Jelajah Jelita
Tama meraih gitarnya.
“Yuk, teman-teman. Kita nyanyi bersama,” lalu ia dmemetik gitarnya dan mulai menyanyikan lagu yang merdu nan sendu. Para tim sukarelawan lainnya duduk melingkari Tama dan sesekali ikut berdendang. Kala itu masih pukul empat sore, namun dengan hujan deras disertai badai yang memekakan hati dan telinga, langit terasa seperti menjelang malam. Desa Balarambe yang asri dan banyak pepohonan itu menyambut hujan dengan gerakan dedaunan yang sibuk menari-nari ke kiri dan ke kanan. Petikan gitar Tama yang lembut seolah kalah terlahap oleh suara petir yang sesekali menyambar. Namun semua yang berkumpul di situ seolah tak peduli. Mereka tetap bersenandung dan saling melempar canda
Hot Chapters