Chapter: Bab 56: Cahaya Setelah BadaiFajar yang terbit di atas langit Azheriq tidak lagi membawa awan kelabu yang mencekam. Sisa-sisa bau mesiu dan darah dari perang perbatasan perlahan menguap, digantikan oleh hembusan angin pagi yang bersih. Setelah pesta perdamaian dua bangsa yang legendaris itu usai, agenda terakhir untuk mengokohkan fondasi kedamaian ini harus segera dituntaskan. Sebuah negara tidak akan bisa tumbuh di atas tanah yang masih menyimpan akar-akar pembusukan.Hari ini adalah hari pembersihan total.Alun-alun agung ibu kota dipenuhi oleh lautan manusia sejak matahari belum sepenuhnya naik. Ribuan rakyat Azheriq dan warga baru dari Halfghon berdiri berdesakan, mengelilingi panggung tinggi berbahan kayu ek hitam yang telah didirikan di tengah lapangan. Di atas panggung itu, berdiri sebuah pisau algojo yang berkilat tajam di bawah sinar matahari.Lord Vane dan belasan antek-anteknya berjalan dengan rantai yang menyeret di lantai. Pria yang dulunya selalu tampil parlente dengan jubah sutra mahal dan senyuman
Terakhir Diperbarui: 2026-07-12
Chapter: Bab 55: Perjamuan Damai Dua BangsaAula Agung istana Amborgio hari ini didekorasi dengan kemegahan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Spanduk kain sutra biru tua khas Halfghon bersanding megah dengan panji hitam serigala Amborgio di sepanjang dinding marmer. Di bawah kilauan lampu kristal yang memantulkan cahaya keemasan, ratusan pasang mata—terdiri dari sisa-sisa bangsawan loyalis Halfghon yang tersisa dan seluruh jajaran dewan Azheriq—duduk berhadapan dalam keheningan yang khidmat. Hari ini bukan sekadar perjamuan biasa. Hari ini adalah saksi sejarah bagi penandatanganan perjanjian damai yang kelak akan disebut oleh para sejarawan sebagai "Perjanjian Dua Bangsa". Di ujung altar aula, Petra berdiri dengan keanggunan yang mutlak. Di sampingnya, Viel Amborgio berdiri tegak mengenakan jubah kebesaran militernya. Meski tangan kirinya masih bersandar kaku di atas hulu pedang karena kelumpuhan sementara yang belum pulih total, binar matanya telah kembali. Naga itu telah bangun, dan ketajamannya telah kembali seperti se
Terakhir Diperbarui: 2026-07-12
Chapter: Bab 54: Rahasia Sang IbuHari-hari kian berlalu. Kondisi Viel dan tentu saja kondisi ibunya Petra juga sudah mulai membaik. Hari ini Petra sedikit luang, itu sebabnya dia memiliki waktu untuk menemui ibunya. Dayang-dayangnya berkata kalau kondisi ibunya sudah mulai membaik, dia sudah mulai mengingat kejadian-kejadian yang dilaluinya tanpa merasa takut dan letih. Kini, wanita yang sudah menginjak usia tua itu sedang duduk di ayunan taman belakang kediaman Amborgio dengan ketenangan yang membuat Petra kerap mengucapkan syukur. Mata Petra sudah lebih dulu menangkap ibunya yang sedang menikmati udara pagi hari yang segar itu. “Ibu,” panggil Petra begitu kakinya melangkah memasuki taman itu dengan pelan. Hanya satu kata yang diucapkan oleh sang putri, wanita itu langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara. Senyumannya langsung terbentuk meski masih terlihat lemah. Dia membuka suaranya. “Petra… kemari, nak,” katanya. Petra mengangguk kecil. Dia lalu mendekat dan duduk di bangku panjang yang dekat dengan ayuna
Terakhir Diperbarui: 2026-07-07
Chapter: Bab 53: Hantu yang KembaliMalam merayap makin pekat di atas atap kediaman Amborgio. Setelah seharian penuh menguras tenaga untuk membungkam dewan jenderal dengan darah Kaelen, Petra akhirnya bisa menarik napas di ruang kerja pribadinya. Bau anyir darah di gaunnya telah digantikan oleh aroma minyak lavendel, namun ketegangan di pundaknya belum juga luruh.Tepat saat ia hendak menuangkan teh hangat untuk menenangkan diri, bayangan hitam berkelebat dari balik tirai jendela yang tinggi.Sret!Sebelum Petra sempat meraih belati di balik jubahnya, sebilah pedang berdesain tipis khas militer Halfghon telah melingkar di lehernya. Tiga orang berpakaian jubah kelam melompat masuk dari balkon, mengepung meja kerja sang Grand Duchess dengan gerakan yang teramat terlatih."Jangan bersuara, Yang Mulia," bisik pria yang memegang pedang. Suaranya berat, parau, namun sangat familiar di telinga Petra.Petra memicingkan mata, menatap lurus pada pria di depannya yang perlahan menurunkan penutup wajahnya. "Kapten Logan...?"Pria i
Terakhir Diperbarui: 2026-07-07
Chapter: Bab 52: Kebangkitan Sang NagaFajar merekah di ufuk timur, membawa seberkas cahaya pucat yang menembus tirai beludru kamar medis. Petra masih setia di posisinya. Kepalanya terkulai di tepi ranjang, sementara jemarinya masih bertaut erat dengan tangan Viel. Matanya berkantung hitam, wajahnya kuyu setelah semalaman bertaruh nyawa melawan racun yang menggerogoti suaminya.Keheningan pagi itu mendadak pecah oleh sebuah gerakan halus.Petra tersentak bangun saat merasakan jemari di dalam genggamannya berkedut. Ia mengangkat kepalanya dengan cepat. Di atas ranjang, kelopak mata Viel bergerak perlahan, sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Manis mata yang biasanya berkilat kejam dan penuh kewaspadaan itu kini tampak redup, kosong, dan kebingungan."Viel?" Suara Petra serak, dipenuhi harapan yang membubung tinggi. "Kau bisa mendengarkanku? Kau sudah sadar?"Viel menolehkan kepalanya dengan kaku. Ia menatap Petra lama, mengamati setiap inci wajah wanita berambut keperakan di depannya. Tidak ada tatapan tajam yang biasa ia b
Terakhir Diperbarui: 2026-07-06
Chapter: Bab 51: Napas diambang KematianMalam itu, kamar medis utama mansion Amborgio terasa begitu menyesakkan. Hanya ada suara helaan napas Viel yang pendek dan berat, berkejaran dengan detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa hidup sang jenderal besar. Di atas ranjang, tubuh Viel tampak kian menyusut di bawah cengkeraman racun hitam yang kini telah merayap naik hingga ke pangkal lehernya. Para tabib kerajaan telah angkat tangan, mundur satu per satu dengan kepala tertunduk, meninggalkan ruangan itu dalam keheningan yang mematikan.Di sudut ruangan, lembaran perkamen tebal yang dijatuhkan Petra tadi masih tergeletak di atas lantai marmer yang dingin. Surat pembebasan mutlak bagi seluruh rakyat Halfghon.Petra berjalan perlahan, memungut kertas itu dengan jemari yang gemetar. Air matanya menetes, membasahi stempel darah resmi yang dibubuhkan Viel sebelum kesadarannya hilang. Ironi yang teramat kejam kini menampar wajahnya. Viel memberikan kebebasan yang selama ini ia tangisi, namun di saat yang sama, Viel juga
Terakhir Diperbarui: 2026-07-06