LOGINDeandra selalu punya satu aturan sederhana dalam hidupnya: jangan pernah jatuh cinta. Di usia 24 tahun, ia sudah terlalu sering melihat bagaimana cinta menghancurkan orang. Jadi ia memilih aman-bertato, bersikap dingin, menjaga jarak. Semua orang boleh dekat, tapi tak boleh terlalu dalam. Sayangnya, hati tidak pernah benar-benar patuh pada logika. Di tengah terapi yang ia jalani untuk menyembuhkan trauma masa kecilnya, Deandra justru dipaksa menghadapi satu hal yang paling ia hindari: perasaan yang tumbuh tanpa izin. Tatapan yang terlalu lama. Kepedulian yang terasa berbeda. Seseorang yang tak pergi meski ia berkali-kali menyuruhnya menjauh. Ia tahu risikonya. Ia tahu bagaimana akhirnya nanti. Tapi bagaimana kalau untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak ingin menyelamatkannya, melainkan memilih tinggal dan berjalan bersamanya? Di antara luka yang belum sembuh dan masa lalu yang terus mengejar, Deandra harus memilih: tetap memeluk ketakutannya... atau mencoba mempercayai cinta, meski itu berarti membuka kemungkinan untuk hancur lagi. Karena terkadang, yang paling menakutkan bukanlah patah hati- melainkan bahagia, dan tidak tahu cara mempertahankannya. Esensi Cinta adalah cerita tentang trauma yang tidak selesai, tentang keluarga yang tidak sempurna, dan tentang keberanian paling sulit: membiarkan diri sendiri bahagia.
View MoreSuatu hari, di sebuah rumah sederhana yang berdempetan dengan gedung-gedung perkantoran ibu kota—rumah yang sekaligus menjadi warung makan kecil bagi para pekerja—tinggallah seorang ibu dan balita laki-lakinya yang lucu. Kehidupan mereka tidak pernah nyaman, tapi cukup untuk membuat mereka bertahan. Sang ibu menggantikan peran suami yang tak pernah hadir, menggendong beban hidup dengan satu tangan sembari merawat anaknya dengan tangan yang lain.
Tiga tahun berlalu seperti asap yang hilang tersapu angin. Sang suami pulang—dengan langkah ragu—ke rumah yang kini terasa asing baginya. Niatnya untuk memulai lembaran baru luluh begitu saja saat menyadari keberadaan bocah kecil yang sejak dulu tidak diinginkannya. Kebenciannya tumbuh diam-diam, seperti jamur yang membusuk di dalam gelap.
Hingga istrinya melahirkan anak perempuan. Dan sejak hari itu, kasih sayangnya terbagi dengan timpang—jatuh seluruhnya pada sang adik, sementara kakaknya hanya menerima tatapan kosong dan dingin yang menusuk.
“Bu… kenapa Ayah tidak suka sama aku?” tanya bocah itu suatu sore, dengan mata sebening hujan yang hendak jatuh.
“Mungkin itu hanya perasaanmu, Nak,” ucap sang ibu pelan, mencari-cari alasan yang tak pernah benar-benar ada. “Ayahmu tidak merawatmu dari lahir… mungkin dia hanya canggung.”
“Jadi Ayah sayang adik karena… Ayah merawat adik sejak bayi?” tanyanya polos. Kali ini ibunya terdiam. Bukan karena tak tahu harus berkata apa—tapi karena ia tahu, sepenuhnya tahu, apa akar dari kebencian itu.
“Sabar ya, Nak,” ucapnya. “Semua butuh waktu.” Namun waktu tak pernah benar-benar berpihak.
Kini bocah itu berusia sepuluh tahun. Dan tak ada yang berubah, kecuali amarah ayahnya yang makin membara. Sang ibu yang dulu rajin mengelak, kini tak mampu lagi menutup mata. Anak lelakinya mulai mengerti… bahwa selama ini ia hanya diberi harapan manis untuk menjaga rumah tetap harmonis. Sebuah utopia yang mustahil terwujud selama akar kebencian masih mencengkeram lantai rumah mereka.
Suatu malam, ketika hujan baru saja merintik di luar jendela, pertengkaran itu pecah. “Pergi kamu dari rumah ini! Jangan siksa anak lelakiku lagi!” teriak sang ibu, suaranya pecah seperti kaca dibanting.
“Kamu gila?! Kamu lebih memilih anak itu daripada aku, suamimu?!” balas pria itu, dengan wajah merah oleh alkohol.
“Kamu sudah bukan suamiku lagi! Kamu berubah, Mas! Apa yang terjadi sama kamu setelah keluar dari penjara?!” teriak sang ibu, nyaris tak mengenal sosok laki-laki di depannya.
“Aku kepala rumah tangga! Kamu nggak bisa mengusirku!” Pria itu tidak peduli.
“Kepala rumah tangga? Yang selama ini berjuang siapa? Yang memberi makan kamu dan anak-anak siapa? Aku, Mas! Aku!” Suara sang ibu bergetar, bukan karena takut—tapi karena akhirnya ia berani.
“Kamu nggak tahu apa yang aku alami tiga tahun di penjara!” Pria itu membuang muka, seolah dirinya korban dari semua keadaan.
“Kita semua korban, Mas!” Kata-kata sang ibu menampar udara. “Kamu juga nggak tahu apa yang kami hadapi saat kamu pergi!” Pria itu langsung mendengus. “Jadi kamu benar-benar ingin berpisah? Demi anak terkutuk itu?”
“Mas! Jangan bicara begitu! Dia masih anak-anak!” Tapi bocah itu terlanjur mendengar. Dengan kaki terluka dan mata berkaca, ia melangkah maju. “Ke… kenapa Ayah benci aku? Apa salahku?”
Pria itu melotot. “Kenapa?” Tatapannya dingin, lalu berkata tanpa ragu—tanpa hati, “Karena kamu bukan anakku.”
Plak! Tamparan sang ibu mendarat keras. “Kamu benar-benar kejam, Mas!” Pria itu tersenyum getir. “Kejam? Orang tuanya yang lebih jahat! Mereka yang bikin kita hidup seperti ini! Kamu lupa?!”
Bocah itu menatap ibunya, bingung—ketakutan. “Bu… apa maksud Ayah? Orang tua siapa yang jahat?” sang ibu buru-buru menutup telinganya. “Jangan dengarkan Ayahmu, Nak.”
“Percuma!” teriak pria itu. “Kamu bukan anak kami. Orang tuamu membuangmu. Kamu itu… anak terkutuk!” Dunia berhenti sejenak. Bocah itu mematung, dadanya seakan dipukul dari dalam.
“A—aku… bukan anak kalian?” bisiknya, lebih lemah daripada desah angin. “Nak, masuk ke dalam ya. Temani adikmu,” perintah sang ibu, panik.
Pria itu masih berkoar, menyalahkan masa lalu, keadaan, siapa pun kecuali dirinya. Namun sang ibu berdiri tegak, seperti tembok terakhir yang masih tersisa. “Saat ini juga, keluar dari rumah ini!” tegasnya. Dan malam itu menjadi akhir dari rumah tangga mereka.
Sejak hari itu, bocah itu memahami semuanya—secara menyakitkan dan terlalu cepat untuk usianya. Bahwa pria yang selama ini ia panggil Ayah tidak pernah memiliki ruang untuknya di hatinya. Bahwa ibu kandungnya bukanlah ibu yang telah membesarkannya. Bahwa ia… hanyalah seseorang yang dibuang, ditemukan, lalu dibenci sekali lagi.
Cinta di dalam dirinya runtuh perlahan. Dan di bawah langit kelabu yang menggeram di atas kepalanya, sebuah bisikan lahir dari luka yang terlalu dalam:
“Aku benci kalian semua…”
Bukan teriakannya yang terdengar, melainkan hening yang menggema jauh ke dasar dirinya. Hening yang mulai mengubah hatinya, menjadi sesuatu yang gelap.
***
“Dari sanalah kedekatanku dengan Joana dimulai, Dra. Dua tahun berlalu, aku lulus… dan aku menepati janjiku untuk menjadi psikolog pribadinya,” ucap Aya, menutup jendela kisah masa lalunya. Gue terdiam. Banyak hal berputar di kepala, tapi hanya satu yang muncul ke permukaan.“Ay… sebenarnya apa yang Joana alami selama ini?” tanya gue, menahan penasaran yang sudah berkarat sejak dulu. “Aku udah bilang, untuk informasi itu aku nggak bisa kasih ke kamu, Dra.” Aya menghela napas panjang, seperti meredam sesuatu yang ingin sekali ia lepaskan, tapi tak bisa.“Oke. Lalu… sejak kapan kamu tahu kalau aku ada hubungan sama Joana?” tanya gue, lebih hati-hati. “Hmm… sebenarnya aku sudah tahu kisah kalian sejak lama. Joana pernah cerita tentangmu. Tapi aku nggak sadar kalau pria itu adalah kamu, Dra. Aku baru benar-benar paham saat terakhir kamu datang ke kantorku.” Suaranya datar, jujur, tanpa celah untuk ragu. Gue kembali diam. Mencerna serpihan-serpihan yang baru saja jatuh ke pangkuan ini.“Te
"Jadi..."Lima tahun laluMemang benar, aku dan Joana sudah saling mengenal satu sama lain. Bahkan sejak aku masih duduk di semester empat kuliah. Saat itu usiaku baru menginjak delapan belas tahun—usia yang terlalu muda untuk memahami dunia, tapi cukup dewasa untuk mulai terluka olehnya. Aku menjadi yang termuda di angkatanku, karena aku lulus SMA pada usia enam belas tahun melalui program akselerasi.Aku berasal dari sebuah kota kecil, kemudian merantau ke Ibu Kota dan tinggal bersama paman serta bibiku. Hari-hariku berjalan sangat sederhana: kampus—perpustakaan—rumah. Begitu terus, berulang, seperti jarum jam yang enggan bergerak keluar dari jalurnya.Aku memang kurang nyaman menghabiskan waktu bersama teman-teman seangkatan. Bukan karena aku tidak pandai bergaul, juga bukan karena aku anti-sosial. Aku hanya memiliki satu kebiasaan buruk: Aku cenderung mengamati manusia terlalu dalam.Bukan sekadar melihat. Melainkan membedah emosi, menelaah pola, membaca getaran yang bahkan mereka
“Stop! Kamu tidak dapat melanjutkan ke tahap penimbangan. Silakan kembali ke ruang tunggu,” ucap sosok berseragam putih itu, tangannya terangkat menahan langkah gue. Cahaya di belakangnya begitu menyilaukan, seolah sesuatu yang suci dan tak tersentuh manusia.“Siapa dia? Malaikat?” gumam gue dalam hati. “Kenapa? Apa amal ibadahku kurang?” Gue heran, karena orang-orang di depan dan belakang melangkah ringan melewati garis yang tak terlihat itu.“Tidak,” jawabNya singkat. “Lalu, apakah karena dosa yang kupunya terlalu banyak?” tanya gue. “Bukan itu,” gelengNya pelan.“Lalu apa?! Kenapa aku tidak bisa ke tahap penimbangan?” suara gue meninggi, campuran antara bingung dan takut. “Karena kuota cobaanmu masih banyak.” JawabanNya jatuh seperti petir yang menggelegar.“Hah?” Tubuh gue membeku. “Di sini tertulis dengan jelas, masih banyak cobaan yang harus kamu hadapi,” ucapNya, menunjuk sebuah buku tebal bercahaya. “Karena itu, kamu harus kembali ke bumi.”Gue panik. “Tidak… kumohon. Aku tida
“Sial… seharian ini gue belum makan apa pun,” gumam gue dalam hati. “Eh, maaf-maaf ya bro. Nggak sengaja,” ucap gue ramah. Tapi ia justru menatap dengan wajah menantang.“Bra bro bra bro. Jangan sok asik lo! Norak! Biasa minum di trotoar ya nyet.” Gue menguatkan diri. “Lho gue kan udah minta maaf. Nggak sengaja juga. Kenapa lo malah ngata-ngatain?”Temannya ikut memprovokasi, memaki sembarangan.Gue menghitung cepat—empat orang. Nafas gue menahan bara yang mulai berkumpul di kedua telapak tangan ini. “Pokoknya gue nggak mau mulai duluan,” bisik gue, mengingat janji kepada Sonya. Setelah semua pelatihan boxing yang dia ajarkan ke gue.“Yaudah, yang penting gue udah minta maaf, oke,” ucap gue sambil memanggil bartender untuk meminta bill. Tapi tampaknya mereka tidak puas. Sebuah tangan menarik bahu gue, dan sebelum sempat bereaksi, sebuah pukulan keras mendarat di wajah ini. Bukk! Gue jatuh tersungkur.Dan untuk sesaat, di antara kabur lampu-lampu neon, gue berpikir: mungkin ini caranya
18 bulan kemudian “Deandraaa! Ayo banguuun, kamu sarapan nggak?” teriak Ibu dari dapur, yang terdengar hingga ke alam mimpi. Gue tersentak, dan langsung koprol dari kasur. “Ah, udah pagi aja,” gerutu gue, belum rela membuka mata. Rasanya baru saja gue memejamkan mata ini sejenak. “Deandraa
“Yaudah, pada mau mampir nggak nih?” tanya gue basa-basi, sambil membuka pintu mobil yang berhenti tepat di depan pagar. Belum sempat mereka membalas, gue sudah di hadapkan dengan sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan gue. Rasanya waktu berhenti perlahan-lahan bersamaan dengan napas gue ya
“AAARGH! TIDAAAK!” teriak gue panik, karena melihat sesuatu yang hilang dari pandangan. Tiba-tiba, seorang pelayan wanita datang menghampiri. “Ada apa, Mas?” tanyanya, antara panik dan penasaran. Dengan jari menunjuk ke arah meja, gue menatapnya tajam. Pelayan itu menghela napas diikuti oleh an
Suatu hari, di sebuah rumah sederhana yang berdempetan dengan gedung-gedung perkantoran ibu kota—rumah yang sekaligus menjadi warung makan kecil bagi para pekerja—tinggallah seorang ibu dan balita laki-lakinya yang lucu. Kehidupan mereka tidak pernah nyaman, tapi cukup untuk membuat mereka bertahan.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.