Chapter: Ancaman Dan RayuanDayat memacu mobil hitamnya membelah jalanan kota yang mulai lengang. Sesekali ia melirik jam di dasbor yang menunjukkan pukul 09.40 malam. Waktunya mepet, tapi tepat saat melewati sebuah pertigaan dekat kompleks perumahannya, bau harum mentega yang khas langsung menusuk hidungnya. Ada gerobak Martabak manis yang masih buka."Bisa buat sogokan biar si Gita enggak cemberut," gumam Dayat sambil memutar setir, menepikan mobilnya tepat di depan gerobak.Tanpa turun dari mobil, Dayat membuka kaca jendela. "Bang, martabak manis satu. Setengah cokelat kacang, setengah keju. Menteganya banyakin ya, bungkus cepat!" seru Dayat, sengaja memesan rasa favorit Gita agar proses "pereda amarah" rumah berjalan mulus.Setelah menunggu sekitar tujuh menit dengan perasaan waswas melihat jarum jam, kotak martabak yang masih hangat dan beraroma harum itu akhirnya berpindah ke tangan Dayat. Ia buru-buru meletakkannya di kursi penumpang, lalu kembali menginjak pedal gas dalam-dalam.Tepat pukul 09.53 malam—t
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Penuntasan Yang Terburu-buruDayat mendengarkan dengan saksama selama beberapa detik, mencoba menangkap suara yang dimaksud Clara. Namun yang terdengar hanyalah sunyinya malam dan deru AC kamar.Tiba-tiba, raut wajah Clara yang tadinya tegang berubah menjadi ringisan canggung. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap Dayat dengan tatapan bersalah yang kekanak-kanakan. "Aduh.. Yat. Saya... saya tiba-tiba kebelet pipis banget. Enggak tahan, mau pipis dulu," cerocos Clara setengah berbisik, wajahnya memerah karena malu.Sebelum Dayat sempat merespons, Clara dengan cepat menyelinap dari bawah kungkungan tubuh Dayat. Ia menyambar selembar kain daster sutranya yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuh, lalu setengah berlari kecil dengan langkah buru-buru menuju kamar mandi di dalam kamar tersebut. *Brak!* Pintu kaca buram itu tertutup rapat, disusul suara gerendel yang berputar.Dayat yang ditinggal mendadak di tengah ranjang hanya bisa melongo selama beberapa detik. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tub
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Keringat KerinduanDayat merasakan kehangatan telapak tangan Tante Clara yang masih menempel di rahangnya. Melihat binar mata wanita matang di depannya yang begitu menggebu-gebu, Dayat terkekeh pelan. Ia menahan pergelangan tangan Tante Clara dengan lembut, lalu menurunkan jarak wajah mereka sedikit. "Ini enggak ada pemanasan dulu apa, Tan? Kok buru-buru banget," goda Dayat dengan suara beratnya yang santai, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman jahil. Mengecap nada gurauan dari pria di hadapannya, Tante Clara justru tertawa genit. Suara tawa renyahnya menggema pelan di dalam kamar yang temaram itu. Ia memajukan tubuhnya hingga daster sutra tipisnya bergesekan langsung dengan kemeja flanel Dayat. "Masih perlu pemanasan?" balas Tante Clara sambil menatap Dayat dengan pandangan menantang yang manja. "Kita kan biasanya langsung gas-gas aja, Mas. Enggak usah pakai basa-basi lagi." Dayat hanya bisa mengembuskan napas pendek lewat hidung, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum pasrah meneri
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Kecemburuan Dan TuntutanJarum jam dinding di ruang tengah tepat menunjuk ke angka tujuh malam ketika Dayat meraih kunci mobilnya di atas meja. Ia sudah berganti pakaian dengan kemeja flanel gelap yang rapi dan menyemprotkan sedikit parfum.Gita masih duduk di sofa dengan kedua kaki yang ditekuk ke dada. Matanya tertuju pada layar televisi, namun jemarinya berulang kali meremas ujung bantal sofa dengan kesal. Ia sama sekali tidak menoleh saat Dayat melangkah mendekat.Dayat berjongkok di samping sofa, menyeimbangkan tubuhnya agar matanya sejajar dengan Gita. Ia meraih jemari wanita itu perlahan. "Aku berangkat dulu ya, Git. Cuma sebentar kok, enggak usah dikunci pintu depannya."Gita menarik napas dalam, memalingkan wajahnya sedikit menjauh dengan bibir yang masih maju beberapa senti. "Iya," sahutnya pendek, ketus, dan tanpa minat."Masih cemberut saja ini," goda Dayat sambil mencolek dagu Gita pelan. "Kan tadi sudah janji, sebelum jam sepuluh juga aku sudah sampai rumah lagi. Makanan dari Nenek juga belum ku
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: Kerinduan Yang MenantiLampu merah di pertigaan jalan raya itu masih menyala mantap, memantulkan rona kemerahan di atas dasbor mobil. Dayat menatap layar ponselnya yang masih menyala, menampilkan sebaris pesan dari Gita. Ibu jarinya sempat menggantung di atas papan ketik digital selama beberapa detik. Namun, embusan napas berat akhirnya keluar dari hidungnya. Ia memutuskan tidak menyentuh layar itu, membiarkan gelembung pesan tersebut tetap tak berbalas. Begitu lampu berganti hijau, Dayat langsung menginjak pedal gas. Fokusnya dialihkan sepenuhnya pada aspal jalanan yang mulai temaram diselimuti pekatnya magrib. Tangannya lincah memutar kemudi, membelah kepadatan lalu lintas kota hingga akhirnya mobil hitam itu berbelok masuk ke pekarangan rumahnya. Suasana dalam rumah begitu sepi saat Dayat melangkah masuk. Ia melempar tas perkakasnya ke sudut dekat meja, lalu mengempaskan tubuh kekarnya ke atas sofa ruang tengah yang empuk. Rasa lelah yang menumpuk sejak pagi seketika terasa tumpah. Sambil menyandarka
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Kembalinya SandiwaraBunyi derit tangga aluminium yang bergeser menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di dalam unit nomor 14. Dayat menapakkan kaki kirinya ke anak tangga ketiga, mencoba mengabaikan debaran aneh di dadanya setelah mendengar pertanyaan Astrid yang terlampau berani.Pria itu menoleh perlahan, membiarkan tubuhnya bersandar pada tiang tangga. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum asimetris untuk menyembunyikan keterkejutannya. "Bisa saja sih, Mbak. Nanti kalau pas jadwalnya longgar, aku coba ajakin Bu Clara ngopi di luar. Biar suasananya lebih santai."Astrid yang sejak tadi bersandar di pilar semen langsung menegakkan tubuhnya. Papan jalan di pelukannya ia turunkan sejenak, digenggam erat dengan kedua tangan. Sepasang matanya berbinar, memancarkan keseriusan yang tidak ditutupi lagi. "Nah, iya! Aku mau banget ikut, Mas. Sekalian... ya siapa tahu aku bisa makin dekat juga sama Bu Clara. Biar di kantor enggak tegang terus kalau papasan."Dayat mengangguk-angguk kecil, jemarin
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: Pertemuan Tak DisengajaJuned langsung menoleh ke arah sumber suara, dan matanya seketika membelalak lebar begitu mengenali sosok wanita yang kini sedang berjalan cepat ke arahnya. Ternyata itu adalah Ratu, anak kandung dari Pak Rio. Ratu sudah mengenal Juned cukup lama, bahkan sejak zaman Juned baru saja lulus sekolah hingga akhirnya Ratu sempat menghilang karena harus melanjutkan kuliah S2-nya di luar negeri. Di sisi lain, Pak Rio—ayah Ratu—bukanlah orang sembarangan, melainkan salah satu mitra bisnis paling krusial bagi kantor tempat Ratna bekerja sekarang. "Lho, Ratu? Kamu... ngapain di sini?" Juned terkejut bukan main, jantungnya mendadak berdegup kencang karena takut posisi Sinta yang ada di kamar atas sampai ketahuan. Namun, Juned langsung berusaha mengontrol ekspresi wajahnya, memasang senyum seramah mungkin dan melangkah cepat untuk menghampiri Ratu yang berdiri anggun di dekat pilar lobi. Ratu tampak senang sekali bertemu dengan Juned setelah sekian lama terpisah jarak dan waktu. "Ya ampun, Kak
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: StaycationMobil yang dikemudikan Juned melaju dengan kecepatan stabil, membelah jalanan aspal yang mulai terasa lengang menuju ke arah pesisir pantai luar kota. Sinta yang duduk manis di kursi penumpang sesekali melempar pandangan ke arah luar jendela, menikmati deretan pohon kelapa yang mulai terlihat di sepanjang pinggir jalan, sebelum akhirnya menoleh ke samping untuk menatap wajah Juned yang sedang fokus menyetir."Ned, aku mau nanya deh dari tadi agak penasaran," buka Sinta, memecah keheningan di dalam kabin mobil yang sejuk oleh semburan AC. "Kamu sebelumnya udah pernah ke daerah sini juga atau gimana sih? Kok bisa tahu banget ada resort tersembunyi yang bagus di daerah pantai sebelah sini?"Juned terdiam sejenak, tangannya memutar kemudi dengan santai untuk melewati tikungan tajam di depan mereka sebelum akhirnya melirik Sinta sekilas. "Ya... sebenarnya aku emang udah pernah ke sini sekali dulu sama si Desi, udah agak lama lah waktu itu. Pas ke sana kulihat sih tempatnya emang bagus bang
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Tanpa Penolak Di Pagi HariKeesokan paginya, sinar matahari hangat mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar. Juned yang baru saja selesai mandi sudah berdiri di dekat tempat tidur, tampak sibuk memilah-milah kemeja santai dari dalam tas pakaiannya.Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Sinta melangkah keluar. Tubuhnya hanya terlilit selembar handuk putih sebatas dada yang mengekspos bahu mulusnya yang masih basah, sementara rambutnya digulung rapi ke atas. Ia berjalan santai menghampiri lemari pakaian tanpa menyadari sepasang mata Juned yang langsung tertuju padanya.*Kalau handukan gitu, seksi juga ya dia,* gumam batin Juned sembari menelan ludah, pandangannya tertuju pada lekuk tubuh Sinta yang tampak segar.Sinta yang hendak membuka pintu lemari menyadari tatapan itu. Ia menoleh ke arah Juned, lalu menyunggingkan senyum tipis yang menggoda. "Kenapa kamu liatin aku kayak gitu, Ned?" tanya Sinta dengan nada manja.Juned tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meletakkan kembali baju yang semula
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Dibalik Rencana BesarSinta menatap Juned lekat-lekat, matanya menyipit penuh selidik seolah sedang menginterogasi. "Ned, jujur deh, apa sebelumnya kamu udah tahu soal isi dokumen peralihan saham ini?" tanya Sinta penasaran.Juned segera menggelengkan kepalanya cepat, berusaha bersikap senatural mungkin agar Sinta tidak mencium kejanggalan apa pun. "Gak tahu sama sekali, Sin. Kan tadi dikasih tahu sama Bu Ratna aja pas kita lagi di sini, makanya aku langsung pulang ke rumahnya buat ambil dokumen ini," jawab Juned meyakinkan sambil mengusap tengkuknya yang sebenarnya masih terasa agak linu.Sinta mengangguk-angguk paham, kembali memandangi deretan angka dan nama yang tertera di kertas tersebut. "Berarti ada kemungkinan besar saham punya Pak Timothy ini mau dialihkan ke Bu Ratna atau ke Maudy, makanya sifatnya rahasia banget sampai dibungkus rapi begini," duga Sinta menerka-nerka dengan kening berkerut."Iya, mungkin gitu, Sin. Makanya kamu yang dipercaya dan disuruh cek detailnya dulu sama Bu Ratna," ucap J
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Sesuatu Yang TerpentingLusiana meringis kecil saat merasakan cengkeraman tangan Juned di leher belakangnya terasa semakin kuat dan menekan. Nyalinya seketika menciut melihat kilatan amarah di mata pria itu. "I-iya, Ned... maaf. Aku minta maaf. Lepasin, aku janji bakal segera keluar dari rumah ini sekarang juga," ucap Lusiana dengan suara yang mulai bergetar panik. "Cepat pakai bajunya dan keluar, Bu," titah Juned dengan nada suara yang teramat dingin. Juned pun akhirnya melepaskan tekanan pada tubuh Lusiana, lalu melangkah mundur satu langkah. Ia berdiri tegak di tempatnya, menatap dengan pandangan sedingin es sementara Lusiana bergegas memunguti pakaiannya dan mengenakannya kembali dengan terburu-buru hingga lengkap. Setelah selesai merapikan pakaiannya, Lusiana langsung menyambar tasnya di atas meja. Juned yang juga sudah membenahi penampilannya sendiri tetap mengawasi setiap gerak-gerik wanita itu. Lusiana berjalan cepat hendak keluar dari ruangan, namun tepat sebelum ia melewati ambang pintu, June
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Perlawana Dan AncamanCukup lama Juned tidak sadarkan diri, hingga perlahan kesadarannya mulai kembali. Kepalanya terasa sangat pening dan berdenyut hebat. Sebelum matanya terbuka sempurna, ia merasakan adanya tekanan berat yang bergerak konisten di area pinggang dan paha atasnya, disusul suara desahan yang cukup kuat dan serak bergema di dalam ruangan. "Ahh... mmmh... Ned... kamu nikmat banget..." Saat Juned membuka mata sepenuhnya, pandangannya langsung menangkap langit-langit ruang kerja yang benderang. Ia tersentak kaget saat menyadari dirinya tidak lagi berada di lantai, melainkan sudah tergeletak di atas sofa. Kedua kaki dan tangannya terasa kaku, terikat kuat membentang ke ujung-ujung sofa menggunakan tali yang melilit erat pergelangan kulitnya. Di atas tubuhnya, Lusiana sedang duduk tanpa sehelai benang pun, bergerak naik turun dan bergoyang agresif dengan mata terpejam setengah berhalusinasi. "Ahhh! Ned... mmmph... gila... ahh..." racau Lusiana sembari mendesah kuat, menikmati setiap sentuha
Last Updated: 2026-07-07
Chapter: Georgio Lukas Hermansyah.Pemandangan hijau dari pepohonan asri di pinggiran kota Medan menyambut pagi pertama mereka di rumah baru yang cukup luas itu. Luki baru saja selesai memasang papan nama kecil di depan pintu, sementara Sarah sedang sibuk menata vas bunga di atas meja ruang tamu."Gimana, Mas Luki? Udah pas belum posisi sofanya kalau di pojok situ?" tanya Sarah sambil mengelap keringat di dahi dengan punggung tangannya.Luki berjalan mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Sarah dari belakang dengan penuh kemesraan. Ia mencium pundak Sarah yang sekarang sudah resmi menggunakan identitas baru sebagai istrinya di mata para tetangga."Udah pas banget, Sayang. Rumah ini bakal jadi awal yang baru buat kita, nggak ada lagi bayang-bayang Jakarta," jawab Luki sambil mengeratkan pelukannya.Sarah membalikkan badannya, menatap wajah pria yang kini menjadi tumpuan hidupnya itu dengan mata yang berbinar bahagia. Ia merasa sangat aman berada di kota ini, jauh dari segala kerumitan kasus hukum yang menimpa
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Langkah AkhirMobil-mobil hitam tanpa plat nomor itu melaju kencang menembus jalanan setapak yang dikelilingi pohon-pohon besar. Herman duduk di samping Baskoro dengan wajah yang sangat tegang, matanya terus memperhatikan layar pelacak yang dipegang oleh salah satu anggota intel di kursi belakang."Dia nggak akan bisa lari lebih jauh lagi, Man. Tim kita sudah menutup semua akses keluar dari area ini," ucap Baskoro sambil memutar kemudi dengan sigap.Hermawan hanya diam, namun rahangnya mengeras saat melihat sebuah rumah kayu sederhana yang tersembunyi di balik rimbunnya semak belukar. Begitu mobil berhenti, tim intel langsung keluar dengan senjata lengkap dan mengepung seluruh sudut rumah tersebut dengan sangat rapi."Keluar, Maria! Jangan buat keadaan jadi lebih sulit buat kamu sendiri!" teriak pimpinan intel melalui pengeras suara.Pintu rumah itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Maria yang tampak berantakan dengan wajah penuh ketakutan. Ia sempat mencoba lari ke arah pintu belakang, namun dua
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Pelarian, Kebahagiaan, Dan KebebasanCahaya matahari pagi di Kalimantan masuk malu-malu lewat celah gorden kamar hotel, menyinari Luki dan Sarah yang masih bergelung di balik selimut. Suasana begitu tenang, sangat kontras dengan ketegangan yang mereka lalui di Jakarta kemarin."Luk, kita nggak bisa balik lagi ke sana. Kamu siap kan jadi pasangan Tante buat selamanya?" tanya Sarah sambil mengusap pipi Luki lembut.Luki menatap mata Sarah dalam-dalam, merasakan ketulusan sekaligus beban besar yang kini mereka bagi bersama. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengangguk mantap lalu mengecup dahi wanita yang kini menjadi pelabuhan terakhirnya itu."Aku siap, Tan. Dari awal aku udah milih untuk berdiri di samping Tante, apa pun risikonya," jawab Luki pelan namun penuh keyakinan.Sarah tersenyum manis, sebuah senyuman yang belum pernah Luki lihat sebelumnya, lalu ia menarik tengkuk Luki untuk mendekat. Bibir mereka bertemu dalam sebuah cumbuan yang lembut, perlahan berubah menjadi luapan gairah yang romantis dan penuh perasaan.
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Pelarian Luki dan SarahLuki dan Ajeng berdiri agak menjauh dari kerumunan petugas yang masih sibuk di butik. Mereka saling berhadapan, namun ada kecanggungan yang menggantung di antara mereka setelah semua rahasia besar ini terbongkar."Jadi, kamu beneran bakal pergi ya, Jeng?" tanya Luki sambil memasukkan tangan ke saku celananya, berusaha menyembunyikan jarinya yang sedikit gemetar.Ajeng mengangguk pelan, matanya masih sedikit sembab tapi sorotnya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia menatap Luki dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rasa terima kasih dan perpisahan yang berat."Aku harus, Mas. Aku pengen kenal Papa lebih jauh lagi, dan mungkin ini satu-satunya cara biar aku bisa tenang," jawab Ajeng dengan suara yang lembut.Luki tersenyum getir, lalu mengacak rambut Ajeng pelan seperti yang biasa ia lakukan dulu sebelum suasana menjadi serumit ini. Ia tahu bahwa mulai hari ini, kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi."Jaga diri baik-baik ya di sana. Jangan lupa kabari kalau sudah sam
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Perpisahan Ajeng dan LukiBaskoro mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberikan kode singkat yang tidak disangka oleh siapa pun di ruangan itu. Seketika, beberapa pria berbadan tegap dengan jaket gelap dan senjata terselip di pinggang menyerbu masuk ke dalam butik."Tangkap Gunawan dan Peter sekarang juga!" perintah Baskoro dengan suara menggelegar yang membuat suasana butik seketika mencekam.Gunawan terbelalak dan mencoba mundur, namun para intel itu dengan sigap mengunci gerakannya serta memborgol tangannya ke belakang. Peter sempat ingin melawan, tapi ia langsung dilumpuhkan ke lantai oleh dua petugas lainnya sebelum sempat berkutik."Mas! Apa-apaan ini? Aku ini adik kamu sendiri, Mas!" teriak Gunawan sambil meronta-ronta di bawah cengkeraman petugas.Baskoro melangkah mendekat ke arah Gunawan, menatap adiknya itu dengan tatapan dingin tanpa ada lagi rasa kasih sayang yang tersisa. Ia mengeluarkan sebuah map berisi tumpukan dokumen yang sudah ia siapkan sejak lama."Kamu pikir aku nggak tahu soal pe
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Kebenaran NyataLuki memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju butik, sementara Tante Sarah hanya diam membisu sambil terus meremas tas tangannya. Begitu sampai, mereka melihat seorang pria paruh baya dengan setelan rapi sedang berdiri membelakangi pintu masuk."Itu orangnya, Tan," bisik Luki sambil membukakan pintu untuk Tante Sarah.Pria itu berbalik perlahan, menatap tajam ke arah mereka berdua. Ajeng yang berdiri di balik meja kasir tampak gemetar, matanya sembab seperti habis menahan tangis karena ketakutan."Baskoro? Bagaimana bisa kamu masih hidup?" tanya Tante Sarah dengan suara bergetar hebat saat mengenali wajah pria itu.Baskoro tidak menjawab pertanyaan itu, ia justru melangkah maju dengan tatapan yang menuntut jawaban pasti. Ia mengabaikan kehadiran Luki dan hanya fokus pada wanita di depannya."Cukup basa-basinya, Sarah. Katakan padaku sekarang, di mana anak saya?" tanya Baskoro dengan nada suara yang berat dan dingin.Ajeng menunduk dalam, ia benar-benar bingung kenapa tamu yang i
Last Updated: 2026-02-09
Godaan Penghuni Kos Puteri
Raga, pria berusia 25 tahun, memilih hidup sederhana sebagai penjaga sebuah kos putri di pinggiran kota. Di mata orang lain, ia hanyalah pemuda biasa yang bekerja demi menyambung hidup. Tak ada yang tahu, Raga menyimpan masa lalu kelam yang membuatnya menyingkir dari kehidupan sebelumnya.
Hari-harinya terlihat tenang, hingga kedatangan para penghuni baru mengubah segalanya. Gadis manja, janda muda, hingga wanita pekerja keras—semuanya tinggal di bawah atap yang sama, dengan rahasia dan kehangatan masing-masing.
Godaan datang tanpa henti. Senyum samar, lirikan penuh arti, dan momen-momen intim yang tak sengaja tercipta membuat Raga harus berjuang menahan diri. Namun semakin ia menolak, semakin kuat tarikan yang menyeretnya ke dalam hubungan terlarang dengan para penghuni kos.
Bisakah Raga bertahan menjaga batas, atau justru tenggelam dalam gairah liar yang siap membakar dirinya?
Read
Chapter: Ending Kebahagiaan Kedua IstriRaga melangkah masuk ke halaman rumah dengan wajah yang sumringah, hampir saja ia bersiul saking senangnya. "Wah, Mas Raga pulang-pulang kok senyumnya lebar banget, ada apa Mas?" tanya Ranti sambil meletakkan tumpukan baju di sampingnya.Raga langsung duduk di antara mereka dengan semangat, ia menaruh kopi bungkusan yang ia bawa dari warung desa. "Kabar bagus, Dek! Ternyata orang-orang di desa sini baik banget, Mas baru aja ngobrol sebentar, eh malah ditawarin bantuan kayu buat bikin keramba," pamer Raga sambil menatap kedua istrinya bergantian.Wulan tersenyum lega, ia mengusap lengan suaminya dengan lembut. "Syukurlah kalau Mas diterima baik di sini, aku sempet khawatir orang kota kayak Mas bakal kaku kalau ngobrol sama warga desa," sahut Wulan sambil terkekeh kecil.Raga menggeleng mantap, ia merasa benar-benar dihargai bukan karena uangnya, tapi karena sikapnya. "Nanti sore Mas mau ambil kayunya ke rumah Pak RT, beliau malah mau bantu Mas masang pondasinya juga biar kuat nahan ar
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Awal Hidup DamaiTante Paula mengangguk pelan ke arah kedua wanita itu, lalu memberikan isyarat dengan matanya. "Wulan, ajak Ranti masuk ke kamar dulu ya, Tante mau bicara sebentar sama Raga. Ada hal penting soal urusan rumah ini," ucap Tante Paula dengan nada yang tidak bisa dibantah namun tetap terdengar tenang. Wulan yang sudah paham tabiat Tante Paula segera mengajak Ranti masuk. "Ayo, Ran, kita beresin kamar buat Tante Paula juga kalau beliau mau menginap," ajak Wulan sambil menggandeng tangan Ranti yang tampak sedikit tegang. Setelah memastikan kedua wanita itu masuk ke dalam rumah, Tante Paula mengajak Raga duduk di kursi teras. Ia melipat tangannya di dada, menatap lurus ke arah danau dengan tatapan dingin yang selama ini ia sembunyikan di depan Wulan. "Raga, dengarkan Tante baik-baik," buka Tante Paula tanpa basa-basi lagi. "Kamu sekarang benar-benar aman tinggal di sini. Carmella dan Lucy sudah Tante singkirkan, mereka nggak akan pernah bisa mengganggu kamu atau menyentuh keluarga kamu la
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Raga & WulanArkhan duduk di kursi kayu teras rumah yang menghadap langsung ke danau, sementara Wulan dan Ranti duduk di hadapannya. Suasana sangat tenang, hanya terdengar suara air danau yang tenang, membuat Arkhan merasa ini adalah waktu yang tepat untuk jujur sepenuhnya. "Ran, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu sebelum kita melangkah lebih jauh di sini," ucap Arkhan dengan nada bicara yang berubah menjadi lebih berat dan serius. Ranti mengernyitkan dahi, ia menatap pria di depannya itu dengan rasa penasaran yang besar. "Ada apa lagi, Mas? Bukannya semua rahasia sudah selesai di kosan kemarin?" tanya Ranti dengan suara lembut. Arkhan melirik istrinya, lalu menarik napas panjang seolah ingin membuang beban yang selama ini menghimpit pundaknya. "Nama aku dan Intan itu sebenarnya bukan Arkhan dan Intan, Ran... nama asli aku adalah Raga, dan istriku ini namanya Wulan," ungkap Raga dengan tatapan yang jujur. Wulan hanya mengangguk pelan, ia menggenggam tangan Ranti seolah menguatkan bahwa apa
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Arkhan dan Kedua IstrinyaArkhan yang sedang terlelap langsung terjaga saat mendengar suara gaduh dari arah kamar mandi. Ia melihat pintu kamar mandi terbuka sedikit, memperlihatkan Intan yang sedang membungkuk di depan wastafel, berusaha mengeluarkan isi perutnya namun hanya cairan bening yang keluar. "Lho, Dek? Kamu kenapa? Masuk angin ya?" tanya Arkhan sambil menghampiri Intan dan memijat tengkuk istrinya dengan lembut. Intan hanya menggeleng lemah, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin membasahi dahinya. "Nggak tahu Mas, tiba-tiba aja mual banget, bau minyak wangi kamu di baju juga rasanya bikin perut aku nggak enak," sahut Intan sambil berkumur untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Arkhan terdiam sejenak, otaknya langsung teringat sesuatu yang ia simpan di dalam laci lemari pakaian sejak bulan lalu. Ia segera berlari menuju lemari dan mengambil sebuah kotak kecil berisi tespek yang memang sengaja ia beli untuk berjaga-jaga. "Ini, kamu coba cek dulu pake ini, Mas curiga kamu bukan sekadar masuk
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Kehebohan Wanita-wanita ArkhanBaru saja Arkhan ingin bernapas lega, tiba-tiba Raya muncul dari balik pagar dengan wajah yang ditekuk masam. Ia langsung berdiri di depan Arkhan, tidak peduli dengan keberadaan Intan, Ranti, dan Nita yang masih berkumpul di sana. "Mas Arkhan pilih kasih banget sih! Kalau emang mau nambah, kenapa cuma mereka berdua? Aku juga mau dong jadi istri keempat!" seru Raya dengan suara lantang yang membuat para penghuni kos lainnya langsung melongokkan kepala. Belum sempat Arkhan menjawab, Anna datang dengan langkah terburu-buru, wajahnya terlihat sembap seperti habis menangis. "Aku juga nggak terima ya, Mas! Daripada tiap mau berhubungan Mas harus bayar aku atau beliin ini itu, mending sekalian nikahin aku aja biar sah!" teriak Anna sambil menunjuk ke arah kamarnya sendiri. Intan yang berdiri di samping Arkhan langsung mematung, matanya terbelalak menatap Anna lalu beralih ke ponsel mahal di tangan gadis itu. "Tunggu... jadi HP baru sama barang-barang mewah kamu kemarin itu dari Mas Arkhan
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Ketidakadlilan Bagi Penghuni Yang LainBelum sempat Arkhan membuka mulut untuk membela diri, sesosok bayangan muncul di ambang pintu depan. Nita melangkah masuk dengan gaya santai, seolah tidak peduli dengan suasana panas yang sedang terjadi di ruang tengah itu. "Duh, berisik banget sih sampai ke kamar kos, ada pesta apa sih di sini?" tanya Nita dengan nada bicara yang enteng, sambil menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. Intan, Ranti, dan Arkhan serentak menoleh ke arah Nita dengan ekspresi yang berbeda-beda. Nita hanya tersenyum tipis, matanya melirik nakal ke arah Arkhan yang wajahnya sudah tidak karuan warnanya. "Mbak Intan jangan terlalu kaget gitu dong, ya namanya juga resiko punya suami ganteng kayak Mas Arkhan," ucap Nita sambil memainkan ujung rambutnya dengan santai. Intan menatap Nita dengan tatapan kosong, seolah tenaganya sudah habis untuk terkejut lagi. "Jadi kamu juga, Nit? Kamu juga ada main sama suamiku?" tanya Intan dengan suara yang nyaris hilang. Nita tertawa kecil, ia melangkah mendekat tanpa ras
Last Updated: 2026-02-20