LOGINTo the citizens of Pierview, Taylor Yoshida is nothing more than a 16-year-old Japanese, home school, graffiti artist, delinquent, who’s always getting himself into trouble. However, Taylor harbors a dark secret from most of the people in town. He is the reincarnation of a kaiju; an interdimensional creature capable of ungodly abilities. But when more Kaiju attack Pierview, Taylor must shed his secrets and embrace his kaiju heritage to face these savage creatures and the secret organization responsible for their arrival known as Project Echidna.
View More"Kalau tidak mau menikah, kamu harus mengembalikan uang mahar itu kepada Tuan Rinto!"
Syahira sontak terkejut mendengar ucapan ibu tirinya itu. "Tapi, Bu … bukankah yang menghabiskan uang itu, Ibu dan Cellin? Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu, Bu…?”Wanita yang selalu berdandan menor itu sontak membulatkan matanya–menatap tajam Syahira. Dia tidak suka dibantah, apalagi Syahira berani membawa nama putri kesayangannya."Berani ya, kamu protes? Uang itu sebagai balas budi kepada Ibu! Setelah kepergian ayahmu, Ibulah yang menjagamu,” bentak Rena, “sekarang, kalau kamu tidak mau menikah dengan Tuan Rinto, itu artinya kamu harus mengganti semua uang mahar yang telah dia berikan kepada Ibu!"Tak lama, Rena beranjak dari tempat duduknya–hendak berjalan menuju ke dalam kamarnya."Ibu sama saja menjualku kepada pria tua itu," lirih Syahira kemudian menahan tangis.Sayangnya, Rena dapat mendengar ucapan anak tirinya itu. Langkah kakinya urung ke kamar. Emosi seketika menguasai dirinya.Wanita yang selalu bergaya bak sosialita itu memegang dagu Syahira dengan kasar. "Karena kamu memang pantas untuk Ibu jual, Syahira! Sudah kubilang, kan? Anggap saja ini bentuk balas budimu kepada Ibu yang yang sudah merawatmu semenjak ibu kandungmu meninggal!" pungkasnya lagi, “Lagipula, gak ada ruginya kamu menikah dengan Tuan Rinto. Kamu bahkan bisa menunjukkan baktimu lebih besar lagi pada Ibu dengan membagikan uang bulanan darinya.”Kali ini, Rena segera masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa, ia menutup pintu kamarnya dengan cukup keras, sehingga menimbulkan suara yang membuat Syahira terperanjat.“Ya Tuhan….” Syahira mengusap wajahnya dengan kasar.Gadis berlesung pipi itu terlihat sangat frustasi.Dia pun perlahan masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan otak dan tubuhnya.Seharian ini, Syahira telah lelah bekerja sebagai seorang pelayan restoran mewah yang berada tidak jauh dari rumah peninggalan orang tuanya. Namun, begitu pulang, dia harus mendengarkan informasi bahwa ibu tirinya menjual Syahira pada pria kaya raya yang seharusnya bisa menjadi ayahnya.‘Balas budi?’Tak terasa, air mata menetes membasahi pipinya yang mulus–meratapi nasibnya yang semakin terpuruk.Syahira tidak menyangka roda kehidupan begitu cepat berputar. Sejak kecil, dia dibesarkan dalam limpahan harta. Namun, semua aset yang dimiliki mendiang ayahnya mendadak habis dijual oleh Rena--istri keduanya–tanpa sepengetahuan Syahira, pewaris tunggal satu-satunya. Katanya, ayahnya bangkrut.Syahira tak berdaya. Kehilangan sang ayah sudah membuatnya begitu sedih. Namun, dia harus menemukan fakta bahwa yang tersisa kini hanya rumah yang ditinggalinya bersama dengan ibu dan saudara tirinya, serta dua buah mobil yang selalu dipakai mereka. Sementara, Syahira sendiri selalu naik ojek jika ia akan pergi ke mana-mana. Dia bahkan tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi seperti impiannya dulu.Diraihnya, foto sang bunda dari atas nakas, kemudian Syahira menatapnya dengan penuh kerinduan."Bunda, Syahira kangen sama bunda. Kenapa bunda pergi secepat itu meninggalkan Syahira sendirian? Syahira gak sanggup.”Gadis malang itu kian terisak, tak kuasa menahan rasa sesak di dalam dadanya membayangkan nasibnya.Bahkan, dia tak memiliki tempat bercerita sama sekali.Dulu, satu-satunya tempat ia mencurahkan segala isi hatinya adalah Mbok Asih. Wanita paruh baya itu memang sudah mengasuhnya dari kecil semenjak orang tuanya Syahira masih ada. Namun semenjak ayahnya meninggal, Rena memecat Mbok Asih.Kini, tak ada lagi yang bisa melindungi dirinya, selain dirinya sendiri.Tak terasa, akhirnya Syahira tertidur sembari memeluk foto sang bunda.Sisa-sisa air matanya masih menempel di pipinya yang mulus. Gadis malang itu tertidur dalam kesedihannya.*******"Syahira! Mana sarapan Ibu sama Celiin?" teriak Rena.Pagi-pagi sekali, Syahira memang harus bangun saat ibu tiri dan saudara tirinya itu masih tertidur pulas di atas kasur yang empuk.Berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka dan juga membersihkan seluruh rumah itu sebelum berangkat bekerja.Rena memang tidak ingin Syahira berangkat ke tempat kerjanya sebelum pekerjaan rumah selesai semuanya.Namun karena semalaman ia tak bisa tidur, akhirnya gadis malang itu bangun kesiangan. Yang menyebabkan, ibu tirinya terus mengomel tiada henti."Iya, Bu. Ini sebentar lagi udah siap," jawab Syahira dari dapur dengan sedikit berteriak."Bu … Cellin udah mau telat, nih,” rengek adik tiri Syahira itu kesal, “Kok, sarapannya belum siap juga, sih?"Gadis yang duduk di bangku SMA itu terus merengek pada ibunya. Wajahnya ia tekuk, pertanda jika ia sedang menahan kesal."Sabar, sayang. Mungkin sebentar lagi udah siap. Kamu tunggu disini sebentar, ya. Biar Ibu liat ke dapur dulu," bujuk Rena.Sejurus kemudian, ia beranjak dari kursi dan menuju dapur untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Syahira. Namun, emosinya naik begitu melihat Syahira yang belum selesai juga membuatkan sarapan untuk putri kesayangannya. Terlebih, menu yang dibuat biasa saja."Ya ampun, Syahira! Jadi, dari tadi, kamu hanya membuat nasi goreng aja? Selama itu, kamu membuat nasi goreng, hah?" hardik Rena kencang.Syahira sontak terperanjat kaget. Dia tidak menyadari ibu tirinya itu sudah berada di belakang tubuhnya."I-iya, Bu. Maaf, tadi Syahira bangun kesiangan. Soalnya semalam Syahira gak bisa tidur," jawab gadis yang masih memakai piyama tidur itu."Itu bukan urusan Ibu, ya. Kamu mau bisa tidur atau gak bisa tidur! Yang penting, pagi-pagi sebelum Cellin berangkat ke sekolah, dia harus sarapan dulu!" seru Rena dengan berteriak, "kamu lihat, sudah jam berapa ini? Bisa-bisa Cellin telat berangkat ke sekolah gara-gara nungguin sarapan buatan kamu yang gak jadi-jadi!"Dengan sopan, Syahira menanggapi sikap ibu tirinya itu. "Iya, Bu. Ini sebentar lagi juga udah selesai, kok. Gak sampai lima menit. Lebih baik, Ibu tunggu saja di ruang makan. Nanti kalau sudah selesai, Syahira akan antarkan.""Ya sudah, cepat! Jangan lama-lama, kasian Cellin dari tadi sudah kelaparan!" ulang Rena lagi.Kemudian ia berjalan meninggalkan Syahira yang sedari tadi sedang fokus untuk memasak.Sesuai janji, beberapa menit kemudian, sarapan buatan Syahira sudah tersaji di atas meja makan.Rena dan Cellin terlihat memakan nasi goreng buatan Syahira sampai habis.Meski kesal akan menu sederhana di pagi hari ini, tetapi mereka sadar bahwa masakan Syahira tidak diragukan lagi kelezatannya.Sementara itu, Syahira pun membawa bekal nasi goreng buatannya sendiri untuk dimakan di tempat kerjanya nanti. Dia harus segera bersiap menuju restoran mewah tempat ia bekerja.*****Menggunakan ojek langganan, Syahira telah sampai di restoran dalam waktu 15 menit. Gegas, dia turun dan berlari ke arah restoran.Bruk!Sialnya, karena terburu-buru, gadis berkuncir kuda itu menabrak seorang laki-laki yang berbadan tinggi."Ma-maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Syahira sembari menundukkan kepalanya."Ya, tidak apa-apa. Saya yang salah karena berjalan sambil menatap layar ponsel,” ucap lelaki yang memakai jas berwarna hitam.“Siapa namamu?" tanyanya tiba-tiba.Syahira tampak bingung. Namun, dia tetap menundukkan wajahnya. "Nama saya Syahira, Tuan."Lelaki yang masih terlihat sangat muda itu terkejut mendengar nama gadis yang menabraknya tadi. "Syahira Azalia Kemal? Putri dari Pak Syamir Kemal?"Syahira mendongakkan kepalanya, terkejut dengan apa yang diucapkan oleh lelaki yang ia tabrak itu."Ke-kenapa Tuan tau nama lengkap saya dan nama lengkap ayah saya?"As June ran off to the Dean’s office, April G prepared for her cooking class.The pink haired girl walked to her table only to be petted by wads of paper from behind.“What the hell?” April G said as she turned around.In her frustration, she found Roxi and a few girls whistling while looking away.”“It hates that bitch.” April G said as she prepared her cooking kit.“You, okay?” Jerome said he walked up to her.“Define okay.”“I meant the leg. I know your horst it pretty bad.”“A little better now. But still kind of hurts.”“We’ll if you need to go to the nurse’s office, I got your back.”Jerome laid his hand on April G’s should as Roxi glared with an aggravate demeanor.“Ladies and gentleman, please take your seats and prepare your tools.” An Indian middle age woman with short hair entered the room.“Yes, Ms. Beingshi.” The class said.“Today we will be making a double chocolate cake with three layers of raspberry frosting. So, everyone starts making your batter.The class began to
Through out their journey to their next class, the girls come across a crowd of students all rushing to their next destination.“You know I can get to my class on my own.” April G said.“You said that already.” June said. “Besides, I’m not in any rush to get to my class.”“By the way, that’s a nice bracket, June.” Madison said.“Thanks.” June said as she fondled with it. “It feels a little loose though.”The bracket snapped off and rolls away from her.“No.”June leaves the others to chase after the bracelet, frantically trying to retrieve it.The piece of jewelry continues to escape her grasp as June constantly pursues it.“You got to be kidding me.”Eventually, the bracelet reaches the end of the hall. Stopping against a wooden door.“Gotcha.” June said as she picked it up.”“There you are.” Madison said as she and April G caught up to her.“Sorry. I didn’t mean to leave you guys.” June said.“I get it. I had a pearl necklace that my mom gave me before she passed away.”April G said
Several hours passed by as Olivia and her friends returned to the Sanctum Auroa.Inside the Sanctum stood mystical folklore all repair damages done to their HQ by the blessing months prior.“You’d think with all the spell casters on our roster, we’d be done with this by now,” Scott said.“The Blessing has dark and chaotic magic on their side, Nallox. It’s difficult to reverse the after effects of that type of power permanently,” Sam answered.“We can worry about cleaning the sanctum later.” Said Olivia “Right now, we have to talk about the green flaming wolf we found.”“I couldn’t agree more, agent cult,” captain moss entered the room with Meredith accompanying him. “You there, my office now.”“Yes, sir,” the three agents answered as they followed their leader upstairs to this office.Meredith closed and locked the door behind them as she lined up to the other agents. “At ease,”“Yes, sir,” the agents agreed as they fold their arms behind their backs.“Agent lust has informed me of t
“You never cease to amaze me,” Olivia smirks as she corners an skinny, frail hoodlum in the middle of the hollow streets of parabola.“I swear, lady,” the strange figure said. “You got the wrong guy.”“Oh please, if you’re going to lie about stealing from the human world, at least put some effort behind it.”Before the frightful hooligan could answers, a strange blue scripture began to crawl around his skin.“I told you already. That gold is mine. Mine, mine,”Olivia pulled out a handful of gold and waved it ten facts from the thief.“Silly how you think taking stuff that’s not your automatically makes it your.”The uncanny scribbles began to spread even further around the thief’s body face. In time, the cornered assistant curled his body as it to confront an internal pain.“Crap, I know what those markings mean.”The thief’s body slowly began to grew three times his on size as he transformed into a muscle bound grey skinned behemoth with knobs sprouting out on his neck and his back.
Onika's eyes watered as she blushed heavily. " Onika Mahogany DuBois , will you marry me ? " Tears flowed from her eyes as she replied; " Yes." Sam picked her up and the two shared a passionate kiss. The newly engaged voodooist slid the ring on Onika's finger. " This ring . " Onika said. " It belong
Falling to his knees after his victory over Felicia, Sam's symbol began to fade away. " Samuel " Benjermin shouted now free from his bindings. " I did it. I stopped her. " Sam said as his grandfather help him stand up. " Sammy." Onika called out as she and the other voodooist arrived in the mansion.
It was just an ordinary day at The Broth. Maxine was about to step out when Bulk stopped her near the exit.“We have a problem boss,” he said with a mild hint of irritation.“Spit it out Bulk,” the enchantress replied.“Those two in the corner,” he said, pointing towards a pair of golems sitting quietl
In the middle of The Muses Emporium, the Music Demon appeared from the middle of an ethereal portal and took to the round raised podium. He was surrounded by a pale blue aura that reflected his calm and composed disposition. Being able to take on many appearances, today he presented himself to the a
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews