Buku fiksi selalu terasa seperti ruang rahasia bagi saya — bukan karena semuanya nyata, tapi karena cara penulis merangkai imajinasi jadi sesuatu yang terasa hidup. Untuk mengenali unsur-unsur fiksi, saya biasanya mulai dari karakter: apakah tokoh-tokoh itu punya motivasi, konflik batin, dan perkembangan? Tokoh yang dibuat-buat masih bisa terasa otentik jika ada detail psikologis dan dialog yang konsisten.
Selain itu saya mengecek setting dan dunia cerita. Kalau ada dunia yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan—misalnya aturan sosial yang berbeda, unsur magis, atau waktu yang sengaja dimodifikasi—itu tipikal fiksi. Plot juga sinyal utama; rangkaian peristiwa yang dirancang untuk mencapai klimaks dan resolusi biasanya menandakan karya fiksi.
Terakhir, saya perhatikan tema, sudut pandang, dan gaya bahasa: metafora, simbol, dan narator yang mungkin tidak bisa dipercaya menandakan kebebasan penulis untuk bermain dengan kebenaran. Contoh-contoh favorit saya seperti 'Laskar Pelangi' atau 'Bumi Manusia' memperlihatkan bagaimana fiksi bisa memadukan kenyataan sosial dengan narasi yang sangat digubah, dan itu selalu membuat saya senang membaca lebih dalam.