Di kepala saya selalu muncul gambaran kecil ketika memikirkan cerpen yang kuat: sebuah inti (tema) yang bikin cerita itu bernapas, tokoh yang terasa manusiawi walau singkat porsi waktu mereka, dan konflik yang mendorong alur menuju klimaks yang masuk akal. Saya suka membagi unsur wajib itu ke beberapa bagian sederhana: tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, konflik, dan gaya bahasa. Tema memberi arah; tokoh membawa emosi; alur—yang meliputi pengenalan, konflik, klimaks, dan penyelesaian—mengatur ritme; latar dan suasana menambah nuansa; sudut pandang menentukan seberapa dekat pembaca dengan kisah; dan gaya bahasa menentukan pengalaman membaca.
Praktisnya, saya selalu cek tiga hal sebelum naskah saya tiduran di rak: apakah konfliknya jelas dan relevan, apakah tokoh berubah (meski sedikit) setelah konflik, dan apakah akhir memberi resonansi—bukan sekadar penutup. Dialog yang alami dan detail latar yang fungsional sering saya gunakan untuk menghemat kata sambil tetap membangun suasana. Kalau itu semua rapi, cerpen biasanya berhasil membuat pembaca terhantui atau tersenyum lama setelah halaman terakhir ditutup—itulah yang selalu bikin saya senang.