LOGINMaudy melepaskan tautan bibir mereka secara paksa, lalu mendorong dada Juned dengan sisa tenaga yang ia miliki. Juned yang tidak siap terhuyung keluar dari pintu mobil yang masih terbuka hingga punggungnya membentur tembok garasi.
“Non jangan non!” "Minggir!" bentak Maudy sambil berusaha bangkit. "Non, astaga... Non Maudy sadar!" seru Juned sambil berusaha berdiri tegak. Alih-alih menjawab, Maudy justru duduk di tepi jok belakang dan mulai melepas celana dalamnya dengan gerakan yang sangat berani. "Kamu penasaran kan, Mas? Iya kan? Aku tau kamu pengen banget, kan?" racau Maudy sambil bangkit dan menghampiri Juned. Tangan Maudy bergerak secepat kilat meraih ikat pinggang Juned dan melucuti celana pria itu hingga merosot ke lantai garasi. "Duduk! ku bilang duduk!" perintah Maudy sambil mendorong tubuh kekar Juned hingga duduk dan hampir terbaring di jok belakang yang sempit. Juned terduduk kaku di kursi belakang mobil dengan pintu yang masih terbuka. Ia hanya bisa menatap Maudy yang kini mulai bergerak maju dengan tatapan yang sangat liar. "Mas... kamu teriak jangan.. jangan.. tapi punyamu berkata lain ya," bisik Maudy sambil perlahan berjongkok tepat di depan Juned. Tangan Maudy yang hangat mulai merayap naik, perlahan mengelus kejantanan Juned yang sudah mengeras sempurna sejak tadi. "Non... jangan, ini tidak benar... ahh," desah Juned pelan sambil berusaha mencengkeram pinggiran kursi mobil untuk menahan diri. Maudy justru semakin berani memberikan sentuhan lembut namun menekan pada Juned. "Kamu suka kan? Iya kan," gumam Maudy dengan suara yang semakin serau karena pengaruh alkohol. Juned hanya bisa pasrah dan membiarkan tubuhnya dikuasai oleh Maudy. Ia mendongak ke langit-langit kabin mobil. "Aduh Non... saya udah gak kuat, Non!" rintih Juned dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. Maudy justru terkekeh melihat ekspresi Juned, ia kemudian sedikit memajukan wajahnya area sensitif Juned. Ia memberikan kecupan ringan di sana. "Keluarin aja, Mas," bisik Maudy penuh kemenangan. Sentuhan Maudy semakin berani hingga membuat Juned tak kuasa melepas puncaknya. Setelah itu, Maudy tiba-tiba mencengkeram bahunya dengan kuat. Gadis itu menarik tubuh Juned, memaksa posisi mereka berputar hingga Maudy kini terduduk hampir terbaring di atas jok belakang mobil. "Sekarang giliranmu... cepat puasin aku, Mas," racau Maudy. Juned menatap wajah majikannya yang memerah, ada gejolak besar di dalam dadanya antara keinginan dan rasa takut. "Non... kita istirahat aja ya," bisik Juned sambil mencoba merapikan rambut Maudy yang berantakan. Maudy justru menarik kerah kemeja Juned lebih kuat, menuntut kepuasan yang belum sempat ia dapatkan malam itu. Akhirnya, Juned menyerah dan mulai mendaratkan sentuhan liar di sepanjang leher Maudy hingga turun ke arah dadanya. "Ahhh... terus, Mas... di situ... enak sekali," desah Maudy sambil membusungkan dadanya saat bibir Juned mulai bekerja di sana. Tangan Juned bergerak turun, menyelinap di balik dress pendek Maudy dan mulai memberikan sentuhan lembut pada area intim gadis itu. Ia menggerakkan jemarinya dengan ritme yang teratur, mencari titik paling sensitif yang bisa membuat Maudy meledak. "Mas... ahh! Jangan berhenti... lebih cepat lagi," rintih Maudy dengan tubuh yang mulai melengkung hebat karena sensasi luar biasa. Permainan jari Juned yang semakin lincah membuat Maudy tak henti-hentinya menyebut nama pria itu dengan nada yang sangat memohon. "Ned... aku mau... ahhh!" teriak Maudy tertahan sambil mencengkeram erat sandaran kursi mobil di bawahnya. Tubuh Maudy tiba-tiba menegang hebat dan gemetar selama beberapa detik sebelum akhirnya ia terkulai lemas di atas jok. Tak lama Maudy sudah benar-benar lelap di jok belakang. Ia merapikan dress Maudy yang tadi tersingkap jauh, kemudian dengan gerakan tergesa ia mengenakan kembali celananya sendiri. "Ayo Non, kita masuk sekarang," bisik Juned sambil menyeka sisa keringat di dahinya sebelum membopong tubuh Maudy keluar. Juned berjalan mengendap-endap menaiki tangga kayu menuju lantai dua, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Langkahnya terhenti mendadak saat pintu kamar utama terbuka, memperlihatkan sosok Ratna yang baru saja melangkah keluar. "Lho? Maudy kenapa, Ned? Kenapa dia sampai digendong begitu?" tanya Ratna dengan nada suara yang penuh selidik. Juned tersentak hingga hampir kehilangan keseimbangan. Ia berusaha mengeratkan pelukannya pada tubuh Maudy agar posisi daster majikan mudanya itu tidak terlihat berantakan. "Eh—Nyonya, ini Nyonya... Non Maudy mabuk berat, ini mau saya bawa langsung ke kamar," jawab Juned sambil menunduk dalam. Ratna melangkah mendekat, memperhatikan wajah putrinya yang tampak sangat pulas dengan napas yang masih beraroma alkohol. "Anak ini benar-benar tidak bisa dibilangin, kalo udah kumpul bareng temen-temennya," keluh Ratna sambil menggelengkan kepala. Ratna menghela napas panjang lalu memberi jalan agar Juned bisa lewat masuk ke dalam rumah. "Ya sudah Ned, abis ini kamu langsung istirahat, ya." "Baik Nyonya," ucap Juned yang langsung mengangguk cepat dan bergegas melangkah masuk ke kamar Maudy. Matahari baru saja mengintip di balik pagar rumah saat Juned melangkah menuju garasi dengan ember dan kain lap di tangannya. Ia berniat membersihkan mobil dan memanasi mesin. Namun, langkah Juned mendadak kaku saat melihat pintu belakang mobil sudah terbuka lebar. Ia melihat Ratna yang masih mengenakan daster sutra tipis sedang membungkuk dengan setengah tubuhnya masuk ke dalam kursi belakang. "Nyonya? Lagi nyari apa pagi-pagi begini?" tanya Juned dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa waswas. Ratna perlahan bangkit dan menarik tubuhnya keluar dari kabin mobil sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia memegang sebuah map biru di tangan kirinya. "Tadinya saya mau ambil berkas hasil meeting kemarin yang tertinggal di sini," ucap Ratna sambil mengangkat map biru tersebut ke udara. Juned mengangguk pelan, mencoba bersikap biasa saja meski keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. "Tapi, saya malah nemu ini ada di bawah kursi belakang, Ned," lanjut Ratna dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dingin. Ratna mengangkat tangan kanannya, menunjukkan selembar kain tipis berwarna merah jambu yang sangat familiar di mata Juned. "Ini punya Maudy, kan? Kenapa bisa ada di bawah kursi mobil, Ned?" tanya Ratna sambil melangkah mendekati Juned. Deg! Jantung Juned seakan berhenti berdetak saat melihat benda itu kini berada di tangan majikannya. Ia hanya bisa terdiam membisu dengan wajah pucat pasi, tak berani sedikit pun menatap mata Ratna yang seolah sedang menguliti pikirannya. "Jawab saya, Juned. Jangan bilang kalau Maudy semalam mabuk sampai melakukan hal gila denganmu di sini," desak Ratna lagi dengan suara yang rendah namun penuh ancaman.Juned berjalan perlahan melewati ruang tengah sambil menenteng kotak kue, ia sempat melirik ke arah tangga tempat Maudy baru saja menghilang. "Nyonya, ini pesanan kuenya," ucap Juned sambil meletakkan kotak itu dengan sangat hati-hati di atas meja. Ratna mengalihkan pandangannya dari layar laptop, ia menyesap tehnya sedikit lalu menatap wajah Juned yang tampak masih agak tegang. "Oh, taruh aja di situ, Ned. Kok lama banget? Maudy mana?" tanya Ratna sambil merapikan letak kacamatanya. Juned berdiri dengan posisi tegak, ia berusaha menyembunyikan sisa emosinya setelah kejadian di kedai minuman tadi. "Non Maudy langsung ke kamar, Nyonya, tadi mampir dulu beli minuman sama Non Maudy," jawab Juned dengan suara yang diatur sesopan mungkin. "Oh gitu. Yaudah tolong ambilin saya dua piring kecil, garpu, sama pisau rotinya di dapur," perintah Ratna sambil mulai membuka pita kotak kue tersebut. Juned segera melangkah ke dapur dan kembali dengan peralatan yang diminta, lalu mel
Juned sedang fokus menggosok kap mesin mobil dengan kain, mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian panas di dalam rumah tadi. Namun, suara langkah kaki yang ringan dan riang dari arah pintu samping membuat gerakan tangannya seketika melambat. "Aduh, firasat ku kok nggak enak begini ya," gumam batin Juned sambil melirik dari sudut matanya ke arah Maudy yang berjalan mendekat. Maudy menghampiri dengan senyum lebar, ia berdiri sangat dekat dengan Juned yang sedang sedikit membungkuk mengelap bagian pintu. "Mas Juned kok kelihatannya tegang banget sih? Santai aja kali," ucap Maudy sambil tertawa kecil melihat bahu Juned yang kaku. Tanpa permisi, Maudy merunduk dan mendaratkan telapak tangannya di paha Juned, lalu jemarinya mulai merangkak naik perlahan mendekati area kejantanan pria itu. Juned tersentak hingga hampir menjatuhkan kain lapnya, ia menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada Ratna di sekitar situ. "E-eh, Non... jangan begini, nanti kalau kelihatan Nyonya bisa
"E-eh, itu Nyonya... begini ceritanya," ucap Juned terbata-bata sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ratna melipat tangan di dada. "Jangan coba-coba bohong ya, Ned. Kamu tau kan saya paling nggak suka dibohongi?" ancam Ratna pelan. Juned menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar suaranya terdengar meyakinkan. "Semalam itu Non Maudy mabuk parah Nyonya, pas di jalan pulang dia tiba-tiba lepas itunya sendiri," jelas Juned dengan wajah memelas. Ratna mengernyitkan dahi, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Mau ngapain dia begitu di dalam mobil?" tanya Ratna lagi dengan nada meninggi. "Katanya mau pipis, dia maksa minta berhenti di pinggir jalan, tapi saya nggak berani, karena bahaya," sahut Juned sambil menundukkan kepala. Ia melanjutkan penjelasannya dengan cepat sebelum Ratna sempat menyela lagi. "Saya tetap jalan terus sampai rumah, eh pas sampai ternyata Non Maudy sudah tidur pulas, jadi saya langsung angkat dia ke kamar." Ratna te
Maudy melepaskan tautan bibir mereka secara paksa, lalu mendorong dada Juned dengan sisa tenaga yang ia miliki. Juned yang tidak siap terhuyung keluar dari pintu mobil yang masih terbuka hingga punggungnya membentur tembok garasi.“Non jangan non!”"Minggir!" bentak Maudy sambil berusaha bangkit. "Non, astaga... Non Maudy sadar!" seru Juned sambil berusaha berdiri tegak. Alih-alih menjawab, Maudy justru duduk di tepi jok belakang dan mulai melepas celana dalamnya dengan gerakan yang sangat berani. "Kamu penasaran kan, Mas? Iya kan? Aku tau kamu pengen banget, kan?" racau Maudy sambil bangkit dan menghampiri Juned. Tangan Maudy bergerak secepat kilat meraih ikat pinggang Juned dan melucuti celana pria itu hingga merosot ke lantai garasi. "Duduk! ku bilang duduk!" perintah Maudy sambil mendorong tubuh kekar Juned hingga duduk dan hampir terbaring di jok belakang yang sempit. Juned terduduk kaku di kursi belakang mobil dengan pintu yang masih terbuka. Ia hanya bisa menatap Maudy
Juned merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar. Bayangan jemarinya yang menyentuh kulit lembut Ratna di bawah kain jarit tadi terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang tak mau berhenti. Belum lagi saat anak majikannya jatuh di dekapannya. Belum lagi bekerja di tempat ini kerjaannya lebih ekstra dari sekadar mengantar.Belum lagi ia menghampiri istrinya sesampai di Jakarta. Semua bercampur jadi satu. "Sial, kalau begini terus mana bisa tidur," umpat Juned dengan suara parau yang tertahan. Juned mendesah kasar, tangannya perlahan merogoh ke dalam celana saat bayangan paha mulus Ratna dan dekapan hangat Maudy mulai menyiksa pikirannya. Miliknya sudah menegang keras, menuntut pelepasan yang sedari tadi ia tahan di depan kedua wanita itu. "Sial, benar-benar bikin gila," umpat Juned dengan napas yang mulai memburu. Ia memejamkan mata erat, membayangkan jemarinya tidak lagi memijat kaki Ratna, melainkan menjelajahi area sensiti
Ratna dan Juned segera merapikan posisi masing-masing agar tidak terlihat mencurigakan di mata Maudy. Ratna merapatkan kedua kakinya dengan cepat sambil menoleh ke arah pintu dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin. Maudy menyipitkan mata, menatap bergantian ke arah ibunya dan Juned yang masih memegang botol minyak pijat. "Kalian lagi ngapain?" tanya Maudy penuh selidik. Ratna menghela napas panjang seolah memang sedang menahan rasa sakit di persendian tubuhnya akibat berolahraga tadi sore. "Oh, ini... habis main padel badan Mama pegal semua, jadi Mama suruh Juned mijitin Mama," jawab Ratna tenang. Maudy mengangguk pelan. Ia menatap Juned sejenak. "Kenapa nggak panggil Mbok Ijah aja?" tanya Maudy lagi. Ratna sedikit memperbaiki letak kain jaritnya agar menutupi paha dengan sempurna di depan anak gadisnya itu. "Tadi Mama sudah telepon Bu Lastri katanya Mbok Ijah lagi ada panggilan pijit juga, jadi nggak bisa datang," jawab Ratna meyakinkan. Setelah memberika







