Dipaksa Menjadi Istri Musuhku

Dipaksa Menjadi Istri Musuhku

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-02-25
Oleh:  JingjingBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
10Bab
10Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

"Kau bisa menyeretku ke altar, tapi kau hanya akan menikahi mayat. Karena jiwaku tidak akan pernah sudi kau miliki!” Di tengah reruntuhan kerajaan yang sudah rata dengan tanah, Petra kehilangan segalanya. Alih-alih dieksekusi mati dan bebas, Petra malah dipaksa menikah dengan pembunuh ayahnya sendiri. Meskipun tubuhnya terpenjara dan klaim sepihak telah terpatri di kulitnya, api dendam membara di hati Petra. "Aku akan bangkit dari abu, dan membalas setiap tetes darah yang kau tumpahkan!”

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1: La Viel Amborgio

"Kau bisa menyeret ku ke altar, tapi kau hanya akan menikahi mayat. Karena jiwaku tidak akan pernah sudi kau miliki!”

Suara Petra menggema di ruangan tanpa cahaya itu. Rasa jijik menjalar membayangkan dia akan menikah dengan pembunuh ayahnya sendiri. “Lebih baik aku mati daripada menjadi istrimu!” kata-kata itu berulang di kepalanya.

Hatinya hancur lebur. Di ruang sempit yang diperuntukkan untuk tawanan perang sepertinya, Petra merasa sendirian. Seharusnya, perasaan sendirian itu lebih baik daripada kedatangan Viel pagi tadi. Dia tidak menarik Petra keluar dari kesendirian, dia menarik Petra ke neraka yang lebih menyiksanya.

Pagi itu, lantai beton di bawah telapak kaki telanjang Petra masih terasa dingin. Dingin yang tidak sedingin saat ia melihat mayat ayahnya terakhir kali dipertontonkan di depan banyak orang.

Petra meringkuk di sudut sel yang paling gelap, memeluk lututnya hingga kuku-kuku nya memutih. Setiap tetesan air yang jatuh dari langit terasa seperti hitungan mundur menuju kematiannya. “Aku berharap mereka segera mengeksekusi,” batinnya. Kematian adalah satu-satunya kemerdekaan yang tersisa bagi putri kerajaan yang telah rata dengan tanah.

Klotak. Klotak.

Suara sepatu bot yang berat menghantam lantai batu. Petra menegang. Jantungnya hampir copot. Itu bukan langkah kaki penjaga yang menyeret langkah. Itu langkah kaki yang teratur, angkuh dan penuh kuasa.

Pintu besi yang berat itu mengerang terbuka. Cahaya obong dari lorong menusuk mata Petra yang sudah biasa dengan kegelapan, memaksa dunianya yang hitam menjadi abu-abu yang menyakitkan.

Diambang pintu, berdirilah bayangan tinggi itu. Seragam Jendral yang kaku, lencana yang berkilat—simbol kehancuran bangsaku. La Viel Amborgio.

“Apa yang kau lakukan disini?” Suara Petra pecah, bergetar diantara isakan yang belum kering.

Viel tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah masuk, mempersempit ruang napas Petra, membuatnya merasa tercekik. Dia berjongkok di depannya, menyamakan tingginya dengan martabat Petra yang sudah hancur. Tangannya bergerak, seolah ingin menyentuh rambut Petra yang kotor oleh debu penjara.

“Jangan sentuh aku!”

Petra menepis dengan sisa tenaga, matanya berkilat penuh kebencian. “Lebih baik aku membusuk disini daripada menjadi budakmu.”

Viel tidak marah. Dia justru tertawa kecil, tawa yang membuat bulu kuduk musuh meremang.

“Aku tidak butuh budak, Petra,” ucapnya tenang. Jari-jarinya mencengkram dagu Petra, memaksanya menatap manik mata yang sedingin es. “Aku butuh seorang istri.”

Seketika, Petra mematung. Dunianya terasa berhenti. “Aku tidak akan menikah dengan pembunuh ayahku!”

“Keinginanmu tidak pernah masuk dalam hitunganku,” bisiknya, mendekatkan wajahnya hingga napasnya yang hangat terasa di kulit. Dia mencondongkan tubuh, mendekat ke telinga Petra yang membuat si putri membeku. “Kau akan menjadi milikku. Menjadi Grand Duchess-ku.”

Petra meremang. Sebelum ia sempat meludahi Viel, kecupan singkat dan dingin terasa di lehernya. Sebuah klaim. Sebuah segel kepemilikan.

Viel berdiri, merapikan seragamnya seolah baru saja melakukan percakapan santai tentang cuaca, lalu berbalik meninggalkan Petra yang gemetar hebat di lantai sel.

"Urus dia," suaranya menggema di lorong, ditujukan pada asistennya yang menunggu di luar. "Bawa dia pada Christa. Pastikan pengantinku siap untuk besok.”

Pintu beton itu tertutup kembali dengan dentuman keras, mengunci teriakan Petra didalam kegelapan yang kini terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya.

Dalam kegelapan yang menelannya, air mata Petra mengering. Api baru menyala di relung hatinya, lebih panas dari bara. "Kau akan menyesali hari ini, Amborgio," bisiknya pada keheningan. "Aku akan bangkit dari abu, dan membalas setiap tetes darah yang kau tumpahkan!”

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status