ANMELDENJuned merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar.
Bayangan jemarinya yang menyentuh kulit lembut Ratna di bawah kain jarit tadi terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang tak mau berhenti. Belum lagi saat anak majikannya jatuh di dekapannya. Belum lagi bekerja di tempat ini kerjaannya lebih ekstra dari sekadar mengantar. Belum lagi ia menghampiri istrinya sesampai di Jakarta. Semua bercampur jadi satu. "Sial, kalau begini terus mana bisa tidur," umpat Juned dengan suara parau yang tertahan. Juned mendesah kasar, tangannya perlahan merogoh ke dalam celana saat bayangan paha mulus Ratna dan dekapan hangat Maudy mulai menyiksa pikirannya. Miliknya sudah menegang keras, menuntut pelepasan yang sedari tadi ia tahan di depan kedua wanita itu. "Sial, benar-benar bikin gila," umpat Juned dengan napas yang mulai memburu. Ia memejamkan mata erat, membayangkan jemarinya tidak lagi memijat kaki Ratna, melainkan menjelajahi area sensitif di balik daster tipis milik sang nyonya. "Ahhh... dikit lagi, Non... Nyonya..." rintih Juned dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan. Pikirannya kini dipenuhi fantasi liar saat tubuh Maudy menindihnya di ranjang tadi, membuat hasratnya memuncak hingga ke ubun-ubun. "Hah... hah... gila banget hari ini," gumam Juned sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. ** Pagi harinya, saat sedang memanaskan mobil, Juned melihat Ratna menepuk dahinya dengan wajah panik di depan pintu rumah. "Aduh, Juned! Berkas penting untuk rapat pagi ini sepertinya tertinggal di atas meja rias," seru Ratna dengan nada yang sedikit frustrasi. Juned yang baru saja hendak menutup pintu kemudi langsung sigap menghampiri majikannya yang tampak kesal itu. "Biar saya yang ambilkan ke atas, Nyonya," tanya Juned sambil mulai melangkah menuju anak tangga. Ratna memberikan kunci kamarnya ke Juned. "Cepat ya, Ned." Saat Juned melewati kamar Maudy langkahnya terhenti saat ia tak sengaja menoleh ke dalam kamar Maudy melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Di dalam sana, Maudy tampak baru saja selesai mandi. Namun yang membuat jantung Juned berdegup kencang adalah Maudy hanya mengenakan sehelai kain kecil di bagian bawahnya. "Astaga.." Bisik Juned tertahan. Maudy tampak sedang membelakangi pintu, perlahan mengusapkan lotion ke bahunya yang halus. Juned terdiam membeku, tubuh Maudy yang kenyal tampak bersinar tertimpa cahaya lampu kamar, menciptakan lekukan bayangan yang sangat indah di mata Juned. "Non Maudy benar-benar..." batin Juned sambil menelan ludah berkali-kali melihat pemandangan yang sangat menggoda itu. Lalu ia memaksakan langkah kakinya menuju kamar Ratna dan segera kembali ke mobil. Juned segera masuk ke dalam mobil dan menyerahkan berkas itu ke Ratna. "Kita lewat jalur biasa aja ya Nyonya, kayaknya nggak terlalu macet," ucap Juned sambil sesekali memantau kondisi jalan di depannya. Saat mobil sedang melaju, ponsel di saku celana Juned bergetar cukup lama menandakan ada pesan masuk yang mendesak. "Siapa ya yang kirim pesan, apa Desi?" batin Juned sambil menahan rasa penasaran. Mobil akhirnya berhenti tepat saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah, Ia membuka kunci layar dan melihat sebuah pesan singkat dari Maudy. "Mas, aku berangkat sama temenku, nanti aku pulangnya agak telat, Mas standby ya," gumam Juned membaca pesan itu dalam hati. Ratna yang duduk di kursi belakang ternyata memperhatikan gerak-gerik Juned yang tampak sangat serius menatap layar ponselnya. "Siapa yang kirim pesan sepagi ini, Ned?" tanya Ratna dengan nada suara menyelidik. Juned segera menoleh sekilas ke arah Ratna melalui celah kursi. "Ini Nyonya, Non Maudy bilang katanya udah berangkat ke kampus bersama temannya," jawab Juned dengan sopan Ratna bersandar kembali ke kursinya dan mengangguk pelan, "Oh gitu, ya udah kamu stay aja di kantor biar nggak bolak balik," ucap Ratna. Juned mengangguk patuh dan mulai menjalankan mobil kembali saat lampu sudah berubah menjadi hijau. ** Malam harinya, Juned yang baru selesai mandi mendengar ponselnya berdering berkali-kali. Lalu ia meraih ponselnya dan melihat nama Maudy tertera di layar. "Halo! Mas! Ini supirnya Maudy, ya?" seru suara seorang gadis dari seberang telepon. Juned mengerutkan keningnya, "Iya, saya supirnya. Maudy-nya mana, ya?" tanya Juned dengan suara yang mulai terdengar khawatir. "Mas! Tolong kesini cepat, ya! Maudy mabuk berat, Mas! Alamatnya udah aku kirim lewat WA," ucap teman Maudy dengan terburu-buru. Juned menghembuskan napas panjang sambil melirik jam di dinding. "Oke, temani Maudy sampai saya tiba di sana," ucap Juned singkat sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon. Juned memacu kendaraannya dengan cepat, dan tak lama kemudian ia tiba di area parkir. Juned segera turun dari mobil saat melihat Maudy dipapah oleh seorang teman wanitanya keluar dari pintu lobi klub yang bising. Tubuh Maudy tampak sangat lemas, kepalanya terkulai ke bahu temannya dengan langkah yang terseret tak beraturan. "Maaf ya Mas, Maudy mabuk berat banget ini," ucap teman Maudy sambil terengah-engah menahan beban tubuh sahabatnya. Juned sigap menyambut lengan Maudy dan membukakan pintu mobil dengan satu tangan lainnya agar mereka mudah masuk. "Iya Mbak, Nggak apa-apa, terima kasih ya," sahut Juned sambil membantu memposisikan duduk Maudy yang lunglai. Mobil melaju membelah malam yang sunyi, meninggalkan keramaian kelab malam yang perlahan menjauh di spion. Juned sesekali melirik Maudy yang duduk di sampingnya dengan kepala yang terkulai lemas bersandar pada kaca jendela. “Mas Juned…….” Suara itu membuatnya melirik ke spion. "Aku tahu, semalam kamu main sendiri di kamarmu, kan? Ngebayangin aku, ya?" racau Maudy tiba-tiba dengan suara serak yang memecah keheningan. Juned tersentak hingga genggamannya pada setir sempat melonggar karena terkejut. "Non... Non ngomong apa sih," sahut Juned mencoba menenangkan diri. Maudy justru terkekeh pelan. Ia memutar tubuhnya menghadap Juned, menatap pria itu dengan mata sayu yang dipengaruhi alkohol. "Aku juga tau tadi pagi kamu intipin aku kan di kamar?" ucap Maudy lagi dengan nada yang semakin rendah. "Non... sudah, kita hampir sampai rumah," ucap Juned dengan suara yang bergetar menahan malu. Mobil akhirnya memasuki gerbang rumah dan berhenti dengan sempurna di dalam garasi. "Ayo Non, kita ke kamar ya," ajak Juned sambil membuka pintu di sisi penumpang dan mengulurkan tangannya. Tiba-tiba tangan Maudy bergerak cepat mencengkram kerah kemeja Juned hingga wajah mereka kini berjarak sangat dekat. "Aku abis diputusin, Mas." gumam Maudy sebelum melumat bibir Juned dengan agresif. “Puasin aku dong.”Juned berjalan perlahan melewati ruang tengah sambil menenteng kotak kue, ia sempat melirik ke arah tangga tempat Maudy baru saja menghilang. "Nyonya, ini pesanan kuenya," ucap Juned sambil meletakkan kotak itu dengan sangat hati-hati di atas meja. Ratna mengalihkan pandangannya dari layar laptop, ia menyesap tehnya sedikit lalu menatap wajah Juned yang tampak masih agak tegang. "Oh, taruh aja di situ, Ned. Kok lama banget? Maudy mana?" tanya Ratna sambil merapikan letak kacamatanya. Juned berdiri dengan posisi tegak, ia berusaha menyembunyikan sisa emosinya setelah kejadian di kedai minuman tadi. "Non Maudy langsung ke kamar, Nyonya, tadi mampir dulu beli minuman sama Non Maudy," jawab Juned dengan suara yang diatur sesopan mungkin. "Oh gitu. Yaudah tolong ambilin saya dua piring kecil, garpu, sama pisau rotinya di dapur," perintah Ratna sambil mulai membuka pita kotak kue tersebut. Juned segera melangkah ke dapur dan kembali dengan peralatan yang diminta, lalu mel
Juned sedang fokus menggosok kap mesin mobil dengan kain, mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian panas di dalam rumah tadi. Namun, suara langkah kaki yang ringan dan riang dari arah pintu samping membuat gerakan tangannya seketika melambat. "Aduh, firasat ku kok nggak enak begini ya," gumam batin Juned sambil melirik dari sudut matanya ke arah Maudy yang berjalan mendekat. Maudy menghampiri dengan senyum lebar, ia berdiri sangat dekat dengan Juned yang sedang sedikit membungkuk mengelap bagian pintu. "Mas Juned kok kelihatannya tegang banget sih? Santai aja kali," ucap Maudy sambil tertawa kecil melihat bahu Juned yang kaku. Tanpa permisi, Maudy merunduk dan mendaratkan telapak tangannya di paha Juned, lalu jemarinya mulai merangkak naik perlahan mendekati area kejantanan pria itu. Juned tersentak hingga hampir menjatuhkan kain lapnya, ia menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada Ratna di sekitar situ. "E-eh, Non... jangan begini, nanti kalau kelihatan Nyonya bisa
"E-eh, itu Nyonya... begini ceritanya," ucap Juned terbata-bata sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ratna melipat tangan di dada. "Jangan coba-coba bohong ya, Ned. Kamu tau kan saya paling nggak suka dibohongi?" ancam Ratna pelan. Juned menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar suaranya terdengar meyakinkan. "Semalam itu Non Maudy mabuk parah Nyonya, pas di jalan pulang dia tiba-tiba lepas itunya sendiri," jelas Juned dengan wajah memelas. Ratna mengernyitkan dahi, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Mau ngapain dia begitu di dalam mobil?" tanya Ratna lagi dengan nada meninggi. "Katanya mau pipis, dia maksa minta berhenti di pinggir jalan, tapi saya nggak berani, karena bahaya," sahut Juned sambil menundukkan kepala. Ia melanjutkan penjelasannya dengan cepat sebelum Ratna sempat menyela lagi. "Saya tetap jalan terus sampai rumah, eh pas sampai ternyata Non Maudy sudah tidur pulas, jadi saya langsung angkat dia ke kamar." Ratna te
Maudy melepaskan tautan bibir mereka secara paksa, lalu mendorong dada Juned dengan sisa tenaga yang ia miliki. Juned yang tidak siap terhuyung keluar dari pintu mobil yang masih terbuka hingga punggungnya membentur tembok garasi.“Non jangan non!”"Minggir!" bentak Maudy sambil berusaha bangkit. "Non, astaga... Non Maudy sadar!" seru Juned sambil berusaha berdiri tegak. Alih-alih menjawab, Maudy justru duduk di tepi jok belakang dan mulai melepas celana dalamnya dengan gerakan yang sangat berani. "Kamu penasaran kan, Mas? Iya kan? Aku tau kamu pengen banget, kan?" racau Maudy sambil bangkit dan menghampiri Juned. Tangan Maudy bergerak secepat kilat meraih ikat pinggang Juned dan melucuti celana pria itu hingga merosot ke lantai garasi. "Duduk! ku bilang duduk!" perintah Maudy sambil mendorong tubuh kekar Juned hingga duduk dan hampir terbaring di jok belakang yang sempit. Juned terduduk kaku di kursi belakang mobil dengan pintu yang masih terbuka. Ia hanya bisa menatap Maudy
Juned merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar. Bayangan jemarinya yang menyentuh kulit lembut Ratna di bawah kain jarit tadi terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang tak mau berhenti. Belum lagi saat anak majikannya jatuh di dekapannya. Belum lagi bekerja di tempat ini kerjaannya lebih ekstra dari sekadar mengantar.Belum lagi ia menghampiri istrinya sesampai di Jakarta. Semua bercampur jadi satu. "Sial, kalau begini terus mana bisa tidur," umpat Juned dengan suara parau yang tertahan. Juned mendesah kasar, tangannya perlahan merogoh ke dalam celana saat bayangan paha mulus Ratna dan dekapan hangat Maudy mulai menyiksa pikirannya. Miliknya sudah menegang keras, menuntut pelepasan yang sedari tadi ia tahan di depan kedua wanita itu. "Sial, benar-benar bikin gila," umpat Juned dengan napas yang mulai memburu. Ia memejamkan mata erat, membayangkan jemarinya tidak lagi memijat kaki Ratna, melainkan menjelajahi area sensiti
Ratna dan Juned segera merapikan posisi masing-masing agar tidak terlihat mencurigakan di mata Maudy. Ratna merapatkan kedua kakinya dengan cepat sambil menoleh ke arah pintu dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin. Maudy menyipitkan mata, menatap bergantian ke arah ibunya dan Juned yang masih memegang botol minyak pijat. "Kalian lagi ngapain?" tanya Maudy penuh selidik. Ratna menghela napas panjang seolah memang sedang menahan rasa sakit di persendian tubuhnya akibat berolahraga tadi sore. "Oh, ini... habis main padel badan Mama pegal semua, jadi Mama suruh Juned mijitin Mama," jawab Ratna tenang. Maudy mengangguk pelan. Ia menatap Juned sejenak. "Kenapa nggak panggil Mbok Ijah aja?" tanya Maudy lagi. Ratna sedikit memperbaiki letak kain jaritnya agar menutupi paha dengan sempurna di depan anak gadisnya itu. "Tadi Mama sudah telepon Bu Lastri katanya Mbok Ijah lagi ada panggilan pijit juga, jadi nggak bisa datang," jawab Ratna meyakinkan. Setelah memberika







