登入Di tahun kelima pernikahannya, Laras tidak pernah membayangkan bahwa rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati akan retak oleh satu kalimat sederhana. "Sayang, aku membawa anak... untuk kita." Senyum yang terukir di wajah Bagas terasa selembut pisau yang mengoyak hati Laras hingga tak bersisa. Tanpa rasa bersalah, ia memperkenalkan perempuan muda dengan perut membesar yang berdiri di sampingnya. Kepercayaannya runtuh dalam sekejap. Di tengah luka yang belum sempat mengering, hadir seorang pria yang diam-diam telah lama menyimpan perasaan padanya, mengulurkan tangan, dan menjanjikan masa depan yang baru. Namun, bisakah Laras percaya lagi setelah dikhianati sedalam itu? Haruskah ia pergi meninggalkan Bagas dan segala kenangan yang pernah mereka bangun, atau bertahan... dalam rumah tangga yang kini terasa pahit?
查看更多Laras panik, ia langsung mengakhiri panggilan secara sepihak. "Kenapa Bapak malah ikut ngomong? Kalau Fika tahu gimana?""Kenapa tidak kamu beri tahu saja sekalian?" Raksa malah balik tanya."Jangan, nggak boleh, Pak.""Kenapa?""Nanti Fika heboh, Pak."Raksa mengangkat alis. "Lalu, masalahnya apa?""Nanti orang-orang kantor tahu, bisa-bisa ada gosip aneh nanti." Laras bergidik, membayangkannya saja sudah merinding.Raksa menyeruput kopinya dengan tenang. "Memangnya gosip seperti apa yang kamu maksud?"Laras menatapnya tidak percaya. "Pak, Orang kantor itu imajinasinya lebih liar daripada penulis novel."Raksa hampir tersedak kopinya. "Justru itu bagus," gumam Raksa lirih.***Sementara itu, Bagas sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan bersama Linda. Mereka berdiri di depan deretan pakaian bayi yang berwarna-warni. Linda mengambil sebuah baju mungil berwarna putih, kemudian menempelkannya di depan tubuhnya."Bagus nggak, Mas?"Bagas tersenyum. "Bagus.""Kalau yang ini?" Linda meng
"S-siapa yang godain Bapak? Saya mana berani.""Kamu nggak tahu kalau kamu jadi lebih imut kalau merajuk? Kamu sengaja memperlihatkan itu ke saya? Hmm?"Laras langsung menutup wajah dengan kedua tangan. Ia lupa tangannya mengandung sambal, akibatnya matanya terasa perih. "Argh!"Tawa Raksa kembali pecah."Saya masuk dulu, Pak.""Iya, iya silahkan.. hahaha."Raksa menatap Laras yang kini berlari masuk. Ia lalu menggeleng sambil tersenyum. "Laras, maaf.. saya sudah nggak bisa mundur lagi kalau begini."Tak lama setelah Laras masuk ke dalam rumah, terdengar suara keran dari arah belakang.Raksa masih berdiri di teras, memandangi kebun yang terbentang di hadapannya. Sesekali matanya melirik ke meja, tepat pada piring kosong bekas Laras makan. Ia tersenyum sendiri mengingat tingkah perempuan itu tadi.Beberapa menit kemudian, Laras kembali dengan wajah yang lebih segar dan rambut yang sudah dirapikan. "Pak Raksa.""Hm?""Mau minum apa?"Raksa menoleh. "Saya mau kopi.""Kopi? Pakai gula?""
"Pak, sebenarnya kenapa...""Karena saya peduli?" jawab Raksa sekenanya."Kenapa Bapak peduli sama saya?""Karena kamu anak teman mami?" Raksa keringat dingin, ia tidak mau menyatakan cinta disaat canggung seperti ini. Tapi ia juga bingung harus beralasan apa."Bapak bilang baru tahu kalau..""Laras, saya kedinginan." potong Raksa. "Mau buatkan wedang jahe?" lanjutnya, seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi."Bapak mengalihkan pembicaraan," sungut Laras."Sudah, sudah, jangan dilanjutkan pembahasan yang menyayat hati itu, nanti kamu makin nangis." ledek Raksa."Saya nggak nangis." bantah Laras."Tapi wajah tuan putri menunjukkan sebaliknya tuh.""Saya bukan tuan putri," Laras mulai geram."Lalu apa? Princess?" Raksa berusaha keras menghindar dari pertanyaan Laras.Laras ingin membalas, tapi ia baru memperhatikan, hidung Raksa memang memerah. Mungkin ia benar-benar kedinginan. "Huh, yaudah saya mau bikin wedang jahe dulu.""Oh, sekarang kamu yang mengalihkan pembicaraan?""Jadi
Setelah puas menjahili Laras, Raksa akhirnya berhenti tertawa. Wajahnya kembali seperti biasa, tenang dan sulit ditebak.Laras yang sejak tadi menjadi sasaran keusilan itu mengembuskan napas lega. Ia baru saja hendak mengambil gelas di atas meja ketika suara Raksa membuat tangannya terhenti."Laras," panggil Raksa dengan nada yang berbeda dari sebelumnya.Laras menoleh, ia menyadari aura Raksa yang menjadi lebih kaku. “Ya, Pak?”“Mamah kamu tahu soal rumah tangga kamu?”Gelas di tangan Laras nyaris terlepas. Ia menatap Raksa, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.“Maaf? Maksud Bapak?”“Rumah tangga kamu,” ulang Raksa. “Mamah kamu tahu keadaan yang sebenarnya?”Laras tertawa kecil, tetapi terdengar dipaksakan. “Keadaan bagaimana maksud Bapak? Rumah tangga saya baik-baik saja.”Raksa tidak langsung menjawab, ia menatap Laras tajam, membuat Laras semakin tidak nyaman dibuatnya.Akhir-akhir ini Raksa melihat cukup banyak hal yang terlihat tidak biasa pada Laras. Laras yang semak
"Kenapa kamu bisa nggak tahu, Lin?" desaknya lagi, karena Linda tak kunjung menjawab.Linda menggeleng pelan."Linda nggak tahu, Mas.. Linda nggak pernah ikut kalau orang-orang lagi ngegosip. Linda nggak suka ngomongin orang," ucapnya pelan, dengan wajah yang ia buat lugu.Bagas terdiam. Raut wajah
Laras berdiri di depan cermin. Pantulan wajahnya menatap balik.Perempuan yang berdiri di sana terasa asing dengan tatapannya yang kosong.Tangannya bergerak pelan, membuka keran.Air mengalir.Laras lalu membasuh wajahnya.Sekali.Dua kali.Lalu lagi.Dan lagi.Menggosoknya.Membasuh dengan air.Go
"Laras, bantu Mas... cepat!"Laras terpaku di ambang pintu. Napas Linda terdengar berat, seperti menahan sakit."Mas.. sakit.." lirihnya. Keningnya dipenuhi keringat.Bagas tampak semakin panik. "Sakit sekali? Tahan ya, Lin.. ayo kita ke rumah sakit sekarang."Genangan air perlahan merambat, mendek
Ada banyak cara untuk menghancurkan hati seorang istri, dan Bagas memilih cara yang paling kejam.. dengan membawa perempuan itu pulang.Laras tidak pernah tahu, jika perasaan cinta yang selama bertahun-tahun suaminya bisikkan dengan lembut, ternyata sedangkal itu.Kepercayaan yang Laras jaga sepenu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論