Chapter: Bab 31. Tutup"Katanya restoran lagi sepi.""Terus?""Minta tambahan modal."Fika menutup matanya sesaat. "Astagaa."Laras membuka aplikasi mobile bankingnya. Jarinya beberapa kali mengetuk layar, sampai akhirnya..Transfer Berhasil.Begitu tulisan yang tertera di layar ponselnya.Fika sampai melongo melihat kelakuan sahabatnya itu. "Terus langsung kamu kirim?""Iya.""Lars..""Aku tahu," potong Laras."Nggak, kamu nggak tahu."Laras hanya tersenyum kecil menanggapi kemarahan Fika. Wajar saja ia marah, melihat kebodohan sahabatnya secara langsung di depan matanya membuat darahnya mendidih.Fika bersandar di kursinya. "Kamu sadar nggak sih, mereka sudah terlalu memanfaatkan kamu?""Aku udah mutusin buat bertahan, Fik.""What??? Lu gila, hah?!" Fika benar-benar murka."Sementara ini.""Apa maksudnya?""Suatu saat bakal aku tinggalin semuanya, tapi nanti."Fika langsung mengernyit. "Suatu saat? Kenapa nggak sekarang aja? Apa alasannya? Masih sayang sama si babi?""Astaga, Fika. Namanya Bagas.""Bodo a
Last Updated: 2026-06-10
Chapter: Bab 30. Rumah Makan PadangJarak mereka terlalu dekat.Harum aroma kopi, bercampur dengan aroma parfum raksa. Entah kenapa Laras tiba-tiba merasa gugup.Raksa juga baru menyadarinya. Beberapa detik kemudian ia langsung melepaskan tangan Laras.Keduanya canggung.Walau sebentar, Raksa merasa seolah baru saja tersengat listrik. Tapi ia tidak membenci sensasi itu, ia justru.. menyukainya. Jika itu karena Laras, ia rela tersengat berapa kali pun."Maaf, saya reflek karena tadi kamu hampir jatuh."Laras berdeham. "Nggak apa-apa, Pak. Saya justru berterima kasih sama Bapak."Hening.Suasana menjadi semakin canggung.Lalu Raksa melihat gelas kopi Laras. "Kopi kamu nggak tumpah?"Laras mengangguk. "Aman, Pak.""Ya sudah kalau begitu," jawab Raksa datar.Ia kemudian berlalu, berjalan mendahului Laras menuju lift dengan wajah tanpa ekspresinya. Berbeda dengan dadanya berdendang heboh.Setelah pintu lift tertutup, Raksa baru bisa bernapas lega. Ia memegang dadanya yang masih berdetak tidak karuan."Huff.." ia menarik napa
Last Updated: 2026-06-06
Chapter: Bab 29. Susu Coklat"Tapi, Mas..""Udah, nggak ada tapi-tapian." Kali ini ucapan bagas benar-benar ketus.Linda terdiamLaras yang melihat suasana diantara keduanya mulai memanas, akhirnya angkat bicara. Kalau dilanjutkan, bisa-bisa ia telat ke kantor. "Mas, inget.. jangan marah-marah."Bagas menoleh. "Maaf, Sayang.""Nggak baik buat..""Buat bayinya, iya Mas tahu," potong Bagas. "Maaf ya istriku, malah kamu yang lebih perhatian ke anak kita."Bukannya minta maaf ke Linda, Bagas malah minta maaf ke Laras.Lagi-lagi Laras.Padahal baru beberapa menit yang lalu Bagas membandingkan masakannya dengan Laras. Dan sekarang Bagas melakukannya lagi.Terlalu lama menahan emosi, Linda akhirnya meracau. "Anak kita? Ini anak Linda sama Mas Bagas, kenapa Mbak Laras..""Linda cukup!" bentak Bagas. "Kamu harus menghormati Laras, Lin. Dia istri Mas, ke depannya pun kamu juga. Laras saja sudah mau menerima kamu," tegur Bagas."Maaf, Mas.." Linda berusaha mengalah.Meskipun penglihatannya kabur karena air mata yang menggen
Last Updated: 2026-06-06
Chapter: Bab 28. Senjata Makan TuanLinda yang melihat itu langsung menegang, ia mulai merasakan firasat buruk. "Mas, kenapa?" tanyanya."Kamu masukin berapa banyak garam sih. Ini asin banget.""Hah? Asin, Mas? Apanya?""Ya omeletnya lah!" kesal Bagas."Mas, tapi..""Tapi apa?"Linda pucat seketika. Harusnya yang asin itu ada di meja Laras. Kenapa bisa ada di situ? Linda mulai berpikir dia salah fokus dan salah mengira tempat Bagas itu kursi Laras biasa duduk.Linda melirik Laras, ia terlihat makan dengan lahap dan tidak terganggu dengan rasa masakannya."Lin, lain kali garamnya dikurangi. Kalau bingung tanya Laras, jangan sok tahu." Ia kembali mencicipi sedikit lalu meringis. "Masih jauh lebih enak masakan Laras."Linda hampir tersedak mendengarnya."Mas," panggil Laras.Bagas menoleh, ia baru menyadari makanan Laras yang tinggal separuh. "Sayang, kamu makan makanan itu?? Jangan dimakan," Bagas menghentikan tangan Laras yang hendak menyendokkan nasi. "Itu kan asin," lanjutnya."Makan saja, Mas.""Tapi sayang, ini terla
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 27. Omelet SpesialBegitu langkah suaminya menghilang, senyum di wajah Laras langsung luruh seketika.Laras berdiri cepat, nyaris berlari menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar utama. Pintunya ia tutup keras.Di depan wastafel ia tertegun, tangannya mencengkeram wastafel sambil terengah. Mendadak perutnya terasa sangat mual.Bayangan ciuman Bagas beberapa saat lalu memenuhi kepalanya. Dengan bibir yang sama, sentuhan yang sama pula, juga diberikan kepada Linda."Menjijikkan.." bisik Laras lirih.Dadanya menahan sesak yang teramat menyiksa. Membuat Laras akhirnya memuntahkan isi perutnya ke wastafel. Beriringan dengan itu, air matanya jatuh tanpa suara.***Laras yang tadinya berniat menuju ke dapur menghentikan langkahnya. Ia melihat seseorang sudah lebih dulu berada di sana, sedang menyiapkan sarapan."Linda?" gumamnya lirih.Aroma bawang putih dan mentega memenuhi udara. Linda terlihat berdiri di depan kompor sambil bersenandung pelan. Ia tampak sangat ceria, berbeda dengan ekspresinya semalam saa
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 26. Momen RomantisBagas bahkan mencoba kembali mencium Laras, satu tangannya ia gunakan menahan tengkuk istrinya, menjeratnya dalam dekapan.Namun, sebelum bibir mereka benar-benar bertemu, Laras buru-buru mengangkat tangannya. Telapak tangannya menahan bibir suaminya.Bagas terdiam sesaat.Alih-alih kesal, ia justru tersenyum usil. Ia menatap sang istri dengan lembut. Dan tanpa diduga, ia mengecup telapak tangan Laras yang masih menutupi bibirnya."Kenapa? Mas nggak boleh cium istri sendiri? Kamu sekejam itu sama Mas, Sayang?" goda Bagas lirih.Laras menahan napas. Jantungnya berdetak tidak nyaman ketika mata Bagas terus menatapnya tanpa berkedip dengan sorot sendunya."Mas, jangan begitu," gumam Laras pelan sambil berusaha menarik tangannya kembali.Tapi Bagas menggenggam tangan itu lebih dulu."Kalau Mas nggak boleh cium, ya sudah.." ucapnya dengan nada pura-pura pasrah. "Tapi yang lain boleh ya, Sayang.. hmm?"Laras mendengus pelan. "Mas, jangan nakal."Bagas tertawa ringan, suaranya rendah dan han
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Bab 198. Lamaran (Tamat)"Sssttt.." Liora menempelkan telunjuk di bibirnya.Sarah mengangguk. Ia kira Luzark sudah pergi."Sarah, kenapa kau tidak menjawab? Aku akan mendobrak pintunya jika kau tidak..""Jangan! Jangan masuk.." panik Sarah."Kenapa? Ada yang mengancammu di sana? Aku akan dobrak sekarang."Terdengar suara derap langkah kaki."Aku sedang tidak memakai baju!" seru Sarah spontan.Luzark mengerjap, ia membeku. Hening seketika.Liora menunduk dengan bahu bergetar, ia juga terkejut dengan improvisasi Sarah. Bisa-bisanya ia menggunakan alasan itu, Luzark pasti sangat syok di luar sana."Ukh..." Sarah menunduk malu, ia merutuki dirinya yang malah membuat alasan konyol itu."Maafkan ketidaksopananku, Sarah. Aku tidak tahu situasimu...""T-tidak apa-apa, Yang Mulia.""Kukira kau tidur karena tidak menjawabku." suara Luzark sendu. "Istirahatlah, aku akan datang lagi besok."Suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar semakin tipis. Sejak tadi, Luzark belum beranjak dari tempatnya. Dia juga menolak k
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: Bab 197. Demi Sang PutriTidak ada jawaban."Sarah, bagaimana keadaanmu?""Saya baik-baik saja Yang Mulia, terima kasih sudah mengkhawatirkan saya.""Bagaimana aku bisa tahu kau baik-baik saja atau tidak. Biarkan aku melihatmu sebentar.""Tidak. Jangan." jawab Sarah cepat. "Saya sungguh minta maaf Yang Mulia."Hanya itu yang Sarah ucapkan. Setelahnya ia tidak menjawab apa pun lagi ucapan maupun panggilan Luzark."Apa yang terjadi? Dia sedang main tarik ulur? Hah. Tidak Lucu."Luzark bahkan sampai mengunjungi tabib istana untuk menanyakan keadaan Sarah. Katanya, Sarah terkena flu, saat ini demamnya sudah turun. Tapi ia masih harus istirahat sampai beberapa hari ke depan."Jadi dia benar-benar sakit," gumam Luzark. "Tapi apa hubungannya itu dengan dia yang tidak mau menemuiku?!" celoteh Luzark frustasi.***"Hmm.. jadi begitu," jawab Liora santai setelah mendengarkan keluhan kakaknya yang panjang lebar. Semuanya tentang Sarah.Liora menyungginggkan senyum, ia turut senang dengan perubahan kakaknya itu. Tanpa Lu
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: Bab 196. Penolakan Sarah"Kenapa? Cuacanya sedang bagus. Ini waktu yang sangat pas untuk minum teh."Luzark duduk dengan kesalnya. "Suruh dia berhenti menempel padaku."Leonel menatap Luzark dengan pandangan iba. "Hahh, kau kira aku bisa mengatur adikku?""Tetap saja, kau kakaknya.""Hei, aku juga korban karena menjadi kakaknya." Luzark menyajikan teh di hadapan Luzark. "Nah, minumlah dulu. Kapan lagi seorang kaisar sepertiku membuatkan teh.""Cih." Luzark menyeruput tehnya, bagaimana pun Luzark sangat menghormati Leonel."Sejak kecil, Sarah itu jelmaan siluman banteng. Ia selalu mengamuk dan menggebu-gebu. Pernah suatu ketika, ia mengunci guru etika di kandang kuda hanya karena guru itu membentak pelayan pribadi Sarah.""Itu tidak ada hubungannya denganku kan.""Ia juga pernah menyamar jadi pelayan hanya untuk keluar jalan-jalan di pusat kota seharian. Karena tidak ada satu pun yang tahu, kami sempat mengira itu penculikan. Tapi gadis kecil itu malah pulang dengan rok penuh tanah dan wajah yang sangat kotor.
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: Bab 195. Siluman BantengTumben? Liora merasa aneh dengan Morgan yang tenang seperti ini, padahal sejak malam pertama, ia sangat beringas dan tidak sabaran. Bukan berarti Liora mengharapkan itu, hanya saja.. sepertinya ada yang sedang Morgan pikirkan."Morgan.." panggil Liora, tangannya mengusap lembut sisi wajah suaminya. "Ada apa? Kau sedang memikirkan sesuatu kan?"Bukannya menjawab, Morgan memejamkan matanya. Menikmati belaian lembut istrinya. Baru kali ini ia merasa begitu disayangi. Liora adalah dunianya, segalanya bagi Morgan."Aku hanya merasa.. bersyukur. Kau adalah berkah bagiku, tapi.. apakah aku juga begitu?" ucap Morgan lirih."Istriku.." lanjutnya. "Kau wanita yang amat sempurna, kau yang seperti itu pun amat berharga bagi kakakmu. Terkadang aku berpikir, apa aku yang seperti ini pantas mendapatkanmu? Apa aku sudah merenggut kebahagiaan kakak beradik yang harmonis?""Kau jadi kepikiran karena Luzark sampai sekarang masih merajuk begitu?""...""Morgan, Luzark bukan orang yang akan mengijinkanku
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: Bab 194. Kesepian"Astaga, Luz. Apa kau sungguh tidak pernah sekali pun berpacaran? Atau.. dekat dengan wanita?" potong Leonel, yang entah sejak kapan sudah ada di ruangan itu dan duduk di kursi."Memang kenapa? Apa hubungannya semua ini dengan.."Luzark terdiam, ia sepertinya baru menyadari sesuatu. Ia menoleh cepat pada Morgan, matanya berkilat marah. Dengan langkah tergesa, ia menghampiri dan mencengkeram kerah pakaian Morgan."Dasar monster sialan," desisnya."Maafkan saya Yang Mulia, adik anda terlalu cantik, mempesona, dan juga indah. Sampai-sampai saya terpikat dan tidak mampu melepaskan pandangan saya darinya walau sebentar.""Kau benar, adikku memang can.." Luzark sedikit teralihkan, ia memang selalu membanggakan adiknya kemana-mana. "Hei! Meskipun adikku sesempurna itu, harusnya kau menjaganya. Kau harus memikirkan kesehatannya, sialan!""Saya bersalah, Yang Mulia. Saya mengakuinya, maafkan saya.""Luz, hentikan. Aku malu." Liora menutupi wajahnya yang kini sudah semerah tomat."Tunggu Lio, a
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 193. MonsterSejak pagi yang menghebohkan seluruh istana, banyak mata yang semakin memperhatikan gerak gerik sepasang pemeran utama dari rumor tersebut. Sarah dan Luzark.Mereka semua memperkirakan kemana arah politik dari kekaisaran Luminous."Bawa dia," ucap Luzark tegas."Itu.. sulit Luz, kaulah yang paling tahu. Dia bisa mengamuk seperti banteng kelaparan jika aku menyuruhnya pulang bersamaku," sesal Leonel."Kapan kau kembali?""Lusa, aku sudah terlalu lama meninggalkan kekaisaran.""Nah, bawa bantengmu itu sekalian. Jika tidak bisa baik-baik, bawa paksa saja," ujar Luzark, terlihat kantong mata di bawah matanya."Pfft.""Kau tertawa? Apa ini lucu bagimu?" Luzark mendengus, saat ini ia merasa sangat kesal."Tidak, hanya saja.. aku ingin memperingatkanmu. Ini bisa jadi senjata makan tuan.""Apa maksudmu? Sarah jadi berbalik membenci dan menyerangku?" Luzark menaikkan sebelah alisnya. "Yah.. itu lebih baik.""Dasar bodoh.""Kenapa tiba-tiba mengataiku bodoh, dasar pria tua.""Wah wah, lihatlah
Last Updated: 2026-05-03