author-banner
Lyla Veil
Lyla Veil
Author

Novels by Lyla Veil

Candu Pelukan Hangat Bos Dingin

Candu Pelukan Hangat Bos Dingin

Dinara Arumi diremehkan Elang Adikara, seorang CEO di perusahaan properti villa besar, ketika sesi wawancara sebagai sekretarisnya. Namun betapa terkejutnya Dinara ketika mengetahui bahwa ia justru diterima! Bekerja bersama Elang Adikara memang sulit, Dinara harus selalu menyesuaikan ritmenya. Tetapi, jauh lebih sulit untuk melupakan kejadian yang menimpa Dinara di malam panas itu bersama Elang.
Read
Chapter: Bab 192
Dinara memandangi jari manisnya yang kini kembali dihiasi cincin pernikahan dari Elang. Cincin itu berkilau di jarinya yang masih bernoda tanah cokelat. Tatapannya kemudian beralih, menatap sepasang mata Elang yang memerah, menahan air mata dan menyiratkan ketakutan luar biasa akan kehilangan dirinya.Pria tegap, dingin, dan selalu berwibawa di matanya... kini berlutut pasrah di atas tanah pemakaman, memohon dengan tulus.“Mas...” bisik Dinara, suaranya yang parau meluncur pelan. “Apa kamu benar-benar tidak merasa jijik padaku?”Elang tak lagi sanggup mendengarkan keraguan istrinya. Tanpa menjawab dengan kata-kata, Elang menarik tengkuk Dinara dan langsung menangkup bibir perempuan itu dengan ciuman yang dalam dan penuh kehangatan.Dinara tersentak kecil, membelalakkan mata saat rasa manis dan ketulusan melumat habis seluruh rasa hina dan rasa bersalah di dadanya. Ciuman Elang begitu intens, seolah ia tak ingin lagi mendengar kata-kata yang menyakiti diri istrinya sendiri.Di kejauhan,
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: Bab 191
“Ju-le?” lirih Dinara, suaranya hampir tenggelam di tenggorokan.Pandangannya yang samar oleh genangan air mata kemudian menyapu dua sosok pria tegap yang berdiri tak jauh di belakang Julia. Matanya membelalak seketika. “Abang? Mas Elang?”Belum sempat Dinara mencerna kehadiran mereka, Julia sudah berlari kecil menghampirinya. Tanpa peduli pada pakaian Dinara yang kotor terkena noda tanah dan peluh, Julia langsung berlutut di depan sahabatnya dan merengkuh tubuh rapuh itu erat-erat.“Kamu ke mana aja sih, Din? Kami semua panik nyariin kamu!” bisik Julia terisak haru di bahu Dinara.“Jule... kenapa kalian bisa ada di sini?” gumam Dinara bingung, tatapannya beralih menatap Ibrahim dan Elang bergantian.Ibrahim melangkah mendekat, matanya memerah menatap adik perempuannya yang berantakan di dekat nisan orangtuanya.“Kamu pikir Abang bakal diam aja pas Pak Elang datang ke rumah nyariin kamu, Dinara? Kamu ini adik Abang... ke mana pun kamu pergi saat hancur, Abang sama Pak Elang pasti baka
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: Bab 190
Elang terdiam kaku. Setiap kata yang terlontar dari bibir istrinya terasa menghantam dadanya begitu telak. Rasanya ia ingin menuli dan mengabaikan semua ucapan itu sebagai angin lalu, namun ia sangat mengenal Dinara—istrinya bukan perempuan pembohong, dan raut wajah hancur itu membuktikan ia sama sekali tidak sedang bercanda.Melihat suaminya terpaku dalam guncangan syok yang begitu hebat, Dinara membulatkan tekad untuk menyudahi penderitaan ini. Ia melangkah mundur perlahan, menciptakan jarak, lalu berbalik keluar dari ruangan yang mendadak terasa menyiksa itu.Namun, dering nyaring dari ponsel Elang di atas meja seketika menahan langkah Dinara di dekat pintu. Elang sempat membiarkan panggilan itu berulang kali memecah hening, sebelum akhirnya mengulurkan tangan kaku meraihnya.“Ya?” suara Elang terdengar parau, hampir tenggelam oleh tenggorokannya yang tercekat.Namun, detik berikutnya raut wajah Elang berubah drastis.“Apa?! Bastian?!” serunya tegang.Mendengar nama Bastian disebut
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: Bab 189
Hingga akhirnya, keheningan menyergap dari balik pintu. Suara percakapan bahasa Jepang itu perlahan mereda, disusul bunyi ketukan jemari Elang di atas meja dan dentang pelan gagang cangkir yang diletakkan. Meeting itu telah selesai.Dinara mengumpulkan sisa keberaniannya, lalu mengayunkan jemarinya mengetuk pintu kayu mahoni itu pelan.Tok... tok... tok...“Masuk,” sahut suara Elang dari dalam.Dinara mendorong pintu perlahan. Di balik meja kerjanya, Elang yang baru saja menutup laptopnya tampak agak terkejut mendapati sang istri menghampirinya ke ruang kerja di pagi hari. Namun, terkejut itu seketika berganti dengan senyuman miring yang menggoda.“Mas, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” tutur Dinara pelan, suaranya terdengar begitu berat.Melihat raut wajah Dinara dan teringat akan kehangatan gila-gilaan mereka semalam, Elang berpikiran lain. Ia mengira istrinya masih merindukan sentuhannya dan ingin mengulang percintaan semalam mereka.“Sini, Sayang... duduk di pangkuanku,” pang
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: Bab 188
Di tengah keheningan ruang kerja yang kini dipenuhi napas mereka yang berangsur teratur, setetes air mata lolos menetes menyusuri pipi Dinara. Isakan pelan yang berusaha ia tahan akhirnya pecah juga di atas dada bidang Elang.Elang yang merasakan tubuh istrinya bergetar seketika panik. Pria itu menguraikan pelukannya sedikit, menangkup kedua pipi Dinara dan menatap wajah istrinya penuh kekhawatiran.“Kenapa nangis, Sayang?” tanya Elang lembut, jemarinya mengusap jejak air mata di pipi Dinara. “Ada yang sakit, ya? Kita... terlalu hot tadi.”Dinara terisak pelan, namun ia berusaha keras menyunggingkan sebuah senyuman di balik matanya yang berkaca-kaca. Perempuan itu menggeleng cepat.“Enggak, Mas... malah enak banget,” bisik Dinara dengan suara serak. “Aku bukan sedih... tapi terharu bisa sampai di titik ini.”Mendengar penuturan dari sang istri, kekhawatiran di wajah Elang seketika sirna. Pendar hangat penuh lega terpancar dari sepasang matanya. Elang tersenyum manis, lalu mendekatkan
Last Updated: 2026-07-28
Chapter: Bab 187
Tanpa menyela penyatuan mereka, Elang menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah paha dan punggung Dinara. Dengan satu hentakan mantap, ia mengangkat tubuh istrinya dari atas meja kerja. Dinara melingkarkan kedua kakinya erat-erat di pinggang Elang, menyandarkan punggungnya pada permukaan tembok dingin ruang kerja itu. Tumpuan tembok dan dominasi Elang membuat setiap hunian terasa semakin dalam dan menghujam.“Aaah! Mas... jangan keluar dulu, Mas...” pangkas Dinara terengah-engah di ceruk leher suaminya, menyadari gerakan Elang yang mulai tak terkendali menandakan puncaknya sudah di ambang batas.Elang yang napasnya sudah memburu hebat terpaksa menahan diri. Dengan ketahanan tubuhnya, ia menarik perlahan pusakanya keluar dari kehangatan Dinara, membiarkan gelinjang gairah itu tertahan menggantung di udara.Tanpa membuang waktu, Dinara melangkah menuntun suaminya menuju sofa panjang di sudut ruangan. Ia menarik Elang untuk duduk bersandar. Di hadapan suaminya, Dinara berlutut anggun. M
Last Updated: 2026-07-27
Menikahi Tuan Tanah Misterius

Menikahi Tuan Tanah Misterius

Demi menghindari kejaran penagih hutang yang mengincar kehormatannya, Silvia Gunawan (mahasiswi kedokteran) yang manja melarikan diri ke desa terpencil yang tak memiliki sinyal dan sulit akses. Di sana, ia terpaksa menikah di depan kakeknya dengan Abimanyu Bara (seorang pemuda ‘ndeso’ kaku yang ia remehkan). Silvia tak menyadari bahwa Bara adalah pemuda berpendidikan, lulusan Agribisnis dari luar negeri yang sengaja menyembunyikan kekayaannya demi membangun desa dan kunci bagi keselamatan keluarga Silvia. Malam pertamanya adalah malam tak terlupakan sekaligus kesalahan. Bagaimana kelanjutan pernikahan Silvia dan Bara? Bagaimana jika Silvia bertemu kembali dengan pria idamannya di masa kuliah? Apakah ia akan meninggalkan Bara demi pria idamannya? Ikuti kelanjutan...
Read
Chapter: Bab 62
Kondisiku hari ini, sudah jauh lebih membaik. Setelah beberapa hari hanya berbaring lesu dan tak tersentuh air karena demam tinggi, malam ini tubuhku terasa lebih segar. Aku menyempatkan diri mandi dengan air hangat untuk membuang kotoran yang menempel.Usai mandi, aku melangkah masuk ke dalam kamar. Hanya berbalut handuk putih yang melilit ketat menutupi dada hingga paha, aku berdiri di depan cermin tua, berniat mengambil pakaian bersih di dalam lemari. Rambut basahku yang terurai mengalirkan sisa titik air ke leher dan bahu polosku.Aku bernapas lega, seharian ini Aditya tidak datang. Setelah amukan dan penolakan mentah-mentah yang kulontarkan kemarin malam, aku yakin ia tidak akan berani memunculkan batang hidungnya lagi di rumah ini. Pria itu pasti punya sedikit harga diri untuk tahu diri. Namun, dugaan dan rasa amanku hancur berkeping-keping dalam satu detik.Cklek.Pintu kamar tidurku mendadak terbuka tanpa ada ketukan sedikit pun.Aku terperanjat hebat, refleks berbalik sambil
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 61
Aku teringat jelas masa-masa itu. Momen ketika aku masih menjadi mahasiswi yang dibutakan oleh pesona sang mahasiswa kedokteran favorit kampus.Dulu, aku yang selalu membuang gengsiku jauh-jauh demi berada di jarak pandangnya. Aku bela-belain menunggu Dokter Aditya di depan laboratorium anatomy berjam-jam hanya untuk menyodorkan kotak makan siang berhias pita yang kubuat sendiri—yang ujung-ujungnya hanya ia terima dengan senyum formal nan dingin, lalu ia tinggalkan begitu saja di meja piket.Akulah yang selalu rajin reply Story Instagram-nya detik demi detik, menghadiri setiap pertandingan basket kampus tempat ia berlaga sambil berteriak paling kencang, bahkan dengan percaya dirinya menyambar lengannya di depan deretan senior lain agar kami terlihat bak pasangan. Saat itu, seluruh kampus tahu betapa Silvia Gunawan begitu terobsesi dan mengejar-ngejar Aditya.Namun, jangankan membalas perasaanku, memberi kepastian satu kalimat pun Aditya tak pernah sudi. Ia selalu sengaja menggantungku
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 60
Beberapa hari berlalu dengan pola yang sama, menguras habis seluruh energi dan ketahanan mentalku. Setiap pagi, aku memaksa diriku bangun sebagai sebuah kewajiban yang tanpa ujung. Dengan bermotor, menyeret langkah menuju luasnya perkebunan Eyang yang tak pernah kubayangkan akan seluas itu. Aku berpura-pura tangguh di hadapan para pekerja, berakting seolah aku memegang kendali penuh atas ribuan pohon, puluhan pekerja, dan tumpukan laporan keuangan yang rumit.Namun, kenyataannya aku hancur. Setiap sore usai memantau pekerjaan, kakiku serasa tak bertulang. Tubuhku remuk redam, telapak tanganku mengelupas, dan kepalaku berdenyut hebat. Dan bagian terburuknya selalu menunggu di penghujung hari.Rumah itu menyambutku dengan kesunyian yang dingin dan kehampaan. Tidak ada aroma kopi pahit, tidak ada derap langkah kaki berat, dan tidak ada sosok tegap yang biasanya menghangatkan tiap malamku.Pria kaku itu benar-benar lenyap tanpa jejak.Kenyataan itu menghantam dadaku dengan rasa sesak yang
Last Updated: 2026-08-03
Chapter: Bab 59
Masih ada kebun cokelat, kopi, jagung, pepaya, dan jeruk yang belum kudatangi. Rasanya kalau harus mengelilingi semuanya sendirian, energiku bakal keburu habis duluan sebelum sempat melihat separuh dari total luas perkebunan Eyang Gun.Aku menghela napas panjang, menyapu keringat dingin yang mulai membasahi pelipisku.“Ayo Silvia, jangan malas! Kamu itu pewaris tunggal harta Eyang. Eyang mengandalkanmu!” gumamku menyemangati diri sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipiku pelan.Kalimat afirmasi itu rupanya cukup ampuh membakar semangatku. Aku memaksakan tungkai kakiku yang mulai bergetar untuk melangkah meninjau kebun jeruk yang berbuah lebat, lalu berlanjut melintasi deretan pohon-pohon kopi yang rindang. Namun, begitu dihadapkan pada hamparan kebun cokelat dan ladang jagung yang membentang luas di lereng sebelah utara, aku benar-benar menyerah. Kakiku terasa pegal setengah mati, telapak kakiku serasa terbakar di dalam sepatu boot ini.Akhirnya, dengan menahan rasa gengsi, aku memint
Last Updated: 2026-08-03
Chapter: Bab 58
Perjalanan menuju perkebunan memakan waktu sekitar lima belas menit. Begitu sampai di kebun Alpukat, aku mematikan mesin motor. Bau tanah basah sisa penyimaran masih terasa segar. Di sekelilingku, terhampar hektaran tanah subur yang membentang luas hingga ke kaki bukit. Bukit itu pun milik Eyang, dan gedung sekolahan terlihat kecil dari tempatku berada.Aset ini luar biasa besar. Dan kenyataan bahwa pria kaku seperti Bara yang menguasai dan mengelolanya selama bertahun-tahun membuat hatiku makin panas. Entah kemana keuntungan perkebunan bermuara, aku tidak pernah tau.Aku menyapukan pandangan ke area pondok kayu utama yang biasa dijadikan kantor. Anehnya, mobil Hilux Bara justru tidak terlihat terparkir di sana. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman yang sepi, hanya ada beberapa keranjang kayu kosong yang menumpuk di tepi teras.“Mbak Silvia? Kok ada di sini dengan siapa?”Sebuah suara menyapa dari arah samping. Aku menoleh dan menemukan seorang pekerja senior berkaos lusuh
Last Updated: 2026-08-02
Chapter: Bab 57
Aku hanya diam saat Bara memilih beranjak pergi menghindari Aditya. Dari raut wajahnya, jelas ada rasa tidak suka yang tertangkap oleh mataku. Namun, aku tidak mau berspekulasi lebih jauh dengan apa yang ada di dalam pikiran pria kaku itu.“Silvia, akhirnya aku bisa pindah,” ujar Aditya begitu sampai di hadapanku.Ia pasti melihat ekspresi bingung di wajahku yang penuh tanda tanya, hingga ia langsung menjelaskan maksud ucapannya.“Sil, aku sudah bisa pindah ke desa sini. Jadi kalau kamu mau check-up, kamu nggak usah jauh-jauh lagi,” jelas Aditya. “Atau kalau kamu butuh, kamu bisa langsung panggil aku ke rumah.”“Sejak kapan kamu ajuin pindah tempat?” tanyaku.“Sejak pertemuan kita yang pertama di rumah sakit waktu itu,” jawabnya santai. “Bahkan aku bawa pil KB, Sil... jaga-jaga.”Aku menelan saliva, tenggorokanku mendadak terasa tercekat.“Hmm... soal itu... aku nggak butuh lagi, Mas,” ujarku susah payah.Aditya membelalak kaget. “Lho, kok gitu? Kenapa?”“Aku dan Mas Bara... sebentar
Last Updated: 2026-08-02
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status