Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam

Jerat Obsesi Sang Pewaris Kejam

last updateHuling Na-update : 2026-02-05
By:  Leona ValeskaIn-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
8Mga Kabanata
10views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Spin Off: Pembantu Pemuas Nafsu sang Majikan (Kisah Ethan dan Cassandra) ** Bagi Cassandra, menikah dengan Ethan Lubis yang pernah dia kagumi sejak masih kecil merupakan penjara yang mematikan. Pernikahan megah itu justru membuatnya seperti tawanan yang menjeratnya di dalam sangkar emas bernama kemewahan. Cassandra hanya dijadikan alat oleh pria kejam dan dingin itu. Akankah Cassandra bisa melewati semua lika-liku rumah tangga yang akan dia hadapi bersamanya?

view more

Kabanata 1

Bab 1

“Selamat atas pernikahanmu, Tuan Lubis. Pengantinmu sangat cantik,” ucap salah satu kolega Ethan yang menyapa mereka dengan tulus.

Cassandra memaksakan sebuah senyum saat menyalami kolega bisnis keluarga Lubis.

Bagi ribuan tamu undangan, malam ini adalah puncak dari sebuah dongeng romantis. Cassandra, dengan gaun putih rancangan desainer ternama, tampak seperti putri yang akhirnya menemukan pangerannya.

Dan pria di sampingnya, Ethan Lubis—pria tampan berusia 30 tahun adalah pangeran yang begitu tampan, mapan, dan terlihat begitu memuja istrinya.

Tangannya yang terbungkus sarung tangan renda terasa dingin dan gemetar. Di sampingnya, Ethan melingkarkan lengan di pinggangnya dengan posesif.

Setiap kali ada tamu yang memuji keserasian mereka, Ethan akan mengecup pelipis Cassandra dengan lembut, sebuah gestur yang membuat para tamu wanita mendesah iri.

“Kau terlihat lelah, Sayang. Sebentar lagi kita pulang,” bisik Ethan tepat di telinga Cassandra.

Suaranya begitu hangat dan menenangkan, tipe suara yang dulu selalu Cassandra dambakan saat dia masih remaja, saat dia hanya bisa mengagumi Ethan dari jauh.

Dulu, Cassandra adalah gadis kecil yang menyimpan foto Ethan di bawah bantalnya. Teman satu kelas selama sekolah dasar, menengah pertama, atas, hingga kuliah di kampus yang sama.

Namun, pernikahan ini bukanlah pernikahan atas dasar cinta yang mereka bangun. Ayah Cassandra melakukan kesalahan fatal yang menghancurkan hidup mereka.

Sebuah pengkhianatan dana investasi besar-besaran membuat keluarganya hancur dan ayahnya kabur entah ke mana, meninggalkan utang yang kini mengejar-ngejar Cassandra sampai membuatnya harus bekerja sebagai sekretaris pribadi Ethan.

Di saat itulah, Ethan memberikan dua pilihan padanya; menikah dengannya untuk mengelabui ayahnya—Jason, agar berhenti menjodohkannya, atau berakhir di penjara atas utang besar yang dimiliki ayahnya.

“Terima kasih sudah bertahan, Cassandra,” ucap seorang bibi Cassandra sembari memeluknya. “Beruntung sekali Ethan masih mau menerimamu padahal keluargamu sedang di ujung tanduk. Dia pria yang sangat baik.”

Cassandra hanya bisa mengangguk kaku. Baik. Ya, di mata dunia, Ethan adalah pahlawan yang menikahi putri dari pria yang memiliki banyak utang atas nama ‘cinta’.

Tapi Cassandra tahu, pernikahan ini adalah bentuk pelunasan utang yang tidak akan pernah lunas.

Setelah dua jam bersandiwara, akhirnya mereka sampai di penthouse pribadi milik Ethan.

Begitu pintu lift terbuka langsung ke dalam unit mereka, suasana mendadak berubah. Kehangatan pesta tadi menguap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

Cassandra menarik napas lega dan merasa sedikit lebih santai karena merasa “tugasnya” di depan publik telah usai.

Dia berjalan menuju jendela besar yang menampilkan kelap-kelip lampu kota sambil mencoba mencairkan suasana.

“Pestanya luar biasa, Ethan. Bahkan terlihat seperti pernikahan normal pada umumnya,” kata Cassandra dengan pelan.

Dia menoleh ke arah Ethan dengan senyum kecil yang jujur, berharap bahwa mungkin, di balik semua konflik utang yang telah Ethan lunasi, mereka bisa memulai hidup baru yang setidaknya damai.

“Jangan banyak bicara. Kau boleh melepaskan gaun itu setelah memenuhi tugasnya di depan kamera tadi.”

Suara bariton itu memecah keheningan dengan rendah dan bergetar, sampai membuat bulu kuduk Cassandra meremang.

Dia menoleh perlahan dan melihat pria itu berdiri di dekat bar pribadi, sedang menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal.

Pria itu sudah melepas jas dan dasinya dengan dua kancing teratas kemeja putihnya terbuka, yang menampilkan pangkal lehernya yang kokoh.

“Di mana kamar asisten rumah tanggamu? Aku ingin meminta bantuan untuk membuka ritsleting di punggungku.”

Ethan menyesap wiskinya sebelum berjalan mendekat dan berhenti tepat di depan Cassandra, lalu memangkas jarak hingga wanita itu bisa mencium aroma sandalwood yang bercampur dengan tajamnya alkohol.

“Tidak ada asisten rumah tangga yang tinggal di sini, Cassandra,” ujar Ethan dengan lembut, namun nadanya mengandung sebuah peringatan.

Dia lalu meletakkan gelasnya di meja samping dan bergerak memutari tubuh Cassandra.

“Hanya ada aku dan kau. Di gedung ini, privasiku adalah segalanya. Tidak ada mata asing yang boleh melihat apa yang terjadi di balik pintu ini. Termasuk melihatmu.”

Cassandra merasakan jemari Ethan yang panjang dan dingin menyentuh tengkuknya yang terbuka.

Sentuhan itu terasa ringan bahkan hampir seperti belaian, namun Cassandra tersentak seolah kulitnya baru saja tersulut api.

Ethan tidak mempedulikan reaksi itu. Dengan gerakan yang sangat terukur, dia menurunkan ritsleting gaun Cassandra milimeter demi milimeter.

Udara dingin langsung menerpa kulit punggung Cassandra yang terekspos, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan napas hangat Ethan yang kini terasa di bahunya.

“Kau gemetar,” bisik Ethan lalu menumpukan dagunya di bahu Cassandra dan menatap pantulan wajah wanita itu di dinding kaca yang kini berfungsi sebagai cermin gelap.

“Apa kau takut padaku? Setelah dua puluh tahun kita berada di gedung yang sama, apa kau baru menyadari bahwa aku adalah ancaman bagimu?”

Cassandra menelan ludah dengan susah payah. Mata gelap Ethan yang menatapnya melalui pantulan kaca itu tampak seperti jurang yang siap menelannya hidup-hidup.

Baru saja Cassandra hendak membuka mulutnya, ponsel di dalam tas kecil Cassandra berdering nyaring.

Cassandra tersentak dan refleks meraih tasnya. Di layar ponsel, muncul nama: “Devan”.

Devan adalah sahabat masa kecilnya, satu-satunya orang yang masih peduli padanya sejak keluarganya jatuh miskin.

Wajah Cassandra sedikit cerah secara spontan saat melihat nama itu. Dia merasa memiliki sedikit “oksigen” di tengah tekanan Ethan yang kini berubah menjadi dingin kembali padahal sangat manis di resepsi pernikahan mereka tadi.

“Ini Devan ... mungkin dia mau mengucapkan selamat atau memastikan aku baik-baik saja. Aku angkat sebentar, ya?” ucap Cassandra tanpa menyadari perubahan drastis pada raut wajah suaminya.

Belum sempat Cassandra menggeser tombol hijau, tangan besar Ethan menyambar ponsel itu dengan kecepatan yang menakutkan.

“Ethan? Apa yang—”

Brak!

Ethan tidak mematikan teleponnya. Dia justru melempar ponsel mahal itu ke atas meja marmer di dekat mereka dan membiarkan panggilan itu tetap terhubung namun tak terjangkau. Matanya yang tadinya tenang kini berkilat penuh amarah yang tertahan.

“Tidak ada pria manapun yang boleh menghubungimu mulai detik ini, Cassandra,” desis Ethan.

“Ta-tapi, Ethan. Dia adalah sahabatku—”

“Kau pikir aku peduli?” potongnya kemudian merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru hitam.

Dia lalu membukanya dan menampilkan sebuah kalung choker dari emas murni yang sangat tipis, nyaris menyerupai benang emas, namun tampak sangat kokoh.

Di bagian tengahnya terdapat pengait kecil yang unik, tanpa lubang kunci konvensional.

“Pakai ini,” perintah Ethan.

Tanpa menunggu persetujuan, Ethan melingkarkan logam dingin itu di leher jenjang Cassandra. Jari-jarinya yang cekatan mengunci pengait itu dengan bunyi klik halus yang terdengar sangat final di telinga Cassandra.

Cassandra meraba lehernya dengan bingung. “Di mana kuncinya? Bagaimana cara membukanya?” tanyanya kemudian.

Ethan menarik tangan kanan Cassandra, lalu mengarahkan jemari wanita itu ke jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya sendiri.

Di sisi jam tangan itu, terdapat sebuah tonjolan kecil yang hampir tak terlihat, sebuah kunci magnetik mikro yang terintegrasi dengan perangkat di tangannya.

“Kuncinya ada di sini, di jam tanganku. Dan jam ini tidak akan pernah lepas dari tanganku, bahkan saat aku tidur,” ujar Ethan dengan senyum miring yang penuh kemenangan.

Dia kembali mendekatkan wajahnya dan membiarkan bibirnya hampir bersentuhan dengan daun telinga Cassandra, memberikan sensasi panas yang membuat Cassandra lemas.

“Jangan menganggap ini sebagai perhiasan pengantin yang cantik, Cassandra. Karena ini adalah tanda kepemilikan. Dan selama kalung ini melingkar di lehermu, kau harus ingat satu hal ....”

Ethan menjeda kalimatnya, namun matanya yang gelap itu menatap lurus ke dalam pupil mata Cassandra yang melebar karena terkejut.

“Setiap tarikan napasmu, setiap kata yang keluar dari mulutmu, dan setiap jengkal kulitmu kini telah menjadi milikku. Dan aku tidak akan pernah memberikan kuncinya pada siapa pun, termasuk dirimu sendiri!” 

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
8 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status