Mag-log in"Kau bisa menyeretku ke altar, tapi kau hanya akan menikahi mayat. Karena jiwaku tidak akan pernah sudi kau miliki!” Di tengah reruntuhan kerajaan yang sudah rata dengan tanah, Petra kehilangan segalanya. Alih-alih dieksekusi mati dan bebas, Petra malah dipaksa menikah dengan pembunuh ayahnya sendiri. Meskipun tubuhnya terpenjara dan klaim sepihak telah terpatri di kulitnya, api dendam membara di hati Petra. "Aku akan bangkit dari abu, dan membalas setiap tetes darah yang kau tumpahkan!”
view more"Kau bisa menyeret ku ke altar, tapi kau hanya akan menikahi mayat. Karena jiwaku tidak akan pernah sudi kau miliki!”
Suara Petra menggema di ruangan tanpa cahaya itu. Rasa jijik menjalar membayangkan dia akan menikah dengan pembunuh ayahnya sendiri. “Lebih baik aku mati daripada menjadi istrimu!” kata-kata itu berulang di kepalanya. Hatinya hancur lebur. Di ruang sempit yang diperuntukkan untuk tawanan perang sepertinya, Petra merasa sendirian. Seharusnya, perasaan sendirian itu lebih baik daripada kedatangan Viel pagi tadi. Dia tidak menarik Petra keluar dari kesendirian, dia menarik Petra ke neraka yang lebih menyiksanya. Pagi itu, lantai beton di bawah telapak kaki telanjang Petra masih terasa dingin. Dingin yang tidak sedingin saat ia melihat mayat ayahnya terakhir kali dipertontonkan di depan banyak orang. Petra meringkuk di sudut sel yang paling gelap, memeluk lututnya hingga kuku-kuku nya memutih. Setiap tetesan air yang jatuh dari langit terasa seperti hitungan mundur menuju kematiannya. “Aku berharap mereka segera mengeksekusi,” batinnya. Kematian adalah satu-satunya kemerdekaan yang tersisa bagi putri kerajaan yang telah rata dengan tanah. Klotak. Klotak. Suara sepatu bot yang berat menghantam lantai batu. Petra menegang. Jantungnya hampir copot. Itu bukan langkah kaki penjaga yang menyeret langkah. Itu langkah kaki yang teratur, angkuh dan penuh kuasa. Pintu besi yang berat itu mengerang terbuka. Cahaya obong dari lorong menusuk mata Petra yang sudah biasa dengan kegelapan, memaksa dunianya yang hitam menjadi abu-abu yang menyakitkan. Diambang pintu, berdirilah bayangan tinggi itu. Seragam Jendral yang kaku, lencana yang berkilat—simbol kehancuran bangsaku. La Viel Amborgio. “Apa yang kau lakukan disini?” Suara Petra pecah, bergetar diantara isakan yang belum kering. Viel tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah masuk, mempersempit ruang napas Petra, membuatnya merasa tercekik. Dia berjongkok di depannya, menyamakan tingginya dengan martabat Petra yang sudah hancur. Tangannya bergerak, seolah ingin menyentuh rambut Petra yang kotor oleh debu penjara. “Jangan sentuh aku!” Petra menepis dengan sisa tenaga, matanya berkilat penuh kebencian. “Lebih baik aku membusuk disini daripada menjadi budakmu.” Viel tidak marah. Dia justru tertawa kecil, tawa yang membuat bulu kuduk musuh meremang. “Aku tidak butuh budak, Petra,” ucapnya tenang. Jari-jarinya mencengkram dagu Petra, memaksanya menatap manik mata yang sedingin es. “Aku butuh seorang istri.” Seketika, Petra mematung. Dunianya terasa berhenti. “Aku tidak akan menikah dengan pembunuh ayahku!” “Keinginanmu tidak pernah masuk dalam hitunganku,” bisiknya, mendekatkan wajahnya hingga napasnya yang hangat terasa di kulit. Dia mencondongkan tubuh, mendekat ke telinga Petra yang membuat si putri membeku. “Kau akan menjadi milikku. Menjadi Grand Duchess-ku.” Petra meremang. Sebelum ia sempat meludahi Viel, kecupan singkat dan dingin terasa di lehernya. Sebuah klaim. Sebuah segel kepemilikan. Viel berdiri, merapikan seragamnya seolah baru saja melakukan percakapan santai tentang cuaca, lalu berbalik meninggalkan Petra yang gemetar hebat di lantai sel. "Urus dia," suaranya menggema di lorong, ditujukan pada asistennya yang menunggu di luar. "Bawa dia pada Christa. Pastikan pengantinku siap untuk besok.” Pintu beton itu tertutup kembali dengan dentuman keras, mengunci teriakan Petra didalam kegelapan yang kini terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Dalam kegelapan yang menelannya, air mata Petra mengering. Api baru menyala di relung hatinya, lebih panas dari bara. "Kau akan menyesali hari ini, Amborgio," bisiknya pada keheningan. "Aku akan bangkit dari abu, dan membalas setiap tetes darah yang kau tumpahkan!”“Aku tidak suka memberikan kata-kata manis, tapi jangan mati,” ungkap Viel sambil menarik tudung Petra agar rambut keemasan milik istrinya tidak mencolok di kegelapan malam. Petra sendiri hanya mengangguk kecil. Perbedaan tinggi badan antara dirinya dan Viel membuat ia terlihat seperti anak kecil yang sedang diperhatikan sebelum berangkat ke sekolah. “Aku tidak akan mati sebelum menemui ibuku,” balas Petra dengan semangat yang utuh. “Baguslah.” Viel lalu mundur satu langkah, membiarkan Petra lebih leluasa untuk merapikan dirinya sendiri. Sementara itu, tatapannya beralih pada Elias yang berdiri di belakang Petra menunggu sang nona selesai mempersiapkan diri. “Aku tahu kau jago berkuda, Elias.”Elias mengangguk dan menunduk dengan hormat. Mengingat Elias dan Petra memang akan satu kuda untuk meningkatkan efisiensi dan perlindungan yang ketat jika ada musuh yang tiba-tiba menyerang Petra, kalimat Viel sebenarnya adalah kalimat dingin dari kalimat: aku percayakan istriku kepadamu, ja
"Katakan padaku, Petra. Apakah kau baru saja menjual nyawaku, atau kau baru saja menyelamatkannya?”Petra menelan ludahnya. Bohong jika Petra tidak takut dengan posisinya sekarang. Meski dia bilang dia tidak takut diancam nyawanya, tapi membayangkan pedang yang begitu lancip dan mulus itu diayunkan untuk menebas kepalanya oleh orang—yang bisa menebas tanpa menimbulkan suara bising—ini benar-benar membuatnya gugup dan mematung. Belum mendapatkan jawaban, Viel menekan pedang itu lebih dalam, menatap Petra dengan ancaman yang nyata. Matanya seolah mengatakan bahwa Viel tidak benar-benar lumpuh dengan cinta, dia adalah orang yang membenci pengkhianatan. “Katakan, Petra,” desis Viel dengan tatapan tajam. “A—aku,” Petra menarik napasnya, mencoba berbicara dengan tenang. Dia sadar bahwa salah kata saja nyawanya bisa melayang dengan mudahnya. “Aku tidak berbicara kepadanya dengan menjual nyawamu,” lanjutnya dengan tenang. Viel diam. Tatapan tajam sang pemilik Amborgio itu belum lepas se
Petra tidak pernah mengira bahwa Lord Vane agar bergerak seterang ini. Sebab Viel sedang menghadiri rapat militer yang mendesak dan harus dihadiri, Vane justru mengirimkan surat undangan kepada Petra secara diam-diam. Isinya, ia mengajak Petra berbicara empat mata di balkon istana yang sepi itu. “Dia menyuruhku datang ke balkon untuk berbicara empat mata dengannya? Berani sekali,” gumam Petra sambil menutup gulungan surat itu kembali. Mira yang kebetulan ada di samping Petra dan sempat membaca isi suratnya pun turut andil untuk membalas. “Sepertinya dia secara terang-terangan ingin meminta bantuan Anda. Dan kalau kemungkinan ini bisa terjadi, mungkin dia akan mengajak Anda bekerja sama,” katanya. Petra tersenyum tipis, tatapan matanya nyalang dan menerawang kepada kemungkinan yang Mira sebutkan. “Itu memang mungkin, Mira.” Ia memberikan gulungan surat itu kepada Mira lalu berdiri. “Bersiaplah untuk membuat alasan, Mira. Aku akan datang kesana,” katanya. Mira hanya bisa menerima g
Berkat izin dari Viel dan bantuan dari Elias, kini Petra sudah bersiap dengan jubah dan gaya menyamarnya. Kali ini tujuannya sangat jelas, menuju kedai kumuh yang letaknya hampir tidak diketahui banyak orang apalagi bangsawan. “Sudah siap,” gumam Petra dengan suara yang sengaja dia lirihkan. Dia menunggu di tempat yang paling dekat dengan gerbang Amborgio namun tetap tidak terjamah oleh banyak orang. Dengan bantuan Viel juga, pengawal yang biasanya melakukan patroli di sebelah sana juga mengalami pergantian shift. Mereka akan berpatroli sedikit lebih siang daripada biasanya. Petra masih berdiri disana, menggenggam jubahnya agar tidak tersingkap dan diketahui oleh banyak orang. Dia menunggu Elias, pemuda itu yang tahu jalan dan akan membantu misinya kali ini. Tap. Tap. Tap. Suara langkah kaki mendekat terdengar. Petra langsung berbalik dan mendapati Elias berdiri di sana dengan kostum penyamaran nya juga. Meski dalam keadaan menyamar, Elias tidak lupa untuk menyapa sang nona. Seny
Rembulan malam itu menyinari kota dengan lebih bersinar dari malam-malam biasanya. Petra sudah berada di dalam kamarnya. Dan Viel, hari ini dia menyelesaikan pekerjaannya lebih awal dan berakhir sudah berada di kamar mereka meski malam masih awal. “Viel, aku ingin berbicara sesuatu,” kata Petra m
Setelah insiden racun terakhir kali pada waktu sarapan pagi, Viel akhirnya membiarkan Petra tinggal di ruang kerjanya agar bisa diawasi dan dilindungi bersamaan dengan dia yang sedang bekerja. Petra pun tahu diri, dia tidak merengek atau membuat Viel kesulitan apalagi merasa terganggu dengan kebera
Pagi itu, meja makan di kediaman Amborgio yang biasanya hanya diisi oleh Petra sendirian, kini ada sosok lain yang turut duduk di sana. Viel. Mungkin karena tidak ada pekerjaan yang mengharuskan dia berangkat pagi, sang Grand Duke itu memiliki waktu untuk sarapan bersama dengan istrinya. Mereka du
Paviliun Musim Dingin yang terletak di sayap paling terisolasi dari istana Amborgio tampak sunyi, hanya suara kayu bakar yang berderak di perapian yang memecah keheningan. Salju tipis mulai turun di luar, namun ketegangan di dalam ruangan jauh lebih membekukan.Viel duduk di kursi kulit besar, napa


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.