Chapter: Permintaan Sang Istri"Mas!" Teriakan Maudy memecah lamunan Juned tentang Lusiana. Gadis itu melangkah riang menghampirinya, membawa sebuah gelas besar yang permukaannya sudah berembun dingin. "Nih, Mas. Ngopi dulu," ucap Maudy sambil menyodorkan es kopi itu ke tangan Juned. Juned mengerutkan kening sejenak, menerima gelas yang terasa kontras dengan hawa pegunungan yang mulai hangat. "Lho? Tumben es kopi, Non?" "Iyalah, Mas, biar seger. Agak panas ini cuacanya udah mau siang," sahut Maudy santai. Ia kemudian duduk di sisi Juned, melipat kakinya dan menatap lurus ke arah perbukitan. "Oh gitu... makasih ya," ucap Juned pelan. Ia menyesap es kopi itu, mencoba mendinginkan kepalanya yang sedari tadi mendidih memikirkan Tuan Besar dan Ratna. Maudy terdiam sejenak, lalu berbisik sangat pelan, hampir tertutup suara desir angin. "Coba aja kita bisa terus begini, Mas..." Juned menoleh, dadanya terasa sesak. Ia menghela napas panjang sebelum memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Non kan tahu sendiri, saya
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Kerinduan Sang Majikan"Ah, si Ibu bisa aja. Saya mah udah tua, Bu. Kasihan cucu Ibu kalau sama saya, dia kan masih muda, masih cantik. Biar dia puas-puasin main dan senang-senang dulu sebelum pusing mikirin nikah," jawab Juned santai namun tegas. Si Ibu tertawa, seolah mengerti maksud di balik penolakan halus itu. "Ya udah kalau begitu, Mas. Saya permisi dulu ya. Kalau ada waktu luang, mampir aja ke rumah Ibu di ujung jalan atas sana. Tanya aja rumah Bu Nilam, semua orang di sini tahu kok." "Baik, Bu Nilam. Terima kasih banyak ya," ucap Juned sambil mengantar kepergian mereka dengan pandangan mata. "Pagi-pagi sudah ada yang mau dijodohin saja ya kamu, Mas..." sindir Maudy dengan suara serak khas bangun tidur, namun matanya menatap tajam ke arah Juned. Juned hanya bisa menyengir lebar, mencoba menunjukkan wajah tak berdosa sambil mematikan rokoknya di asbak. "Eh, Non Maudy... udah bangun? Itu tadi cuma bercandaan ibu-ibu penjual ubi aja." Tanpa aba-aba, Maudy melangkah keluar ke teras dengan langkah ce
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: Penawaran PagiCahaya remang subuh mulai mengintip dari celah tirai villa yang tersingkap sedikit. Juned mengerjapkan mata, merasakan beban tubuh Maudy yang masih terlelap lelap di sampingnya dengan napas teratur. Perlahan, ia merogoh ponsel di meja nakas dan menekannya hingga layar menyala terang, membiaskan cahaya pucat ke wajahnya yang lelah. Begitu sinyal tertangkap, rentetan notifikasi masuk bertubi-tubi seperti peluru yang menghujam ketenangannya. Ada belasan pesan dari Desi yang isinya penuh makian, menuduhnya sengaja mematikan ponsel, dan meminta uang untuk beli skincare dan jajan. Daftar panggilan tak terjawab pun berderet panjang, seolah merekam kemarahan yang meluap dari kampung halaman. Juned hanya bisa menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. Di tengah dilema antara dua wanita di rumah majikannya dan satu wanita di rumah aslinya, ia membuka aplikasi perbankan dengan gerakan mekanis. Tanpa banyak pikir, ia mengirimkan uang satu juta rupiah ke rekening Desi—sebuah "uang
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Dongeng Sang SupirJuned menarik napas panjang, berusaha meredam detak jantungnya yang berpacu liar. Ia memaksakan sebuah tawa hambar sambil mengibaskan tangannya di udara, mencoba terlihat sesantai mungkin di hadapan tatapan menyelidiki teman-teman Maudy. "Aduh, kebiasaan saya... maaf, maaf," ucap Juned dengan suara yang diusahakan tetap stabil. Maudy yang berdiri di sampingnya sempat menegang, matanya menatap Juned dengan gurat kekhawatiran yang sangat nyata. Ia tahu betul betapa tipisnya batas antara penyamaran mereka dengan kenyataan pahit yang bisa meledak kapan saja. "Maksudnya itu mama saya di rumah. Biasa, beliau kalau di rumah udah kayak ratu, semua harus dituruti," lanjut Juned sambil terkekeh, mencoba mencairkan suasana. "Kadang saking hormatnya, saya panggil 'Kanjeng Mami' kalau lagi bercanda." Rendy dan Bobby yang tadinya sempat curiga, perlahan mulai mengendurkan dahi mereka. Gelak tawa pun kembali pecah di teras villa tersebut. "Oalah, kirain nyonya siapa, Ned! Berbakti banget ya lo s
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: Keceplosan!Juned berdehem keras, berusaha memutus suasana emosional yang mendadak terasa mencekik lehernya. Ia melepaskan pelukan Maudy dengan gerakan yang terukur, lalu memutar keran shower lebih besar agar air hangat mengguyur tubuh mereka lebih deras. "Udah ah, jangan ngomong yang aneh-aneh begitu," sahut Juned dengan nada suara yang dipaksakan tetap datar, meski jantungnya masih berdegup kencang. Maudy tampak sedikit terkejut dengan reaksi dingin Juned, matanya yang sayu menatap Juned seolah mencari jawaban di balik wajah kaku itu. Namun, Juned segera mengalihkan pandangannya, tangannya meraih botol sabun cair dan mulai mengusapkannya ke bahu Maudy dengan gerakan cepat. "Ayo buruan mandinya, Non. Di sini makin lama makin dingin, nanti kamu malah masuk angin," sambung Juned lagi sambil terus menyabuni punggung Maudy tanpa berani menatap matanya secara langsung. Maudy hanya bisa menghela napas panjang, ia membiarkan Juned membersihkan tubuhnya meski ada kekecewaan kecil yang tersirat di su
Last Updated: 2026-04-05
Chapter: Tanggung Jawab Sebuah KenikmatanLampu-lampu taman villa mulai menyala, membiaskan cahaya temaram ke dalam kamar saat Juned dan Maudy melangkah masuk. Maudy melepaskan ikat rambutnya, menoleh ke arah Juned dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mas, mandi duluan sana. Biar segar badan kamu," suruhnya sambil duduk di pinggir ranjang. Juned menggeleng pelan, ia masih merasa gerah dan pikirannya masih semrawut. "Kamu duluan saja, Maudy. Saya mau luruskan punggung sebentar di sini," tolak Juned halus. Tanpa diduga, Maudy bangkit dan berjalan cepat ke arah Juned, lalu meraih pergelangan tangannya dengan kuat. "Yaudah kalo nggak mau! Mendingan kita mandi bareng, ayo ikut aku ke dalam!" paksa Maudy sambil menarik tubuh Juned menuju pintu kamar mandi. Juned terperanjat, berusaha menahan langkahnya meski tenaga Maudy cukup kuat untuk menyeretnya. "Eh, Non! Jangan bercanda, nanti kalau teman-teman kamu tau gimana?" bisik Juned panik, namun Maudy hanya tertawa kecil melihat kegugupan pria di depannya. Tepat di ambang pintu k
Last Updated: 2026-04-05
Chapter: Georgio Lukas Hermansyah.Pemandangan hijau dari pepohonan asri di pinggiran kota Medan menyambut pagi pertama mereka di rumah baru yang cukup luas itu. Luki baru saja selesai memasang papan nama kecil di depan pintu, sementara Sarah sedang sibuk menata vas bunga di atas meja ruang tamu."Gimana, Mas Luki? Udah pas belum posisi sofanya kalau di pojok situ?" tanya Sarah sambil mengelap keringat di dahi dengan punggung tangannya.Luki berjalan mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Sarah dari belakang dengan penuh kemesraan. Ia mencium pundak Sarah yang sekarang sudah resmi menggunakan identitas baru sebagai istrinya di mata para tetangga."Udah pas banget, Sayang. Rumah ini bakal jadi awal yang baru buat kita, nggak ada lagi bayang-bayang Jakarta," jawab Luki sambil mengeratkan pelukannya.Sarah membalikkan badannya, menatap wajah pria yang kini menjadi tumpuan hidupnya itu dengan mata yang berbinar bahagia. Ia merasa sangat aman berada di kota ini, jauh dari segala kerumitan kasus hukum yang menimpa
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Langkah AkhirMobil-mobil hitam tanpa plat nomor itu melaju kencang menembus jalanan setapak yang dikelilingi pohon-pohon besar. Herman duduk di samping Baskoro dengan wajah yang sangat tegang, matanya terus memperhatikan layar pelacak yang dipegang oleh salah satu anggota intel di kursi belakang."Dia nggak akan bisa lari lebih jauh lagi, Man. Tim kita sudah menutup semua akses keluar dari area ini," ucap Baskoro sambil memutar kemudi dengan sigap.Hermawan hanya diam, namun rahangnya mengeras saat melihat sebuah rumah kayu sederhana yang tersembunyi di balik rimbunnya semak belukar. Begitu mobil berhenti, tim intel langsung keluar dengan senjata lengkap dan mengepung seluruh sudut rumah tersebut dengan sangat rapi."Keluar, Maria! Jangan buat keadaan jadi lebih sulit buat kamu sendiri!" teriak pimpinan intel melalui pengeras suara.Pintu rumah itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Maria yang tampak berantakan dengan wajah penuh ketakutan. Ia sempat mencoba lari ke arah pintu belakang, namun dua
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Pelarian, Kebahagiaan, Dan KebebasanCahaya matahari pagi di Kalimantan masuk malu-malu lewat celah gorden kamar hotel, menyinari Luki dan Sarah yang masih bergelung di balik selimut. Suasana begitu tenang, sangat kontras dengan ketegangan yang mereka lalui di Jakarta kemarin."Luk, kita nggak bisa balik lagi ke sana. Kamu siap kan jadi pasangan Tante buat selamanya?" tanya Sarah sambil mengusap pipi Luki lembut.Luki menatap mata Sarah dalam-dalam, merasakan ketulusan sekaligus beban besar yang kini mereka bagi bersama. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengangguk mantap lalu mengecup dahi wanita yang kini menjadi pelabuhan terakhirnya itu."Aku siap, Tan. Dari awal aku udah milih untuk berdiri di samping Tante, apa pun risikonya," jawab Luki pelan namun penuh keyakinan.Sarah tersenyum manis, sebuah senyuman yang belum pernah Luki lihat sebelumnya, lalu ia menarik tengkuk Luki untuk mendekat. Bibir mereka bertemu dalam sebuah cumbuan yang lembut, perlahan berubah menjadi luapan gairah yang romantis dan penuh perasaan.
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Pelarian Luki dan SarahLuki dan Ajeng berdiri agak menjauh dari kerumunan petugas yang masih sibuk di butik. Mereka saling berhadapan, namun ada kecanggungan yang menggantung di antara mereka setelah semua rahasia besar ini terbongkar."Jadi, kamu beneran bakal pergi ya, Jeng?" tanya Luki sambil memasukkan tangan ke saku celananya, berusaha menyembunyikan jarinya yang sedikit gemetar.Ajeng mengangguk pelan, matanya masih sedikit sembab tapi sorotnya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia menatap Luki dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rasa terima kasih dan perpisahan yang berat."Aku harus, Mas. Aku pengen kenal Papa lebih jauh lagi, dan mungkin ini satu-satunya cara biar aku bisa tenang," jawab Ajeng dengan suara yang lembut.Luki tersenyum getir, lalu mengacak rambut Ajeng pelan seperti yang biasa ia lakukan dulu sebelum suasana menjadi serumit ini. Ia tahu bahwa mulai hari ini, kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi."Jaga diri baik-baik ya di sana. Jangan lupa kabari kalau sudah sam
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Perpisahan Ajeng dan LukiBaskoro mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberikan kode singkat yang tidak disangka oleh siapa pun di ruangan itu. Seketika, beberapa pria berbadan tegap dengan jaket gelap dan senjata terselip di pinggang menyerbu masuk ke dalam butik."Tangkap Gunawan dan Peter sekarang juga!" perintah Baskoro dengan suara menggelegar yang membuat suasana butik seketika mencekam.Gunawan terbelalak dan mencoba mundur, namun para intel itu dengan sigap mengunci gerakannya serta memborgol tangannya ke belakang. Peter sempat ingin melawan, tapi ia langsung dilumpuhkan ke lantai oleh dua petugas lainnya sebelum sempat berkutik."Mas! Apa-apaan ini? Aku ini adik kamu sendiri, Mas!" teriak Gunawan sambil meronta-ronta di bawah cengkeraman petugas.Baskoro melangkah mendekat ke arah Gunawan, menatap adiknya itu dengan tatapan dingin tanpa ada lagi rasa kasih sayang yang tersisa. Ia mengeluarkan sebuah map berisi tumpukan dokumen yang sudah ia siapkan sejak lama."Kamu pikir aku nggak tahu soal pe
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: Kebenaran NyataLuki memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju butik, sementara Tante Sarah hanya diam membisu sambil terus meremas tas tangannya. Begitu sampai, mereka melihat seorang pria paruh baya dengan setelan rapi sedang berdiri membelakangi pintu masuk."Itu orangnya, Tan," bisik Luki sambil membukakan pintu untuk Tante Sarah.Pria itu berbalik perlahan, menatap tajam ke arah mereka berdua. Ajeng yang berdiri di balik meja kasir tampak gemetar, matanya sembab seperti habis menahan tangis karena ketakutan."Baskoro? Bagaimana bisa kamu masih hidup?" tanya Tante Sarah dengan suara bergetar hebat saat mengenali wajah pria itu.Baskoro tidak menjawab pertanyaan itu, ia justru melangkah maju dengan tatapan yang menuntut jawaban pasti. Ia mengabaikan kehadiran Luki dan hanya fokus pada wanita di depannya."Cukup basa-basinya, Sarah. Katakan padaku sekarang, di mana anak saya?" tanya Baskoro dengan nada suara yang berat dan dingin.Ajeng menunduk dalam, ia benar-benar bingung kenapa tamu yang i
Last Updated: 2026-02-09
Godaan Penghuni Kos Puteri
Raga, pria berusia 25 tahun, memilih hidup sederhana sebagai penjaga sebuah kos putri di pinggiran kota. Di mata orang lain, ia hanyalah pemuda biasa yang bekerja demi menyambung hidup. Tak ada yang tahu, Raga menyimpan masa lalu kelam yang membuatnya menyingkir dari kehidupan sebelumnya.
Hari-harinya terlihat tenang, hingga kedatangan para penghuni baru mengubah segalanya. Gadis manja, janda muda, hingga wanita pekerja keras—semuanya tinggal di bawah atap yang sama, dengan rahasia dan kehangatan masing-masing.
Godaan datang tanpa henti. Senyum samar, lirikan penuh arti, dan momen-momen intim yang tak sengaja tercipta membuat Raga harus berjuang menahan diri. Namun semakin ia menolak, semakin kuat tarikan yang menyeretnya ke dalam hubungan terlarang dengan para penghuni kos.
Bisakah Raga bertahan menjaga batas, atau justru tenggelam dalam gairah liar yang siap membakar dirinya?
Read
Chapter: Ending Kebahagiaan Kedua IstriRaga melangkah masuk ke halaman rumah dengan wajah yang sumringah, hampir saja ia bersiul saking senangnya. "Wah, Mas Raga pulang-pulang kok senyumnya lebar banget, ada apa Mas?" tanya Ranti sambil meletakkan tumpukan baju di sampingnya.Raga langsung duduk di antara mereka dengan semangat, ia menaruh kopi bungkusan yang ia bawa dari warung desa. "Kabar bagus, Dek! Ternyata orang-orang di desa sini baik banget, Mas baru aja ngobrol sebentar, eh malah ditawarin bantuan kayu buat bikin keramba," pamer Raga sambil menatap kedua istrinya bergantian.Wulan tersenyum lega, ia mengusap lengan suaminya dengan lembut. "Syukurlah kalau Mas diterima baik di sini, aku sempet khawatir orang kota kayak Mas bakal kaku kalau ngobrol sama warga desa," sahut Wulan sambil terkekeh kecil.Raga menggeleng mantap, ia merasa benar-benar dihargai bukan karena uangnya, tapi karena sikapnya. "Nanti sore Mas mau ambil kayunya ke rumah Pak RT, beliau malah mau bantu Mas masang pondasinya juga biar kuat nahan ar
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Awal Hidup DamaiTante Paula mengangguk pelan ke arah kedua wanita itu, lalu memberikan isyarat dengan matanya. "Wulan, ajak Ranti masuk ke kamar dulu ya, Tante mau bicara sebentar sama Raga. Ada hal penting soal urusan rumah ini," ucap Tante Paula dengan nada yang tidak bisa dibantah namun tetap terdengar tenang. Wulan yang sudah paham tabiat Tante Paula segera mengajak Ranti masuk. "Ayo, Ran, kita beresin kamar buat Tante Paula juga kalau beliau mau menginap," ajak Wulan sambil menggandeng tangan Ranti yang tampak sedikit tegang. Setelah memastikan kedua wanita itu masuk ke dalam rumah, Tante Paula mengajak Raga duduk di kursi teras. Ia melipat tangannya di dada, menatap lurus ke arah danau dengan tatapan dingin yang selama ini ia sembunyikan di depan Wulan. "Raga, dengarkan Tante baik-baik," buka Tante Paula tanpa basa-basi lagi. "Kamu sekarang benar-benar aman tinggal di sini. Carmella dan Lucy sudah Tante singkirkan, mereka nggak akan pernah bisa mengganggu kamu atau menyentuh keluarga kamu la
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Raga & WulanArkhan duduk di kursi kayu teras rumah yang menghadap langsung ke danau, sementara Wulan dan Ranti duduk di hadapannya. Suasana sangat tenang, hanya terdengar suara air danau yang tenang, membuat Arkhan merasa ini adalah waktu yang tepat untuk jujur sepenuhnya. "Ran, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu sebelum kita melangkah lebih jauh di sini," ucap Arkhan dengan nada bicara yang berubah menjadi lebih berat dan serius. Ranti mengernyitkan dahi, ia menatap pria di depannya itu dengan rasa penasaran yang besar. "Ada apa lagi, Mas? Bukannya semua rahasia sudah selesai di kosan kemarin?" tanya Ranti dengan suara lembut. Arkhan melirik istrinya, lalu menarik napas panjang seolah ingin membuang beban yang selama ini menghimpit pundaknya. "Nama aku dan Intan itu sebenarnya bukan Arkhan dan Intan, Ran... nama asli aku adalah Raga, dan istriku ini namanya Wulan," ungkap Raga dengan tatapan yang jujur. Wulan hanya mengangguk pelan, ia menggenggam tangan Ranti seolah menguatkan bahwa apa
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Arkhan dan Kedua IstrinyaArkhan yang sedang terlelap langsung terjaga saat mendengar suara gaduh dari arah kamar mandi. Ia melihat pintu kamar mandi terbuka sedikit, memperlihatkan Intan yang sedang membungkuk di depan wastafel, berusaha mengeluarkan isi perutnya namun hanya cairan bening yang keluar. "Lho, Dek? Kamu kenapa? Masuk angin ya?" tanya Arkhan sambil menghampiri Intan dan memijat tengkuk istrinya dengan lembut. Intan hanya menggeleng lemah, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin membasahi dahinya. "Nggak tahu Mas, tiba-tiba aja mual banget, bau minyak wangi kamu di baju juga rasanya bikin perut aku nggak enak," sahut Intan sambil berkumur untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Arkhan terdiam sejenak, otaknya langsung teringat sesuatu yang ia simpan di dalam laci lemari pakaian sejak bulan lalu. Ia segera berlari menuju lemari dan mengambil sebuah kotak kecil berisi tespek yang memang sengaja ia beli untuk berjaga-jaga. "Ini, kamu coba cek dulu pake ini, Mas curiga kamu bukan sekadar masuk
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Kehebohan Wanita-wanita ArkhanBaru saja Arkhan ingin bernapas lega, tiba-tiba Raya muncul dari balik pagar dengan wajah yang ditekuk masam. Ia langsung berdiri di depan Arkhan, tidak peduli dengan keberadaan Intan, Ranti, dan Nita yang masih berkumpul di sana. "Mas Arkhan pilih kasih banget sih! Kalau emang mau nambah, kenapa cuma mereka berdua? Aku juga mau dong jadi istri keempat!" seru Raya dengan suara lantang yang membuat para penghuni kos lainnya langsung melongokkan kepala. Belum sempat Arkhan menjawab, Anna datang dengan langkah terburu-buru, wajahnya terlihat sembap seperti habis menangis. "Aku juga nggak terima ya, Mas! Daripada tiap mau berhubungan Mas harus bayar aku atau beliin ini itu, mending sekalian nikahin aku aja biar sah!" teriak Anna sambil menunjuk ke arah kamarnya sendiri. Intan yang berdiri di samping Arkhan langsung mematung, matanya terbelalak menatap Anna lalu beralih ke ponsel mahal di tangan gadis itu. "Tunggu... jadi HP baru sama barang-barang mewah kamu kemarin itu dari Mas Arkhan
Last Updated: 2026-02-20
Chapter: Ketidakadlilan Bagi Penghuni Yang LainBelum sempat Arkhan membuka mulut untuk membela diri, sesosok bayangan muncul di ambang pintu depan. Nita melangkah masuk dengan gaya santai, seolah tidak peduli dengan suasana panas yang sedang terjadi di ruang tengah itu. "Duh, berisik banget sih sampai ke kamar kos, ada pesta apa sih di sini?" tanya Nita dengan nada bicara yang enteng, sambil menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. Intan, Ranti, dan Arkhan serentak menoleh ke arah Nita dengan ekspresi yang berbeda-beda. Nita hanya tersenyum tipis, matanya melirik nakal ke arah Arkhan yang wajahnya sudah tidak karuan warnanya. "Mbak Intan jangan terlalu kaget gitu dong, ya namanya juga resiko punya suami ganteng kayak Mas Arkhan," ucap Nita sambil memainkan ujung rambutnya dengan santai. Intan menatap Nita dengan tatapan kosong, seolah tenaganya sudah habis untuk terkejut lagi. "Jadi kamu juga, Nit? Kamu juga ada main sama suamiku?" tanya Intan dengan suara yang nyaris hilang. Nita tertawa kecil, ia melangkah mendekat tanpa ras
Last Updated: 2026-02-20