Romantisme yang Menikam dari Belakang
Tenang, hampa, hilang.
Kadang, di sela-sela kehampaan itu, dia bergumam nama yang sama berulang-ulang, suaranya seperti gema di kamar kosong.
“Fiona… Fiona… aku mencintaimu…”
Bahkan ketika ada perawat muda lewat, Dimas sering berlari mengejar, menatap dengan mata yang telah rusak harap, berbisik penuh kegilaan.
“Fiona, akhirnya kamu datang menemuiku… syukurlah… syukurlah…”