Share

Bab 59

Penulis: Lyla Veil
last update Tanggal publikasi: 2026-08-03 15:19:57

Masih ada kebun cokelat, kopi, jagung, pepaya, dan jeruk yang belum kudatangi. Rasanya kalau harus mengelilingi semuanya sendirian, energiku bakal keburu habis duluan sebelum sempat melihat separuh dari total luas perkebunan Eyang Gun.

Aku menghela napas panjang, menyapu keringat dingin yang mulai membasahi pelipisku.

“Ayo Silvia, jangan malas! Kamu itu pewaris tunggal harta Eyang. Eyang mengandalkanmu!” gumamku menyemangati diri sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipiku pelan.

Kalimat afirmasi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 172

    Pagi hari, dokter keluarga datang untuk memeriksa Nyonya Salma sesuai permintaan Mas Bara. Setengah jam pemeriksaan pun selesai. Nyonya Salma masih berada di dalam kamar dibantu pelayan lain. Dokter pribadi keluarga baru saja keluar membawa sampel darah dan lembar pemeriksaan yang sempat kulihat sekilas. Dari hasil penanganan awal, Salma memang menunjukkan indikasi positif hamil, tetapi keputusan akhir masih menunggu tes darah laboratorium yang dibawa dokter.Hasil pemeriksaan medis baru keluar sore harinya. Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga, termasuk Nyonya Salma yang sedari tadi lebih banyak berdiam diri. Tuan Sinyo membuka amplop hasil tes yang membuat Ibu Diana, Yumna, dan tentu saja aku merasa penasaran. Saat itu aku melangkah mendekat untuk menaruh cangkir teh herbal untuk Nyonya Salma sambil menyimak situasi.Begitu Tuan Sinyo membaca lembaran surat itu, tubuhnya mendadak kaku."Apa hasilnya, Sinyo?" tanya Ibu Diana penuh harap."Kak Sinyo, kasih tahu kami... apa Ka

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 171

    Langkah kakiku terasa berat saat menyusuri koridor lantai dua menuju tangga. Suara panggilan Mas Bara yang samar-samar bergema di belakang tidak membuatku menoleh. Usapan kasar jemariku menyapu lelehan air mata yang akhirnya lolos di pipi.Nama Aditya yang diucapkannya tadi bukan sekadar kalimat emosional biasa. Itu adalah tanda bahwa di balik segala janji dan pelukannya, Mas Bara masih menyimpan luka dan ketidakpercayaan atas masa laluku. Menyukai pria yang tak bisa sepenuhnya melepaskan prasangka rasanya jauh lebih menyakitkan daripada melihatnya membela Salma di taman.Begitu sampai di lantai bawah, aku langsung masuk ke pantry, memutar keran air, dan membasuh wajahku berulang kali. Air dingin yang menerpa kulit membantu mengembalikan fokus. Aku merapikan apron, memastikan tidak ada bekas tangis di mata, lalu kembali menyibukkan diri memotong bahan makanan."Kak Silvia?"Aku terperanjat pelan, menoleh mendapati Yumna berdiri di ambang pintu pantry dengan nampan kosong di tangannya.

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 170

    Mas Bara memutar tubuhnya. Wajahnya tampak lelah, garis ketegangan tercetak jelas di dahi dan sekeliling matanya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia melangkah menghampiriku. Lengannya langsung merengkuh pinggangku, menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Pria itu menyandarkan kepalanya di bahuku, menghirup aroma tubuhku seolah mengisi kembali tenaganya yang terkuras oleh sandiwara ini.Aku membeku beberapa saat. Bayangan saat tangannya mengusap punggung Salma di taman tadi pagi masih teringat jelas, menyisakan rasa nyeri di dadaku. Sentuhan yang ia berikan pada wanita lain meski atas nama sandiwara, tetap saja memicu rasa cemburu."Maafkan aku, Silvia..." bisiknya pelan di dekat telingaku. "Maaf membuatmu harus menyaksikan semua ini."Aku menghela napas, meredam emosi yang berkecamuk. Perlahan, kuangkat tanganku untuk mengusap punggungnya yang tegang."Mas... apa maksud ucapanmu di taman tadi? Kamu bilang di hadapan semua orang bahwa kamu tidak akan pernah menceraikan Salma?"Mas Bara m

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 169

    Pemandangan di hadapanku terasa begitu membekukan. Nyonya Salma meremas bagian depan kemeja kusut yang dipakai Mas Bara, menyembunyikan wajah basahnya di sana. Tangan pria itu membelai punggung Nyonya Salma pelan, memberi kenyamanan yang tampak begitu alami bagi siapa pun yang melihatnya dari luar.Hanya beberapa jam lalu, lengan yang sama memelukku erat di balik selimut di kamarku. Namun kini, di bawah terik matahari pagi, lengan itu melindungi istri keduanya di hadapan seluruh penghuni paviliun."Silvia, ambilkan air hangat dan handuk kecil," suara Sinyo terdengar tenang, datar, dan begitu berjarak. Ia sama sekali tidak menatap mataku saat memerintah. “Tangan Salma terbentur besi.”Aku menunduk dalam-dalam, menyembunyikan getaran di bibirku. "Baik, Tuan."Yumna dan Ibu Diana keluar dari tempat persembunyian mereka, melangkah mendekat untuk membantu Salma yang masih terisak payah. Aku berbalik cepat, setengah berlari menuju pantry untuk menyiapkan apa yang diminta. Di dalam dapur yan

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 168

    Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh. Hari ini aku dan Mas Bara bangun kesiangan.“Astaga!”Aku mendapati pria itu masih tertidur di sisiku. Lengannya yang kokoh masih memeluk tubuhku. Dan samar-samar terdengar suara ribut di taman.Aku menggoyang tubuh Mas Bara yang masih tertidur pulas. Antara tidak tega membangunkannya tapi juga ini bahaya jika diketahui penghuni paviliun terutama Nyonya Salma.“Mas Bara, bangun...”Bara mengerjap, lalu membuka matanya dengan enggan.“Selamat pagi, Sayang...”“Astaga Mas, kita kesiangan. Cepat mandi dan pakai pakaianmu,” ujarku semakin panik melihat ketenangannya. “Sebaiknya aku yang keluar lebih dulu... aduh... nggak bisa mandi dulu kalau kesiangan begini.”Mas Bara malah tersenyum melihat kepanikanku, mondar-mandir bingung harus melakukan apa dulu.“Mas, itu di luar ada ribut-ribut. Mas harus melihatnya.”Bara sudah bersandar di ranjang, bagian bawah tubuhnya masih tertutupi selimut.“Huft! Aku bersih-bersih dulu,” ujarku sambil m

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 167

    Aku menyandarkan tubuhku di dinding pantry yang dingin, menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Tangisku pecah tanpa suara. Setiap inci tubuhku bergetar hebat menahan gejolak emosi yang mendadak menghantam.Malam pertama? Hamil?Kalimat Nyonya Salma terus berputar di dalam kepalaku. Pengetahuan medisku berusaha merasionalkan segalanya tentang kemungkinan kehamilan palsu akibat stres atau cemas berlebih yang memicu mual dan peningkatan denyut nadi. Namun, sisi diriku sebagai seorang wanita dan istri rahasia Tuan Sinyo menolak teori medis itu. Rasa cemburu dengan cepat melumpuhkan logikaku.Apakah Mas Bara membohongiku selama ini? Apakah di balik sikap dinginnya, ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami pada Nyonya Salma?Aku segera menggeleng, berusaha menepis prasangka burukku tentang Mas Bara.‘Tidak boleh, sedikit pun aku tidak boleh ragu pada Mas Bara,’ tegasku pada diri sendiri walaupun rasanya perih.Aku langsung menghapus sisa air mata, bernapas dengan ritme

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 2

    Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 1

    ‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 7

    Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 6

    “Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status