Mag-log inDeandra selalu punya satu aturan sederhana dalam hidupnya: jangan pernah jatuh cinta. Di usia 24 tahun, ia sudah terlalu sering melihat bagaimana cinta menghancurkan orang. Jadi ia memilih aman-bertato, bersikap dingin, menjaga jarak. Semua orang boleh dekat, tapi tak boleh terlalu dalam. Sayangnya, hati tidak pernah benar-benar patuh pada logika. Di tengah terapi yang ia jalani untuk menyembuhkan trauma masa kecilnya, Deandra justru dipaksa menghadapi satu hal yang paling ia hindari: perasaan yang tumbuh tanpa izin. Tatapan yang terlalu lama. Kepedulian yang terasa berbeda. Seseorang yang tak pergi meski ia berkali-kali menyuruhnya menjauh. Ia tahu risikonya. Ia tahu bagaimana akhirnya nanti. Tapi bagaimana kalau untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak ingin menyelamatkannya, melainkan memilih tinggal dan berjalan bersamanya? Di antara luka yang belum sembuh dan masa lalu yang terus mengejar, Deandra harus memilih: tetap memeluk ketakutannya... atau mencoba mempercayai cinta, meski itu berarti membuka kemungkinan untuk hancur lagi. Karena terkadang, yang paling menakutkan bukanlah patah hati- melainkan bahagia, dan tidak tahu cara mempertahankannya. Esensi Cinta adalah cerita tentang trauma yang tidak selesai, tentang keluarga yang tidak sempurna, dan tentang keberanian paling sulit: membiarkan diri sendiri bahagia.
view moreChloe's POV
The rain was relentless, soaking the Los Angeles dirt until the air around the Shadow Woods smelled like wet mud and rotting leaves.
This was the twelfth hour of the winter storm.
My black tactical bag hit the mud hard, landing just outside the Frostclaw Pack's boundary stones.
"Alpha Morris is done smelling you, Chloe. Even a whiff of your scent makes him want to gag."
The speaker was Andy, a beta with shifty, cold eyes.
He was intentionally flaring his aura, letting out those aggressive beta pheromones that pricked at my skin like needles through the rain.
"The real Alpha's daughter, Rita Marshall, is finally home," Andy sneered. "As for you—your real parents were just some white-trash nobodies from rural Oregon. Do yourself a favor and get some self-respect. Don't even think about contacting us again."
He flicked a sleek, black titanium card at me. "Ten grand. Alpha Morris says consider this your severance for being kicked out."
I didn't even look at the card. I just leaned over and hoisted my bag.
Andy wrinkled his nose in disgust and took a step back like I was a walking plague.
According to pack law, I had to perform the "rejecting" before I could leave.
I stood tall and took a deep breath, feeling my lungs expand. Then, I tilted my head back and let out a low, gut-wrenching howl.
The mournful sound cut through the rain, echoing deep into the heart of the forest.
In that moment, I felt the faint, psychic tether to the pack—the "Pack Link"—snap. A hollow ache bloomed in my chest where my connection to the hive used to be. It hurt so much my fingers trembled.
"Now beat it," Andy spat.
I turned and walked away without looking back.
I'd arrived with nothing, and I was leaving with nothing but a black bag.
Up on the boundary watchtower, the guards were snickering.
"Finally, the trash took itself out. She smelled like a dying stray anyway."
"Tell me about it. Dead weight like her just drags the whole pack's stats down."
I ignored them, popping a sprig of wolfsbane into my mouth and chewing slowly. The cool, numbing flavor helped drown out the nauseating scent of the beasts behind me.
The Frostclaws thought I was useless?
Fine. They'd find out soon enough exactly what they'd just thrown away.
I didn't head for the sticks. Once the rain let up, I cut through Echo Park and headed back to my real home—a weathered block tucked away in the shadows of the city.
The air here was a messy blend of exhaust, old newspapers, and cheap coffee.
It was a human neighborhood. People here were too busy surviving to notice the supernatural world.
I pulled up in my beat-up pickup. Ben, sitting in his rocking chair on the porch, raised his mug to me. "You look like you've lost weight, Chloe."
"Just took a long trip, Ben," I said with a light smile.
Ben used to be a "fixer" for the local outfits. Even in retirement, the sharp glint in his old eyes was enough to scare off any low-level thugs.
"Glad you're back, kid. My damn old injury would've finished me off if you'd stayed away any longer. I ran out of that salve you mixed up."
"Me too, Chloe! I can't sleep worth a damn without that incense."
My neighbors were a colorful bunch: retired Special Forces, former intel spooks.
I liked it here. The noise of the city was a lot easier to handle than the power struggles of a pack.
"Meeting at the plaza tomorrow afternoon," I told them. "I'll get everyone's meds squared away."
Jordan, the building manager, ran over and handed me a set of keys. "Kept an eye on the place for you, Ms. Middleton. Didn't let a single squatter get near the door."
"Thanks, Jordan." I handed him a pack of high-end cigars I'd picked up.
He took them with a wide grin. "No trouble at all! You staying for good this time? These old-timers are a handful without you around."
"Yeah," I said, taking the keys. "I'm staying."
I waited until Jordan's footsteps faded down the hall before I pulled out a rusted, skeleton key.
The wooden door was just a decoy.
Once I turned the lock, a sleek LCD screen slid out from beneath the peeling paint.
"Biometrics detected. Enable iris scan?"
"Yes."
A thin blue light swept across my eyes.
"Welcome home, Ms. Middleton."
The alloy door slid open silently, and clinical white lights flooded the room.
I grabbed a cold soda from the fridge, but before I could take a sip, my phone buzzed with an urgent electronic chirp.
"Chloe, time to pick up a contract! The money is calling..."
I swiped the screen. "Talk to me."
"Boss, I've got a job in LA. You in?" My contact's voice was buzzing. "A billionaire in D.C. is looking for his missing granddaughter. Word is the trail leads straight to Los Angeles. Payout is enough to buy three mansions in Beverly Hills."
"Not interested," I said. "I don't do 'missing persons' cases. Don't bore me."
"Wait! Don't hang up!" his voice dropped. "There's another one—a national bounty posted by the Darkstar pack."
I stopped tapping the side of the bottle. "Go on."
"The Darkstars is going ballistic looking for someone. They've put up a ten-million-dollar bounty just to get the 'Hidden Healer' to show their face. Even the person who gives the tip gets a massive cut."
Darkstar. One of the oldest and most lethal packs in the country.
I paused. "Send me the details."
A second later, the file hit my phone: Darkstar Pack hosting a gala at Caesars Palace. Seeking a healer for a high-ranking family member.
The medical description was only one line: "Alpha Lorenzo. Wolf-soul depletion. Chronic condition."
In a race of creatures with freakish healing abilities, "depletion" usually meant a death sentence.
I looked out at the flickering neon lights of the LA skyline. "Tell them I'm in."
“Dari sanalah kedekatanku dengan Joana dimulai, Dra. Dua tahun berlalu, aku lulus… dan aku menepati janjiku untuk menjadi psikolog pribadinya,” ucap Aya, menutup jendela kisah masa lalunya. Gue terdiam. Banyak hal berputar di kepala, tapi hanya satu yang muncul ke permukaan.“Ay… sebenarnya apa yang Joana alami selama ini?” tanya gue, menahan penasaran yang sudah berkarat sejak dulu. “Aku udah bilang, untuk informasi itu aku nggak bisa kasih ke kamu, Dra.” Aya menghela napas panjang, seperti meredam sesuatu yang ingin sekali ia lepaskan, tapi tak bisa.“Oke. Lalu… sejak kapan kamu tahu kalau aku ada hubungan sama Joana?” tanya gue, lebih hati-hati. “Hmm… sebenarnya aku sudah tahu kisah kalian sejak lama. Joana pernah cerita tentangmu. Tapi aku nggak sadar kalau pria itu adalah kamu, Dra. Aku baru benar-benar paham saat terakhir kamu datang ke kantorku.” Suaranya datar, jujur, tanpa celah untuk ragu. Gue kembali diam. Mencerna serpihan-serpihan yang baru saja jatuh ke pangkuan ini.“Te
"Jadi..."Lima tahun laluMemang benar, aku dan Joana sudah saling mengenal satu sama lain. Bahkan sejak aku masih duduk di semester empat kuliah. Saat itu usiaku baru menginjak delapan belas tahun—usia yang terlalu muda untuk memahami dunia, tapi cukup dewasa untuk mulai terluka olehnya. Aku menjadi yang termuda di angkatanku, karena aku lulus SMA pada usia enam belas tahun melalui program akselerasi.Aku berasal dari sebuah kota kecil, kemudian merantau ke Ibu Kota dan tinggal bersama paman serta bibiku. Hari-hariku berjalan sangat sederhana: kampus—perpustakaan—rumah. Begitu terus, berulang, seperti jarum jam yang enggan bergerak keluar dari jalurnya.Aku memang kurang nyaman menghabiskan waktu bersama teman-teman seangkatan. Bukan karena aku tidak pandai bergaul, juga bukan karena aku anti-sosial. Aku hanya memiliki satu kebiasaan buruk: Aku cenderung mengamati manusia terlalu dalam.Bukan sekadar melihat. Melainkan membedah emosi, menelaah pola, membaca getaran yang bahkan mereka
“Stop! Kamu tidak dapat melanjutkan ke tahap penimbangan. Silakan kembali ke ruang tunggu,” ucap sosok berseragam putih itu, tangannya terangkat menahan langkah gue. Cahaya di belakangnya begitu menyilaukan, seolah sesuatu yang suci dan tak tersentuh manusia.“Siapa dia? Malaikat?” gumam gue dalam hati. “Kenapa? Apa amal ibadahku kurang?” Gue heran, karena orang-orang di depan dan belakang melangkah ringan melewati garis yang tak terlihat itu.“Tidak,” jawabNya singkat. “Lalu, apakah karena dosa yang kupunya terlalu banyak?” tanya gue. “Bukan itu,” gelengNya pelan.“Lalu apa?! Kenapa aku tidak bisa ke tahap penimbangan?” suara gue meninggi, campuran antara bingung dan takut. “Karena kuota cobaanmu masih banyak.” JawabanNya jatuh seperti petir yang menggelegar.“Hah?” Tubuh gue membeku. “Di sini tertulis dengan jelas, masih banyak cobaan yang harus kamu hadapi,” ucapNya, menunjuk sebuah buku tebal bercahaya. “Karena itu, kamu harus kembali ke bumi.”Gue panik. “Tidak… kumohon. Aku tida
“Sial… seharian ini gue belum makan apa pun,” gumam gue dalam hati. “Eh, maaf-maaf ya bro. Nggak sengaja,” ucap gue ramah. Tapi ia justru menatap dengan wajah menantang.“Bra bro bra bro. Jangan sok asik lo! Norak! Biasa minum di trotoar ya nyet.” Gue menguatkan diri. “Lho gue kan udah minta maaf. Nggak sengaja juga. Kenapa lo malah ngata-ngatain?”Temannya ikut memprovokasi, memaki sembarangan.Gue menghitung cepat—empat orang. Nafas gue menahan bara yang mulai berkumpul di kedua telapak tangan ini. “Pokoknya gue nggak mau mulai duluan,” bisik gue, mengingat janji kepada Sonya. Setelah semua pelatihan boxing yang dia ajarkan ke gue.“Yaudah, yang penting gue udah minta maaf, oke,” ucap gue sambil memanggil bartender untuk meminta bill. Tapi tampaknya mereka tidak puas. Sebuah tangan menarik bahu gue, dan sebelum sempat bereaksi, sebuah pukulan keras mendarat di wajah ini. Bukk! Gue jatuh tersungkur.Dan untuk sesaat, di antara kabur lampu-lampu neon, gue berpikir: mungkin ini caranya
18 bulan kemudian “Deandraaa! Ayo banguuun, kamu sarapan nggak?” teriak Ibu dari dapur, yang terdengar hingga ke alam mimpi. Gue tersentak, dan langsung koprol dari kasur. “Ah, udah pagi aja,” gerutu gue, belum rela membuka mata. Rasanya baru saja gue memejamkan mata ini sejenak. “Deandraa
“Yaudah, pada mau mampir nggak nih?” tanya gue basa-basi, sambil membuka pintu mobil yang berhenti tepat di depan pagar. Belum sempat mereka membalas, gue sudah di hadapkan dengan sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan gue. Rasanya waktu berhenti perlahan-lahan bersamaan dengan napas gue ya
“AAARGH! TIDAAAK!” teriak gue panik, karena melihat sesuatu yang hilang dari pandangan. Tiba-tiba, seorang pelayan wanita datang menghampiri. “Ada apa, Mas?” tanyanya, antara panik dan penasaran. Dengan jari menunjuk ke arah meja, gue menatapnya tajam. Pelayan itu menghela napas diikuti oleh an
Suatu hari, di sebuah rumah sederhana yang berdempetan dengan gedung-gedung perkantoran ibu kota—rumah yang sekaligus menjadi warung makan kecil bagi para pekerja—tinggallah seorang ibu dan balita laki-lakinya yang lucu. Kehidupan mereka tidak pernah nyaman, tapi cukup untuk membuat mereka bertahan.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.