Chapter: Bab 62. Bertukar NomorRaksa menatap Linda sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Laras. "Mau nambah?"Laras menoleh, Raksa menunjuk piring Laras dengan dagunya. "Kamu makan lahap sekali, kalau masih kurang pesan lagi," ucapnya lembut.Linda yang daritadi bicara langsung terdiam. Raksa tidak meresponnya. Seolah ia tidak ada di sana.Linda tersenyum kaku. "Pak Raksa...""Makan kamu sedikit, pantas pertumbuhan kamu terhenti," ledek Raksa, yang tentu saja tertuju pada pujaan hatinya, Laras."Saya makan banyak, kok," protes Laras, ia tidak terima.Linda memperhatikan keduanya. Tatapan Raksa kepada Laras jelas-jelas bukan seperti seorang atasan ke karyawannya.Linda masih terus berusaha mengembalikan percakapan. Kenapa selalu Laras, lagi-lagi Laras. Ia dibakar amarah sejak semalam karena Bagas malah memikirkan Laras saat bersamanya, dan sekarang.. lelaki setampan Raksa malah memperhatikan Laras.Dasar perempuan gatel, nggak cukup Mas Bagas, sekarang Pak Raksa juga.. Linda menggigit bibirnya, rasa ir
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: Bab 61. Makan SiangBegitu tiba di kantor, meja kerja Laras sudah penuh oleh berkas.Matanya berbinar, ia meregangkan tangannya sebelum mulai membereskan kekacauan yang menumpuk di atas mejanya. Laras jadi semakin menyukai pekerjaannya, karena sekalipun membuat sakit kepala, setidaknya ia tidak mengingat rumah tangganya saat bekerja.Laras meletakkan tas, lalu meraih ponsel. Ternyata layarnya tidak menyala. "Baterainya habis?"Laras baru teringat bahwa semalam ia tidak mengecas ponsel. Ia segera mencolokkannya ke charger. Ia memilih mengabaikannya untuk sementara dan mulai fokus.Ketika jam makan siang tiba, Fika menghampiri meja Laras."Makan, yuk."Laras mengangkat kepala dari balik tumpukan kertas."Ayo. Aku juga udah lapar."Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika seorang karyawan dari bagian depan menghampiri."Bu Laras. Ada yang mencari Ibu di lobi."Laras berhenti. "Siapa?""Katanya keluarga Ibu."Fika langsung menoleh. "Siapa, Lars?"Laras mengendikkan bahunya tak acuh. "Nggak tahu."Sesampa
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: Bab 60. Suami yang AdilLaras sontak beringsut menjauh, membuat Raksa terbahak."Pfft.. Jangan takut, saya cuma bercanda. Kamu pikir saya akan benar-benar melakukannya?""Kelihatannya begitu," gumam Laras."Saya jadi tersinggung. Secara tidak langsung kamu ngatain saya mesum?""Emangnya nggak?" sungut Laras."Yah.. kamu tidak salah sih," canda Raksa, membuat Laras terbelalak. "Nah.. panggil saya Mas. Ayo, coba..""Kenapa harus Mas, sih?" gerutu Laras, ia lalu memalingkan wajahnya ke jendela, menatap gelapnya malam."Kalau kamu terus-terusan manggil saya Pak, ngobrol santai pun rasanya kaya lagi rapat. Hahh.." Raksa menghela napas. "Saya ingin pembicaraan kita lebih santai.""...""Atau... Kamu masih merasa nggak nyaman sama saya? Kamu sengaja jaga jarak?" tanya Raksa, ia terdengar sedih.Laras semakin gusar. "Mas.. Raksa," panggilnya malu-malu.Senyum Raksa mengembang."Kenapa Bapak senyum-senyum gitu? Aneh kan?" protes Laras.Raksa tertawa, membuat Laras semakin salah tingkah. Dari sudut matanya, ia melihat
Last Updated: 2026-09-29
Chapter: Bab 59. Candaan Berbahaya"Pak, udah jam segini." Laras baru menyadari waktu sudah mendekati tengah malam.Raksa melirik jam di pergelangan tangannya. "Hm, lalu? Kenapa?"Laras membelalak. "Emangnya Bapak nggak mau pulang?""Nggak," jawab Raksa ketus, ia kesal.. kenapa waktu cepat sekali berlalu.Laras tidak habis pikir, kenapa lelaki di depannya itu senang sekali mencari ribut dengannya. "Kalau kita jalan sekarang, kira-kira bisa sampai di kota S jam berapa, Pak?" "Kalau jalanan lancar, sekitar dini hari.""Maaf, Pak. Saya terlalu asyik belanja sampai lupa waktu."Laras membeli pernak pernik lucu, dan beberapa barang lain. Ia memanfaatkan uang Raksa dengan baik, anggap saja lemburan menemani atasan? Siapa suruh dompetnya disita."Jangan merasa bersalah. Saya juga menikmatinya. Dan juga.. kan saya yang ngajak kamu jalan-jalan."Laras baru teringat dompetnya masih ada di Raksa. "Pak, dompet saya..""Nanti, kalau udah sampai. Kamu nggak lihat saya lagi fokus nyetir?" Tiba-tiba terbesit pikiran untuk mengusili L
Last Updated: 2026-09-29
Chapter: Bab 58. KencanLaras menatapnya curiga. "Film? Tiba-tiba? Sekarang?""Iya.""Film apa?""Nanti kamu juga tahu.""Bapak kan bisa nonton nanti kalau sudah di kota S. Kenapa harus jauh-jauh di sini?""Sama kamu?""Kenapa sama saya?""Barusan kamu ngajak saya nonton lagi kan kalau udah di kota S? Oke, saya akan meluangkan waktu buat kamu.""Astaga," Laras memijat pelipisnya.Mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Laras menatap Raksa, ia masih tidak percaya dengan kelakuan random atasannya itu."Pak, kita beneran mau nonton?"Raksa turun dari mobil, lalu berjalan mengitari bagian depan kendaraan untuk membukakan pintu bagi Laras. "Kamu masih mempertanyakan itu setelah kita berhenti di sini. Ayo turun, princess."Laras merengut, ia menerima uluran tangan Raksa dan turun dari mobil dengan bibirnya yang mengerucut."Kenapa kamu memasang wajah menggoda begitu, kamu minta saya cium?" Raksa berbisik di sebelah Laras.Laras langsung memukul Raksa, ia celingukan ke sana sini, takut orang di sekitar mereka
Last Updated: 2026-09-14
Chapter: Bab 57. Jalan-jalanLaksmi bangkit dan menghampiri Laras. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeluk Laras.Laras sedikit terkejut dengan sikap tiba-tiba Laksmi padanya. Namun sesaat kemudian, tubuhnya perlahan lebih rileks dalam pelukan itu."Kalau kamu capek, jangan dipendam sendiri ya," bisik Laksmi.Laras menelan ludah. "Iya, Tante.""Mamah kamu mungkin tinggal di kota sebrang, tapi di sini ada Tante. Jangan sungkan untuk datang ke sini kalau kamu butuh sesuatu, ya?"Laras mengangguk. Ia merasa takjub, bagaimana bisa ibu dan anak mengatakan hal yang sama padanya."Terima kasih, Tante."Menjelang sore, Dyah dan Laras akhirnya berpamitan."Terima kasih udah mampir," kata Laksmi. "Kapan-kapan main ke sini lagi ya, yang lama. Kalau bisa nginep."Dyah terkekeh, ia sudah lebih lega setelah mencurahkan isi hatinya pada Laksmi. "Iya, iya."Laras memeluk Laksmi sekali lagi. "Kami pulang ya, Tante."Baru saja mereka hendak menuju mobil, terdengar suara langkah dari arah dalam rumah. Raksa menghampiri mereka, ia
Last Updated: 2026-09-14
Chapter: Bab 198. Lamaran (Tamat)"Sssttt.." Liora menempelkan telunjuk di bibirnya.Sarah mengangguk. Ia kira Luzark sudah pergi."Sarah, kenapa kau tidak menjawab? Aku akan mendobrak pintunya jika kau tidak..""Jangan! Jangan masuk.." panik Sarah."Kenapa? Ada yang mengancammu di sana? Aku akan dobrak sekarang."Terdengar suara derap langkah kaki."Aku sedang tidak memakai baju!" seru Sarah spontan.Luzark mengerjap, ia membeku. Hening seketika.Liora menunduk dengan bahu bergetar, ia juga terkejut dengan improvisasi Sarah. Bisa-bisanya ia menggunakan alasan itu, Luzark pasti sangat syok di luar sana."Ukh..." Sarah menunduk malu, ia merutuki dirinya yang malah membuat alasan konyol itu."Maafkan ketidaksopananku, Sarah. Aku tidak tahu situasimu...""T-tidak apa-apa, Yang Mulia.""Kukira kau tidur karena tidak menjawabku." suara Luzark sendu. "Istirahatlah, aku akan datang lagi besok."Suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar semakin tipis. Sejak tadi, Luzark belum beranjak dari tempatnya. Dia juga menolak k
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: Bab 197. Demi Sang PutriTidak ada jawaban."Sarah, bagaimana keadaanmu?""Saya baik-baik saja Yang Mulia, terima kasih sudah mengkhawatirkan saya.""Bagaimana aku bisa tahu kau baik-baik saja atau tidak. Biarkan aku melihatmu sebentar.""Tidak. Jangan." jawab Sarah cepat. "Saya sungguh minta maaf Yang Mulia."Hanya itu yang Sarah ucapkan. Setelahnya ia tidak menjawab apa pun lagi ucapan maupun panggilan Luzark."Apa yang terjadi? Dia sedang main tarik ulur? Hah. Tidak Lucu."Luzark bahkan sampai mengunjungi tabib istana untuk menanyakan keadaan Sarah. Katanya, Sarah terkena flu, saat ini demamnya sudah turun. Tapi ia masih harus istirahat sampai beberapa hari ke depan."Jadi dia benar-benar sakit," gumam Luzark. "Tapi apa hubungannya itu dengan dia yang tidak mau menemuiku?!" celoteh Luzark frustasi.***"Hmm.. jadi begitu," jawab Liora santai setelah mendengarkan keluhan kakaknya yang panjang lebar. Semuanya tentang Sarah.Liora menyungginggkan senyum, ia turut senang dengan perubahan kakaknya itu. Tanpa Lu
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: Bab 196. Penolakan Sarah"Kenapa? Cuacanya sedang bagus. Ini waktu yang sangat pas untuk minum teh."Luzark duduk dengan kesalnya. "Suruh dia berhenti menempel padaku."Leonel menatap Luzark dengan pandangan iba. "Hahh, kau kira aku bisa mengatur adikku?""Tetap saja, kau kakaknya.""Hei, aku juga korban karena menjadi kakaknya." Luzark menyajikan teh di hadapan Luzark. "Nah, minumlah dulu. Kapan lagi seorang kaisar sepertiku membuatkan teh.""Cih." Luzark menyeruput tehnya, bagaimana pun Luzark sangat menghormati Leonel."Sejak kecil, Sarah itu jelmaan siluman banteng. Ia selalu mengamuk dan menggebu-gebu. Pernah suatu ketika, ia mengunci guru etika di kandang kuda hanya karena guru itu membentak pelayan pribadi Sarah.""Itu tidak ada hubungannya denganku kan.""Ia juga pernah menyamar jadi pelayan hanya untuk keluar jalan-jalan di pusat kota seharian. Karena tidak ada satu pun yang tahu, kami sempat mengira itu penculikan. Tapi gadis kecil itu malah pulang dengan rok penuh tanah dan wajah yang sangat kotor.
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: Bab 195. Siluman BantengTumben? Liora merasa aneh dengan Morgan yang tenang seperti ini, padahal sejak malam pertama, ia sangat beringas dan tidak sabaran. Bukan berarti Liora mengharapkan itu, hanya saja.. sepertinya ada yang sedang Morgan pikirkan."Morgan.." panggil Liora, tangannya mengusap lembut sisi wajah suaminya. "Ada apa? Kau sedang memikirkan sesuatu kan?"Bukannya menjawab, Morgan memejamkan matanya. Menikmati belaian lembut istrinya. Baru kali ini ia merasa begitu disayangi. Liora adalah dunianya, segalanya bagi Morgan."Aku hanya merasa.. bersyukur. Kau adalah berkah bagiku, tapi.. apakah aku juga begitu?" ucap Morgan lirih."Istriku.." lanjutnya. "Kau wanita yang amat sempurna, kau yang seperti itu pun amat berharga bagi kakakmu. Terkadang aku berpikir, apa aku yang seperti ini pantas mendapatkanmu? Apa aku sudah merenggut kebahagiaan kakak beradik yang harmonis?""Kau jadi kepikiran karena Luzark sampai sekarang masih merajuk begitu?""...""Morgan, Luzark bukan orang yang akan mengijinkanku
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: Bab 194. Kesepian"Astaga, Luz. Apa kau sungguh tidak pernah sekali pun berpacaran? Atau.. dekat dengan wanita?" potong Leonel, yang entah sejak kapan sudah ada di ruangan itu dan duduk di kursi."Memang kenapa? Apa hubungannya semua ini dengan.."Luzark terdiam, ia sepertinya baru menyadari sesuatu. Ia menoleh cepat pada Morgan, matanya berkilat marah. Dengan langkah tergesa, ia menghampiri dan mencengkeram kerah pakaian Morgan."Dasar monster sialan," desisnya."Maafkan saya Yang Mulia, adik anda terlalu cantik, mempesona, dan juga indah. Sampai-sampai saya terpikat dan tidak mampu melepaskan pandangan saya darinya walau sebentar.""Kau benar, adikku memang can.." Luzark sedikit teralihkan, ia memang selalu membanggakan adiknya kemana-mana. "Hei! Meskipun adikku sesempurna itu, harusnya kau menjaganya. Kau harus memikirkan kesehatannya, sialan!""Saya bersalah, Yang Mulia. Saya mengakuinya, maafkan saya.""Luz, hentikan. Aku malu." Liora menutupi wajahnya yang kini sudah semerah tomat."Tunggu Lio, a
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 193. MonsterSejak pagi yang menghebohkan seluruh istana, banyak mata yang semakin memperhatikan gerak gerik sepasang pemeran utama dari rumor tersebut. Sarah dan Luzark.Mereka semua memperkirakan kemana arah politik dari kekaisaran Luminous."Bawa dia," ucap Luzark tegas."Itu.. sulit Luz, kaulah yang paling tahu. Dia bisa mengamuk seperti banteng kelaparan jika aku menyuruhnya pulang bersamaku," sesal Leonel."Kapan kau kembali?""Lusa, aku sudah terlalu lama meninggalkan kekaisaran.""Nah, bawa bantengmu itu sekalian. Jika tidak bisa baik-baik, bawa paksa saja," ujar Luzark, terlihat kantong mata di bawah matanya."Pfft.""Kau tertawa? Apa ini lucu bagimu?" Luzark mendengus, saat ini ia merasa sangat kesal."Tidak, hanya saja.. aku ingin memperingatkanmu. Ini bisa jadi senjata makan tuan.""Apa maksudmu? Sarah jadi berbalik membenci dan menyerangku?" Luzark menaikkan sebelah alisnya. "Yah.. itu lebih baik.""Dasar bodoh.""Kenapa tiba-tiba mengataiku bodoh, dasar pria tua.""Wah wah, lihatlah
Last Updated: 2026-05-03