Se connecterRatna dan Juned segera merapikan posisi masing-masing agar tidak terlihat mencurigakan di mata Maudy. Ratna merapatkan kedua kakinya dengan cepat sambil menoleh ke arah pintu dengan wajah yang berusaha dibuat sedatar mungkin.
Maudy menyipitkan mata, menatap bergantian ke arah ibunya dan Juned yang masih memegang botol minyak pijat. "Kalian lagi ngapain?" tanya Maudy penuh selidik. Ratna menghela napas panjang seolah memang sedang menahan rasa sakit di persendian tubuhnya akibat berolahraga tadi sore. "Oh, ini... habis main padel badan Mama pegal semua, jadi Mama suruh Juned mijitin Mama," jawab Ratna tenang. Maudy mengangguk pelan. Ia menatap Juned sejenak. "Kenapa nggak panggil Mbok Ijah aja?" tanya Maudy lagi. Ratna sedikit memperbaiki letak kain jaritnya agar menutupi paha dengan sempurna di depan anak gadisnya itu. "Tadi Mama sudah telepon Bu Lastri katanya Mbok Ijah lagi ada panggilan pijit juga, jadi nggak bisa datang," jawab Ratna meyakinkan. Setelah memberikan alasan tersebut, Ratna balik bertanya mengenai keperluan Maudy yang tiba-tiba masuk ke kamarnya malam-malam. Ia ingin segera mengalihkan perhatian Maudy agar Juned bisa segera keluar dari situasi canggung ini. "Kamu mau ngapain tadi manggil Mama?" tanya Ratna. Maudy mengalihkan pandangannya sepenuhnya kepada Juned yang sejak tadi hanya terdiam kaku di samping tempat tidur. "Oh iya, tadi aku nyariin Mas Juned," jawab Maudy santai. Ratna menunjuk ke arah Juned dengan dagunya, "Ini Juned," sahut Ratna singkat. Maudy melangkah sedikit mendekat, memperhatikan botol minyak yang dipegang Juned. "Iya, tadi ku cari di kamarnya nggak ada, aku pikir disuruh Mama keluar," ucap Maudy. Juned memberanikan diri untuk bersuara guna mencairkan suasana yang masih terasa kaku di antara mereka bertiga. "Ada apa, Non Maudy cari saya?" tanya Juned dengan nada sopan. "Mas, nanti selesai pijit Mama bantu aku mindahin kardus ke atas lemari ya," kata Maudy. Juned mengangguk patuh sambil menyimpan kembali botol minyak pijatnya ke atas nakas di samping tempat tidur Ratna. "Iya Non," jawab Juned mantap. Begitu pintu tertutup rapat, suasana kamar kembali hening, namun ketegangan di antara Ratna dan Juned belum sepenuhnya hilang. Ratna perlahan bangkit dari posisinya lalu menyentuh lengan Juned dengan genggaman yang cukup erat. "Ned, kamu bantu Maudy dulu ya," ucap Ratna dengan suara rendah. Juned merasa bulu kuduknya berdiri saat merasakan sentuhan tangan Ratna yang masih terasa hangat di kulitnya. "I-iya Nyonya," jawab Juned sambil berjalan pelan menuju pintu. Tepat saat tangan Juned menyentuh gagang pintu, suara Ratna kembali memanggil. Juned menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah majikannya yang masih duduk di atas kasur. "Ned," panggil Ratna sekali lagi. Juned mematung di tempatnya, menatap Ratna yang kini tersenyum. "Iya Nyonya?" tanya Juned penasaran. "Saya bakal sering butuh pijatan kedepannya ya," ucap Ratna sambil tersenyum yang tak bisa ia pikirkan. Juned hanya bisa mengangguk tanpa kata lalu bergegas keluar dari kamar Ratna menuju arah kamar Maudy. Ia menarik nafas sedalam mungkin untuk menetralkan gejolak di dadanya yang masih terasa sangat kuat. * Juned mengetuk pintu kamar Maudy dengan perlahan. Ia merapikan kemeja barunya agar tetap terlihat rapi meski hatinya masih berdebar akibat kejadian di kamar Ratna tadi. "Masuk saja, Mas," seru Maudy dari dalam kamar. Pintu terbuka dan memperlihatkan Maudy yang sedang berdiri di tengah tumpukan barang yang masih berantakan. Ia menunjuk ke arah tumpukan buku dan barang lama yang perlu dimasukkan ke dalam wadah penyimpanan. "Ini Mas, barang-barangku yang udah nggak terpakai mau kutaruh ke kardus dan kusimpan di atas lemari," ucap Maudy sambil memberikan instruksi. Juned menghampiri kardus itu dan langsung berjongkok di lantai. "Baik, Non. Biar saya rapihkan dulu," sahut Juned tanpa menoleh. Suasana hening sejenak sebelum Maudy membuka percakapan kembali. Ia menopang dagunya dengan tangan, terlihat sangat tertarik dengan latar belakang pria di hadapannya itu. "Aku baru tahu Mas Juned bisa mijit," ucap Maudy dengan nada menyelidik. Juned menghentikan gerakannya sejenak dan menoleh sedikit. "Iya Non, di kampung dulu saya biasa mijitin orang," jawab Juned singkat. Maudy menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan kedua tangan menopang di atas kasur empuknya. Ia tertawa kecil, membayangkan sosok Juned yang serba bisa dalam melayani segala keperluan di rumah mewah ini. "Ternyata Mas Juned serba bisa ya. Jadi supir bisa, mijit bisa, bisa dong pijat aku juga? Haha," goda Maudy dengan candaan yang renyah. Juned mengangkat kardus besar itu dengan kedua tangannya, memperlihatkan otot bisepnya yang menegang kuat di balik kain kemeja. Ia tersenyum tipis menanggapi gurauan Maudy sambil mulai mengangkat beban tersebut ke arah lemari yang cukup tinggi. Juned menggaruk tengkuknya pelan. Maudy terdiam sejenak sambil terus memperhatikan lekuk tubuh atletis Juned yang kini tampak sangat ketat untuk sebesar bajunya. Apalagi ada pria di kamarnya. "Ini sudah semua, Non. Saya taruh ke atas lemari ya," ucap Juned dengan napas sedikit berat. Juned terus berusaha mendorong kardus tersebut agar posisinya benar-benar masuk dan tidak terjatuh dari ketinggian. Namun, benda itu tetap tidak bergeming sedikit pun meski Juned sudah memberikan tenaga ekstra pada dorongannya. "Aduh, kayaknya keganjel nih, Non," keluh Juned yang masih menahan beban kardus dengan tangannya. Maudy menoleh ke arah kardus yang sudah bertengger di atas lemari meski sebagian masih seperti menggantung di tepi lemari. "Eh, keganjel ya?" tanya Maudy dengan suara yang sedikit meninggi. Juned berniat mengambil kursi di pojok kamar agar bisa melihat langsung apa yang sebenarnya mengganjal di atas lemari yang tinggi itu. "Bentar saya pinjam kursinya ya Non, biar saya rapihin posisinya sekalian," ucap Juned sambil melangkah ke arah kursi. "Keganjel? Jangan-jangan...." Gumam batin Maudy. Maudy langsung menghadang langkah Juned dengan gerakan cepat. "Ehhh Mas! Gak usah, udah biar aku aja nanti yang rapihin," cegah Maudy dengan nada bicara yang tegas. Juned menghentikan langkahnya dan menatap Maudy dengan bingung. "Tapi Non... itu berat lho," ucap Juned berusaha mengingatkan. Belum sempat ia benar-benar melangkah keluar, terdengar bunyi gesekan kasar dari atas. Bruk. “Kardusnya—!” Juned refleks berbalik. Kardus itu sudah miring, meluncur jatuh tepat ke arah Maudy. Ia bergerak tanpa pikir panjang, meraih lengan wanita itu dan menariknya ke depan. Maudy terkejut. Tangannya refleks naik menahan kepala, tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu—dum—jatuh tepat ke dada Juned.Sedan hitam itu melaju memotong jalur cepat, menderu halus membelah arus lalu lintas kota yang mulai padat. Di dalam kabin yang sejuk dan temaram, suasana terasa kian memanas oleh gestur berani Fitri. Jemari lentik wanita itu makin lancang merayap, mengusap perlahan pangkal paha Juned dari balik celana kainnya. "Aku udah nggak sabar, Jun?" bisik Fitri dengan napas yang mulai tak teratur, menatap samping wajah Juned dari balik bulu matanya. Juned menyunggingkan senyum miring, membiarkan jemari Fitri menjelajah tanpa niat sedikit pun untuk menghentikannya. Tangan kirinya yang bebas sengaja diturunkan dari kemudi, mendarat tepat di atas paha mulus Fitri yang terekspos akibat gaun ketatnya yang makin tersingkap. Ia meremas lembut daging empuk itu dengan cengkeraman penuh dominasi, membuat Fitri terperanjat kecil lalu mendesah halus. "Sebentar lagi sampai," sahut Juned santai, nada suaranya berat dan tenang tanpa ada riak kegugupan sama sekali. Mobil berbelok mulus memasuki area ba
Caca berusaha mendorong dada Juned, namun tenaganya seolah menguap saat bibir pria itu mulai melumat ceruk lehernya dengan panas."Jangan... di sini, Pak," bisik Caca terbata-bata, desahan halus lolos dari tenggorokannya saat jemari Juned makin berani merayap masuk ke balik kemejanya."Kenapa? Bukannya kemarin kamu ngambek mau minta imbalan?" goda Juned rendah.Suara beratnya berbisik tepat di depan bibir Caca, membuat wanita itu makin tak berdaya.Napas Caca kian memburu, matanya meredup diliputi gairah. Tangannya yang semula menolak kini justru meremas balik bahu kekar Juned, melilitkan leher pria itu dengan erat."Mas Juned parah banget sih..." keluh Caca pasrah, membiarkan tubuhnya diangkat dan didudukkan di atas meja kerja yang berantakan oleh tumpukan berkas.Tanpa membuang waktu, Juned membungkam bibir Caca dengan ciuman liar yang mengunci seluruh penolakan.Suara decakan halus dan deru napas bersahutan memenuhui ruangan kedap suara itu.Sentuhan Juned yang tegas dan dominan de
Juned menggeser layar ponsel, lalu menempelkan benda tipis itu ke telinganya dengan gerakan teratur. "Halo, Fit?" sapa Juned lembut, nada suaranya berubah berat dan teratur. "Halo, Jun..." suara Fitri terdengar mendayu-dayu dari seberang telepon, diselingi tawa kecil yang sarat godaan. "Nanti siang sibuk gak? Makan siang bareng yuk di kantorku, sekalian ada yang mau aku omongin... berdua aja." Jemari Juned mengetuk-ngetuk permukaan meja makan, menyunggingkan senyum tipis yang langsung ia sembunyikan di balik cangkir kopi. "Sebentar ya, Fit..." potong Juned halus. Pria itu menurunkan ponselnya sedikit, membiarkan layar tetap menyala sebelum beralih menatap wanita di hadapannya. "Na, nanti siang kita ada agenda keluar gak?" tanya Juned tenang, menatap mata Ratna tanpa ada keraguan. Ratna yang sedang memotong buah pisang menghentikan gerak pisunya, menatap Juned seraya menggeleng pelan. "Gak ada kok, Ned, bebas aja hari ini. Emang kenapa?" sahut Ratna seraya menyuapkan potongan p
Malam perlahan merayap, membawa kesunyian pekat yang menyelimuti seluruh sudut rumah.Lampu kamar utama di lantai atas sudah dipadamkan, menandakan Ratna telah lelap dalam tidur pulasnya.Di kamar belakang, Nayla duduk gelisah di tepi ranjang dengan napas memburu dan debar jantung yang tak karuan.Pintu kamar perlahan terbuka tanpa suara, menampakkan sosok Juned yang melangkah masuk sambil mengunci pintu rapat-rapat."Udah tidur semua di atas, kan?" bisik Nayla pelan dengan binar mata yang kian menggelap penuh gairah.Juned menyunggingkan senyum miring, melangkah mendekati ranjang dengan sorot mata penuh dominasi."Udah pulas, gak usah khawatir," jawab Juned rendah seraya menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.Tanpa basa-basi, Juned langsung menarik tubuh Nayla ke dalam dekapannya, melumat bibir manis gadis itu dengan liar.Nayla mendesah nikmat, membalas ciuman tersebut sambil mencengkeram erat pundak Juned tanpa ampun.Tangan Juned bergerak cepat menyingkirkan piyama tipis yang memba
Juned menyunggingkan senyum tenang tanpa ada keraguan sedikit pun di raut wajahnya."Paling cuma nanyain jadwal meeting buat hari Senin nanti, Ra," sahut Juned santai seraya meraih ponselnya dan mengantonginya."Oalah... kirain ada masalah pekerjaan yang darurat di kantor," balas Ratna mengangguk-angguk percaya tanpa rasa curiga.Juned memutar kunci kontak, menyalakan mesin mobil yang langsung berderum halus di area parkiran."Enggak kok, aman. Yaudah, kita langsung pulang yuk sebelum makin macet," ujar Juned lembut pada kakak iparnya itu.Mobil hitam itu perlahan bergerak memotong arus lalu lintas, meninggalkan halaman toko kue menuju rumah.Di sepanjang perjalanan, Ratna bersandar nyaman di kursinya seraya mengobrol ringan tentang acara arisannya tadi.Juned merespons setiap cerita Ratna dengan senyuman dan anggukan santai, tetap memegang kendali penuh atas suasana.Dalam benaknya, Juned menyeringai tipis merencanakan langkah berikutnya saat sampai di rumah nanti.Mobil hitam Juned
Saat mobil Juned baru saja belok menuju kawasan perumahan tempat tinggal Caca, ponselnya di *dashboard* mendadak berdering nyaring.Nama Ratna terpampang di layar, membuat Juned terpaksa menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan.Juned menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo, Ra?""Juned, kamu udah sampai mana?" tanya Ratna langsung dari seberang telepon."Ini baru banget masuk kota, Ra. Kenapa?" sahut Juned tenang."Aduh, pas banget! Tolong jemput aku dong di tempat arisan, mobil yang biasa aku tumpangi mendadak mogok nih," pinta Ratna penuh harap.Juned mendadak terdiam sejenak, mengusap tengkuknya seraya memikirkan caca yang sudah menunggunya di rumah.Namun, menolak permintaan Ratna secara mendadak tentu bisa memicu kecurigaan yang tidak perlu."Oh... gitu. Yaudah, kirim lokasinya aja, nanti aku langsung meluncur ke sana," jawab Juned akhirnya tanpa bisa menolak."Makasih ya, Juned! Aku tunggu," balas Ratna lega sebelum memutuskan sambungan.Juned menghel







