Istri Abangku
"Ada lagi ni, Bang. Saya tentunya tidak akan menikahinya, jika pekerjaan saya hanya luntang-lantung seperti ini. Saya akan berusaha memantaskan diri saya untuk menjadi pendamping hidupnya. Minimal, jika tidak bisa membawanya ke mal sebulan sekali, saya bisa mengajaknya keliling kampung dengan motor yang saya punya setiap sore. Lalu pulangnya mampir beli cilok yang dimakan sebungkus berdua. Bukan karena irit, tapi karena saya selalu ingin dekat dengannya. Jadi, saya merasa saat ini memang sudah terbaik jika dia diurus keluarganya di sana. Saya di sini juga berjuang untuk mendapatkannya. Termasuk menemani Abangnya sarapan seperti ini."
"Hah? Abangnya siapa?" tanya Ali yang mendadak lemot. Roti