Teilen

Targedi Tak Terduga

last update Zuletzt aktualisiert: 09.02.2026 15:59:37

Ratna dan Juned segera merapikan posisi masing-masing agar tidak terlihat mencurigakan di mata Maudy. Ratna merapatkan kedua kakinya dengan cepat sambil menoleh ke arah pintu dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin.

  Maudy menyipitkan mata, menatap bergantian ke arah ibunya dan Juned yang masih memegang botol minyak pijat. 

  "Kalian lagi ngapain?" tanya Maudy penuh selidik.

  Ratna menghela napas panjang seolah memang sedang menahan rasa sakit di persendian tubuhnya akibat berolahraga tadi sore. 

  "Oh, ini... habis main padel badan Mama pegal semua, jadi Mama suruh Juned mijitin Mama," jawab Ratna tenang.

  Maudy mengangguk pelan. Ia menatap Juned sejenak. "Kenapa nggak panggil Mbok Ijah aja?" tanya Maudy lagi.

  Ratna sedikit memperbaiki letak kain jaritnya agar menutupi paha dengan sempurna di depan anak gadisnya itu.

  "Tadi Mama sudah telepon Bu Lastri katanya Mbok Ijah lagi ada panggilan pijit juga, jadi nggak bisa datang," jawab Ratna meyakinkan.

  Setelah memberikan alasan tersebut, Ratna balik bertanya mengenai keperluan Maudy yang tiba-tiba masuk ke kamarnya malam-malam. Ia ingin segera mengalihkan perhatian Maudy agar Juned bisa segera keluar dari situasi canggung ini.

  "Kamu mau ngapain tadi manggil Mama?" tanya Ratna.

  Maudy mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Juned yang sejak tadi hanya terdiam kaku di samping tempat tidur. 

  "Oh iya, tadi aku nyariin Mas Juned," jawab Maudy santai.

  Ratna menunjuk ke arah Juned dengan dagunya, "Ini Juned," sahut Ratna singkat.

  Maudy melangkah sedikit mendekat, memperhatikan botol minyak yang dipegang Juned. "Iya, tadi ku cari di kamarnya nggak ada, aku pikir disuruh Mama keluar," ucap Maudy.

  Juned memberanikan diri untuk bersuara guna mencairkan suasana yang masih terasa kaku di antara mereka bertiga. 

  "Ada apa, Non Maudy cari saya?" tanya Juned dengan nada sopan.

  "Mas, nanti selesai pijit Mama bantu aku mindahin kardus ke atas lemari ya," kata Maudy.

  Juned mengangguk patuh sambil menyimpan kembali botol minyak pijatnya ke atas nakas di samping tempat tidur Ratna. 

  "Iya Non," jawab Juned mantap.

  Begitu pintu tertutup rapat, suasana kamar kembali hening, namun ketegangan di antara Ratna dan Juned belum sepenuhnya hilang. Ratna perlahan bangkit dari posisinya lalu menyentuh lengan Juned dengan genggaman yang cukup erat.

  "Ned, kamu bantu Maudy dulu ya," ucap Ratna dengan suara rendah.

  Juned merasa bulu kuduknya berdiri saat merasakan sentuhan tangan Ratna yang masih terasa hangat di kulitnya. 

  "I-iya Nyonya," jawab Juned sambil berjalan pelan menuju pintu.

  Tepat saat tangan Juned menyentuh gagang pintu, suara Ratna kembali memanggil. Juned menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah majikannya yang masih duduk di atas kasur.

  "Ned," panggil Ratna sekali lagi.

  Juned mematung di tempatnya, menatap Ratna yang kini tersenyum.

  "Iya Nyonya?" tanya Juned penasaran.

  "Saya bakal sering butuh pijatan kedepannya ya," ucap Ratna sambil tersenyum yang tak bisa ia pikirkan.

  Juned hanya bisa mengangguk tanpa kata lalu bergegas keluar dari kamar Ratna menuju arah kamar Maudy. Ia menarik nafas sedalam mungkin untuk menetralkan gejolak di dadanya yang masih terasa sangat kuat. 

  *

 Juned mengetuk pintu kamar Maudy dengan perlahan. Ia merapikan kemeja barunya agar tetap terlihat rapi meski hatinya masih berdebar akibat kejadian di kamar Ratna tadi.

 "Masuk saja, Mas," seru Maudy dari dalam kamar.

 Pintu terbuka dan memperlihatkan Maudy yang sedang berdiri di tengah tumpukan barang yang masih berantakan. Ia menunjuk ke arah tumpukan buku dan barang lama yang perlu dimasukkan ke dalam wadah penyimpanan.

 "Ini Mas, barang-barangku yang udah nggak terpakai mau kutaruh ke kardus dan kusimpan di atas lemari," ucap Maudy sambil memberikan instruksi.

 Juned menghampiri kardus itu dan langsung berjongkok di lantai. "Baik, Non. Biar saya rapihkan dulu," sahut Juned tanpa menoleh.

 Suasana hening sejenak sebelum Maudy membuka percakapan kembali. Ia menopang dagunya dengan tangan, terlihat sangat tertarik dengan latar belakang pria di hadapannya itu.

 "Aku baru tahu Mas Juned bisa mijit," ucap Maudy dengan nada menyelidik.

 Juned menghentikan gerakannya sejenak dan menoleh sedikit.

 "Iya Non, di kampung dulu saya biasa mijitin orang," jawab Juned singkat.

 Maudy menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan kedua tangan menopang di atas kasur empuknya. Ia tertawa kecil, membayangkan sosok Juned yang serba bisa dalam melayani segala keperluan di rumah mewah ini.

 "Ternyata Mas Juned serba bisa ya. Jadi supir bisa, mijit bisa, bisa dong pijat aku juga? Haha," goda Maudy dengan candaan yang renyah.

 Juned mengangkat kardus besar itu dengan kedua tangannya, memperlihatkan otot bisepnya yang menegang kuat di balik kain kemeja. Ia tersenyum tipis menanggapi gurauan Maudy sambil mulai mengangkat beban tersebut ke arah lemari yang cukup tinggi.

Juned menggaruk tengkuknya pelan. 

 Maudy terdiam sejenak sambil terus memperhatikan lekuk tubuh atletis Juned yang kini tampak sangat ketat untuk sebesar bajunya. Apalagi ada pria di kamarnya.

 "Ini sudah semua, Non. Saya taruh ke atas lemari ya," ucap Juned dengan napas sedikit berat.

 Juned terus berusaha mendorong kardus tersebut agar posisinya benar-benar masuk dan tidak terjatuh dari ketinggian. Namun, benda itu tetap tidak bergeming sedikit pun meski Juned sudah memberikan tenaga ekstra pada dorongannya.

 "Aduh, kayaknya keganjel nih, Non," keluh Juned yang masih menahan beban kardus dengan tangannya.

 Maudy menoleh ke arah kardus yang sudah bertengger di atas lemari meski sebagian masih seperti menggantung di tepi lemari.

 "Eh, keganjel ya?" tanya Maudy dengan suara yang sedikit meninggi.

 Juned berniat mengambil kursi di pojok kamar agar bisa melihat langsung apa yang sebenarnya mengganjal di atas lemari yang tinggi itu. 

 "Bentar saya pinjam kursinya ya Non, biar saya rapihin posisinya sekalian," ucap Juned sambil melangkah ke arah kursi.

 "Keganjel? Jangan-jangan...." Gumam batin Maudy.

 Maudy langsung menghadang langkah Juned dengan gerakan cepat.

 "Ehhh Mas! Gak usah, udah biar aku aja nanti yang rapihin," cegah Maudy dengan nada bicara yang tegas.

 Juned menghentikan langkahnya dan menatap Maudy dengan bingung.

 "Tapi Non... itu berat lho," ucap Juned berusaha mengingatkan.

Belum sempat ia benar-benar melangkah keluar, terdengar bunyi gesekan kasar dari atas.

Bruk.

“Kardusnya—!”

Juned refleks berbalik. Kardus itu sudah miring, meluncur jatuh tepat ke arah Maudy. Ia bergerak tanpa pikir panjang, meraih lengan wanita itu dan menariknya ke depan.

Maudy terkejut. Tangannya refleks naik menahan kepala, tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu—dum—jatuh tepat ke dada Juned.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Kepanikan Di Antara Ketegangan

    Juned berjalan perlahan melewati ruang tengah sambil menenteng kotak kue, ia sempat melirik ke arah tangga tempat Maudy baru saja menghilang. ​"Nyonya, ini pesanan kuenya," ucap Juned sambil meletakkan kotak itu dengan sangat hati-hati di atas meja. ​Ratna mengalihkan pandangannya dari layar laptop, ia menyesap tehnya sedikit lalu menatap wajah Juned yang tampak masih agak tegang. ​"Oh, taruh aja di situ, Ned. Kok lama banget? Maudy mana?" tanya Ratna sambil merapikan letak kacamatanya. ​Juned berdiri dengan posisi tegak, ia berusaha menyembunyikan sisa emosinya setelah kejadian di kedai minuman tadi. ​"Non Maudy langsung ke kamar, Nyonya, tadi mampir dulu beli minuman sama Non Maudy," jawab Juned dengan suara yang diatur sesopan mungkin. "Oh gitu. Yaudah tolong ambilin saya dua piring kecil, garpu, sama pisau rotinya di dapur," perintah Ratna sambil mulai membuka pita kotak kue tersebut. Juned segera melangkah ke dapur dan kembali dengan peralatan yang diminta, lalu mel

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Perlindungan Untuk Nona Muda

    Juned sedang fokus menggosok kap mesin mobil dengan kain, mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian panas di dalam rumah tadi. Namun, suara langkah kaki yang ringan dan riang dari arah pintu samping membuat gerakan tangannya seketika melambat. "Aduh, firasat ku kok nggak enak begini ya," gumam batin Juned sambil melirik dari sudut matanya ke arah Maudy yang berjalan mendekat. Maudy menghampiri dengan senyum lebar, ia berdiri sangat dekat dengan Juned yang sedang sedikit membungkuk mengelap bagian pintu. "Mas Juned kok kelihatannya tegang banget sih? Santai aja kali," ucap Maudy sambil tertawa kecil melihat bahu Juned yang kaku. Tanpa permisi, Maudy merunduk dan mendaratkan telapak tangannya di paha Juned, lalu jemarinya mulai merangkak naik perlahan mendekati area kejantanan pria itu. Juned tersentak hingga hampir menjatuhkan kain lapnya, ia menoleh ke kanan-kiri memastikan tidak ada Ratna di sekitar situ. "E-eh, Non... jangan begini, nanti kalau kelihatan Nyonya bisa

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Menuntut Jawaban Di Sela Godaan

    "E-eh, itu Nyonya... begini ceritanya," ucap Juned terbata-bata sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ratna melipat tangan di dada. "Jangan coba-coba bohong ya, Ned. Kamu tau kan saya paling nggak suka dibohongi?" ancam Ratna pelan. Juned menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri agar suaranya terdengar meyakinkan. "Semalam itu Non Maudy mabuk parah Nyonya, pas di jalan pulang dia tiba-tiba lepas itunya sendiri," jelas Juned dengan wajah memelas. Ratna mengernyitkan dahi, tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Mau ngapain dia begitu di dalam mobil?" tanya Ratna lagi dengan nada meninggi. "Katanya mau pipis, dia maksa minta berhenti di pinggir jalan, tapi saya nggak berani, karena bahaya," sahut Juned sambil menundukkan kepala. Ia melanjutkan penjelasannya dengan cepat sebelum Ratna sempat menyela lagi. "Saya tetap jalan terus sampai rumah, eh pas sampai ternyata Non Maudy sudah tidur pulas, jadi saya langsung angkat dia ke kamar." Ratna te

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Sesuatu Yang Tertinggal

    Maudy melepaskan tautan bibir mereka secara paksa, lalu mendorong dada Juned dengan sisa tenaga yang ia miliki. Juned yang tidak siap terhuyung keluar dari pintu mobil yang masih terbuka hingga punggungnya membentur tembok garasi.“Non jangan non!”"Minggir!" bentak Maudy sambil berusaha bangkit. "Non, astaga... Non Maudy sadar!" seru Juned sambil berusaha berdiri tegak. Alih-alih menjawab, Maudy justru duduk di tepi jok belakang dan mulai melepas celana dalamnya dengan gerakan yang sangat berani. "Kamu penasaran kan, Mas? Iya kan? Aku tau kamu pengen banget, kan?" racau Maudy sambil bangkit dan menghampiri Juned. Tangan Maudy bergerak secepat kilat meraih ikat pinggang Juned dan melucuti celana pria itu hingga merosot ke lantai garasi. "Duduk! ku bilang duduk!" perintah Maudy sambil mendorong tubuh kekar Juned hingga duduk dan hampir terbaring di jok belakang yang sempit. Juned terduduk kaku di kursi belakang mobil dengan pintu yang masih terbuka. Ia hanya bisa menatap Maudy

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Tertangkap Basah

    Juned merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk sambil menatap langit-langit kamar. Bayangan jemarinya yang menyentuh kulit lembut Ratna di bawah kain jarit tadi terus berputar di kepalanya seperti film pendek yang tak mau berhenti. Belum lagi saat anak majikannya jatuh di dekapannya. Belum lagi bekerja di tempat ini kerjaannya lebih ekstra dari sekadar mengantar.Belum lagi ia menghampiri istrinya sesampai di Jakarta. Semua bercampur jadi satu. ​"Sial, kalau begini terus mana bisa tidur," umpat Juned dengan suara parau yang tertahan. Juned mendesah kasar, tangannya perlahan merogoh ke dalam celana saat bayangan paha mulus Ratna dan dekapan hangat Maudy mulai menyiksa pikirannya. Miliknya sudah menegang keras, menuntut pelepasan yang sedari tadi ia tahan di depan kedua wanita itu. ​"Sial, benar-benar bikin gila," umpat Juned dengan napas yang mulai memburu. Ia memejamkan mata erat, membayangkan jemarinya tidak lagi memijat kaki Ratna, melainkan menjelajahi area sensiti

  • Jatah Nyonya Dan Nona Muda   Targedi Tak Terduga

    Ratna dan Juned segera merapikan posisi masing-masing agar tidak terlihat mencurigakan di mata Maudy. Ratna merapatkan kedua kakinya dengan cepat sambil menoleh ke arah pintu dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin. Maudy menyipitkan mata, menatap bergantian ke arah ibunya dan Juned yang masih memegang botol minyak pijat. "Kalian lagi ngapain?" tanya Maudy penuh selidik. Ratna menghela napas panjang seolah memang sedang menahan rasa sakit di persendian tubuhnya akibat berolahraga tadi sore. "Oh, ini... habis main padel badan Mama pegal semua, jadi Mama suruh Juned mijitin Mama," jawab Ratna tenang. Maudy mengangguk pelan. Ia menatap Juned sejenak. "Kenapa nggak panggil Mbok Ijah aja?" tanya Maudy lagi. Ratna sedikit memperbaiki letak kain jaritnya agar menutupi paha dengan sempurna di depan anak gadisnya itu. "Tadi Mama sudah telepon Bu Lastri katanya Mbok Ijah lagi ada panggilan pijit juga, jadi nggak bisa datang," jawab Ratna meyakinkan. Setelah memberika

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status