LOGINMao, mahasiswi ceria dan lembut, suka duduk di bangku paling belakang. Di sana, dia mengamati Khai, dosen muda yang tenang dan berwibawa. Tidak ada silabus yang mengatur perasaan, tidak ada aturan yang membimbing tatapan yang diam-diam terlalu panjang. Di antara kelas, catatan, dan senyum yang jarang diucapkan, hati mereka belajar hal-hal yang tidak ada di buku panduan. “Silabus yang Tak Pernah Ditulis” adalah kisah tentang rindu yang tumbuh di tempat yang seharusnya profesional—tentang cinta yang harus tetap diam, namun tidak bisa diabaikan.
View MoreSatu-satunya penunjuk waktu yang dipercayai Maorielle saat ini hanyalah jam di pergelangan kirinya yang terus berdetak tanpa ampun. Detaknya beradu dengan suara napasnya yang memburu. Maorielle masuk ke ruang kelas mata kuliah umum bahasa Indonesia dengan langkah berat. Rambutnya yang tadi pagi rapi kini sudah sedikit berantakan.
Matanya menyapu deretan mahasiswa, mencari seseorang. Di barisan tengah, seorang gadis mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi isyarat 'aku ada di sini'.
"Aku hampir menyerah menjaganya untukmu," Erina menyeringai, lalu menyodorkan susu cokelat pada temannya yang sudah duduk di sampingnya. "Ini mata kuliah terakhir. Semangat, semangat!"
Maorielle menerima susu coklat dan segera meminumnya. "Aku harus bertahan," gumamnya pelan lalu menyedot isinya hingga tandas.
Erina terkekeh melihat wajah sahabatnya. "Lagian kamu aneh. Kenapa nekat ambil empat mata kuliah maraton di hari Senin? Kamu mau menguji batas kesabaran nyawamu?"
Maorielle mengembuskan napas panjang, terdengar sangat menderita. "Kamu pikir aku mau? Waktu aku mau ambil kelas yang sama denganmu, kuotanya sudah penuh. Aku terpaksa ambil mata kuliah ketiga hari ini. Jadinya ya begini, terjebak di kampus dari pagi sampai sore tanpa jeda."
Maorielle melirik Erina dengan tatapan iri. "Kamu sih enak bisa pulang ke kos lebih dulu," sindir Maorielle lemas. Ia kemudian teringat sesuatu dan meraih lengan Erina dengan sisa tenaga yang ada. "Mana burger yang aku pesan?" rengek Maorielle.
Sang penyelamat, Erina, akhirnya menyodorkan bungkusan burger hangat yang dipesan. "Cepat dimakan. Kelas dimulai dalam waktu lima menit lagi"
Maorielle menyambar burger itu seolah nyawanya bergantung pada asupan karbohidrat tersebut. "Aku harus makan kalau tidak mau pingsan," gumam Maorielle lemas. Ia segera membuka bungkusan burger itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelaparan.
Aroma daging panggang dan saus barbekyu langsung menyeruak, membuat perut Maorielle berbunyi nyaring seolah memberikan tepuk tangan. Tanpa memedulikan citra dirinya sebagai mahasiswi psikologi yang biasanya rapi, ia menggigit burger itu dengan beringas. Pipinya menggembung penuh. Untuk beberapa detik, ia merasa dunianya kembali berwarna.
"Pelan-pelan, Mao. Nanti tersedak," Erina tertawa kecil sambil menyodorkan air mineral.
Erina melihat ke arah jam tangannya. Sudah pukul 13.00 tepat. "Sudah jam satu. Entah kenapa dosennya belum juga datang. Sepertinya terlambat. Aku lihat di SIAKAD sih dosen senior"
"Siapa pun dosennya aku tidak peduli," sahut Maorielle setelah berhasil menelan gigitan pertamanya. Ia bicara dengan suara tertahan agar tidak menarik perhatian mahasiswa lain. "Jam satu siang di hari Senin begini. Siapa pun yang berdiri di depan sana dengan materi tata bahasa adalah musuhku. Aku cuma ingin makan, checklist presensi, dan kalau bisa tidur."
Di sisi kanan Maorielle, sisi yang bukan ditempati Erina, seorang pria dengan hoodie abu-abu sejak tadi duduk diam dalam tudungnya. Dia tiba-tiba menghentikan gerakan pensil di atas buku sketsanya. Pria itu sedikit memiringkan kepala, melirik ke arah tangan Maorielle yang sedang makan dengan nikmat.
"Kalian tahu siapa dosen mata kuliah ini?" tanya pria itu datar.
Suaranya rendah dan tenang, namun cukup untuk membuat Maorielle tersentak hingga nyaris tersedak potongan acar. Maorielle buru-buru menyeka sudut bibirnya dengan tisu, lalu menoleh dengan tatapan heran ke arah pria misterius di kanannya.
"Kami tidak tahu, di jadwal KRS ada namanya. Siapa Erina?" Tanya Maorielle pada Erina agar ikut membantu menjawab.
Erina menghentikan aktivitasnya merapikan alat tulis. Ia ikut menoleh pada pria misterius di sebelah Maorielle. "Ehm, kalau tidak salah namanya Pak Bambang. Kenapa, Mas?" tanya Erina dengan nada penasaran yang kental.
Pria berhoodie abu-abu itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap buku sketsanya yang kini tertutup, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu. "Saya dengar dia orangnya cukup detail. Terutama soal ketertiban kelas," jawab pria itu pendek.
Maorielle yang baru saja berhasil menelan potongan terakhir burgernya, mendengus pelan. "Detail itu bahasa halus untuk 'rewel', kan? Duh, Erina, firasatku makin tidak enak. Sudah jam satu siang, dosen rewel, mata kuliah umum pula. Paket lengkap penderitaan hari Senin."
Maorielle kembali melirik pria di sebelahnya dengan tatapan menyelidik. "Bagaimana kamu tahu? Kamu kenal dosennya?"
Pria itu hanya memberikan gumaman samar yang tidak bisa diartikan sebagai ya atau tidak. Ia kemudian memasukkan buku sketsanya ke dalam tas ranselnya, lalu berdiri. Kursi lipatnya berdentang pelan, menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
"Mau ke mana? Dosennya sebentar lagi masuk, lho," Erina mengingatkan, mengira pria itu ingin bolos sebelum kelas dimulai.
Pria itu tidak menjawab. Ia justru melangkah tenang ke depan kelas. Maorielle mengawasinya dengan alis bertaut, memperhatikan punggung berbalut hoodie abu-abu itu yang berjalan lurus menuju meja dosen di depan sana.
Begitu sampai depan, pria itu bukan hanya meletakkan tas, tapi juga melepas jaket hoodie-nya dan menyampirkannya di kursi dosen, menyisakan kemeja gelap yang membungkus tubuh tegapnya. Maorielle dan Erina kompak menahan napas.
Ruangan yang tadinya riuh mendadak sunyi senyap seolah oksigen di sana baru saja ditarik paksa. Beberapa orang mengamati apa yang dilakukan pria itu, termasuk Maorielle dan Erina. Mereka penasaran apa yang dilakukannya.
Pria itu melirik jam tangannya dengan gerakan presisi, lalu mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh penjuru kelas.
"Sudah pukul 13.05," ujarnya dengan suara rendah yang menggema di ruang yang hening.
"Bisakah kita mulai kelas sekarang, atau masih butuh waktu untuk menyelesaikan urusan pribadi?" lanjutnya.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang bisa diartikan persetujuan untuk memulai kelas. Dia terlihat mengambil spidol hitam, lalu menuliskan satu nama dengan karakter tegas dan besar di papan putih: KHAI.
Dia membalikkan badan, menumpu kedua tangannya di pinggir meja dosen sambil menatap ke arah kerumunan mahasiswa. Matanya yang tajam langsung mengunci pandangan pada satu titik di barisan tengah.
"Selamat siang semuanya," suara rendah dan tenang itu kini bergema melalui pengeras suara ruangan, terdengar jauh lebih berwibawa.
"Saya Khairen, kalian bisa memanggilku Khai. Dosen yang menggantikan pak Bambang mengajar kalian mata kuliah Bahasa Indonesia selama satu semester ke depan."
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan keterkejutan menyelimuti kelas itu selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Semua orang berbisik riuh. Memang benar mereka tidak mengenal dosen bernama pak Bambang karena ini mata kuliah umum. Tapi, penggantinya adalah dosen muda yang terlihat tampan dan menarik.
"Saya mencoba berbaur dengan kalian di kelas pertama ini," ujar Khai sambil mengangguk kecil, seolah sedang mengevaluasi hasil eksperimen sosialnya sendiri.
Khai kemudian melipat tangan di depan dada, menatap deretan mahasiswanya dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Kelas yang unik," tambahnya singkat.
Kantin mulai sedikit lengang ketika mereka selesai. Matahari sudah naik lebih tinggi, membuat halaman kampus terlihat lebih terang dari sebelumnya.“Ayo ke taman,” ajak Erina, berdiri sambil membawa minumannya.Maorielle mengangguk. “Boleh.”Taman kampus dipenuhi mahasiswa yang duduk santai di bawah pohon. Angin siang berhembus pelan, membawa suasana yang lebih ringan dibandingkan ruang kelas. Maorielle dan Erina baru saja duduk ketika Arvan datang menghampiri.“Kalian di sini ternyata,” katanya santai, lalu ikut duduk di dekat mereka.Obrolan pun mengalir ringan. Tidak ada yang serius. Hanya candaan kecil, cerita acak, dan tawa yang sesekali muncul.“Aku bilang juga tadi lighting-nya kurang,” kata Arvan, masih membahas acara kemarin.Maorielle terkekeh. “Kamu dari tadi itu-itu saja.”“Ya soalnya kamu tidak mau mengakui,” balas Arvan cepat.Maorielle menggeleng, lalu tanpa sadar menatap ke arah lain sejenak. Di lantai atas gedung sebelah. Jendela itu. Kelas Khai. Ia tidak berpikir ban
Setelah kelas selesai, Maorielle merapikan bukunya perlahan. Suara kursi yang digeser dan obrolan mahasiswa yang kembali ramai memenuhi ruangan, tapi ia tetap tenang di tempatnya.“Ayo kantin?” ajak Erina.“Kamu duluan saja. Aku ke ruang dosen,” jawab Maorielle.Erina mengangguk. “Jangan lama-lama.”Maorielle hanya tersenyum kecil, lalu berjalan keluar kelas.Lorong menuju ruang dosen terasa lebih sepi dibandingkan area lain. Langkahnya bergema pelan di lantai. Sementara pikirannya mulai beralih ke urusan yang harus ia selesaikan, menemui Dosen Angin.Ia berhenti di depan pintu ruang dosen. Tangannya baru saja hendak mengetuk ketika sesuatu membuatnya terdiam. Sebuah lagu. Pelan. Hampir seperti hanya menjadi latar. Tapi cukup jelas untuk dikenali. Saujana.Maorielle membeku di tempat. Nada pembukanya yang lembut langsung terasa familiar di telinganya. Ia tidak salah dengar. Itu lagu favoritnya. Ia pernah menyebutkannya sekali. Hanya sekali. Saat kelas Khai ketika membedah lagu.Tapi s
Mobil Khai berhenti pelan di depan rumah Maorielle. Mesin masih menyala, tapi suasana di dalamnya terasa lebih tenang dari sebelumnya. Seperti perjalanan tadi menyisakan sesuatu yang belum sepenuhnya selesai, tapi juga tidak perlu dipaksakan.Maorielle membuka sabuk pengamannya.“Terima kasih,” ucapnya pelan.Khai hanya mengangguk. “Hati-hati.”Singkat. Seperti biasa.Maorielle sempat ragu sejenak, tangannya sudah menyentuh gagang pintu, tapi ia belum langsung turun. Ada jeda kecil. Hampir seperti ia ingin mengatakan sesuatu lagi. Tapi akhirnya tidak.Maorielle membuka pintu, lalu turun. Begitu kakinya menyentuh halaman, suara langkah lain terdengar dari arah gerbang. Maorielle menoleh. Raviel dan mama. Keduanya baru saja pulang, masing-masing membawa beberapa kantong belanja. Langkah Maorielle langsung melambat.Sementara itu, dari dalam mobil, Khai yang menyadari keberadaan mereka ikut menoleh. Tatapannya sempat bertemu dengan Raviel dan mama, lalu ia mengangguk sopan. Sebuah sapaa
Maorielle mengangkat kepala perlahan, melirik ke arah Khai. Dan seperti kebetulan, Khai juga menoleh. Tatapan mereka bertemu sekejap. Hanya sepersekian detik. Tapi cukup untuk membuat Maorielle langsung memalingkan wajah, pura-pura fokus ke panggung. Pipinya mulai terasa hangat.Di sampingnya, Arvan masih berbicara pada Erina tentang penampilan berikutnya.“…katanya nanti ada kolaborasi sama musik modern juga—”Tapi suara itu seperti memudar di telinga Maorielle. Karena pikirannya masih tertahan pada pria yang tak jauh darinya.“Kenapa?” bisik Erina tiba-tiba.Maorielle tersentak kecil. “Apaan?”“Senyum-senyum sendiri dari tadi,” Erina menyipitkan mata. “Serem tau.”Maorielle langsung menggeleng cepat. “Nggak ada apa-apa.”“Tuh kan,” Arvan ikut menimpali ringan. “Dari tadi juga gue ngerasa.”Maorielle berdeham kecil, berusaha menenangkan ekspresinya. Lalu perlahan, tanpa sadar senyumnya kembali muncul. Tipis. Diam-diam.Pertunjukan masih berlangsung. Tepuk tangan mulai terdengar di be
Maorielle tersenyum tipis, tapi matanya mulai terasa hangat. Ia tidak langsung menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, lalu mengetik.Maorielle: Aku merasa kamu menyukaiku. Tapi, ketika melihatmu dengan cewek lain. Aku merasa sangat kecewa. Jadi aku menjauh agar aku tidak kecewa lebih
“Ayo kita pergi,” ajak Maorielle dengan ringan.Tidak ada jawaban. Erina masih duduk. Tatapannya lurus ke depan. Lebih tepatnya ke arah Khai yang masih berada di meja dosen, membereskan laptop dan beberapa berkasnya. Pria itu tidak sama sekali menatap ke arah mereka."Be
Senin pagi datang dengan cara yang terlalu biasa. Langit cerah, lorong kampus kembali ramai, dan suara langkah kaki bercampur dengan obrolan ringan mahasiswa yang baru memulai minggu mereka. Namun bagi Maorielle, semuanya terasa sedikit berbeda.Maorielle datang ke kelas Khai lebih awal da
“Itu yang aku tidak suka.”Hening. Lebih sunyi dari sebelumnya. Maorielle menunduk lagi, tapi bukan untuk bersembunyi. Lebih seperti… mencoba menahan sesuatu yang tiba-tiba terasa terlalu penuh.“Aku nggak bermaksud bikin Bapak mikir seperti itu,” katanya pelan.Khai mengangguk kecil. “Aku tahu.”D
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.