เข้าสู่ระบบDi tahun kelima pernikahannya, Laras tidak pernah membayangkan bahwa rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati akan retak oleh satu kalimat sederhana. "Sayang, aku membawa anak... untuk kita." Senyum yang terukir di wajah Bagas terasa selembut pisau yang mengoyak hati Laras hingga tak bersisa. Tanpa rasa bersalah, ia memperkenalkan perempuan muda dengan perut membesar yang berdiri di sampingnya. Kepercayaannya runtuh dalam sekejap. Di tengah luka yang belum sempat mengering, hadir seorang pria yang diam-diam telah lama menyimpan perasaan padanya, mengulurkan tangan, dan menjanjikan masa depan yang baru. Namun, bisakah Laras percaya lagi setelah dikhianati sedalam itu? Haruskah ia pergi meninggalkan Bagas dan segala kenangan yang pernah mereka bangun, atau bertahan... dalam rumah tangga yang kini terasa pahit?
ดูเพิ่มเติมMobil berhenti perlahan di depan sebuah rumah. Raksa mematikan mesin, ia lalu menoleh ke kursi di sebelahnya.Laras masih tertidur. Posisi kepalanya sedikit miring, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Setelah perjalanan panjang dan segala hal yang terjadi, untuk pertama kalinya wajah Laras terlihat begitu tenang.Raksa memperhatikan pemandangan indah yang ada di depan matanya. Kapan lagi ia bisa melihat wajah damai Laras saat tertidur kalau bukan sekarang."Bagaimana bisa wanita dewasa sepertimu masih terlihat seperti remaja belasan tahun? Jangan-jangan kamu vampir? Wajahmu seolah tidak menua." Raksa bergumam sendiri.Tanpa sadar tangannya terangkat. Dengan gerakan perlahan, ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Laras. Jemarinya berhenti sejenak, lalu membelai rambut Laras dengan lembut."Laras..." bisik Raksa.Tidak ada jawaban.Raksa tersenyum tipis. "Kamu benar-benar kelelahan ya?"Tangannya kembali menyentuh rambut Laras, kali ini lebih pelan, sekadar mengusa
"Sayang kira-kira sampai rumah jam berapa?"Laras melirik Raksa yang sedang menyetir. Pria itu tidak terlihat terburu-buru. Apalagi mereka sudah dua kali berhenti di rest area sebelumnya, perjalanan mereka menjadi jauh lebih lambat dari perkiraan."Mungkin... dini hari."Laras berpikir mungkin Bagas khawatir padanya, mengingat malam sudah semakin larut. Tapi ternyata..."Oh, okee.. Mas telepon karena Linda bilang dia ingin tidur di kamar utama. Dia lagi ngidam, Sayang. Boleh ya?""Apa?""Sayang maaf Linda manggil Mas, sayang hati-hati di jalan ya.." telepon terputus."Hah." Laras menghela napas kasar.Jadi lagi-lagi itu karena Linda? Khawatir apanya, Mas Bagas cuma ingin memastikan kamar itu bisa ditempati Linda malam ini. Hatinya berkecamuk.Raksa tidak bertanya apa pun. Ia hanya fokus mengemudi, membiarkan Laras menenangkan perasaannya.Perjalanan berlanjut hingga mereka kembali memasuki rest area ketiga. Raksa kembali memarkirkan mobil."Ayo kita makan," ajak Raksa.Laras yang seja
Satu per satu barang bawaan dimasukkan ke dalam mobil. Laras berdiri di dekat mobilnya sambil memeriksa tas."Sudah semua? Cek lagi, jangan sampai ada yang ketinggalan." tanya Dyah.Laras mengangguk. "Udah semua kok, mah."Di sisi lain mobil, Bella baru saja memasukkan barang terakhir ke bagasi mobilnya ketika tiba-tiba ia menoleh kepada Raksa."Bro.""Hm?""Kamu bawa mobil Laras sana."Raksa yang sedang memegang kunci mobilnya menoleh. "Kenapa? Bukannya kakak nggak suka aku deket-deket Laras?"Emang! Tapi.. daripada Laras sendirian.""Aku sih.. seneng-seneng aja kalo gitu." sahutnya sambil menyeringai."Jangan aneh-aneh! Awas kalo macem-macem sama adek kesayangan aku." "Cih.""Jawab!""Iya, Mak lampir.""Sialan, adek durhaka." Geram Bella, ia memukul bahu Raksa dengan telapak tangannya, yang berakhir membuat tangannya memerah. "Aw! Gila ni badan apa tembok sih.""Emangnya Sean, lembek." Ejek Raksa."BOCAH KURANG AJAR."Perdebatan dua kakak beradik itu semakin memanas, sampai akhirny
Laras panik, ia langsung mengakhiri panggilan secara sepihak. "Kenapa Bapak malah ikut ngomong? Kalau Fika tahu gimana?""Kenapa tidak kamu beri tahu saja sekalian?" Raksa malah balik tanya."Jangan, nggak boleh, Pak.""Kenapa?""Nanti Fika heboh, Pak."Raksa mengangkat alis. "Lalu, masalahnya apa?""Nanti orang-orang kantor tahu, bisa-bisa ada gosip aneh nanti." Laras bergidik, membayangkannya saja sudah merinding.Raksa menyeruput kopinya dengan tenang. "Memangnya gosip seperti apa yang kamu maksud?"Laras menatapnya tidak percaya. "Pak, Orang kantor itu imajinasinya lebih liar daripada penulis novel."Raksa hampir tersedak kopinya. "Justru itu bagus," gumam Raksa lirih.***Sementara itu, Bagas sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan bersama Linda. Mereka berdiri di depan deretan pakaian bayi yang berwarna-warni. Linda mengambil sebuah baju mungil berwarna putih, kemudian menempelkannya di depan tubuhnya."Bagus nggak, Mas?"Bagas tersenyum. "Bagus.""Kalau yang ini?" Linda meng
"Sayang masih marah? Maaf, Sayang.. semalam Mas mau balik ke kamar, tapi Linda kesaki...""Sudah matang. Mas tunggu di meja," potong Laras."Sayang.. Laras.." panggilnya sendu. Ia memeluk Laras dari belakang. "Istriku.. Mas minta maaf, Mas yang salah. Laras boleh marah sama Mas, tapi jangan lama-la
"Bertiga?" tanya Laras, keningnya berkerut."Iya.. aku, kamu, Linda. Kita sekarang kan keluarga.""Linda juga? Linda seneng banget Mas. Mulai sekarang Linda jadi adiknya Mbak Laras, ya?"Laras memutar bola matanya malas. "Adik? Mending aku adopsi kambing aja buat jadi adik.""Hehe.. Mbak Laras peng
"Laras, bantu Mas... cepat!"Laras terpaku di ambang pintu. Napas Linda terdengar berat, seperti menahan sakit."Mas.. sakit.." lirihnya. Keningnya dipenuhi keringat.Bagas tampak semakin panik. "Sakit sekali? Tahan ya, Lin.. ayo kita ke rumah sakit sekarang."Genangan air perlahan merambat, mendek
Ada banyak cara untuk menghancurkan hati seorang istri, dan Bagas memilih cara yang paling kejam.. dengan membawa perempuan itu pulang.Laras tidak pernah tahu, jika perasaan cinta yang selama bertahun-tahun suaminya bisikkan dengan lembut, ternyata sedangkal itu.Kepercayaan yang Laras jaga sepenu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น