LOGINDemi menghindari kejaran penagih hutang yang mengincar kehormatannya, Silvia Gunawan (mahasiswi kedokteran) yang manja melarikan diri ke desa terpencil yang tak memiliki sinyal dan sulit akses. Di sana, ia terpaksa menikah di depan kakeknya dengan Abimanyu Bara (seorang pemuda ‘ndeso’ kaku yang ia remehkan). Silvia tak menyadari bahwa Bara adalah pemuda berpendidikan, lulusan Agribisnis dari luar negeri yang sengaja menyembunyikan kekayaannya demi membangun desa dan kunci bagi keselamatan keluarga Silvia. Malam pertamanya adalah malam tak terlupakan sekaligus kesalahan. Bagaimana kelanjutan pernikahan Silvia dan Bara? Bagaimana jika Silvia bertemu kembali dengan pria idamannya di masa kuliah? Apakah ia akan meninggalkan Bara demi pria idamannya? Ikuti kelanjutan...
View More‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’
Aku turun dari bus malam, kondisi masih pagi buta. Di terminal Argosari, aku tidak tahu harus naik apalagi menuju tujuan berikutnya. Di pesan w******p, Papa hanya mengirim pesan singkat itu, dan alamat Eyang Gun. Aku menuliskan alamat lengkap Eyang Gun, di secarik kertas supaya lebih mudah untuk memperlihatkannya pada orang-orang di Argosari saat bertanya nanti. Ah... kadang aku menyalahkan Papa untuk masalah ini, kenapa diambil hutang jutaan dollar itu dari Bos Mafia Bahlil. Sekarang baru rasa, menyusahkan sekeluarga. Papa enak kabur sama Mama, setidaknya Papa nggak sendirian, sedangkan aku... sendirian di... entah dimana ini... rasanya aku ingin menangis. Tidak bawa persiapan apapun, hanya baju yang melekat di badanku saja serta uang tunai yang sempat aku tarik sebelum naik bus malam. Ponselku pun aku matikan, mereka juga bisa melacakku via ponsel. Mungkin akan kunyalakan lagi setelah membeli kartu baru. Sekarang aku harus naik apa ke Dusun Mertangi, aku masih buta daerah sini, Papa dan Mama pernah mengajakku tapi itu waktu kecil. Waktu itu juga naik mobil, bukan naik bus malam macam ini. Benar-benar jauh dari kata nyaman. Apalagi ketika sampai dan melihat bagaimana kondisi terminal yang kumuh. Sampah masih teronggok di setiap sudut terminal. Bus yang parkir hanya sedikit, benar-benar sepi. Aku pun duduk di salah satu bangku terminal, sendirian. Ada rasa takut yang merayap, bukan sama hantu tapi sama manusia karena keburukan manusia bisa melukai. Aku melihat beberapa kernet bis yang lagi main kartu di sana. Mau menanyakan alamat Eyang namun aku agak ragu. Tapi jika terus-terusan di sini akan membuatku makin mikir macam-macam. Jadi aku beranikan diri untuk menanyakan pada mereka. Aku pun mendekati mereka. “Permisi...” tegurku sopan. Tiga pria yang tadi sibuk mengobrol menoleh. “Ada apa Mbak?” tanya salah satunya, sedangkan yang lain menatap kakiku yang terbuka hanya beralaskan sepatu wedges. Dress selututku yang terkena angin pagi agak melambai-lambai sehingga pahaku terkadang terbuka. Aku harus memegangi rokku juga rambutku yang agak berantakan. “Dusun Mertangi apa masih jauh?” tanyaku cepat. “Wah, masih jauh Mbak... itu melewati hutan, sawah dan kuburan. Kira-kira sekitar empat puluhan kilometer lagi.” Jawab salah satu masih dengan logat khas Argosari. “Kira-kira satu jam lebihlah Mbak, jauh...” tambah yang lain. Aku mengangguk, “Harus naik apa ya ke sana?” Mereka bertiga saling pandang, entah apa yang mereka pikirkan. Seharusnya mereka tahu harus naik apa ke sana, kenapa harus saling memandang dalam diam? Bikin curiga saja. Salah satunya menunjuk mobil kecil, semacam colt. “Bisa naik itu Mbak... Ini supirnya...” ia menunjuk salah satu temannya. Aku menoleh, “Oh, gitu. Apa sekarang jalan?” “Nanti Mbak nunggu penumpang dulu, Mbak kalau mau nunggu di dalam juga bisa.” Ujarnya sang sopir. Aku mengangguk, “Baiklah, saya menunggu di dalam saja. Terima kasih...” Aku pun berjalan ke mobil itu, salah satunya menemaniku hingga aku masuk dan duduk di dalamnya. Sendirian. Lampu kabin dinyalakan satu tapi hanya remang saja. Aku bersandar, rasa kantuk langsung menerpaku. Berusaha tetap terjaga namun rasa kantuk mengalahkanku. Sesaat aku sudah memejamkan mata karena main ponsel pun tak bisa. Dengan mendekap erat tas selempangku yang berisi uang dua puluh juta tunai, ponsel mati dan alat make up minimalis. Aku baru saja memejamkan mata saat kurasakan mobil colt ini berguncang. Bukan guncangan mesin, melainkan guncangan dari langkah orang yang naik untuk masuk. Aku pikir itu penumpang lain. "Sstt... diam saja, Mbak. Tasnya berat ya? Sini, saya bantu bawakan," bisik sebuah suara serak yang membuat bulu kudukku berdiri. Tiga pria yang tadi bermain kartu kini sudah mengepung pintu mobil. Salah satunya sudah masuk dan mencoba menarik paksa tas selempang yang kudekap erat. Aku meronta, tenaga pria itu jauh lebih kuat. “Jangan! Lepaskan!” teriakku histeris. Aku mulai menendang-nendang asal, membuat mobil tua itu berguncang hebat. “Tolong! Tolong!!” “Sst! Tenang saja Mbak, saya akan pelan-pelan. Nggak bikin sakit...” lirihnya dengan mata sayu. Dua temannya yang berada di pintu tertawa cekikikan melihat temannya beraksi. “Ayo cepat, jangan lama-lama... gantian...” ujar salah satu pria yang berada di pintu. Pria yang menyentuhku sudah berhasil mendorongku ke jok mobil, ia hendak menindihku. Aku berteriak sekuat tenaga, detik berikutnya ia membekap mulutku. Baru saja aku hendak menggigit tangan pria yang membekap mulutku, ketika sebuah dentuman keras menghantam kap mesin mobil colt ini. BRAK! ***Suasana di lorong lantai tiga RS Medika Utama mendadak tegang. Mas Bara mendorong sendiri kursi roda yang kukenakan dengan hati-hati, didampingi dokter Diandra dan Hans yang berlari lebih dulu untuk membuka jalan. Keringat dingin membahasahi pelipis suamiku, raut wajahnya yang biasa tenang kini memancarkan kepanikan luar biasa.Perawat yang sudah bersiap di depan pintu bersalin segera membukakannya lebar-lebar."Napasnya diatur, Sil! Kita sudah sampai di kamar bersalin," seru dokter Diandra memberi instruksi tegas seraya bergerak cepat mengecek kesiapan peralatan."Pindah ke kasur ya, Sil..." ujar Dokter Diandra memandu.Mas Bara dengan sigap mengangkat tubuhku ke kasur bersalin dengan mudah."Mas... sakit sekali, Mas!" ringisku memegangi erat kemeja Mas Bara hingga kainnya kusut. Kontraksi yang makin rapat membuat seluruh persendianku bergetar hebat."Sabar ya, Sayang, Mas di sini. Pegang tangan Mas yang kuat," bisik Mas Bara dengan suara bergetar. Ia menggenggam erat jemariku, membi
Memasuki usia kehamilan sembilan bulan, aktivitas sehari-hariku belum sepenuhnya surut. Aku masih nekat bekerja di RS Medika Utama. Mas Bara sebenarnya tidak mau mengambil risiko sedikit pun dan bersikap jauh lebih protektif. Sesuai kesepakatan awal kami, begitu kehamilan masuk usia delapan bulan, aku seharusnya sudah istirahat dari seluruh kegiatan rumah sakit. Namun, dasar aku yang keras kepala, aku terus merajuk meminta kelonggaran hingga usia kehamilanku genap sembilan bulan.Selama tiga bulan belakangan ini, aku memang giat belajar kembali menjadi dokter yang utuh. Aku terjun dalam praktik penuh bersama dokter-dokter di RS Medika Utama. Aku ingin memahami seluruh seluk-beluk pekerjaan medis dari dokter yang kupimpin, bukan sekadar duduk di kursi direksi tanpa tahu dinamika lapangan. Ijazahku pun sudah berhasil diurus kembali, dan aku resmi mengantongi izin praktik. Aku punya impian besar untuk mengambil spesialisasi dokter anak kelak, walau tentu membutuhkan proses dan waktu yang
Kondisi fisik Mas Bara kini sudah jauh lebih bugar. Bekas luka operasi di dadanya tak lagi membatasi geraknya, dan stamina suamiku itu telah pulih hampir sempurna. Hanya bekas garis jahitan operasi yang tentu masih terlihat jelas jika ia membuka kemejanya. Ia tak lagi merasa minder dengan penampilan baru tubuhnya itu, terlebih setelah aku memujinya berkali-kali dan membiasakan diri menyapa dadanya dengan kecupan-kecupan hangat setiap kami bercinta. Pria itu tampak jauh lebih percaya diri saat hanya berdua denganku.Pagi itu, udara di sekitar pendopo utama Mansion Ananta terasa sejuk. Mas Bara berdiri tegak di tengah ruangan, meninjau langsung penataan dekorasi didampingi Hans, sekaligus memberikan arahan pengamanan utama saat prosesi berlangsung nanti.Pernikahan Dwi dan Yumna hari ini akan menjadi penutup manis seluruh kenangan di Mansion ini, sebelum bangunan megah tersebut benar-benar dilepas ke pembeli. Proses penataan tempat tinggal para selir pun sudah tuntas dipantau langsung o
Sudah satu bulan berlalu sejak malam pengakuan di ruang tunggu rumah sakit itu. Dalam perhitungan hari, ini adalah hari ke-30 sejak dokter Diandra tiba-tiba memintaku menjadi kekasihnya.Meskipun kami sudah beberapa kali bertemu, lidahku yang kaku ini masih saja sering keliru memanggilnya. Di luar jam tugas, saat kami hanya berdua, aku masih kerap keceplosan memanggilnya "Dokter" alih-alih Diandra. Wanita itu tentu saja akan langsung mendengus kesal, meski setelah itu ia kembali tersenyum.Aku sendiri terkadang masih merasa tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang pria kaku sepertiku, yang hidupnya hanya berputar di sekitar instruksi pengamanan dan pengawalan Tuan Sinyo, bisa memiliki kekasih secantik dan sehebat Diandra. Tuan dan Nyonya tentunya tidak mengetahui hubungan ini. Diandra ternyata sangat pintar menyimpan rahasia. Ia bisa bersikap begitu biasa saja saat bertemu Nyonya Silvia atau berbicara dengan Tuan Muda, padahal sesekali ia kerap mencuri pandang penuh arti ke arahku di
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.
‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore