Orang cacat memang ditakdirkan untuk tidak dicintai.
Reina Andara terlahir dengan bawaan gangguan pendengaran sehingga ibu kandungnya tidak menyayanginya. Setelah menikah, dia dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya yang kaya raya juga orang-orang di sekitarnya.
Suatu hari, cinta pertama suami Reina kembali dan mengumumkan ke seluruh dunia bahwa dia akan merebut semua miliknya kembali.
Wanita itu bahkan berdiri angkuh di depan Reina untuk memamerkan kekuatannya seraya berkata, "Kamu nggak pernah merasa dicintai 'kan selama ini? Apa Max pernah bilang dia mencintaimu? Haha, padahal waktu denganku setiap hari dia bilang dia mencintaiku."
Saat itulah Reina baru tersadar bahwa dia sudah salah.
Harusnya dia tidak menikah dengan seseorang yang memang sedari awal tidak mencintainya.
Reina memutuskan untuk melepaskan dan memberikan kebebasan pada Maxime Sunandar, suaminya.
"Kita cerai saja, maaf aku sudah membuang waktumu selama ini."
Namun, Maxime menolaknya.
"Mau cerai? Langkahi dulu mayatku."
"Buka kakimu untukku, Anna!"
"Kau gila! Suamiku ada di luar, Diego!"
"Itu perjanjiannya kan? Kau harus melayaniku kapan pun dan di mana pun yang aku mau!" seru Diego yang langsung menyusupkan tangannya ke dalam rok Anna dan bermain di sana.
***
Enam tahun yang lalu, Anna yang kaya menikahi Diego yang miskin. Keluarga Anna memisahkan mereka dengan memfitnah Diego dan menjebloskannya ke dalam penjara.
Enam tahun kemudian, Diego yang merupakan mantan narapidana sudah menjadi pengusaha sukses, sebaliknya keluarga Anna bangkrut.
Demi menyelamatkan perusahaan dan demi biaya pengobatan ibunya, Anna pun harus rela menjadi pemuas gairah liar mantan suaminya itu.
Aku Flora Narina Adeeva, di usiaku yang ke 25 tahun, harus merasakan sakitnya menjalani pernikahan tanpa adanya cinta. Satu tahun yang lalu Lucas melamarku, kami tidak berpacaran dulu sebelumnya. Desas desus mengatakan Lucas pria gagal move on pada mantannya, lalu menikahiku untuk melupakan masa lalu, aku tidak percaya waktu itu. Tapi sekarang, ternyata aku menemukan satu bukti dan itu sudah membuat remuk hatiku.
Mimpi buruk bagi Lucia Moore yang harus menggantikan adiknya menikahi pria lumpuh itu.
Dia adalah seorang dokter legendaris dan Alchemist hebat yang bergabung dengan organisasi khusus yang bahkan menyembunyikan identitasnya sendiri dari keluarganya. Saat dia pulang dari tugas untuk menghadiri pernikahan adiknya namun naasnya adiknya kabur saat dia diberitahu jika suaminya adalah Dariel Filbert. Pria yang dikenal sebagai pria tak berguna dan dikucilkan dari keluarga Filbert karena memiliki fisik yang lemah dan lumpuh namun memiliki sikap yang sangat dingin dan tak tersentuh.
Demi nama keluarga dan desakan dari ayahnya, Lucia dengan terpaksa menikahi pria itu.
“Tugasku sudah selesai merawatmu, sesuai perjanjian di awal kita akan bercerai.” Mata Lucia sangat dalam sedalam lautan menatap pria yang ada di depannya.
“Sayang, aku masih merasa belum terlalu sehat sekarang.”
Pria yang sebelumnya sangat dingin menjadi bayi manja dan sangat manja yang menahan Lucia untuk hidup bebas seperti sebelumnya.
“Dariel, dimana citramu yang dingin dan tak tersentuh itu!”
Bagaimana kelanjutan hubungan mereka berdua, apakah Lucia akan mempertahankan pernikahan ini atau hidup bebas seperti sebelumnya?
Wina Septa sudah menjadi kekasih rahasia Jihan Lionel selama lima tahun.
Wina berpikir bahwa dia bisa meluluhkan hati Jihan selama menuruti semua permintaan Jihan. Akan tetapi, Wina tidak menyangka pada akhirnya Jihan meninggalkan dirinya.
Wina selalu bersikap lembut. Dia pergi begitu saja dari kehidupan Jihan tanpa membuat keributan dan tanpa meminta uang sepeser pun.
Namun, ketika Wina hendak menikah dengan pria lain, Jihan tiba-tiba mendorong Wina ke dinding dan menciumnya seperti orang gila.
Perbuatan Jihan itu membuat Wina sedikit kebingungan.
Tidur Raya terbangun karena sayup-sayup ia mendengar suara desahan di kamar adik iparnya yang terletak persis di samping kamarnya.
Akan tetapi, ada kejanggalan yang terjadi, sebab suami dari adik iparnya itu tengah bekerja di luar pulau.
Seketika pikiran buruk menyergap isi kepala Raya. Ia pun mencoba menghubungi nomor sang suami, gemetar tangan Raya saat ternyata suara dering ponsel itu terdengar dari kamar sebelah.
Hingga suatu ketika, Raya pun mulai menyusun rencana untuk membalas rasa sakit hatinya. Mengembalikan sang suami beserta keluarganya ke tempat semula-- yang sebelum menikah dengan Raya, berasal dari golongan masyarakat biasa
Manga legendaris 'Tetsujin 28-go' adalah mahakarya Mitsuteru Yokoyama, seorang mangaka pionir era Showa yang karyanya menginspirasi generasi robot/mecha setelahnya. Aku pertama kali mengenal Tetsujin lebaran tahun 90-an ketika nemu komik bekas di pasar loak—bayangin aja, karakter besi tahun 1956 itu masih terasa futuristik! Yokoyama ini jenius banget dalam menciptakan konsep 'robot raksasa dikendalikan remote' yang sekarang jadi standar di genre mecha.
Yang bikin menarik, Tetsujin bukan robot autonomous kayak Gundam, tapi lebih seperti perpanjangan tubuh pilotnya. Filosofi ini keliatan banget di adaptasi anime tahun 2004 dimana hubungan emosional antara Shoutarou dan Tetsujin ditekankan. Sebagai kolektor merch vintage, aku selalu terkagum-kagum bagaimana desain retro Yokoyama tetap timeless sampai sekarang.
Kalau mencari vibe retro dengan robot raksasa dan nuansa klasik seperti 'Tetsujin', rasanya 'Gigantor' wajib masuk list. Serial tahun 60-an ini punya atmosfir serupa dengan teknologi steampunk dan konflik manusia vs mesin yang epik. Bedanya, di sini protagonis muda mengendalikan robot dari jarak jauh—konsep yang cukup inovatif untuk zamannya!
Untuk yang suka sentuhan modern, 'Code Geass' mungkin bisa memuaskan. Meski lebih politis, elemen mecha-nya tetap kental dengan pertarungan strategis ala 'Tetsujin'. Lelouch dan Knightmare Frame-nya memberi twist menarik dengan permainan kekuasaan dan moral abu-abu. Siapa sangka pertarungan robot bisa sedalam ini?
Tetsujin dalam konteks anime dan manga sering merujuk pada 'manusia besi' atau figur yang memiliki kekuatan super mirip logam. Karakter seperti Tetsujin #28 (dikenal di Barat sebagai 'Gigantor') adalah contoh klasik—robot raksasa yang menjadi simbol kekuatan dan ketahanan. Nama ini sendiri berasal dari kanji 'tetsu' (besi) dan 'jin' (manusia), yang secara harfiah menggambarkan esensi karakter tersebut: manusia besi yang tak terkalahkan.
Dalam budaya populer Jepang, Tetsujin juga mewakili tema post-Perang Dunia II tentang rekonsiliasi teknologi dengan kemanusiaan. Robot seperti Tetsujin #28 bukan sekadar mesin, tetapi seringkali memiliki kepribadian atau hubungan emosional dengan manusia. Ini membuat nama tersebut tidak hanya deskriptif, tetapi juga sarat dengan makna filosofis tentang batas antara manusia dan mesin.
Pernah lihat beberapa temen kolektor demen banget ngejar merchandise 'Tetsujin 28-go' di pasar loak atau konvensi anime lokal. Yang paling iconic sih replika robotnya dalam bentuk figure limited edition—biasanya dari bahan resin atau logam, harganya bisa selangit karena termasuk barang langka. Di beberapa toko online juga ada baju kaos sama poster klasik dengan desain retro yang cukup laris.
Uniknya, komunitas penggemar tua sering bikin event kecil-kecilan buat barter merchandise ini. Mereka yang udah ngumpulin sejak era 90-an biasanya punya koleksi lebih variatif, mulai dari mainan timah sampai komik terbitan lama. Kalau mau cari yang murah meriah, coba cek lapak di Instagram atau Facebook marketplace—kadang masih nemu pin atau gantungan kunci lucu bertema karakter ini.
Menggali sejarah 'Tetsujin 28-go' seperti membuka lembaran komik klasik yang berdebu tapi penuh nostalgia. Karakter besi ini pertama kali muncul di manga Mitsuteru Yokoyama tahun 1956, menjadi pionir konsep mecha yang dikendalikan remote. Aku selalu terpukau bagaimana karya ini merefleksikan semangat pascaperang Jepang - teknologi sebagai simbol harapan sekaligus kekhawatiran.
Di era 60-an, adaptasi animenya menjadi tontonan wajib anak-anak. Aku ingat cerita ayahku yang mengantre di depan toko elektronik hanya untuk melihat episode terbaru. Karakter ini tak cuma menghibur, tapi jadi simbol kemajuan teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Kini, patung Tetsujin berdiri megah di Kobe sebagai penghormatan pada warisan budaya pop ini.
Ada beberapa opsi untuk menonton 'Tetsujin' dengan subtitle Indonesia. Platform legal seperti Netflix, Crunchyroll, atau Bstation sering kali menyediakan anime klasik dengan berbagai pilihan bahasa, termasuk subtitle Indonesia. Saya sendiri pernah mengecek Crunchyroll dan menemukan beberapa judul lama yang tersedia dengan terjemahan lokal.
Kalau mau alternatif lain, coba cari di situs streaming lokal seperti Muse Indonesia atau Aniplus Asia. Mereka kadang punya koleksi retro yang lengkap. Tapi ingat, selalu dukung karya resmi agar industri anime terus berkembang! Terakhir kali saya cek, komunitas penggemar di Facebook juga suka berbagi info tentang platform legal yang mungkin belum banyak diketahui.