Ini bukan Zainudin dan Hayati dari film tenggelamnya kapal Van Der Wijck. Karena Zainudin dan Hayati dalam cerita ini punya kisahnya sendiri.
Kisah ini, tentang dua orang anak kecil yang sama-sama mengikrarkan janji semasa kecilnya, Janji untuk selalu bersama. Sebuah janji polos dari dua orang anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Namun, janji itu mengikat keduanya dalam pusaran takdir cinta yang Abadi.
Dikemas dengan konsep romance comedy ala anak kuliahan.
NB : Cerita ini merupakan kisah perjalanan cinta orang tua Zaha, yang lagi masih dalam proses penulisan. (CHANGE : THE STORIES OF ZAHA). Biar pembaca tidak penasaran bagaimana kisah cinta orang tua Zaha. So, Ane bikinkan dalam satu threat sendiri. Enjoy it!
"Bagaimana kabar Bella, Al?"
Samar, Kaluna mendengar percakapan orang-orang yang ada di sekitarnya ketika sedang dirawat di rumah sakit.
Dari sana, dia tahu bahwa suaminya punya wanita lain selama dirinya tidak sadarkan diri.
"Rasa sakit harus dibalaskan karena aku tidak terima dikhianati seperti ini," tegasnya dalam hati yang penuh dengan luka.
Apakah Kaluna akan mempertahankan pernikahannya? Apakah justru mengakhiri semuanya?
Semenjak ibunda tercintanya tiada, dia harus menjalani kehidupan yang begitu pahit. Dia harus menerima kenyataan bahwa ibu tirinya telah menjodohkannya dengan Marvel, laki-laki kaya dan kasar kepadanya. Sedangkan ayah kandungnya selalu membela ibu tirinya daripada mendengarkannya. Ia akhirnya harus berjuang untuk tetap semangat menjalani hari bersama laki-laki yang tak pernah dia cintai.
Pernikahan yang dia jalani, jauh berbeda dengan yang pernah dia harapkan. Di balik penderitanya dia tidak pernah berputus asa, demi menjalankan amanah almarhumah ibunda tercinta, panggil saja dia Nadia.
Akankah Nadia bertahan dengan pernikahannya?
Setelah dikhianati kekasihnya, Nadira mendadak dijodohkan dengan Davin, senior tampan yang memiliki banyak penggemar! Perempuan itu jelas menolak karena masih trauma. Dibantu temannya, ia pun menemukan tunangan bohongan, bernama Hendra. Tapi, siapa sangka Davin dan Hendra adalah orang yang sama?!
Aleena bingung karena sang suami tiba-tiba begitu "panas" di suatu malam. Dan ternyata ... ia menghabiskan malam dengan Gala--kembaran sang suami yang tak pernah ia tahu. Aleena ingin mengubur kejadian kelam ini rapat-rapat. Namun, mengapa Gala terus menghujaninya dengan kehangatan yang tak pernah suaminya berikan?
"Aku jauh lebih baik dibanding suamimu, Sayang," bisiknya dengan nada rendah mendominasi.
Penyesalan memang selalu datang diakhir. Saat semua sudah terjadi, Yuliani tengah hamil oleh pria yang mengaku duda dan kaya raya bernama Anton. Padahal, Berlian -- istri sirih pria itu selalu menunggu Anton di rumah. Tak hanya itu, Anton juga menolak bertanggung jawab!
Dengan menyembunyikan kehamilan dari orang tua, Yuliani terus berusaha untuk mendapat pertanggungjawaban demi anaknya. Lantas, bagaimana kisah Yuliani? Akankah dia berhasil atau pada akhirnya dia harus melepas Anton yang tak sebaik dia kira?
Ada satu prinsip yang selalu kupakai dalam komunikasi sehari-hari: 'Kalau nggak bisa bilang baik, lebih baik diam.' Tapi diam saja nggak cukup, kan? Jadi aku belajar teknik 'sandwich feedback' dari buku-buku komunikasi. Misalnya, kritik dibungkus dengan pujian di awal dan harapan positif di akhir. Contohnya, alih-alih bilang 'Karya lo jelek banget,' bisa diubah jadi 'Aku suka konsepnya, tapi bagian warnanya kurang harmonis. Kayaknya kalau diperbaiki bakal lebih keren!' Gini lebih gampang diterima.
Aku juga sering latihan dengan rekam percakapan sendiri atau baca ulang chat sebelum dikirim. Kadang emosi bikin kita nggak sadar pakai kata kasar. Oh iya, nonton karakter seperti Iroh di 'Avatar: The Last Airbender' juga membantuku belajar wisdom dalam memilih kata.
Dulu pernah ada teman yang menyebutku 'memble' waktu aku lupa bawa buku, dan rasanya seperti disindir halus. Kata itu emang sering dipakai buat mengolok-olok orang yang dianggap kurang cekatan atau lambat memahami sesuatu. Tapi konteksnya penting banget—kadang di antara teman dekat, 'memble' bisa jadi candaan tanpa maksud jahat.
Tergantung nada bicara dan hubungan antara pembicara juga. Kalau orang ngomongnya sambil ketawa-ketiwi, mungkin cuma bercanda. Tapi kalau disampaikan dengan nada merendahkan, ya jelas itu sindiran. Aku sendiri lebih suka pakai kata-kata yang lebih positif buat mengingatkan orang lain.
Ada sesuatu yang memukau tentang peribahasa Mandarin—bagaimana mereka bisa menyampaikan kebijaksanaan berabad-abad dalam beberapa kata saja. Dulu, aku sering bingung bagaimana memasukkan ungkapan seperti '千里之行,始于足下' (perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah) ke dalam obrolan biasa sampai aku menyadari konteks adalah kuncinya. Misalnya, ketika teman mengeluh tentang proyek besar yang menakutkan, mengutip peribahasa itu bisa memberi semangat tanpa terkesan menggurui.
Yang kusukai adalah fleksibilitasnya. '塞翁失马,焉知非福' (kuda tua kehilangan kuda, siapa tahu itu bukan keberuntungan) bisa dipakai untuk segala situasi yang tampaknya buruk—dari kehilangan pekerjaan sampai hubungan yang putus. Aku bahkan pernah menggunakannya untuk menghibur adik yang gagal ujian, dan itu membuatnya tersenyum karena menyadari setiap kemunduran bisa membawa hikmah. Kuncinya adalah memilih ungkapan yang resonan dengan emosi saat itu, bukan sekadar menjejalkan kutipan bijak secara acak.
Ada nuansa halus yang membedakan 'confused' dan 'bingung' dalam percakapan sehari-hari. 'Confused' sering terasa lebih ringan, seperti ketika kita tidak memahami plot twist di episode terakhir 'Attack on Titan'—rasanya kepala penuh tanda tanya, tapi masih bisa ditertawakan. Sementara 'bingung' lebih dalam, seperti tersesat di labirin emosi setelah membaca ending 'Metamorphosis'. Bahasa Inggris cenderung pakai 'confused' untuk hal teknis (misal: matematika), sedangkan 'bingung' di Indonesia bisa menyentuh ranah eksistensial ('Aku bingung mau kuliah jurusan apa').
Yang lucu, 'confused' kadang dipakai sebagai meme (ekspresi wajah Tony Stark saat lihat timeline MCU), sementara 'bingung' lebih sering diucapkan dengan nada frustrasi. Tapi di fanfiction, kedua kata ini bisa saling menggantikan tergantung mood penulis—karena kebingungan cinta karakter itu universal, baik di bahasa apapun!
Dalam novel 'Siti Nurbaya' karya Marah Roesli, interaksi antara Zainudin dan Hayati mencerminkan penolakan sosial yang mendalam. Sejak awal, kita melihat bagaimana cinta mereka tidak hanya dihalangi oleh perbedaan kelas sosial, tetapi juga oleh norma-norma masyarakat yang kuat. Zainudin, sebagai seorang pendatang baru di dunia aristokrat, mengalami kesulitan untuk diterima. Di sini, dialog mereka sering kali berupa pertukaran pandangan yang ironis, di mana setiap pengakuan cinta diwarnai oleh tekanan dari keluarganya yang mengabaikan keberadaan Zainudin. Sementara Hayati, meski memiliki perasaan yang sama, terjebak oleh harapan dan ekspektasi orang tuanya. Ini menunjukkan betapa strawman social constraints bisa merusak kedalaman hubungan mereka.
Momen-momen bagaimana mereka saling memahami dan merasakan kemarahan terhadap situasi yang menimpa mereka sangat kuat dan menyentuh. Misalnya, ketika Zainudin mengungkapkan rasa frustrasinya tentang ketidakadilan sosial, Hayati terpaksa memilih antara suara hatinya dan 'kewajiban' kepada keluarganya. Ini menyoroti tema penolakan sosial dengan cara yang sangat mendalam, di mana cinta yang tulus saja tidak cukup untuk melawan arus norma sosial yang membatasi. Betapa tragisnya situasi ini, membuat kita bertanya: seberapa sering cinta terhalang oleh batasan yang diciptakan masyarakat, bahkan ketika dua hati sebenarnya saling terhubung?
Musik sholawat 'Ya Nabi Salam Alaika' memang punya daya tarik tersendiri yang bisa membawa kita pada suasana yang tenang dan penuh rasa syukur. Saat mendengarkannya, aku cenderung menutup mata sejenak dan membiarkan setiap baitnya meresap dalam jiwa. Ada kalanya aku bayangkan momen-momen indah dalam hidupku, seperti saat berkumpul bersama keluarga atau menikmati keindahan alam. Ini mengingatkanku pada kebesaran nabi dan menjalani hidup dengan lebih baik. Meresapi makna di balik liriknya sambil menghayati melodi yang lembut membuatku merasa lebih dekat dengan spiritualitas. Rasanya, seolah-olah aku diajak untuk merenungkan kembali arti pengorbanan dan kasih sayang Nabi Muhammad SAW.
Juga, tak jarang saat sedang bersantai bersama teman-teman, kami memutar sholawat ini dan bernyanyi bersama. Suasana menjadi lebih hangat dan ceria, meski penuh rasa hening. Melodi yang menenangkan ini seringkali menciptakan momen kebersamaan yang tak terlupakan. Aku merasa seolah-olah liriknya masuk ke dalam hati kita, menyebarkan kasih dan kebaikan. Ada nuansa persatuan yang diciptakan oleh sholawat, membuat kita terhubung dalam sebuah ikatan yang lebih dalam, aku sangat menyukainya!
Ada satu hal yang selalu kupraktikkan dalam percakapan dengan pasangan: membangun 'ritual' kecil yang memicu diskusi spontan. Misalnya, setiap melihat fenomena alam unik di luar jendela, kami langsung saling menceritakan mitos atau trivia terkait. Kegiatan sederhana seperti mengamati bentuk awan atau burung yang lewat bisa memicu percakapan filosofis atau kenangan nostalgia.
Kami juga sering bermain 'role reversal' di mana salah satu berpura-pura menjadi karakter fiksi favorit dan yang lain harus menebaknya melalui dialog. Teknik-teknik ini membuat komunikasi tetap segar karena menciptakan ruang untuk improvisasi dan tawa, jauh dari rutinitas tanya-jawab monoton tentang aktivitas harian.
Pernah dengar seseorang menyapa dengan 'Good Day' dan bingung apakah itu formal atau casual? Aku dulu sering menganggapnya sebagai sapaan kaku ala British, tapi setelah ngobrol dengan teman-teman internasional di komunitas gamer, ternyata maknanya fleksibel banget. Di Australia, misalnya, 'G'day' itu super santai seperti bilang 'halo' ke temen dekat. Tapi di email bisnis, 'Good day' bisa setara dengan 'Dear Sir/Madam'.
Yang lucu, waktu main 'Red Dead Redemption 2', karakter Arthur Morgan kadang pakai 'Good day to you' dengan nada sarkastik. Ini bikin aku sadar bahwa intonasi dan konteks lebih penting daripada kata-kata itu sendiri. Sekarang aku pakai frase ini sebagai inside joke dengan temen-temen discord saat ada yang ngomong sesuatu terlalu kaku.
Ada sesuatu yang menggelitik tentang cara orang-orang tertentu berbicara, bukan? Pernah dengar seseorang bicara dengan nada datar tentang hal mengerikan, seperti membicarakan cuaca? Beberapa ciri khas psikopat dalam percakapan sering terlihat dari ketidakmampuan mereka menunjukkan empati. Mereka mungkin merespons cerita sedih dengan canda atau malah mengalihkan topik ke pencapaian pribadi.
Yang lebih mencolok adalah kecenderungan mereka memanipulasi. Kata-kata mereka sering dirancang untuk mengontrol percakapan, seperti pujian berlebihan yang tiba-tiba berubah jadi sindiran. Mereka juga suka menggunakan bahasa ambigu untuk menghindari tanggung jawab—'Mungkin itu terjadi, tapi aku tidak ingat persisnya.' Pola seperti ini membuatmu merasa was-was tanpa alasan jelas, seperti ada sesuatu yang disembunyikan di balik senyum mereka.
Mengamati budaya populer selama ini, frasa 'you are ugly' jarang muncul dalam percakapan casual. Justru, komunitas online lebih kreatif menggunakan meme atau sindiran halus seperti 'bukan standar kecantikan era sekarang' untuk mengkritik penampilan. Di grup Discord atau forum anime, kita lebih sering menemukan candaan visual lewat screenshot karakter dengan ekspresi konyol ketimbang komentar langsung seperti itu.
Budaya kita cenderung menghindari konfrontasi langsung. Bahkan dalam debat sengit tentang desain karakter game, kritik lebih sering diarahkan ke art style-nya ('ini wajahnya kayak kentang') daripada menyerang personal. Frasa kasar seperti itu justru bisa bikin dikucilkan dari circle pertemanan digital.