MasukSaat aku mendapatkan pulpen di tanganku dan kertas di hadapanku. Rasanya aku ingin menulis sesuatu untuk melepaskan segala beban yang kupikul di kehidupan yang menyedihkan ini. Aku memikirkan seorang pria yang amat terpuruk namun memiliki takdir yang sangat berat: menyelamatkan dunia. Dia bukanlah orang yang bodoh apalagi pintar, dia tidak jelek apalagi rupawan. Ia hanya seorang nojikon (Orang yang mencintai tokoh kartun lebih dari ketertarikannya pada wanita asli) sepertiku. Dia bepikir untuk menyerah namun suatu kejadian mengubah hidupnya. Aku yakin kalian mulai menebak bagaimana cerita ini berjalan, tapi sayang sekali yang satu ini akan menjadi sesuatu yang sangat berbeda dari yang lain.
Lihat lebih banyak“Kamu benar-benar … perkasa!”
Tiara mendesah. Napasnya tersengal. Dia tenggelam dalam permainan seorang pria kekar dan tampan yang kini berada di atas tubuhnya. Penerangan di kamar hotel nomor 111 sengaja dipadamkan. Namun cahaya rembulan masuk melalui jendela yang terbuka, menciptakan siluet indah sepasang kekasih dadakan. Si pria tampan terus menggerakkan pinggulnya. Sosoknya terlihat semakin seksi. “Kamu yakin nggak akan menyesal kalau kita teruskan permainan hot ini?” Wajah Tiara merona merah. Dia menggelengkan kepala sambil memeluk tubuh pria itu dengan erat. Tiara mendesah, “Aaahhh …” Keduanya terus bergerak mengikuti irama musik orkestra yang diputar pada layar TV. “Punya kamu ini … ternyata masih disegel, ya,” gumam si pria. Malam semakin larut. Mereka kelelahan dan tertidur pulas setelah bermain tiga ronde. Keesokan paginya. Tiara terbangun karena cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Perlahan, Tiara membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjap sebentar. Muncul ingatan tentang semalam. Saat itu juga, dia tersadar. Tiara menatap tangan besar yang melingkar di atas perutnya. “Ini … tangan siapa?” Tiara terkejut mengetahui bahwa dia berada di sebuah kamar hotel bersama pria yang tidak dikenalnya. Dengan rasa penasaran yang bergejolak, Tiara menoleh. Dia ingin tahu, pria mana yang sedang tidur di sampingnya! ‘Astaga! Pak Bima?!’ pekik Tiara di dalam hati. ‘Kok dia bisa di sini?!’ Tiara menyingkirkan tangan Bima dengan sangat lembut, khawatir akan membangunnya. Sambil menahan nyeri pada bagian kewanitaan, Tiara bangkit dari ranjang besar. Dia mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai dengan cepat. “Astaga! Badanku rasanya mau rontok,” keluh Tiara, pelan. Dalam hitungan dua menit, Tiara selesai mengenakan pakaiannya. Lalu, merapikan rambutnya sebentar dan mengambil tas tangan di atas meja. ‘Ya Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan?’ jeritnya dalam hati. ‘Bodohnya aku!’ Saat Tiara hendak melangkah pergi, Bima mencengkram lengan Tiara dengan erat. “Kamu mau ke mana, Tiara?” tanya Bima, ketus. Mata Tiara melotot. ‘Mampus aku!’ Tiara kemudian menoleh. Tampak tubuh Bima yang kekar hanya mengenakan celana boxernya. Ototnya begitu nyata. Kulitnya yang putih dan tegap, dengan sorot matanya yang tajam membuat Tiara terpana hingga membayangkan kejadian semalam. Tiara begitu terpesona dengan ketampanan dosen pembimbingnya itu. ‘Sayangnya, tubuh Pak Bima tidak mungkin kumiliki!’ Tiara terkejut dengan pikirannya sendiri. Dia menepuk-nepuk kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran aneh itu. Lalu, Tiara meringis. “P-pak Bima, maafkan saya. Saya mohon. Anggap semalam tidak ada kejadian apa-apa.” Sebelah alis Bima naik. “Bagaimana bisa saya melupakan permainan kita semalam? Kamu begitu …” Bima kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Tiara. “Perkasa.” Tiara bergidik mendengarnya. Namun, Bima justru menyeringai. Tiba-tiba Tiara ingat mengatakan kalimat itu dengan suara yang menggoda semalam. Tiara menggeleng, mencoba mengusir semua bayangan yang muncul di dalam pikirannya. Tiara menyatukan kedua telapak tangan di depan wajahnya. “Saya mohon, Pak. Maafkan saya. Saya tidak ingat bagaimana kita bisa berakhir di sini berdua. Tolong, maafkan saya dan lupakan kejadian ini, Pak.” Melihat Tiara memelas dengan sangat, Bima pun menyetujuinya dengan cepat. Sepertinya, dia memiliki ide yang cemerlang. “Kalau begitu,” ucap Bima sambil memegang kedua lengan Tiara. Bima membalikkan badan Tiara dengan cepat. Lalu, menduduki Tiara di pangkuannya. Tanpa segan, dia mendekatkan wajahnya di telinga Tiara dari belakang. Bima berbisik, “Kamu harus terus mengikuti permainan saya.” Tiara kembali bergidik. Sekarang lebih kepada geli karena suara dan napas Bima begitu jelas di telinganya. “T-tapi, Pak–” Baru saja Tiara mau nyerocos, Bima sudah langsung memotong kalimatnya. “Tidak ada tapi-tapian. Kalau tidak, skripsi kamu saya batalkan semester ini. Jadi, kamu harus mengulangnya tahun depan dari nol! Bagaimana? Kamu sendiri yang menentukan pilihan, loh.” Wajah Tiara cemberut. “Pak …” Bima berdiri, membiarkan Tiara berperang dengan perasaan dan akal sehatnya sendiri. Dia mengambil pakaiannya yang juga tercecer di mana-mana. Dan memakainya dengan cepat. Bima mengancingkan lengan kemejanya. “Jangan lama-lama mikirnya, Tiara!” Tiara bingung. Dia tidak mungkin mengikuti permainan Bima yang jelas-jelas sudah beristri. Tiara tidak mau dicap sebagai perusak rumah tangga orang. Apalagi, Bima adalah Dosen pembimbingnya sendiri. Tapi, Tiara juga tidak ingin skripsinya dibatalkan. Pilihan ini benar-benar membuat Tiara bingung! Tiara harus segera lulus agar bisa segera bekerja dan meneruskan bisnis ayahnya. Dia tidak mungkin menunda skripsi, karena ayahnya sedang sakit. “P-pak,” ucap Tiara setelah bergelut dengan pikirannya sendiri. “Saya akan mengikuti permainan Bapak.” ‘Sudah kepalang basah, sekalian aja nyebur!’ pekiknya dalam hati. Bima tersenyum sinis. “Bagus. Kalau begitu, sekarang kamu boleh pulang. Dan besok, temui saya di kubikel jam 8 pagi.” “B-baik, Pak,” sahut Tiara tanpa ada jeda. Tiara pamit meninggalkan Bima dengan gelisah. Sesampainya di luar kamar hotel, Tiara memastikan tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Tiara berjalan dengan perlahan sambil celingukan. “Kalau kejadian ini sampai viral, bisa-bisa aku dilabrak istrinya Pak Bima, bahkan dikeluarkan dari kampus,” ujar Tiara, pelan. Setelah sampai di lobi depan, Tiara, segera menghampiri taksi yang sedang terparkir rapi. Tiara membuka pintu mobil. “Jalan Garuda no. 19 ya, Pak!” Sopir taksi mengangguk. Taksi melaju bebas di jalan raya. Di dalam taksi, Tiara menepuk dahinya. Dia menyadari kebodohannya. ‘Apa-apaan, sih? Kenapa aku jadi terjebak begini?!’“APA?! HARASA?!”Kartika terkejut mengetahui Alfi akhirnya memutuskan untuk menggunakan Harasa, senjata suci nomor 12. “Ada apa, Kartika? Apa itu Harasa?”Tanya Varz yang gelisah. “Ada 5 senjata suci yang sulit untuk dikendalikan. Senjata suci nomor 3: Duy-duy, senjata ini memerlukan kesedihan yang pedih agar bisa digunakan. Alfi dapat menggunakan Duy-duy karena masa lalunya yang kelam. Senjata suci nomor 6: Tipit, senjata ini memerlukan rasa cinta yang tulus agar dapat digunakan. Alfi dapat menggunakan Tipit karena cintanya yang tulus pada Megumi. Senjata suci nomor 9: Pelidi, senjata ini memerlukan kecerdasan yang tinggi agar bisa digunakan. Alfi bisa menggunakannya karena ia memang cerdas. Senjata suci nomor 10: Pukan, senjata ini memerlukan hati busuk dari si pengguna agar bisa dapat digunakan. Alfi dapat menggunakannya karena sifatnya yang memang sudah seperti seorang bajingan. Dan...” “Senjata suci nomor 12: Harasa,”Ucap Herman.
“Kenapa kalian melihatku seperti itu?”Tanyanya.Alfi, Koji dan Rian pun waspada. Mereka tahu bahwa orang ini bukanlah lawan yang bisa diremehkan. Kartika merasakan Iru yang amat mengerikan dalam diri orang itu."Kartika! Gawat! Dia adalah salah satu dari petinggi Waku-waku!"Cakra terdengar gelisah."Apa?! Gawat! Alfi belum berhasil menguasai senjata suci nomor 12. Mustahil baginya untuk dapat menandingi orang itu."Kartika pun menjadi cemas.Kartika melihat Varz dan Herman yang terlihat sudah terintimidasi oleh kehadiran orang itu. Itu saja sudah jelas bagi mereka bahwa orang itu merupakan ancaman besar bagi mereka semua. Ditambah lagi kondisi mereka sudah tidak prima lagi akibat pertarungan sebelumnya."Awan, Rian, Andos, dan sekarang orang ini. Dan aku bahkan tidak dapat mengalahkan salah satu dari mereka."Varz terlihat amat kesal.“Aku baru saja menyelamatkan nyawa orang itu. Kenapa kalian tega sek
"Aku menolongmu karena alasanmu untuk bertarung.""Apamaksudmu?""Kau bilang kau tidak peduli pada dunia ini, kan? Namun kau tidak berhenti dan terus maju. Kenapa?""Akuhanyainginterusbersamamereka.""Tepat sekali. Semua manusia itu munafik. Mereka mengatakan memiliki tujuan yang baik padahal itu hanyalah topeng untuk menyembunyikan tujuan busuk mereka. Tidak ada manusia yang memiliki hati yang murni dan aku membenci mereka yang selalu mencoba untuk menutup-nutupinya. Namun anda berbeda, Yang Mulia. Anda memiliki hati yang amat busuk namun anda tidak mencoba untuk menutup-nutupinya.""Apakah itu buruk? Aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentangku. Peduli setan kalau mereka membenciku atau berharap aku mati dan masuk Neraka.""Hahaha... Itulah yang saya sukai dalam diri anda, Yang Mulia. Keapatisan andalah yang membuat jiwa anda benar-benar bebas, namun amat busuk. Izinkan saya untuk menjadi sala
Gelap.Gelap.Gelap sekali.Pemuda pucat itu membuka matanya namundia merasa seperti menutup matanya. Dia tidak dapat melihat secercah cahaya pun. Dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Ia merasa bahwa saat ini ia tengah diikat bagaikan seorang tahanan. Kedua tangan dan kakinya diikat dengan sesuatu yang bukan besi ataupun tali, namun daya cengkramannya kuat sekali."Apa yang baru saja terjadi?"Rian berusaha mengingat kembali pada apa yang terjadi sebelumnya.Dia ingat saat itu ia sedang berjalan di tempat parkir menuju kostan Koji. Tiba-tiba seseorang berjubah polkadot putih muncul di depan mereka dan menyerang mereka berdua dengan kekuatan yang amat luar biasa. Dia tidak bergerak sedikitpun, namun sekelilingnya langsung hancur bak diterpa angin topan. Koji berusaha melawan, namun ia bukanlah tandingan orang itu. Dia ingat bahwa orang itu menghantam tengkuk lehernya cukup keras sehingga ia kehilangan kesadaran. Ia tidak tahu apa yang t
Kartika pun terkejut melihat Alfi seperti itu, begitu pun Herman.“Alfi! Tolonglah! Jangan berdiam diri seperti itu terus!”Teriak Kartika pan
“Ngomong-ngomong.”Kata Alfi.”Apa kau tahu seberapa kuat musuh kita nanti?”Tanyanya.“Iya,”Balas Kar
“Begitukah?”Tanya Taye meremehkan Alfi.Alfi masih menatapnya dengan tajam.“Megumi, tolong bantu aku ya.”Kata Al
“Tolong? Tolong apa? Apa maksudmu?”Tanya Alfi tidak percaya.“Kamu adalah Alfa! Sang penyelamat dunia yang sudah kucariselama ini!”Jelas Kartika.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak