Chapter: Bab 116Setelah makan malam yang hangat itu, mereka kembali ke kamar hotel. Namun, begitu pintu tertutup, suasana yang tadinya tenang berubah menjadi intens. Elang langsung menarik Dinara ke dalam dekapannya, membawanya hingga punggung wanita itu merapat ke tembok.“Cincin ini tanda aku mengikatmu, Dinara...” bisik Elang dengan suara parau tepat di depan bibir Dinara.Nafas Elang terasa panas menyentuh kulitnya. Tangannya masih mengukung Dinara, mengunci pergerakan wanita itu seolah tak ingin membiarkannya lepas barang satu inci pun. Dalam remangnya cahaya ruangan, tatapan Elang terlihat begitu kelam dan penuh gairah, membuat suasana di antara mereka semakin mendidih.Dinara mendongak, matanya yang sayu menatap cincin emas putih yang kini melingkar manis di jari manisnya. Logam dingin itu kini terasa hangat, sehangat janji yang baru saja diucapkan Elang di restoran tadi. Ia bisa merasakan degup jantungnya yang berdetak kencang.“Mas Elang...” lirih Dinara, suaranya tenggelam dalam dominasi El
Last Updated: 2026-05-05
Chapter: Bab 115“Anak?” Dinara mengulangi kata itu dengan suara yang hampir menghilang.“Iya, aku menginginkan anak darimu...” Elang berbisik tepat di depan wajah Dinara, memastikan setiap katanya meresap ke dalam benak wanita itu. Tak ada keraguan dalam suaranya, hanya sebuah keinginan yang dalam dan bersifat mutlak.Dinara terdiam, nafasnya masih memburu di bawah kungkungan tubuh Elang. Ia masih bisa merasakan denyut hangat yang menjalar di bagian intimnya, seolah pria itu baru saja menumpahkan seluruh sari pati kehidupannya hingga tetes terakhir ke dalam rahimnya. Sensasi itu begitu nyata, sebuah segel tak kasatmata yang seakan mengunci takdirnya untuk terus terikat pada sosok Elang Adikara.“Mas, yakin?” tanya Dinara pelan. Matanya mencari kepastian di balik tatapan Elang yang biasanya sulit dibaca.“Iya, sangat yakin.” Elang perlahan menarik dirinya, lalu berbaring di sisi Dinara. Ia menumpu kepala dengan satu tangan, menatap lekat wanita yang kini tampak begitu rapuh sekaligus cantik di matanya
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 114“Pak, kita harus kembali ke Jakarta. Saya takut Arvin mengincar Julia,” ucap Dinara cemas. Ia tidak bisa membayangkan jika sahabat satu-satunya itu harus menanggung dampak dari dendam Arvin.“Tenang, Bu Dinara. Kepolisian Surabaya sudah berkoordinasi dengan Jakarta. Jika ia lolos dari stasiun, tim di sana sudah bersiaga. Kami yakin dia akan kembali ke Jakarta,” sela Ipda Adi menenangkan.“Serahkan semuanya pada polisi, Dinara,” tambah Elang singkat. Dinara terdiam, meski hatinya masih dirayapi ketakutan.Menjelang siang, para petugas berpamitan. Begitu pintu kamar tertutup, suasana menjadi sunyi. Elang menghampiri Dinara yang sedang meringkuk di atas ranjang, lalu ikut naik dan memeluknya dari belakang. Dinara tersentak.“Pak...” desahnya.“Tenang. Kamu sudah memperingatkan Julia untuk pergi dari kosnya, kan?” bisik Elang rendah.“Iya, Pak. Dia langsung pergi meski sempat panik.” Dinara membalikkan tubuh, kini menatap langsung ke dalam manik mata Elang Adikara yang kelam.“Lalu, apa y
Last Updated: 2026-05-03
Chapter: Bab 113Elang melepaskan pagutan itu perlahan, namun tidak menjauhkan wajahnya. Nafas mereka memburu. Elang menunduk, bibirnya berada tepat di samping telinga Dinara, membisikkan sesuatu dengan suara rendah yang menggetarkan.“Tenanglah,” bisik Elang rendah. “Jangan takut. Selama ada saya, siapa pun tidak bisa menyentuhmu.”Dinara terpaku. Kalimat itu terasa berbeda di telinganya. Biasanya, Elang bicara tentang ‘hak milik’ atau ‘aset perusahaan,’ tapi kali ini Elang menempatkan dirinya sendiri sebagai pelindung langsung bagi Dinara.Hening sejenak. Dinara mendongak, mencoba mencari celah di wajah kaku itu, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata yang menatapnya dengan intensitas yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Ketukan di pintu penghubung memecah momen itu.“Pak Elang, Bu Dinara,” suara Ipda Adi terdengar serius. “Ada telepon tanpa nama, kemungkinan target.”Elang menarik lengan Dinara perlahan, membawa wanita itu kembali ke kamarnya.Di sana, Dinara diminta untuk tenang sejenak seb
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: Bab 112Dinara melangkah cepat melintasi pintu penghubung. Begitu sampai di kamarnya, ia segera menutup pintu dan bersandar di tembok dengan nafas memburu.Bayangan Arvin yang selalu bersikap santun kini terasa seperti penghinaan. Dinara teringat bagaimana ia pernah memuji kinerja Arvin di depan Elang Adikara, tanpa menyadari bahwa itu semua hanya bagian dari manipulasi.“Bodoh... kamu benar-benar bodoh, Dinara,” bisiknya pada diri sendiri.Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Ia merasa muak karena begitu mudah percaya, sekaligus merasa telah mengecewakan Elang demi membela seseorang yang ternyata berbahaya.Beberapa saat kemudian, Elang memasuki kamar Dinara. Ia menutup kembali pintu penghubung itu dan mendapati Dinara sedang berusaha meredam isak tangisnya.“Dinara...” panggil Elang lirih sambil mendekat.Dinara susah payah menahan tangis hingga dadanya terasa sakit. Ia menutupi wajah dengan kedua tangan, menghindari tatapan Elang.Elang menumpu satu tangannya di tembok, mena
Last Updated: 2026-05-01
Chapter: Bab 111Ponsel di atas nakas bergetar hebat, menampilkan nama Julia untuk kesekian kalinya. Dinara menatap layar itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Julia tidak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban, namun lidahnya terasa kelu untuk menyusun kebohongan.Dengan tangan gemetar, Dinara akhirnya menggeser tombol hijau dan menyalakan loudspeaker agar ia tidak perlu menempelkan ponsel ke telinganya yang masih panas karena pusing.“Dinara! Gila ya lo! Jelasin ke gue sekarang, kenapa lo bisa ada di kamar Pak Elang dengan kondisi kayak gitu? Lo tahu nggak, gue khawatir bakal heboh di kantor besok. Gue sama Bu Reva masih menghalau berita ini tapi tadi si biang gosip kantor ikut rapat. Gue udah ancam dia untuk nggak nyebar. Terus Arvin dipecat, kenapa? Lo menghilang, terus muncul di Zoom Pak Elang—”Suara melengking Julia terus terdengar, membuat Dinara kembali resah. Sebelum Dinara sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri, sebuah tangan kokoh meraih ponsel itu dari jangkauannya.
Last Updated: 2026-04-30
Chapter: Bab 22‘Masa aku harus bercinta dengan Bara lagi untuk bisa mengalihkan perhatiannya?’Hanya memikirkan itu saja sudah membuatku bergidik ngeri.‘Bisa-bisa dia salah paham, dipikirnya aku menyukai hal itu. Jatuh harga diriku...’ batinku lagi. Tidak, itu pilihan terakhir yang sangat tidak ingin kuambil.Aku menggeleng frustrasi, mencoba mengusir pikiran konyol itu dari kepalaku. ‘Lalu bagaimana caranya mengambil kunci itu tanpa dia sadari?’Aku menangkupkan kedua tanganku di depan wajah sambil berpikir keras, menimbang-nimbang setiap kemungkinan yang ada. Tanpa aku sadari, rupanya Bara memperhatikanku sejak tadi. Dia diam membeku, melihat bagaimana ekspresiku berubah-ubah secara drastis dari yang terlihat jijik, bingung, hingga kemudian nampak sangat frustrasi.“Kenapa wajahmu begitu? Masih kepikiran soal luka Jaka tadi?” suara berat Bara tiba-tiba memecah lamunanku.Aku tersentak, buru-buru menetralkan ekspresi wajahku agar tidak terlihat mencurigakan. “Bukan, bukan apa-apa. Aku cuma... lapa
Last Updated: 2026-04-19
Chapter: Bab 21Maisaroh muncul sambil membawa kotak jarum dan benang. Aku melihat ke dalam kotak, mencari jarum yang agak panjang lalu benang.“Mai tolong nyalakan lilin di meja,” pintaku.Maisaroh melakukan semua itu tanpa banyak tanya.Berikutnya Bara sudah kembali dengan membawa kotak p3k berwarna merah. Ia menyerahkannya padaku, aku mengambil obat luka itu. Maisaroh sudah selesai memasang lilin, api kecil menyala terang. “Mai, tolong rebuskan daun sirih seratus mili saja.”“Seratus mili?” Maisaroh bingung dengan permintaanku.Bara langsung berdiri, “Sudah Mai kamu di sini saja bantu Mbak Silvi.”Setelah semua alat seadanya tersedia, aku pun segera melakukan pengobatan pada luka pria muda itu. Sambil mengajaknya mengobrol supaya ia tidak terlalu tegang, aku pun tahu bahwa pemuda itu bernama Jaka dan ia adalah anak buah Bara di ladang.Dengan hati-hati aku menjahit luka itu menggunakan benang jahit biasa yang sudah kurendam air sirih. Jaka menahan diri untuk tidak berteriak karena malu, tapi bebe
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: Bab 20Aku pun fokus mencari kunci koper ini. Aku mulai meraba bagian atas lemari, mengecek di balik bingkai foto Eyang, bahkan sampai merogoh saku-saku pakaian yang tergantung. Aku harus menemukannya sekarang, sebelum Bara pulang dari ladang dan memergokiku menggeledah barang peninggalan Eyang.Aku terus menggeledah setiap sudut kamar Eyang, tapi kunci koper itu tidak juga ketemu. Pikiranku berputar. Bara adalah orang kepercayaan Eyang, penjaga harta dan kebunnya. Kalau ada sesuatu yang sangat penting, Eyang pasti menitipkannya pada pria itu.Aku segera melangkah menuju kamar Bara, kamar kami. Aku memperhatikan setiap sudut, melihat titik-titik yang mungkin saja terlewati oleh pencarianku sebelumnya.Pandanganku beralih ke sebuah kotak kayu kecil di atas lemari. Aku menarik bangku dan menaikinya, lalu meraih kotak kecil itu. Begitu kubuka, ternyata isinya adalah perhiasan.“Ini pasti milik Eyang,” gumamku sambil menatap deretan perhiasan kuno itu. “Sedekat apa sebenarnya hubungan Eyang dan
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: Bab 19Wajah Bara berubah suram mendengar perkataanku. Ia menatapku tajam, lalu bergerak mendekatiku. Tangannya meraih rahangku dengan tegas.“Mas!” pekikku tertahan sambil memegangi tangan yang mencengkram rahangku.“Tidak akan!” ucapnya penuh penekanan, “aku sudah terlanjur menyukai setiap inci tubuhmu Silvia, kamu sangat menggairahkan...”Lalu ia melepaskan tangannya dari rahangku.“Setidaknya, kamu harus bertahan sampai aku puas! Setelah itu... mungkin kita akan bercerai...”Ia pun melangkah pergi, meninggalkan aku dalam keheningan kamar yang lembab.Tak lama kemudian, terdengar suara Maisaroh di luar. Sepertinya Bara memintanya membereskan barang-barang bawaan Pak Dirman, termasuk memasukkan ayam jago pemberian itu ke kandang agar tidak merusak tanaman di depan.Aku mencoba duduk, lalu berdiri perlahan. Rasa perih seketika menjalar di bagian bawah, membuatku meringis. “Sialan si Capybara itu, lagi-lagi bikin aku sulit jalan,” rutukku pelan. Rasanya benar-benar tidak nyaman, seolah tubuh
Last Updated: 2026-04-15
Chapter: Bab 18“Aarrgghh...” desahan maskulin menggema di dalam kamar, tanda Bara telah mencapai puncak kenikmatannya.Sedangkan tubuhku rasanya remuk, setiap inci kulitku seolah masih merekam sentuhan kasar yang memabukkan dari Bara. Aku mencoba bergerak, tapi rasa linu di pinggang dan sisa lemas di perut akibat mual membuatku kembali terhempas ke bantal. Aku pun membiarkan Bara tertidur di sampingku.Pagi cepat beralih, aku terbangun di kasur yang sudah dingin. Bara sudah bangun lebih dulu. Terdengar suara riuh rendah dari halaman depan mengejutkanku. Suara laki-laki yang sangat kukenal volumenya, seperti Pak Dirman.“Mas Bara! Mas Bara!” teriaknya penuh semangat, disusul suara beberapa warga lainnya.Aku berusaha untuk duduk, mengintip dari jendela. Di bawah sana, Bara berdiri dengan gagah tanpa kaus, hanya mengenakan celana kain hitam dan mengenakan caping. Otot punggungnya yang kecokelatan berkilat tertimpa cahaya pagi. Pak Dirman berdiri di depannya sambil memegangi seekor ayam jago besar, sem
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: Bab 17Aku menutup tubuhku menggunakan handuk itu. Lalu sejenak mendengarkan, di luar sepi sepertinya Bara sudah tidak ada atau mungkin tertidur. Akhirnya aku keluar kamar mandi dengan perlahan, khawatir terlihat Bara lagi. “Sepi... kosong...” gumamku, aku pun langsung masuk ke kamar. Ternyata Bara berada di kamar, duduk di kursi kayu jati di depan jendela yang sudah tertutup. Aku tertegun menatapnya. Bara pun menatapku dari atas hingga bawah, seolah familier dengan settingan-ku yang seperti ini. Ia menelan saliva lalu memalingkan wajah. “Aku nggak akan tergoda,” “Bagus, kalau gitu...” ujarku sambil mencari baju Maisaroh yang masih bersih di lemari. “Aku sudah beli baju untukmu di pasar, moga aja pas di tubuhmu,” Bara menunjuk ke arah ranjang. Sebuah plastik hitam teronggok di sana, “jangan pakai baju Mai lagi terlalu ketat untukmu.” Aku menghampiri ranjang, membuka plastik hitam itu. Beberapa lembar baju yang terlihat dengan model... kampungan, kusut dan jelas bukan kesukaanku.
Last Updated: 2026-04-07