MasukDeandra selalu punya satu aturan sederhana dalam hidupnya: jangan pernah jatuh cinta. Di usia 24 tahun, ia sudah terlalu sering melihat bagaimana cinta menghancurkan orang. Jadi ia memilih aman-bertato, bersikap dingin, menjaga jarak. Semua orang boleh dekat, tapi tak boleh terlalu dalam. Sayangnya, hati tidak pernah benar-benar patuh pada logika. Di tengah terapi yang ia jalani untuk menyembuhkan trauma masa kecilnya, Deandra justru dipaksa menghadapi satu hal yang paling ia hindari: perasaan yang tumbuh tanpa izin. Tatapan yang terlalu lama. Kepedulian yang terasa berbeda. Seseorang yang tak pergi meski ia berkali-kali menyuruhnya menjauh. Ia tahu risikonya. Ia tahu bagaimana akhirnya nanti. Tapi bagaimana kalau untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak ingin menyelamatkannya, melainkan memilih tinggal dan berjalan bersamanya? Di antara luka yang belum sembuh dan masa lalu yang terus mengejar, Deandra harus memilih: tetap memeluk ketakutannya... atau mencoba mempercayai cinta, meski itu berarti membuka kemungkinan untuk hancur lagi. Karena terkadang, yang paling menakutkan bukanlah patah hati- melainkan bahagia, dan tidak tahu cara mempertahankannya. Esensi Cinta adalah cerita tentang trauma yang tidak selesai, tentang keluarga yang tidak sempurna, dan tentang keberanian paling sulit: membiarkan diri sendiri bahagia.
Lihat lebih banyak“Satu gelas lagi.”
Moreau telah menghadapi pelbagai desakan buruk sepanjang hari. Mantan kekasihnya secara sepihak mengambil pilihan untuk mengakhiri hubungan mereka. Dia sudah meminta alasan pasti sejak momen menyedihkan tersebut, tetapi Froy dan tatapan marah pria itu jelas – jelas menolak bicara. Ironi sekali. Besok merupakan hari pernikahan ibunya yang Moreau sendiri tidak tahu seperti apa rupa dari sang mempelai pria. Mereka tidak dikenalkan. Ibunya merencanakan kebutuhan diam – diam. Bahkan ada begitu banyak tekanan lain untuk meninggalkan bercak serius, yang terasa seperti melubangi jantung Moreau dengan hujaman. Dia hampir putus asa memikirkan segala hal. Beberapa saat lalu memutuskan pergi ke sebuah bar diliputi niat ingin menenangkan diri. Gaun merah mencolok begitu sempurna di tubuh langsing Moreau. Di depan meja bar, dia hanya duduk sendirian. Memandangi beberapa gelas kosong—wine telah tandas tak bersisa. Demikianlah, tenggorokannya seperti abu dengan sisa – sisa kebakaran. Benar – benar gersang. Moreau tidak pernah mengira bahwa dia akan segera mabuk. Ya, dia mulai mabuk. Seseorang membantunya untuk melangkah. Namun, Moreau tak pernah mengira akan menghadapi satu momen bersama seorang pria. Sebuah tangan liat menyentuh di pinggulnya, hingga aroma maskulin sepaket dengan bau alkohol yang menyengat, perlahan menyeruak terasa seperti siraman menyenangkan. Bagian paling ekstrim dari malam ini setelah mobil berhenti di sebuah gedung tinggi, dan mereka melewati lift ... adalah sayup – sayup suara ranjang berderak. Puncak kepala Moreau membunyikan sirine bahaya. Sayang sekali, dia tak berdaya ketika sentuhan mulut seseorang memagut intim di bibirnya. Sesuatu terasa hangat. Moreau menggeliat saat ujung jari yang kasar itu bergerak menurunkan tali dress di garis bahu, gerakan yang secara tidak langsung memberi pria tersebut—siapa pun dia, peluang untuk melucuti kain merah yang dilengkapi busa di bagian dada menjadi gulungan tebal di pinggul. “Hentikan!” Moreau melenguh panjang merasakan genggaman mantap dan lidah yang bergerak basah di sekitar payudaranya. Sebagian naluri yang dia miliki mencoba untuk mengambil kendali dengan menyerahkan dorongan – dorongan pasti. Namun, Moreau masih tak berdaya dan malahan terdiam ketika mendapati rambut bertekstur halus meliputi ruas – ruas jari tangannya. Siapa pria ini? Dia bertanya – tanya bingung. Kembali menggeliat saat menghadapi bagian terakhir yang terjal. Tangan itu telah merenggut dalaman satin merah, meninggalkan begitu banyak hal yang tidak dapat Moreau hindari. Dia menengadah putus asa merasakan pria itu bergerak. Barangkali sedang melucuti kain – kain di tubuh sendiri. Pening makin menyergap Moreau. Dia tersentak ketika menghadapi pelukan hangat. Sementara kecupan – kecupan ringan di ceruk lehernya meninggal jejak panas tak tertahan. Tangan Moreau tanpa sadar menyentuh bahu lebar pria asing ini. Kedua kakinya telah dibuka lebar. Sesuatu yang besar dan kokoh berusaha mendesak ke dalam celah lembab di tubuhnya. Moreau meringis. Kenyitan dalam perlahan membuat pria itu berhenti. Hanya sebentar, kemudian hasrat membakar dari kebutuhan liar itu telah mengambil peran. Dorongan tentatif memenuhi tubuh Moreau. Dia ingin mengutuk diri sendiri. Betapa bodoh, telah menyerah pada seorang pria tak dikenalnya. Sisi tangguh pria itu bahkan semakin tak terkendali. Moreau merasa ... dia hampir tenggelam setelah dengan perlahan tergerus—lalu bergetar di bawah kurungan tubuh kekar. Pandangannya mulai semakin buram, dan bagian terakhir yang dapat Moreau pikirkan hanya; menyayangkan dalam satu malam, dia telah melakukan sepetak kemunduran.“Dari sanalah kedekatanku dengan Joana dimulai, Dra. Dua tahun berlalu, aku lulus… dan aku menepati janjiku untuk menjadi psikolog pribadinya,” ucap Aya, menutup jendela kisah masa lalunya. Gue terdiam. Banyak hal berputar di kepala, tapi hanya satu yang muncul ke permukaan.“Ay… sebenarnya apa yang Joana alami selama ini?” tanya gue, menahan penasaran yang sudah berkarat sejak dulu. “Aku udah bilang, untuk informasi itu aku nggak bisa kasih ke kamu, Dra.” Aya menghela napas panjang, seperti meredam sesuatu yang ingin sekali ia lepaskan, tapi tak bisa.“Oke. Lalu… sejak kapan kamu tahu kalau aku ada hubungan sama Joana?” tanya gue, lebih hati-hati. “Hmm… sebenarnya aku sudah tahu kisah kalian sejak lama. Joana pernah cerita tentangmu. Tapi aku nggak sadar kalau pria itu adalah kamu, Dra. Aku baru benar-benar paham saat terakhir kamu datang ke kantorku.” Suaranya datar, jujur, tanpa celah untuk ragu. Gue kembali diam. Mencerna serpihan-serpihan yang baru saja jatuh ke pangkuan ini.“Te
"Jadi..."Lima tahun laluMemang benar, aku dan Joana sudah saling mengenal satu sama lain. Bahkan sejak aku masih duduk di semester empat kuliah. Saat itu usiaku baru menginjak delapan belas tahun—usia yang terlalu muda untuk memahami dunia, tapi cukup dewasa untuk mulai terluka olehnya. Aku menjadi yang termuda di angkatanku, karena aku lulus SMA pada usia enam belas tahun melalui program akselerasi.Aku berasal dari sebuah kota kecil, kemudian merantau ke Ibu Kota dan tinggal bersama paman serta bibiku. Hari-hariku berjalan sangat sederhana: kampus—perpustakaan—rumah. Begitu terus, berulang, seperti jarum jam yang enggan bergerak keluar dari jalurnya.Aku memang kurang nyaman menghabiskan waktu bersama teman-teman seangkatan. Bukan karena aku tidak pandai bergaul, juga bukan karena aku anti-sosial. Aku hanya memiliki satu kebiasaan buruk: Aku cenderung mengamati manusia terlalu dalam.Bukan sekadar melihat. Melainkan membedah emosi, menelaah pola, membaca getaran yang bahkan mereka
“Stop! Kamu tidak dapat melanjutkan ke tahap penimbangan. Silakan kembali ke ruang tunggu,” ucap sosok berseragam putih itu, tangannya terangkat menahan langkah gue. Cahaya di belakangnya begitu menyilaukan, seolah sesuatu yang suci dan tak tersentuh manusia.“Siapa dia? Malaikat?” gumam gue dalam hati. “Kenapa? Apa amal ibadahku kurang?” Gue heran, karena orang-orang di depan dan belakang melangkah ringan melewati garis yang tak terlihat itu.“Tidak,” jawabNya singkat. “Lalu, apakah karena dosa yang kupunya terlalu banyak?” tanya gue. “Bukan itu,” gelengNya pelan.“Lalu apa?! Kenapa aku tidak bisa ke tahap penimbangan?” suara gue meninggi, campuran antara bingung dan takut. “Karena kuota cobaanmu masih banyak.” JawabanNya jatuh seperti petir yang menggelegar.“Hah?” Tubuh gue membeku. “Di sini tertulis dengan jelas, masih banyak cobaan yang harus kamu hadapi,” ucapNya, menunjuk sebuah buku tebal bercahaya. “Karena itu, kamu harus kembali ke bumi.”Gue panik. “Tidak… kumohon. Aku tida
“Sial… seharian ini gue belum makan apa pun,” gumam gue dalam hati. “Eh, maaf-maaf ya bro. Nggak sengaja,” ucap gue ramah. Tapi ia justru menatap dengan wajah menantang.“Bra bro bra bro. Jangan sok asik lo! Norak! Biasa minum di trotoar ya nyet.” Gue menguatkan diri. “Lho gue kan udah minta maaf. Nggak sengaja juga. Kenapa lo malah ngata-ngatain?”Temannya ikut memprovokasi, memaki sembarangan.Gue menghitung cepat—empat orang. Nafas gue menahan bara yang mulai berkumpul di kedua telapak tangan ini. “Pokoknya gue nggak mau mulai duluan,” bisik gue, mengingat janji kepada Sonya. Setelah semua pelatihan boxing yang dia ajarkan ke gue.“Yaudah, yang penting gue udah minta maaf, oke,” ucap gue sambil memanggil bartender untuk meminta bill. Tapi tampaknya mereka tidak puas. Sebuah tangan menarik bahu gue, dan sebelum sempat bereaksi, sebuah pukulan keras mendarat di wajah ini. Bukk! Gue jatuh tersungkur.Dan untuk sesaat, di antara kabur lampu-lampu neon, gue berpikir: mungkin ini caranya
18 bulan kemudian “Deandraaa! Ayo banguuun, kamu sarapan nggak?” teriak Ibu dari dapur, yang terdengar hingga ke alam mimpi. Gue tersentak, dan langsung koprol dari kasur. “Ah, udah pagi aja,” gerutu gue, belum rela membuka mata. Rasanya baru saja gue memejamkan mata ini sejenak. “Deandraa
“Yaudah, pada mau mampir nggak nih?” tanya gue basa-basi, sambil membuka pintu mobil yang berhenti tepat di depan pagar. Belum sempat mereka membalas, gue sudah di hadapkan dengan sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan gue. Rasanya waktu berhenti perlahan-lahan bersamaan dengan napas gue ya
“AAARGH! TIDAAAK!” teriak gue panik, karena melihat sesuatu yang hilang dari pandangan. Tiba-tiba, seorang pelayan wanita datang menghampiri. “Ada apa, Mas?” tanyanya, antara panik dan penasaran. Dengan jari menunjuk ke arah meja, gue menatapnya tajam. Pelayan itu menghela napas diikuti oleh an
Suatu hari, di sebuah rumah sederhana yang berdempetan dengan gedung-gedung perkantoran ibu kota—rumah yang sekaligus menjadi warung makan kecil bagi para pekerja—tinggallah seorang ibu dan balita laki-lakinya yang lucu. Kehidupan mereka tidak pernah nyaman, tapi cukup untuk membuat mereka bertahan.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.