Baru kemarin aku ngobrol sama seorang teman yang sedang riset tentang artefak Nusantara, dan dia bilang arca perunggu itu seperti 'kapsul waktu' yang nyimpen cerita peradaban. Di Jawa terutama, arca-arca ini sering dikaitkan dengan periode Hindu-Buddha abad ke-8 sampai 14. Yang bikin menarik, teknik cetak lilin hilang (lost wax casting) yang dipake bikin arca ini menunjukkan betapa majunya teknologi metalurgi waktu itu. Aku pernah liat arca Ganesha dari perunggu di museum – detailnya bikin merinding! Bukan cuma soal agama, tapi juga jadi bukti perdagangan internasional karena bahan bakunya impor dari Tiongkok.
Yang sering bikin aku penasaran adalah bagaimana arca-arca ini dipake dalam ritual. Ada yang bilang arca perunggu di Bali sampai sekarang masih dipake dalam upacara tertentu, meski fungsi pastinya kadang udah berubah seiring zaman. Keren banget kan, benda dari ratusan tahun lalu masih 'hidup' dalam budaya modern?
Membaca 'Carita Parahyangan' selalu membawa saya ke dalam dunia mistis Jawa Barat yang penuh dengan nilai filosofis. Naskah Sunda kuno ini sebenarnya lebih dari sekadar cerita—ia adalah potret kehidupan kerajaan Sunda dan hubungannya dengan spiritualitas. Salah satu bagian yang paling saya sukai adalah bagaimana naskah ini menggambarkan konsep 'Tri Tangtu' (tiga unsur kosmis) yang memengaruhi alam semesta.
Naskah ini juga memuat kisah tentang Raja Sunda dan pertemuannya dengan dewa-dewa, serta bagaimana kebijaksanaan pemerintahan dijalankan sesuai dengan kehendak alam. Ada banyak metafora tentang keseimbangan hidup yang masih relevan hingga sekarang. Terakhir, 'Carita Parahyangan' juga menyentuh soal ritual dan tradisi yang menjadi bagian integral dari masyarakat Sunda waktu itu.
Menggali lebih dalam tentang 'Aruna dan Lidahnya' selalu memberikan perspektif menarik. Dalam banyak wawancara, salah satu yang paling berkesan adalah ketika si sutradara, Edwin, berbagi pandangannya tentang menggabungkan tema makanan dengan pencarian identitas. Ia mengatakan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang nostalgia dan perjalanan hidup. Ini menjadi kunci dalam film ini, di mana setiap hidangan tidak hanya jadi makanan, tetapi juga cerita yang memuat kenangan dan emosi. Salah satu kutipan favoritku dari wawancara itu adalah saat ia menyatakan, 'Makanan adalah bahasa universal yang menyatukan orang dari berbagai latar belakang.' Ini menjadi landasan yang kuat bagi penonton untuk menyelami makna yang lebih dalam dari setiap adegan.
Selain itu, wawancara dengan cast juga menarik, terutama saat Ariel Tatum berbicara tentang karakternya yang kompleks. Dia menjelaskan bagaimana dia mendalami karakter Aruna dengan mendengarkan banyak cerita dari orang-orang yang memiliki pengalaman serupa, hingga akhirnya menjadikan karakternya bukan hanya sekedar figuran, melainkan representasi dari perjalanan manusia dalam menemukan jati diri. Ariel dengan semangat mengatakan, 'Setiap orang memiliki kisah, dan seringkali, kisah itu terungkap melalui makanan yang mereka nikmati.'
Kemudian, berbicara soal sinematografi, tidak bisa tidak menyebutkan wawancara dengan DOP, yang menjelaskan tentang pemilihan warna dan bagaimana atmosfer film ini diciptakan melalui penyajian visual. Dia menceritakan bahwa mereka ingin penonton merasakan kehangatan setiap masakan yang ditampilkan, sehingga fokus kamera diperuntukkan pada detail-detail kecil, membuat penonton seolah bisa merasakan aroma dan tampilan makanan tersebut. Ternyata, setiap detail teknis ada tujuan dan filosofi di baliknya, dan itu yang bikin film ini tak terlupakan.