登入Di tahun kelima pernikahannya, Laras tidak pernah membayangkan bahwa rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati akan retak oleh satu kalimat sederhana. "Sayang, aku membawa anak... untuk kita." Senyum yang terukir di wajah Bagas terasa selembut pisau yang mengoyak hati Laras hingga tak bersisa. Tanpa rasa bersalah, ia memperkenalkan perempuan muda dengan perut membesar yang berdiri di sampingnya. Kepercayaannya runtuh dalam sekejap. Di tengah luka yang belum sempat mengering, hadir seorang pria yang diam-diam telah lama menyimpan perasaan padanya, mengulurkan tangan, dan menjanjikan masa depan yang baru. Namun, bisakah Laras percaya lagi setelah dikhianati sedalam itu? Haruskah ia pergi meninggalkan Bagas dan segala kenangan yang pernah mereka bangun, atau bertahan... dalam rumah tangga yang kini terasa pahit?
查看更多Ada banyak cara untuk menghancurkan hati seorang istri, dan Bagas memilih cara yang paling kejam.. dengan membawa perempuan itu pulang.
Laras tidak pernah tahu, jika perasaan cinta yang selama bertahun-tahun suaminya bisikkan dengan lembut, ternyata sedangkal itu. Kepercayaan yang Laras jaga sepenuh hati runtuh, seiring langkah Bagas memasuki ruang tamu.. tempat ia biasa menunggu suaminya pulang. Matanya memanas saat melihat jemari mereka telah saling tertaut. "Sayang, aku membawa anak... untuk kita." Dengan senyum selembut pisau yang mengoyak hati Laras hingga tak bersisa, Bagas memperkenalkan perempuan itu. Laras terdiam, benaknya mendadak sunyi. Kata-kata yang ingin ia keluarkan hanya tercekat di tenggorokan. Laras susah payah menelan ludah yang kini terasa pahit. Pandangannya bergeser dari wajah Bagas, turun perlahan ke perut perempuan itu. Bagas mengkhianatiku, selama ini ia berbohong dan aku tidak menaruh curiga sedikit pun. "Aku mau bicara, Mas," ucap Laras akhirnya, sekuat tenaga ia mencoba untuk tetap tenang meski hatinya bergemuruh. "Iya sayang, bicara saj.." "Berdua." potongnya datar. Laras tidak memberi Bagas kesempatan untuk melanjutkan. Bagas sempat ragu, tapi kemudian mengangguk mengiyakan. Ia menoleh singkat pada perempuan itu, seolah memberi isyarat agar menunggu. "Jangan lama-lama, Mas," ucapnya manja. Suaranya yang lembut terdengar seperti desis halus yang meracuni pendengaran Laras. "Iya.. tunggu sebentar ya, Lin," jawab Bagas, sama lembutnya. Bagas melepaskan genggaman tangannya perlahan, seolah sedang menjaga sesuatu yang amat berharga, rapuh, dan mudah pecah. Lucu sekali mereka. Kenapa tidak sekalian saja perempuan itu ia bungkus rapi dengan label FRAGILE? Lalu jauhkan dari dunia luar agar tidak ada satu orang pun berani menyentuhnya selain dirinya. Interaksi keduanya membuat perut Laras terasa mual. Laras memasuki kamar, disusul Bagas. Ruangan yang dulu menyimpan segala tawa dan kasih sayang, terasa asing ketika pintu tertutup. Dan kini.. hanya menyisakan jarak. "Sejak kapan?" tanya Laras tanpa basa-basi. Bagas menghela napas. "Empat bulan.. usia kandungannya." "Perempuan itu bilang dia mengandung anakmu, Mas?" "Namanya Linda.." "Persetan dengan namanya!" sentak Laras. "Laras.." panggil Bagas seraya maju selangkah, berusaha merengkuh Laras. Laras sontak menjauh. "Maaf, Sayang. Mas sempat khilaf dan.." "Khilaf?!" Jawaban Bagas meruntuhkan sisa-sisa harapan yang tersembunyi di sudut hati Laras. "Laras, kita sudah lama menginginkan buah hati, kan? Kebetulan Linda bisa memberikannya untuk kita. Anak itu akan menjadi anakmu juga." "Itu nggak mungkin, Mas. Kenapa anak yang nggak jelas asal-usulnya itu harus jadi anakku?" Laras memijat pelipisnya yang berdenyut. "Laras! Jaga bicaramu. Linda sedang mengandung anakku, dan kamu sebagai istriku.." Laras terbahak mendengar ucapan Bagas. "Mas sudah jadi bodoh, ya, gara-gara dekat sama perempuan murahan itu." "Laras," geram Bagas. Terlihat jelas ia sedang menahan emosi. Kenapa dia yang marah? Harusnya sekarang aku yang marah... mengamuk, meraung, bahkan memukulinya saja nggak akan cukup, batin Laras. "Lalu Mas pikir.. bawa dia ke rumah kita itu solusi?" Laras berusaha menahan suaranya tetap datar, tapi matanya mulai bergetar, menahan semua yang hampir tumpah. "Mas cuma ingin bertanggung jawab," jawab Bagas pelan, berusaha membujuk Laras. "Dan menurut Mas, ini juga kabar baik buat kita berdua. Urusan rumah bisa dibagi sama Linda, jadi kamu nggak bakal terlalu capek sepulang kerja, Sayang. Mas janji bakal bersikap adil ke kalian berdua." "Bertanggung jawab?" ulang Laras lirih. "Lalu gimana dengan janji Mas dulu?" "Mas masih pegang janji itu, Sayang. Mas tetap sayang dan setia sama istri Mas." rayu Bagas. "Sayang.." panggilnya lagi, sembari menatap Laras dengan cara yang sama. Biasanya, Laras pikir tatapan Bagas yang hangat padanya itu penuh kasih. Dulu, Laras pasti langsung luluh hanya karena panggilan itu, hanya karena tatapannya yang lembut. Tapi sekarang... Laras muak. "Mas bukannya selingkuh," lanjutnya. "Itu cuma kecelakaan, dan ternyata kesalahan itu justru mengabulkan keinginan kita selama ini. Mas cuma ingin berbagi kebahagiaan ini sama kamu, Sayang." Laras tersenyum getir "Padahal aku masih berharap bisa ngomongin ini baik-baik sama Mas, mengingat hubungan kita yang nggak sebentar. Tapi makin lama kita bahas soal ini, omongan Mas makin nggak masuk akal. Apa Mas pikir, aku bahagia seka.." Belum sempat Laras menyelesaikan kalimatnya... Prang! Suara benda pecah terdengar dari ruang tamu. Keduanya tersentak. Bagas yang pertama bereaksi. Ia membuka pintu dengan cepat, langkahnya tergesa menuju sumber suara. Laras menyusul, meski kakinya terasa berat, seolah lantai yang ia pijak ikut menahan, memahami keengganannya untuk melihat kenyataan yang sebentar lagi terpampang di depan mata. Di ruang tamu, sebuah vas bunga tergeletak di lantai, pecahannya berserakan tak beraturan. Airnya merembes ke lantai, bercampur dengan kelopak bunga yang tercerai-berai. Di tengah kekacauan itu, Linda terbaring, tubuhnya meringkuk, kedua tangannya memeluk perutnya. Wajah Linda tampak pucat. "Linda!" panggil Bagas panik. Ia berlari menghampiri dan langsung berlutut di samping tubuh perempuan itu. "Laras, bantu Mas... cepat!"Laras panik, ia langsung mengakhiri panggilan secara sepihak. "Kenapa Bapak malah ikut ngomong? Kalau Fika tahu gimana?""Kenapa tidak kamu beri tahu saja sekalian?" Raksa malah balik tanya."Jangan, nggak boleh, Pak.""Kenapa?""Nanti Fika heboh, Pak."Raksa mengangkat alis. "Lalu, masalahnya apa?""Nanti orang-orang kantor tahu, bisa-bisa ada gosip aneh nanti." Laras bergidik, membayangkannya saja sudah merinding.Raksa menyeruput kopinya dengan tenang. "Memangnya gosip seperti apa yang kamu maksud?"Laras menatapnya tidak percaya. "Pak, Orang kantor itu imajinasinya lebih liar daripada penulis novel."Raksa hampir tersedak kopinya. "Justru itu bagus," gumam Raksa lirih.***Sementara itu, Bagas sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan bersama Linda. Mereka berdiri di depan deretan pakaian bayi yang berwarna-warni. Linda mengambil sebuah baju mungil berwarna putih, kemudian menempelkannya di depan tubuhnya."Bagus nggak, Mas?"Bagas tersenyum. "Bagus.""Kalau yang ini?" Linda meng
"S-siapa yang godain Bapak? Saya mana berani.""Kamu nggak tahu kalau kamu jadi lebih imut kalau merajuk? Kamu sengaja memperlihatkan itu ke saya? Hmm?"Laras langsung menutup wajah dengan kedua tangan. Ia lupa tangannya mengandung sambal, akibatnya matanya terasa perih. "Argh!"Tawa Raksa kembali pecah."Saya masuk dulu, Pak.""Iya, iya silahkan.. hahaha."Raksa menatap Laras yang kini berlari masuk. Ia lalu menggeleng sambil tersenyum. "Laras, maaf.. saya sudah nggak bisa mundur lagi kalau begini."Tak lama setelah Laras masuk ke dalam rumah, terdengar suara keran dari arah belakang.Raksa masih berdiri di teras, memandangi kebun yang terbentang di hadapannya. Sesekali matanya melirik ke meja, tepat pada piring kosong bekas Laras makan. Ia tersenyum sendiri mengingat tingkah perempuan itu tadi.Beberapa menit kemudian, Laras kembali dengan wajah yang lebih segar dan rambut yang sudah dirapikan. "Pak Raksa.""Hm?""Mau minum apa?"Raksa menoleh. "Saya mau kopi.""Kopi? Pakai gula?""
"Pak, sebenarnya kenapa...""Karena saya peduli?" jawab Raksa sekenanya."Kenapa Bapak peduli sama saya?""Karena kamu anak teman mami?" Raksa keringat dingin, ia tidak mau menyatakan cinta disaat canggung seperti ini. Tapi ia juga bingung harus beralasan apa."Bapak bilang baru tahu kalau..""Laras, saya kedinginan." potong Raksa. "Mau buatkan wedang jahe?" lanjutnya, seolah percakapan barusan tidak pernah terjadi."Bapak mengalihkan pembicaraan," sungut Laras."Sudah, sudah, jangan dilanjutkan pembahasan yang menyayat hati itu, nanti kamu makin nangis." ledek Raksa."Saya nggak nangis." bantah Laras."Tapi wajah tuan putri menunjukkan sebaliknya tuh.""Saya bukan tuan putri," Laras mulai geram."Lalu apa? Princess?" Raksa berusaha keras menghindar dari pertanyaan Laras.Laras ingin membalas, tapi ia baru memperhatikan, hidung Raksa memang memerah. Mungkin ia benar-benar kedinginan. "Huh, yaudah saya mau bikin wedang jahe dulu.""Oh, sekarang kamu yang mengalihkan pembicaraan?""Jadi
Setelah puas menjahili Laras, Raksa akhirnya berhenti tertawa. Wajahnya kembali seperti biasa, tenang dan sulit ditebak.Laras yang sejak tadi menjadi sasaran keusilan itu mengembuskan napas lega. Ia baru saja hendak mengambil gelas di atas meja ketika suara Raksa membuat tangannya terhenti."Laras," panggil Raksa dengan nada yang berbeda dari sebelumnya.Laras menoleh, ia menyadari aura Raksa yang menjadi lebih kaku. “Ya, Pak?”“Mamah kamu tahu soal rumah tangga kamu?”Gelas di tangan Laras nyaris terlepas. Ia menatap Raksa, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar.“Maaf? Maksud Bapak?”“Rumah tangga kamu,” ulang Raksa. “Mamah kamu tahu keadaan yang sebenarnya?”Laras tertawa kecil, tetapi terdengar dipaksakan. “Keadaan bagaimana maksud Bapak? Rumah tangga saya baik-baik saja.”Raksa tidak langsung menjawab, ia menatap Laras tajam, membuat Laras semakin tidak nyaman dibuatnya.Akhir-akhir ini Raksa melihat cukup banyak hal yang terlihat tidak biasa pada Laras. Laras yang semak
"Kenapa kamu bisa nggak tahu, Lin?" desaknya lagi, karena Linda tak kunjung menjawab.Linda menggeleng pelan."Linda nggak tahu, Mas.. Linda nggak pernah ikut kalau orang-orang lagi ngegosip. Linda nggak suka ngomongin orang," ucapnya pelan, dengan wajah yang ia buat lugu.Bagas terdiam. Raut wajah
Laras berdiri di depan cermin. Pantulan wajahnya menatap balik.Perempuan yang berdiri di sana terasa asing dengan tatapannya yang kosong.Tangannya bergerak pelan, membuka keran.Air mengalir.Laras lalu membasuh wajahnya.Sekali.Dua kali.Lalu lagi.Dan lagi.Menggosoknya.Membasuh dengan air.Go
"Laras, bantu Mas... cepat!"Laras terpaku di ambang pintu. Napas Linda terdengar berat, seperti menahan sakit."Mas.. sakit.." lirihnya. Keningnya dipenuhi keringat.Bagas tampak semakin panik. "Sakit sekali? Tahan ya, Lin.. ayo kita ke rumah sakit sekarang."Genangan air perlahan merambat, mendek
Ada banyak cara untuk menghancurkan hati seorang istri, dan Bagas memilih cara yang paling kejam.. dengan membawa perempuan itu pulang.Laras tidak pernah tahu, jika perasaan cinta yang selama bertahun-tahun suaminya bisikkan dengan lembut, ternyata sedangkal itu.Kepercayaan yang Laras jaga sepenu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論