Chapter: Ending Kebahagiaan Kedua IstriRaga melangkah masuk ke halaman rumah dengan wajah yang sumringah, hampir saja ia bersiul saking senangnya. "Wah, Mas Raga pulang-pulang kok senyumnya lebar banget, ada apa Mas?" tanya Ranti sambil meletakkan tumpukan baju di sampingnya.Raga langsung duduk di antara mereka dengan semangat, ia menaruh kopi bungkusan yang ia bawa dari warung desa. "Kabar bagus, Dek! Ternyata orang-orang di desa sini baik banget, Mas baru aja ngobrol sebentar, eh malah ditawarin bantuan kayu buat bikin keramba," pamer Raga sambil menatap kedua istrinya bergantian.Wulan tersenyum lega, ia mengusap lengan suaminya dengan lembut. "Syukurlah kalau Mas diterima baik di sini, aku sempet khawatir orang kota kayak Mas bakal kaku kalau ngobrol sama warga desa," sahut Wulan sambil terkekeh kecil.Raga menggeleng mantap, ia merasa benar-benar dihargai bukan karena uangnya, tapi karena sikapnya. "Nanti sore Mas mau ambil kayunya ke rumah Pak RT, beliau malah mau bantu Mas masang pondasinya juga biar kuat nahan ar
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Awal Hidup DamaiTante Paula mengangguk pelan ke arah kedua wanita itu, lalu memberikan isyarat dengan matanya. "Wulan, ajak Ranti masuk ke kamar dulu ya, Tante mau bicara sebentar sama Raga. Ada hal penting soal urusan rumah ini," ucap Tante Paula dengan nada yang tidak bisa dibantah namun tetap terdengar tenang. Wulan yang sudah paham tabiat Tante Paula segera mengajak Ranti masuk. "Ayo, Ran, kita beresin kamar buat Tante Paula juga kalau beliau mau menginap," ajak Wulan sambil menggandeng tangan Ranti yang tampak sedikit tegang. Setelah memastikan kedua wanita itu masuk ke dalam rumah, Tante Paula mengajak Raga duduk di kursi teras. Ia melipat tangannya di dada, menatap lurus ke arah danau dengan tatapan dingin yang selama ini ia sembunyikan di depan Wulan. "Raga, dengarkan Tante baik-baik," buka Tante Paula tanpa basa-basi lagi. "Kamu sekarang benar-benar aman tinggal di sini. Carmella dan Lucy sudah Tante singkirkan, mereka nggak akan pernah bisa mengganggu kamu atau menyentuh keluarga kamu la
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Raga & WulanArkhan duduk di kursi kayu teras rumah yang menghadap langsung ke danau, sementara Wulan dan Ranti duduk di hadapannya. Suasana sangat tenang, hanya terdengar suara air danau yang tenang, membuat Arkhan merasa ini adalah waktu yang tepat untuk jujur sepenuhnya. "Ran, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu sebelum kita melangkah lebih jauh di sini," ucap Arkhan dengan nada bicara yang berubah menjadi lebih berat dan serius. Ranti mengernyitkan dahi, ia menatap pria di depannya itu dengan rasa penasaran yang besar. "Ada apa lagi, Mas? Bukannya semua rahasia sudah selesai di kosan kemarin?" tanya Ranti dengan suara lembut. Arkhan melirik istrinya, lalu menarik napas panjang seolah ingin membuang beban yang selama ini menghimpit pundaknya. "Nama aku dan Intan itu sebenarnya bukan Arkhan dan Intan, Ran... nama asli aku adalah Raga, dan istriku ini namanya Wulan," ungkap Raga dengan tatapan yang jujur. Wulan hanya mengangguk pelan, ia menggenggam tangan Ranti seolah menguatkan bahwa apa
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Arkhan dan Kedua IstrinyaArkhan yang sedang terlelap langsung terjaga saat mendengar suara gaduh dari arah kamar mandi. Ia melihat pintu kamar mandi terbuka sedikit, memperlihatkan Intan yang sedang membungkuk di depan wastafel, berusaha mengeluarkan isi perutnya namun hanya cairan bening yang keluar. "Lho, Dek? Kamu kenapa? Masuk angin ya?" tanya Arkhan sambil menghampiri Intan dan memijat tengkuk istrinya dengan lembut. Intan hanya menggeleng lemah, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin membasahi dahinya. "Nggak tahu Mas, tiba-tiba aja mual banget, bau minyak wangi kamu di baju juga rasanya bikin perut aku nggak enak," sahut Intan sambil berkumur untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Arkhan terdiam sejenak, otaknya langsung teringat sesuatu yang ia simpan di dalam laci lemari pakaian sejak bulan lalu. Ia segera berlari menuju lemari dan mengambil sebuah kotak kecil berisi tespek yang memang sengaja ia beli untuk berjaga-jaga. "Ini, kamu coba cek dulu pake ini, Mas curiga kamu bukan sekadar masuk
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Kehebohan Wanita-wanita ArkhanBaru saja Arkhan ingin bernapas lega, tiba-tiba Raya muncul dari balik pagar dengan wajah yang ditekuk masam. Ia langsung berdiri di depan Arkhan, tidak peduli dengan keberadaan Intan, Ranti, dan Nita yang masih berkumpul di sana. "Mas Arkhan pilih kasih banget sih! Kalau emang mau nambah, kenapa cuma mereka berdua? Aku juga mau dong jadi istri keempat!" seru Raya dengan suara lantang yang membuat para penghuni kos lainnya langsung melongokkan kepala. Belum sempat Arkhan menjawab, Anna datang dengan langkah terburu-buru, wajahnya terlihat sembap seperti habis menangis. "Aku juga nggak terima ya, Mas! Daripada tiap mau berhubungan Mas harus bayar aku atau beliin ini itu, mending sekalian nikahin aku aja biar sah!" teriak Anna sambil menunjuk ke arah kamarnya sendiri. Intan yang berdiri di samping Arkhan langsung mematung, matanya terbelalak menatap Anna lalu beralih ke ponsel mahal di tangan gadis itu. "Tunggu... jadi HP baru sama barang-barang mewah kamu kemarin itu dari Mas Arkhan
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Ketidakadlilan Bagi Penghuni Yang LainBelum sempat Arkhan membuka mulut untuk membela diri, sesosok bayangan muncul di ambang pintu depan. Nita melangkah masuk dengan gaya santai, seolah tidak peduli dengan suasana panas yang sedang terjadi di ruang tengah itu. "Duh, berisik banget sih sampai ke kamar kos, ada pesta apa sih di sini?" tanya Nita dengan nada bicara yang enteng, sambil menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. Intan, Ranti, dan Arkhan serentak menoleh ke arah Nita dengan ekspresi yang berbeda-beda. Nita hanya tersenyum tipis, matanya melirik nakal ke arah Arkhan yang wajahnya sudah tidak karuan warnanya. "Mbak Intan jangan terlalu kaget gitu dong, ya namanya juga resiko punya suami ganteng kayak Mas Arkhan," ucap Nita sambil memainkan ujung rambutnya dengan santai. Intan menatap Nita dengan tatapan kosong, seolah tenaganya sudah habis untuk terkejut lagi. "Jadi kamu juga, Nit? Kamu juga ada main sama suamiku?" tanya Intan dengan suara yang nyaris hilang. Nita tertawa kecil, ia melangkah mendekat tanpa ras
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Georgio Lukas Hermansyah.Pemandangan hijau dari pepohonan asri di pinggiran kota Medan menyambut pagi pertama mereka di rumah baru yang cukup luas itu. Luki baru saja selesai memasang papan nama kecil di depan pintu, sementara Sarah sedang sibuk menata vas bunga di atas meja ruang tamu."Gimana, Mas Luki? Udah pas belum posisi sofanya kalau di pojok situ?" tanya Sarah sambil mengelap keringat di dahi dengan punggung tangannya.Luki berjalan mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Sarah dari belakang dengan penuh kemesraan. Ia mencium pundak Sarah yang sekarang sudah resmi menggunakan identitas baru sebagai istrinya di mata para tetangga."Udah pas banget, Sayang. Rumah ini bakal jadi awal yang baru buat kita, nggak ada lagi bayang-bayang Jakarta," jawab Luki sambil mengeratkan pelukannya.Sarah membalikkan badannya, menatap wajah pria yang kini menjadi tumpuan hidupnya itu dengan mata yang berbinar bahagia. Ia merasa sangat aman berada di kota ini, jauh dari segala kerumitan kasus hukum yang menimpa
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Langkah AkhirMobil-mobil hitam tanpa plat nomor itu melaju kencang menembus jalanan setapak yang dikelilingi pohon-pohon besar. Herman duduk di samping Baskoro dengan wajah yang sangat tegang, matanya terus memperhatikan layar pelacak yang dipegang oleh salah satu anggota intel di kursi belakang."Dia nggak akan bisa lari lebih jauh lagi, Man. Tim kita sudah menutup semua akses keluar dari area ini," ucap Baskoro sambil memutar kemudi dengan sigap.Hermawan hanya diam, namun rahangnya mengeras saat melihat sebuah rumah kayu sederhana yang tersembunyi di balik rimbunnya semak belukar. Begitu mobil berhenti, tim intel langsung keluar dengan senjata lengkap dan mengepung seluruh sudut rumah tersebut dengan sangat rapi."Keluar, Maria! Jangan buat keadaan jadi lebih sulit buat kamu sendiri!" teriak pimpinan intel melalui pengeras suara.Pintu rumah itu terbuka perlahan, menampakkan sosok Maria yang tampak berantakan dengan wajah penuh ketakutan. Ia sempat mencoba lari ke arah pintu belakang, namun dua
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Pelarian, Kebahagiaan, Dan KebebasanCahaya matahari pagi di Kalimantan masuk malu-malu lewat celah gorden kamar hotel, menyinari Luki dan Sarah yang masih bergelung di balik selimut. Suasana begitu tenang, sangat kontras dengan ketegangan yang mereka lalui di Jakarta kemarin."Luk, kita nggak bisa balik lagi ke sana. Kamu siap kan jadi pasangan Tante buat selamanya?" tanya Sarah sambil mengusap pipi Luki lembut.Luki menatap mata Sarah dalam-dalam, merasakan ketulusan sekaligus beban besar yang kini mereka bagi bersama. Tanpa keraguan sedikit pun, ia mengangguk mantap lalu mengecup dahi wanita yang kini menjadi pelabuhan terakhirnya itu."Aku siap, Tan. Dari awal aku udah milih untuk berdiri di samping Tante, apa pun risikonya," jawab Luki pelan namun penuh keyakinan.Sarah tersenyum manis, sebuah senyuman yang belum pernah Luki lihat sebelumnya, lalu ia menarik tengkuk Luki untuk mendekat. Bibir mereka bertemu dalam sebuah cumbuan yang lembut, perlahan berubah menjadi luapan gairah yang romantis dan penuh perasaan.
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Pelarian Luki dan SarahLuki dan Ajeng berdiri agak menjauh dari kerumunan petugas yang masih sibuk di butik. Mereka saling berhadapan, namun ada kecanggungan yang menggantung di antara mereka setelah semua rahasia besar ini terbongkar."Jadi, kamu beneran bakal pergi ya, Jeng?" tanya Luki sambil memasukkan tangan ke saku celananya, berusaha menyembunyikan jarinya yang sedikit gemetar.Ajeng mengangguk pelan, matanya masih sedikit sembab tapi sorotnya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia menatap Luki dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rasa terima kasih dan perpisahan yang berat."Aku harus, Mas. Aku pengen kenal Papa lebih jauh lagi, dan mungkin ini satu-satunya cara biar aku bisa tenang," jawab Ajeng dengan suara yang lembut.Luki tersenyum getir, lalu mengacak rambut Ajeng pelan seperti yang biasa ia lakukan dulu sebelum suasana menjadi serumit ini. Ia tahu bahwa mulai hari ini, kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi."Jaga diri baik-baik ya di sana. Jangan lupa kabari kalau sudah sam
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Perpisahan Ajeng dan LukiBaskoro mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberikan kode singkat yang tidak disangka oleh siapa pun di ruangan itu. Seketika, beberapa pria berbadan tegap dengan jaket gelap dan senjata terselip di pinggang menyerbu masuk ke dalam butik."Tangkap Gunawan dan Peter sekarang juga!" perintah Baskoro dengan suara menggelegar yang membuat suasana butik seketika mencekam.Gunawan terbelalak dan mencoba mundur, namun para intel itu dengan sigap mengunci gerakannya serta memborgol tangannya ke belakang. Peter sempat ingin melawan, tapi ia langsung dilumpuhkan ke lantai oleh dua petugas lainnya sebelum sempat berkutik."Mas! Apa-apaan ini? Aku ini adik kamu sendiri, Mas!" teriak Gunawan sambil meronta-ronta di bawah cengkeraman petugas.Baskoro melangkah mendekat ke arah Gunawan, menatap adiknya itu dengan tatapan dingin tanpa ada lagi rasa kasih sayang yang tersisa. Ia mengeluarkan sebuah map berisi tumpukan dokumen yang sudah ia siapkan sejak lama."Kamu pikir aku nggak tahu soal pe
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Kebenaran NyataLuki memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju butik, sementara Tante Sarah hanya diam membisu sambil terus meremas tas tangannya. Begitu sampai, mereka melihat seorang pria paruh baya dengan setelan rapi sedang berdiri membelakangi pintu masuk."Itu orangnya, Tan," bisik Luki sambil membukakan pintu untuk Tante Sarah.Pria itu berbalik perlahan, menatap tajam ke arah mereka berdua. Ajeng yang berdiri di balik meja kasir tampak gemetar, matanya sembab seperti habis menahan tangis karena ketakutan."Baskoro? Bagaimana bisa kamu masih hidup?" tanya Tante Sarah dengan suara bergetar hebat saat mengenali wajah pria itu.Baskoro tidak menjawab pertanyaan itu, ia justru melangkah maju dengan tatapan yang menuntut jawaban pasti. Ia mengabaikan kehadiran Luki dan hanya fokus pada wanita di depannya."Cukup basa-basinya, Sarah. Katakan padaku sekarang, di mana anak saya?" tanya Baskoro dengan nada suara yang berat dan dingin.Ajeng menunduk dalam, ia benar-benar bingung kenapa tamu yang i
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Kepanikan Di Antara KeteganganJuned berjalan perlahan melewati ruang tengah sambil menenteng kotak kue, ia sempat melirik ke arah tangga tempat Maudy baru saja menghilang. "Nyonya, ini pesanan kuenya," ucap Juned sambil meletakkan kotak itu dengan sangat hati-hati di atas meja. Ratna mengalihkan pandangannya dari layar laptop, ia menyesap tehnya sedikit lalu menatap wajah Juned yang tampak masih agak tegang. "Oh, taruh aja di situ, Ned. Kok lama banget? Maudy mana?" tanya Ratna sambil merapikan letak kacamatanya. Juned berdiri dengan posisi tegak, ia berusaha menyembunyikan sisa emosinya setelah kejadian di kedai minuman tadi. "Non Maudy langsung ke kamar, Nyonya, tadi mampir dulu beli minuman sama Non Maudy," jawab Juned dengan suara yang diatur sesopan mungkin. "Oh gitu. Yaudah tolong ambilin saya dua piring kecil, garpu, sama pisau rotinya di dapur," perintah Ratna sambil mulai membuka pita kotak kue tersebut. Juned segera melangkah ke dapur dan kembali dengan peralatan yang diminta, lalu mel
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Perlindungan Untuk Nona MudaJuned sedang fokus menggosok kap mesin mobil dengan kain, mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian panas di dalam rumah tadi. Namun, suara langkah kaki yang ringan dan riang dari arah pintu samping membuat gerakan tangannya seketika melambat. "Aduh, firasat ku kok nggak enak begini ya," gumam batin Juned sambil melirik dari sudut matanya ke arah Maudy yang berjalan mendekat. Maudy menghampiri dengan senyum lebar, ia berdiri sangat dekat dengan Juned yang sedang sedikit membungkuk mengelap bagian pintu. "Mas Juned kok kelihatannya tegang banget sih? Santai aja kali," ucap Maudy sambil tertawa kecil melihat bahu Juned yang kaku. Tanpa permisi, Maudy merunduk dan mendaratkan telapak tangannya di paha Juned, lalu jemarinya mulai merangkak naik perlahan mendekati area kejantanan pria itu. Juned tersentak hingga hampir menjatuhkan kain lapnya, ia menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada Ratna di sekitar situ. "E-eh, Non... jangan begini, nanti kalau kelihatan Nyonya bisa
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Menuntut Jawaban Di Sela Godaan"E-eh, itu Nyonya... begini ceritanya," ucap Juned terbata-bata sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ratna melipat tangan di dada. "Jangan coba-coba bohong ya, Ned. Kamu tau kan saya paling nggak suka dibohongi?" ancam Ratna pelan. Juned menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar suaranya terdengar meyakinkan. "Semalam itu Non Maudy mabuk parah Nyonya, pas di jalan pulang dia tiba-tiba lepas itunya sendiri," jelas Juned dengan wajah memelas. Ratna mengernyitkan dahi, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Mau ngapain dia begitu di dalam mobil?" tanya Ratna lagi dengan nada meninggi. "Katanya mau pipis, dia maksa minta berhenti di pinggir jalan, tapi saya nggak berani, karena bahaya," sahut Juned sambil menundukkan kepala. Ia melanjutkan penjelasannya dengan cepat sebelum Ratna sempat menyela lagi. "Saya tetap jalan terus sampai rumah, eh pas sampai ternyata Non Maudy sudah tidur pulas, jadi saya langsung angkat dia ke kamar." Ratna te
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: Sesuatu Yang TertinggalMaudy melepaskan tautan bibir mereka secara paksa, lalu mendorong dada Juned dengan sisa tenaga yang ia miliki. Juned yang tidak siap terhuyung keluar dari pintu mobil yang masih terbuka hingga punggungnya membentur tembok garasi.“Non jangan non!”"Minggir!" bentak Maudy sambil berusaha bangkit. "Non, astaga... Non Maudy sadar!" seru Juned sambil berusaha berdiri tegak. Alih-alih menjawab, Maudy justru duduk di tepi jok belakang dan mulai melepas celana dalamnya dengan gerakan yang sangat berani. "Kamu penasaran kan, Mas? Iya kan? Aku tau kamu pengen banget, kan?" racau Maudy sambil bangkit dan menghampiri Juned. Tangan Maudy bergerak secepat kilat meraih ikat pinggang Juned dan melucuti celana pria itu hingga merosot ke lantai garasi. "Duduk! ku bilang duduk!" perintah Maudy sambil mendorong tubuh kekar Juned hingga duduk dan hampir terbaring di jok belakang yang sempit. Juned terduduk kaku di kursi belakang mobil dengan pintu yang masih terbuka. Ia hanya bisa menatap Maudy
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Tertangkap BasahJuned merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar. Bayangan jemarinya yang menyentuh kulit lembut Ratna di bawah kain jarit tadi terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang tak mau berhenti. Belum lagi saat anak majikannya jatuh di dekapannya. Belum lagi bekerja di tempat ini kerjaannya lebih ekstra dari sekadar mengantar.Belum lagi ia menghampiri istrinya sesampai di Jakarta. Semua bercampur jadi satu. "Sial, kalau begini terus mana bisa tidur," umpat Juned dengan suara parau yang tertahan. Juned mendesah kasar, tangannya perlahan merogoh ke dalam celana saat bayangan paha mulus Ratna dan dekapan hangat Maudy mulai menyiksa pikirannya. Miliknya sudah menegang keras, menuntut pelepasan yang sedari tadi ia tahan di depan kedua wanita itu. "Sial, benar-benar bikin gila," umpat Juned dengan napas yang mulai memburu. Ia memejamkan mata erat, membayangkan jemarinya tidak lagi memijat kaki Ratna, melainkan menjelajahi area sensiti
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Targedi Tak TerdugaRatna dan Juned segera merapikan posisi masing-masing agar tidak terlihat mencurigakan di mata Maudy. Ratna merapatkan kedua kakinya dengan cepat sambil menoleh ke arah pintu dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin. Maudy menyipitkan mata, menatap bergantian ke arah ibunya dan Juned yang masih memegang botol minyak pijat. "Kalian lagi ngapain?" tanya Maudy penuh selidik. Ratna menghela napas panjang seolah memang sedang menahan rasa sakit di persendian tubuhnya akibat berolahraga tadi sore. "Oh, ini... habis main padel badan Mama pegal semua, jadi Mama suruh Juned mijitin Mama," jawab Ratna tenang. Maudy mengangguk pelan. Ia menatap Juned sejenak. "Kenapa nggak panggil Mbok Ijah aja?" tanya Maudy lagi. Ratna sedikit memperbaiki letak kain jaritnya agar menutupi paha dengan sempurna di depan anak gadisnya itu. "Tadi Mama sudah telepon Bu Lastri katanya Mbok Ijah lagi ada panggilan pijit juga, jadi nggak bisa datang," jawab Ratna meyakinkan. Setelah memberika
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09