja kau ini," timpal Venna. Ia pun terkekeh.
"Apa kau tidak lihat?" Gina memutar tubuh Venna dan berhenti saat tatapan Venna tepat di depan kaca besar di hadapannya."Lihatlah bagaimana gaun ini membaluti tubuhmu. Begitu pas dan cantik. Warna putihnya sebagai lambang dari cinta suci kalian."
"Aku turut bahagia." Tambah Gina.
"Terima kasih..kau selalu mendukung apa yang aku pilih, Gina." Ujar Venna.
"Aku akan selalu mendukungmu. Jika itu membuat kau bahagia." Gina menghelus lembut punggung Venna."Ah... aku sampai lupa. Apa kau sudah siap? semua orang telah menanti mu diluar sana."
"Hemm..Sudah!" Venna mengangguk.
"Mari, kita keluar." Ajak Gina.
Merekapun keluar dari kamar pengantin. Melangkah menuju tempat ijab kabul. Semua orang yang dilewati Venna dan Gina, mereka terpana akan kecantikan pengantin yang berjalan. Gaun yang panjang bagian belakangnya menyentuh karpet merah yang dilewati Venna. Senyum diraut wajah Venna tidak sama sekali memudar. Seolah menyapa semua tamu undangan yang berdecak kagum atas kecantikannya.
Di tambah seorang pengantin lelaki di depan sana tidak hentinya menatap Venna. Cinta yang bersambut indah dan langit yang begitu cerah sungguh membuat pernikahan mereka begitu bahagia. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Saat kaki Venna hendak menapaki satu anak tangga menuju kursi yang khusus untuk dia duduki bersama pengantin pria dan kursi lainnya untuk wali, lalu kursi untuk dua orang saksi di sana sudah tersusun rapi.
Dan tangan pengantin pria hendak menyambut tangan Venna. Tiba-tiba--
Keriiinggg...keringg...
Bunyi dering ponsel begitu jelas terdengar. Menghentak gendang telinga Venna begitu jelas. Wajah yang di benamkan ke bantal empuk, seedikit bergeser. Saat tangannya mencoba meraih benda pipih miliknya dia atas nakas.
Mata yang tampak terpejam, seketika menyeringit saat sinar matahari menyentuh kedua matanya. Terasa perih. Tentu saja, tidur terlalu larut malam membuat dia masih di hinggapi rasa kantuk.
Entah siapa yang berani mengganggu dia dari mimpi indah dalam lelapnya, yang pasti membuat dia begitu kesal di pagi hari ini.
Dengan malas, Venna menempelkan ponsel itu di daun telinganya. Masih dengan mata yang tertutup rapat. Sama sekali gadis itu tidak penasaran dengan sipemanggil tersebut.
"Hallo.." suara serak Venna bangun tidur begitu jelas oleh lawan bicaranya.
"Cepatan ke cafe. Lagi banyak pengunjung. Jam segini masih saja tidur!"
"Mengganggu mimipi indah ku saja...Ah!!" sunggut Venna.
Venna yang mendengar suara ocehan dari lawan bicaranya hanya berdecit. Tanpa menanggapi ocehan itu, ia mematikan sambungan panggilan tersebut. Meletakan kembali gawai pipih di atas nakas kembali.
Tidak lagi ingin berada diatas tempat tidur, ia menjauhkan selimut dari tubuhnya. Belum tentu mimpi indah itu terulang lagi. Dari pada membuang waktu ia langsung menuju kamar mandi.
Ada hal yang harus ia lakukan. Menuruti perintah sahabat yang memintanya segera berada di sana.
Venna wanita berusia 23 tahun memiliki rambut pirang lurus, bermanik mata cokelat, kulit putih bersih itu memiliki sebuah cafe. Cukup terdengar di kalangan penikmatnya, itu bagian yang ia punya. Tanpa mengganggu kehidupan baru sang papa tercinta. Yang telah menikah setelah meninggalnya mama.
Venna memilih hidup mandiri. Papanya yang menikah tanpa meminta restu, membuat Venna meradang amarah. Terlebih papa yang lebih mempercayai ibu sambungnya itu. Sifat munafik sang ibu sambung membuat dia setengah mati membenci wanita tersebut.
Papanya-Venna tetap menyayangi dia. Bahkan meminta dia untuk tinggal bersamanya. Mama sambung yang tidak memiliki hati baik, membuat Venna enggan di antara mereka.
Venna lebih memilih tinggal di Appartemen yang ia tempati saat ini, itu salah satu peninggalan dari mamanya. Tempat ia berteduh dari guyuran hujan, panasnya terik matahari, dan berpulang dari lelahnya berkerja.
Tempat ternyaman baginya. Tidak ada yang akan mengusik dia. Tidak akan ada tatapan sinis dari mama tiri. Atau dia yang akan di marahi oleh papanya. Karena ulah mama tiri yang suka ambil muka. Baik di depan, busuk di belakang. Mendingan seperti buah pisang! busuk dari luar, tetapi isinya bagus dan masih enak di makan.
Setelah berada setengah jam di dalam sana. Ia bergegas mendekati meja rias. Sedikit memoleskan make up tipis di wajah cantiknya itu.
Saat bola matanya memandangi dirinya sendiri dari pantulan cermin, Venna menghentikan gerakannya seketika. Mimpi yang begitu indah masih terngiang jelas di dalam pikirannya. Seulet gaun yang ia kenakan begitu indah.
"Hemmmm...andaikan itu kenyataan, pasti aku orang yang paling bahagia di sunia ini. Tapi..entah kapan!" desah Venna.
Mengingat kekasihnya masih berjuang keras menggeluti pekerjaannya sebagai karyawan dari salah satu perusahan. Membuat dia harus bisa bersbar.
Sebenarnya, Venna tidak mempermasalahkan posisinya di kantor tersebut. Dia merasa posisi sebagai sekretaris itu cukup baik dari pada Cleaning Servis.
Lagian dia tidak menuntut harta yang lebih. Dan juga tidak meminta yang mempersulit kekasihnya itu. Tidak harus pernikahan yang mewah, Mas kawin berupa berlian.
Sesanggupnya saja bagi Venna. Tetapi kekasihnya-lah ingin membuat pesta mewah. Berdalih ingin membuat Venna bahagia. Sebab pernikahan itu sekali seumur hidup.
Membuat gadis itu lebih sabar menunggu lama lagi. Cinta yang ia rasakan membuat dia menginginkan hidup berdampingan dengan lelaki yang dicintai dan mencintainya. Lelaki yang telah meluluhkan hatinya. Perhatiannya selama ini, cukup membuat Venna merasa nyamana.
Drrrtttt...drrrtttt...
Satu panggilan masuk kembali di ponselnya. Ponsel itu tidak lagi mengeluarkan nada bunyi yang nyaring. Sebab sang pemilik ponsel telah mengantinya dengan nada getaran.
Tersenyum manis di bibirnya. Saat Venna melihat nama yang tertera dilayar ponsel tersebut. "Love" nama alay itu terbaca oleh Venna. Nama yang ia tulis sebagai sebutan dari nomor kekasihnya itu.
"Ekhemm...." Venna memberi deheman. Sambungan itu telah tersambung dengan baik. Namun orang diseberang sana masih asyik dengan pembicaraannya.
Semakin Venna mendengarkan pembicaraan mereka, semakin ia kesal. Entah di sengaja atau tidak menghubunginya. Membuat Venna langsung mematikan panggilan tersebut.
"Sangat menyebalkan!!" Gerutu Venna.
Venna beranjak dari meja riasnya saat ia rasa telah selesi berdandan cantik. Tujuan utamanya saat ini yaitu cafe. Gina-sahabatnya meminta dia segera berada disana.
Mungkin dia sedikit kerepotan dalam melayani pelanggan. Bunyi High Heels yang berbenturan di lantai terdengar saat ia melangkahkan kakinya keluar Apartemen menuju parkiran.
Bersambung..
“Dari sanalah kedekatanku dengan Joana dimulai, Dra. Dua tahun berlalu, aku lulus… dan aku menepati janjiku untuk menjadi psikolog pribadinya,” ucap Aya, menutup jendela kisah masa lalunya. Gue terdiam. Banyak hal berputar di kepala, tapi hanya satu yang muncul ke permukaan.“Ay… sebenarnya apa yang Joana alami selama ini?” tanya gue, menahan penasaran yang sudah berkarat sejak dulu. “Aku udah bilang, untuk informasi itu aku nggak bisa kasih ke kamu, Dra.” Aya menghela napas panjang, seperti meredam sesuatu yang ingin sekali ia lepaskan, tapi tak bisa.“Oke. Lalu… sejak kapan kamu tahu kalau aku ada hubungan sama Joana?” tanya gue, lebih hati-hati. “Hmm… sebenarnya aku sudah tahu kisah kalian sejak lama. Joana pernah cerita tentangmu. Tapi aku nggak sadar kalau pria itu adalah kamu, Dra. Aku baru benar-benar paham saat terakhir kamu datang ke kantorku.” Suaranya datar, jujur, tanpa celah untuk ragu. Gue kembali diam. Mencerna serpihan-serpihan yang baru saja jatuh ke pangkuan ini.“Te
"Jadi..."Lima tahun laluMemang benar, aku dan Joana sudah saling mengenal satu sama lain. Bahkan sejak aku masih duduk di semester empat kuliah. Saat itu usiaku baru menginjak delapan belas tahun—usia yang terlalu muda untuk memahami dunia, tapi cukup dewasa untuk mulai terluka olehnya. Aku menjadi yang termuda di angkatanku, karena aku lulus SMA pada usia enam belas tahun melalui program akselerasi.Aku berasal dari sebuah kota kecil, kemudian merantau ke Ibu Kota dan tinggal bersama paman serta bibiku. Hari-hariku berjalan sangat sederhana: kampus—perpustakaan—rumah. Begitu terus, berulang, seperti jarum jam yang enggan bergerak keluar dari jalurnya.Aku memang kurang nyaman menghabiskan waktu bersama teman-teman seangkatan. Bukan karena aku tidak pandai bergaul, juga bukan karena aku anti-sosial. Aku hanya memiliki satu kebiasaan buruk: Aku cenderung mengamati manusia terlalu dalam.Bukan sekadar melihat. Melainkan membedah emosi, menelaah pola, membaca getaran yang bahkan mereka
“Stop! Kamu tidak dapat melanjutkan ke tahap penimbangan. Silakan kembali ke ruang tunggu,” ucap sosok berseragam putih itu, tangannya terangkat menahan langkah gue. Cahaya di belakangnya begitu menyilaukan, seolah sesuatu yang suci dan tak tersentuh manusia.“Siapa dia? Malaikat?” gumam gue dalam hati. “Kenapa? Apa amal ibadahku kurang?” Gue heran, karena orang-orang di depan dan belakang melangkah ringan melewati garis yang tak terlihat itu.“Tidak,” jawabNya singkat. “Lalu, apakah karena dosa yang kupunya terlalu banyak?” tanya gue. “Bukan itu,” gelengNya pelan.“Lalu apa?! Kenapa aku tidak bisa ke tahap penimbangan?” suara gue meninggi, campuran antara bingung dan takut. “Karena kuota cobaanmu masih banyak.” JawabanNya jatuh seperti petir yang menggelegar.“Hah?” Tubuh gue membeku. “Di sini tertulis dengan jelas, masih banyak cobaan yang harus kamu hadapi,” ucapNya, menunjuk sebuah buku tebal bercahaya. “Karena itu, kamu harus kembali ke bumi.”Gue panik. “Tidak… kumohon. Aku tida
“Sial… seharian ini gue belum makan apa pun,” gumam gue dalam hati. “Eh, maaf-maaf ya bro. Nggak sengaja,” ucap gue ramah. Tapi ia justru menatap dengan wajah menantang.“Bra bro bra bro. Jangan sok asik lo! Norak! Biasa minum di trotoar ya nyet.” Gue menguatkan diri. “Lho gue kan udah minta maaf. Nggak sengaja juga. Kenapa lo malah ngata-ngatain?”Temannya ikut memprovokasi, memaki sembarangan.Gue menghitung cepat—empat orang. Nafas gue menahan bara yang mulai berkumpul di kedua telapak tangan ini. “Pokoknya gue nggak mau mulai duluan,” bisik gue, mengingat janji kepada Sonya. Setelah semua pelatihan boxing yang dia ajarkan ke gue.“Yaudah, yang penting gue udah minta maaf, oke,” ucap gue sambil memanggil bartender untuk meminta bill. Tapi tampaknya mereka tidak puas. Sebuah tangan menarik bahu gue, dan sebelum sempat bereaksi, sebuah pukulan keras mendarat di wajah ini. Bukk! Gue jatuh tersungkur.Dan untuk sesaat, di antara kabur lampu-lampu neon, gue berpikir: mungkin ini caranya
18 bulan kemudian “Deandraaa! Ayo banguuun, kamu sarapan nggak?” teriak Ibu dari dapur, yang terdengar hingga ke alam mimpi. Gue tersentak, dan langsung koprol dari kasur. “Ah, udah pagi aja,” gerutu gue, belum rela membuka mata. Rasanya baru saja gue memejamkan mata ini sejenak. “Deandraa
“Yaudah, pada mau mampir nggak nih?” tanya gue basa-basi, sambil membuka pintu mobil yang berhenti tepat di depan pagar. Belum sempat mereka membalas, gue sudah di hadapkan dengan sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan gue. Rasanya waktu berhenti perlahan-lahan bersamaan dengan napas gue ya
“AAARGH! TIDAAAK!” teriak gue panik, karena melihat sesuatu yang hilang dari pandangan. Tiba-tiba, seorang pelayan wanita datang menghampiri. “Ada apa, Mas?” tanyanya, antara panik dan penasaran. Dengan jari menunjuk ke arah meja, gue menatapnya tajam. Pelayan itu menghela napas diikuti oleh an
Suatu hari, di sebuah rumah sederhana yang berdempetan dengan gedung-gedung perkantoran ibu kota—rumah yang sekaligus menjadi warung makan kecil bagi para pekerja—tinggallah seorang ibu dan balita laki-lakinya yang lucu. Kehidupan mereka tidak pernah nyaman, tapi cukup untuk membuat mereka bertahan.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.