
Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum TerlambatSetelah sahabatku melahirkan, aku menggendong bayinya yang menggemaskan sambil bercanda.
"Anak pintar, ini ibu angkat dan yang di sana itu ayah angkat."
Tiba-tiba, Diego yang berdiri di sampingku menyahut.
"Bukan ayah angkat, tapi Ayah."
Aku mengira aku salah dengar.
Akan tetapi, pria itu malah menarik sudut bibirnya dengan malas, lalu mengulangi ucapannya dengan santai.
"Dia anakku."
"Tepat di hari ayahmu meninggal, aku dan Shera tidur bareng semalaman. Kita bahkan menghabiskan satu kotak kondom."
Tubuhku langsung membeku di tempat. Tenggorokanku terasa seperti disumbat timah, sampai tak bisa mengeluarkan suara.
Butuh waktu lama sampai akhirnya aku bisa memaksakan beberapa patah kata keluar dari bibirku, "Tapi, kemarin kita baru resmi menikah."
Diego tersenyum, merangkul bahuku sambil mencoba menenangkan. "Tenang aja, aku sama dia cuma sebatas teman tidur kok. Kalau memang mau nikah, dari dulu juga sudah kami lakukan."
Setelah berkata begitu, dia berhenti sejenak.
Lalu, dengan nada mengejek, dia menambahkan, "Shera belum cerita, ya? Kami pernah pacaran dan aku pria pertamanya."