Chapter: Bab 42: Cahaya di Biara St. Jude“Aku tidak suka memberikan kata-kata manis, tapi jangan mati,” ungkap Viel sambil menarik tudung Petra agar rambut keemasan milik istrinya tidak mencolok di kegelapan malam. Petra sendiri hanya mengangguk kecil. Perbedaan tinggi badan antara dirinya dan Viel membuat ia terlihat seperti anak kecil yang sedang diperhatikan sebelum berangkat ke sekolah. “Aku tidak akan mati sebelum menemui ibuku,” balas Petra dengan semangat yang utuh. “Baguslah.” Viel lalu mundur satu langkah, membiarkan Petra lebih leluasa untuk merapikan dirinya sendiri. Sementara itu, tatapannya beralih pada Elias yang berdiri di belakang Petra menunggu sang nona selesai mempersiapkan diri. “Aku tahu kau jago berkuda, Elias.”Elias mengangguk dan menunduk dengan hormat. Mengingat Elias dan Petra memang akan satu kuda untuk meningkatkan efisiensi dan perlindungan yang ketat jika ada musuh yang tiba-tiba menyerang Petra, kalimat Viel sebenarnya adalah kalimat dingin dari kalimat: aku percayakan istriku kepadamu, ja
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Bab 41: Di Ambang Pedang"Katakan padaku, Petra. Apakah kau baru saja menjual nyawaku, atau kau baru saja menyelamatkannya?”Petra menelan ludahnya. Bohong jika Petra tidak takut dengan posisinya sekarang. Meski dia bilang dia tidak takut diancam nyawanya, tapi membayangkan pedang yang begitu lancip dan mulus itu diayunkan untuk menebas kepalanya oleh orang—yang bisa menebas tanpa menimbulkan suara bising—ini benar-benar membuatnya gugup dan mematung. Belum mendapatkan jawaban, Viel menekan pedang itu lebih dalam, menatap Petra dengan ancaman yang nyata. Matanya seolah mengatakan bahwa Viel tidak benar-benar lumpuh dengan cinta, dia adalah orang yang membenci pengkhianatan. “Katakan, Petra,” desis Viel dengan tatapan tajam. “A—aku,” Petra menarik napasnya, mencoba berbicara dengan tenang. Dia sadar bahwa salah kata saja nyawanya bisa melayang dengan mudahnya. “Aku tidak berbicara kepadanya dengan menjual nyawamu,” lanjutnya dengan tenang. Viel diam. Tatapan tajam sang pemilik Amborgio itu belum lepas se
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Bab 40: Konfrontasi Dingin di BalconyPetra tidak pernah mengira bahwa Lord Vane agar bergerak seterang ini. Sebab Viel sedang menghadiri rapat militer yang mendesak dan harus dihadiri, Vane justru mengirimkan surat undangan kepada Petra secara diam-diam. Isinya, ia mengajak Petra berbicara empat mata di balkon istana yang sepi itu. “Dia menyuruhku datang ke balkon untuk berbicara empat mata dengannya? Berani sekali,” gumam Petra sambil menutup gulungan surat itu kembali. Mira yang kebetulan ada di samping Petra dan sempat membaca isi suratnya pun turut andil untuk membalas. “Sepertinya dia secara terang-terangan ingin meminta bantuan Anda. Dan kalau kemungkinan ini bisa terjadi, mungkin dia akan mengajak Anda bekerja sama,” katanya. Petra tersenyum tipis, tatapan matanya nyalang dan menerawang kepada kemungkinan yang Mira sebutkan. “Itu memang mungkin, Mira.” Ia memberikan gulungan surat itu kepada Mira lalu berdiri. “Bersiaplah untuk membuat alasan, Mira. Aku akan datang kesana,” katanya. Mira hanya bisa menerima g
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: Bab 39: Pertemuan dengan Ksatria BerdebuBerkat izin dari Viel dan bantuan dari Elias, kini Petra sudah bersiap dengan jubah dan gaya menyamarnya. Kali ini tujuannya sangat jelas, menuju kedai kumuh yang letaknya hampir tidak diketahui banyak orang apalagi bangsawan. “Sudah siap,” gumam Petra dengan suara yang sengaja dia lirihkan. Dia menunggu di tempat yang paling dekat dengan gerbang Amborgio namun tetap tidak terjamah oleh banyak orang. Dengan bantuan Viel juga, pengawal yang biasanya melakukan patroli di sebelah sana juga mengalami pergantian shift. Mereka akan berpatroli sedikit lebih siang daripada biasanya. Petra masih berdiri disana, menggenggam jubahnya agar tidak tersingkap dan diketahui oleh banyak orang. Dia menunggu Elias, pemuda itu yang tahu jalan dan akan membantu misinya kali ini. Tap. Tap. Tap. Suara langkah kaki mendekat terdengar. Petra langsung berbalik dan mendapati Elias berdiri di sana dengan kostum penyamaran nya juga. Meski dalam keadaan menyamar, Elias tidak lupa untuk menyapa sang nona. Seny
Last Updated: 2026-03-16
Chapter: Bab 38: Bayangan Biara TerpencilRembulan malam itu menyinari kota dengan lebih bersinar dari malam-malam biasanya. Petra sudah berada di dalam kamarnya. Dan Viel, hari ini dia menyelesaikan pekerjaannya lebih awal dan berakhir sudah berada di kamar mereka meski malam masih awal. “Viel, aku ingin berbicara sesuatu,” kata Petra membuat Viel yang tadinya sedang merapikan pakaian tidurnya langsung menoleh ke Petra yang duduk diujung ranjang mereka. “Hn?” Tanyanya, menatap dengan raut yang menunggu perkataan yang akan istrinya ucapkan kepadanya. “Aku ingin tahu tentang biara St. Jude,” ungkap Petra pada akhirnya. Hening. Viel tidak langsung membalas pertanyaan Petra. Dia menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan, tapi bukan berarti dia sedang marah. Ia hanya terlihat sedikit menyeritkan dahinya, “biara St. Jude?” Katanya kembali menanyakan untuk mengkonfirmasi. Petra mengangguk pelan. “Aku kemarin menemui pamanku, Arcduke Kael…” katanya sambil menggantung kalimat, menunggu reaksi yang akan
Last Updated: 2026-03-15
Chapter: Bab 37: Peta di Ruang KerjaSetelah insiden racun terakhir kali pada waktu sarapan pagi, Viel akhirnya membiarkan Petra tinggal di ruang kerjanya agar bisa diawasi dan dilindungi bersamaan dengan dia yang sedang bekerja. Petra pun tahu diri, dia tidak merengek atau membuat Viel kesulitan apalagi merasa terganggu dengan keberadaannya. Petra menoleh ke arah suaminya yang sibuk membaca dokumen di meja kerjanya. Ada rasa ingin mengeluarkan suara, namun lagi-lagi dia urungkan karena tidak mau mengganggu. Sampai akhirnya, kegiatan itu disadari oleh Viel yang merasa diperhatikan. “Mau bicara apa, Petra?” Tanyanya dengan suara yang lembut. Petra yang dipanggil itu tersentak, tidak sadar Viel lebih dulu merasakan tatapannya. Dengan senyuman yang canggung, Petra mengeluarkan suaranya. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berterima kasih,” katanya. Viel berdehem pelan, ia mengangguk kecil. “Itu sudah menjadi tugasku. Tidak perlu berterima kasih.” Keadaan di ruang itu kembali hening. Viel yang sibuk melakukan pekerjaann
Last Updated: 2026-03-15