Share

Tertangkap Basah

Penulis: NomNom69
last update Tanggal publikasi: 2026-02-09 16:00:31

Juned merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar. 

  Bayangan jemarinya yang menyentuh kulit lembut Ratna di bawah kain jarit tadi terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang tak mau berhenti. Belum lagi saat anak majikannya jatuh di dekapannya. Belum lagi bekerja di tempat ini kerjaannya lebih ekstra dari sekadar mengantar.

Belum lagi ia menghampiri istrinya sesampai di Jakarta.

  Semua bercampur jadi satu.

  ​"Sial, kalau begini terus mana bisa tidur," umpat Juned dengan suara parau yang tertahan.

  Juned mendesah kasar, tangannya perlahan merogoh ke dalam celana saat bayangan paha mulus Ratna dan dekapan hangat Maudy mulai menyiksa pikirannya. Miliknya sudah menegang keras, menuntut pelepasan yang sedari tadi ia tahan di depan kedua wanita itu.

  ​"Sial, benar-benar bikin gila," umpat Juned dengan napas yang mulai memburu.

  Ia memejamkan mata erat, membayangkan jemarinya tidak lagi memijat kaki Ratna, melainkan menjelajahi area sensitif di balik daster tipis milik sang nyonya. 

  ​"Ahhh... dikit lagi, Non... Nyonya..." rintih Juned dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.

  ​Pikirannya kini dipenuhi fantasi liar saat tubuh Maudy menindihnya di ranjang tadi, membuat hasratnya memuncak hingga ke ubun-ubun.

  ​"Hah... hah... gila banget hari ini," gumam Juned sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal.

  **

  Pagi harinya, saat sedang memanaskan mobil, Juned melihat Ratna menepuk dahinya dengan wajah panik di depan pintu rumah. 

  ​"Aduh, Juned! Berkas penting untuk rapat pagi ini sepertinya tertinggal di atas meja rias," seru Ratna dengan nada yang sedikit frustrasi.

  ​Juned yang baru saja hendak menutup pintu kemudi langsung sigap menghampiri majikannya yang tampak kesal itu. 

  ​"Biar saya yang ambilkan ke atas, Nyonya," tanya Juned sambil mulai melangkah menuju anak tangga.

  ​Ratna memberikan kunci kamarnya ke Juned. "Cepat ya, Ned."

  Saat Juned melewati kamar Maudy langkahnya terhenti saat ia tak sengaja menoleh ke dalam kamar Maudy melalui celah pintu yang sedikit terbuka.

  ​Di dalam sana, Maudy tampak baru saja selesai mandi. Namun yang membuat jantung Juned berdegup kencang adalah Maudy hanya mengenakan sehelai kain kecil di bagian bawahnya.

  "Astaga.." Bisik Juned tertahan.

  ​Maudy tampak sedang membelakangi pintu, perlahan mengusapkan lotion ke bahunya yang halus. Juned terdiam membeku, tubuh Maudy yang kenyal tampak bersinar tertimpa cahaya lampu kamar, menciptakan lekukan bayangan yang sangat indah di mata Juned.

  ​"Non Maudy benar-benar..." batin Juned sambil menelan ludah berkali-kali melihat pemandangan yang sangat menggoda itu.

  Lalu ia memaksakan langkah kakinya menuju kamar Ratna dan segera kembali ke mobil.

  Juned segera masuk ke dalam mobil dan menyerahkan berkas itu ke Ratna.

  "Kita lewat jalur biasa aja ya Nyonya, kayaknya nggak terlalu macet," ucap Juned sambil sesekali memantau kondisi jalan di depannya.

  Saat mobil sedang melaju, ponsel di saku celana Juned bergetar cukup lama menandakan ada pesan masuk yang mendesak. 

  "Siapa ya yang kirim pesan, apa Desi?" batin Juned sambil menahan rasa penasaran.

  Mobil akhirnya berhenti tepat saat lampu lalu lintas berubah menjadi merah, Ia membuka kunci layar dan melihat sebuah pesan singkat dari Maudy.

  "Mas, aku berangkat sama temenku, nanti aku pulangnya agak telat, Mas standby ya," gumam Juned membaca pesan itu dalam hati.

  Ratna yang duduk di kursi belakang ternyata memperhatikan gerak-gerik Juned yang tampak sangat serius menatap layar ponselnya. 

  "Siapa yang kirim pesan sepagi ini, Ned?" tanya Ratna dengan nada suara menyelidik.

  Juned segera menoleh sekilas ke arah Ratna melalui celah kursi. 

  "Ini Nyonya, Non Maudy bilang katanya udah berangkat ke kampus bersama temannya," jawab Juned dengan sopan 

  Ratna bersandar kembali ke kursinya dan mengangguk pelan, "Oh gitu, ya udah kamu stay aja di kantor biar nggak bolak balik," ucap Ratna.

  Juned mengangguk patuh dan mulai menjalankan mobil kembali saat lampu sudah berubah menjadi hijau. 

**

Malam harinya, Juned yang baru selesai mandi mendengar ponselnya berdering berkali-kali. Lalu ia meraih ponselnya dan melihat nama Maudy tertera di layar.

 "Halo! Mas! Ini supirnya Maudy, ya?" seru suara seorang gadis dari seberang telepon.

  Juned mengerutkan keningnya, "Iya, saya supirnya. Maudy-nya mana, ya?" tanya Juned dengan suara yang mulai terdengar khawatir.

  "Mas! Tolong kesini cepat, ya! Maudy mabuk berat, Mas! Alamatnya udah aku kirim lewat WA," ucap teman Maudy dengan terburu-buru.

  Juned menghembuskan napas panjang sambil melirik jam di dinding.

  "Oke, temani Maudy sampai saya tiba di sana," ucap Juned singkat sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon. 

Juned memacu kendaraannya dengan cepat, dan tak lama kemudian ia tiba di area parkir. 

Juned segera turun dari mobil saat melihat Maudy dipapah oleh seorang teman wanitanya keluar dari pintu lobi klub yang bising. Tubuh Maudy tampak sangat lemas, kepalanya terkulai ke bahu temannya dengan langkah yang terseret tak beraturan.

​"Maaf ya Mas, Maudy mabuk berat banget ini," ucap teman Maudy sambil terengah-engah menahan beban tubuh sahabatnya.

​Juned sigap menyambut lengan Maudy dan membukakan pintu mobil dengan satu tangan lainnya agar mereka mudah masuk. 

​"Iya Mbak, Nggak apa-apa, terima kasih ya," sahut Juned sambil membantu memposisikan duduk Maudy yang lunglai.

​Mobil melaju membelah malam yang sunyi, meninggalkan keramaian kelab malam yang perlahan menjauh di spion. Juned sesekali melirik Maudy yang duduk di sampingnya dengan kepala yang terkulai lemas bersandar pada kaca jendela.

“Mas Juned…….” 

Suara itu membuatnya melirik ke spion.

​"Aku tahu, semalam kamu main sendiri di kamarmu, kan? Ngebayangin aku, ya?" racau Maudy tiba-tiba dengan suara serak yang memecah keheningan.

​Juned tersentak hingga genggamannya pada setir sempat melonggar karena terkejut.

​"Non... Non ngomong apa sih," sahut Juned mencoba menenangkan diri.

​Maudy justru terkekeh pelan. Ia memutar tubuhnya menghadap Juned, menatap pria itu dengan mata sayu yang dipengaruhi alkohol.

​"Aku juga tau tadi pagi kamu intipin aku kan di kamar?" ucap Maudy lagi dengan nada yang semakin rendah.

​"Non... sudah, kita hampir sampai rumah," ucap Juned dengan suara yang bergetar menahan malu.

​Mobil akhirnya memasuki gerbang rumah dan berhenti dengan sempurna di dalam garasi.

​"Ayo Non, kita ke kamar ya," ajak Juned sambil membuka pintu di sisi penumpang dan mengulurkan tangannya.

​Tiba-tiba tangan Maudy bergerak cepat mencengkram kerah kemeja Juned hingga wajah mereka kini berjarak sangat dekat.

"Aku abis diputusin, Mas." gumam Maudy sebelum melumat bibir Juned dengan agresif. “Puasin aku dong.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (9)
goodnovel comment avatar
Irmawati
lanjut ceritanya
goodnovel comment avatar
Berlin BTulis
sangat bagus
goodnovel comment avatar
Piston Simamora
lanjut dong jangan gantung.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Talak!

    Pagi berikutnya, Juned menatap Ratna dengan raut wajah prihatin yang dibuat begitu sempurna di meja makan. "Ra, Mas harus pulang kampung hari ini buat besuk Desi," ujar Juned dengan nada suara rendah nan berat. "Kondisinya belum stabil pasca pendarahan kemarin. Mas mau ajak Nayla sekalian biar ada yang temenin Mas di jalan." Ratna mengangguk paham tanpa keraguan sedikit pun. "Iya, Ned, mending kamu besuk langsung. Bawa Nayla aja biar kamu gak capek nyetir sendirian," balas Ratna tulus, mengusap pelan lengan pria itu. Beberapa jam kemudian, sedan hitam Juned membelah jalanan antarkota menuju kampung halaman. Nayla duduk di kursi penumpang samping, jemarinya meremas kain celananya erat-erat dengan debar dada yang tak menentu. Ia sama sekali tidak tahu bahrah besar apa yang sedang menunggunya di sana. Juned mengemudi dalam keheningan yang amat mencekam, matanya menatap lurus ke depan dengan kilat dendam yang terbungkus rapat. Begitu mobil berhenti di pekarangan rumah kampung, Ju

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Terjebak

    Sinar matahari sore makin membias jingga, menerobos masuk menembus celah gorden kamar utama di kampung halaman. Rumah besar bernuansa kayu itu lengang total sejak pukul empat sore, setelah ibu kandung Desi pamit pergi menghadiri pengajian rutin antar-desa di masjid kecamatan. Keheningan itu menjadi panggung sempurna bagi Desi dan Andre untuk menuntaskan gairah terlarang mereka tanpa kekhawatiran. Di atas peraduan yang dilapisi sprei mahal belian uang kiriman dari kota, Desi tertawa manja dalam dekapan Andre. "Ibu pulangnya pasti jam delapan malam nanti, Ndre... Masih lama banget," bisik Desi penuh godaan seraya mengusap rahang Andre. "Baguslah... Jadi kita gak perlu terburu-buru," sahut Andre dengan tawa rendah, menyibak daster tipis Desi dan melumat bibirnya tanpa ragu. Namun, di balik keheningan rumah yang dikira aman itu, sebuah ancaman nyata sedang mengintai dari arah luar. Aryo—sahabat dekat Juned sejak masa kecil di desa yang baru saja kembali dari sawah—berjalan melintas

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Saling Menipu

    Di sisi lain, jauh dari riuk pikuk metropolitan dan kilau pencakar langit kota, sebuah kenyataan yang tak tersentuh oleh kalkulasi dingin Juned sedang bergulir di kampung halaman. Sinar matahari sore menembus celah ventilasi kamar sebuah rumah sederhana berdinding tembok putih yang sepi. Desi terbaring di atas ranjang kayu bermotif ukir, mengenakan daster longgar berwarna pudar dengan wajah yang sengaja dipucatkan oleh sisa-sisa rasa lemas. Di atas meja rias kecil di samping tempat tidur, tergeletak beberapa strip obat antibiotik dan vitamin dari rumah sakit yang sudah kosong. Pintu kamar yang sedikit renggang terdorong pelan tanpa suara. Sesosok pria berbadan tegap dengan kemeja flanel berpetak melangkah masuk secara diam-diam, mengunci selot pintu dari dalam dengan gerakan jemari yang sangat terlatih. Pria itu adalah Andre—mantan kekasih Desi semasa sekolah yang kini kembali hadir mengisi celah-celah kekosongan di kampung. Andre melangkah mendekati ranjang, mendudukkan diri d

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Kebobolan

    Beberapa hari berlalu tanpa gejolak yang berarti di permukaan. Di kantor, Juned tetap menjalankan perannya sebagai atasan yang dingin dan amat profesional di hadapan Caca, sembari sesekali memenuhi janji makan malam mewah bersama Fitri demi mengunci investasi miliaran rupiah. Sementara itu, urusan di kampung halaman telah sepenuhnya diredam oleh kucuran dana yang ia kirimkan untuk perawatan Desi, membuat wanita itu tetap terikat dalam kepasrahan di jauh sana. Di rumah kota, dinamika bertiga antara Juned, Ratna, dan Nayla berjalan begitu mulus, terbungkus rahasia panas yang justru membuat ketiganya kian intim. Namun, koordinat papan catur yang disusun Juned secara presisi mendadak bergeser pada suatu Kamis pagi. Nayla terbangun dengan wajah pucat pasi, berlari tergesa-gesa menuju kamar mandi utama seraya memegangi perutnya. Suara mual dan muntah yang hebat memecah keheningan rumah. Ratna yang baru saja selesai menyeduh kopi di dapur langsung bergegas menghampiri, menepuk-nepuk p

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Berakhir

    Hari Senin tiba dengan cuaca kota yang cerah dan dingin. Juned sudah berdiri tegap di depan cermin besar ruang kerjanya di lantai atas gedung perkantoran, merapikan simpul dasinya dengan presisi tanpa cela. Kejadian akhir pekan di rumah bersama Ratna dan Nayla tidak menyisakan sedikit pun jejak kelelahan pada raut wajahnya; perannya sebagai pemimpin yang berwibawa dan dingin kembali terpasang sempurna. Ketukan pintu yang teratur terdengar. "Masuk," ujar Juned singkat. Caca melangkah masuk membawa map tebal dokumen finalisasi proyek bersama Fitri. Pakaian kerjanya sangat rapi, dan ekspresi wajahnya sepenuhnya profesional. "Semua draf kontrak dan lampiran analisis risiko sudah siap, Pak Juned. Ibu Fitri dan tim hukumnya sudah menunggu di ruang rapat utama," laporan Caca lugas, menjaga jarak aman dua langkah dari meja kerja Juned. "Bagus. Pastikan Notaris sudah memverifikasi pasal empat dan lima," balas Juned tegas tanpa nada godaan sedikit pun. "Sudah diverifikasi, Pak. Semua b

  • Dimanja Nyonya Dan Nona Muda   Berbahaya

    Lampu ruang tengah menyala benderang, membedah kegelapan dapur yang semula temaram. Suara klak ponsel Ratna yang menghantam lantai kayu bergaung nyaring di tengah keheningan malam. Nayla membeku seketika, tubuhnya gemetar hebat hingga napasnya tertahan di tenggorokan saat menyadari posisi jemarinya masih melingkar di pinggang Juned. Ratna berdiri terpaku beberapa langkah di hadapan mereka, matanya melebar menatap tajam ke arah dua orang yang berada dalam posisi begitu intim. Namun, alih-alih meledak dalam amarah atau menumpahkan derai air mata histeris, raut wajah Ratna perlahan berubah. Bibir merona milik Ratna terkerek tipis, membentuk sebuah sunggingan senyum yang sukar diartikan—dingin, sarat akan rahasia, namun begitu bergairah. "Rupanya..." suara Ratna mengalun rendah, teratur tanpa ada getaran emosi yang goyah. "Permainan rahasia kalian di belakangku udah berjalan sejauh ini?" Nayla makin panik, menyembunyikan wajahnya di balik punggung Juned seraya meremas kain kemeja

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status