Unexpected Feeling
“Indira.”
Gerakan tangan Indira terhenti, Fajar menatap dalam seseorang yang berjalan mendekati meja mereka berdua. Fajar ingin tahu apa yang dilakukan pria muda pada kekasihnya, memilih diam dan melihat interaksi mereka berdua. Indira yang merasakan perubahan suasana Fajar hanya bisa menahan nafas, ketika melihat Fariz datang kearah mereka. Beberapa kali menatap Fajar yang terdiam dan tidak memberikan respon apa-apa, walaupun Fariz belum sampai di tempat mereka.
“Mas.” Fariz menganggukkan kepalanya pada Fajar “Indira, kata anak-anak kelompok kamu pernah membahas tentang Sigmund Freud. Aku mau pinjam catatannya tentang dia, kamu masih simpan?”