author-banner
Joker Sarjana
Joker Sarjana
Author

Novels by Joker Sarjana

Menjadi Tuan Tiga Dewi Merpati Cantik

Menjadi Tuan Tiga Dewi Merpati Cantik

(21+) Tiga ekor merpati yang kuselamatkan semalam berubah menjadi wanita-wanita cantik yang kini hadir di hadapanku. Mereka menuntut janji balas budi dan memintaku untuk memberikan mereka keturunan. Aku ingin sekali membantu mereka, namun apa yang harus aku perbuat?
Read
Chapter: Bab 36
Lidah mereka saling menari, saling menjilat, saling mengisap. Tangan Roni naik ke bawah tank top, meremas bukit kembar Dewi yang matang dan berat dengan penuh nafsu. Jempolnya memainkan pucuk yang sudah mengeras seperti batu kecil.Dewi mendesah panjang ke dalam mulut Roni. "Ahh... remas lebih kuat... aku suka kalau kamu kasar."Tanpa menunggu, Roni menarik lepas tank top Dewi dan melemparkannya ke lantai. Ia menunduk, menyedot pucuk kiri Dewi dengan liar sambil tangan kanannya meremas bukit kembar yang satu lagi.Dewi menggigit bibir bawahnya, kepalanya mendongak, rambut hitamnya tergerai indah.Roni mendorong Dewi hingga jatuh terlentang di ranjang. Ia melepas celana pendek Dewi perlahan, membuka kedua paha mulusnya lebar-lebar.Mahkotanya sudah basah, bibir kewanitaannya mengkilap cairan bening yang melimpah."Lihat ini... punyamu sudah banjir," gumam Roni sambil tersenyum nakal. Ia menunduk, meniupkan napas hangat ke celah yang sensitif itu. Dewi menggeliat, pinggulnya terangkat.
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 35
Mereka tiba di kota menjelang pukul delapan pagi. Udara pagi masih terasa sejuk, tapi lalu lintas sudah mulai ramai.Dari stasiun, Roni langsung memesan dua taksi online. Ia sengaja tidak langsung menuju apartemen. Meski lelah setelah perjalanan panjang, ia tidak mau membawa Kirana ke tempat yang mungkin masih diawasi tanpa memastikan keadaan lebih dulu.Ia mengirim pesan singkat ke Anton."Mobilnya masih ada di depan?"Balasan Anton datang dalam hitungan detik."Tadi malam mobil hitam itu pergi sekitar jam 3 pagi. Sampai sekarang kelihatannya aman. Apartemen sepi."Roni membaca pesan itu beberapa kali, lalu memutuskan. "Kita kembali ke apartemen," katanya kepada yang lain.Menurutnya, kalau Ras Gagak sudah meninggalkan posisi pengawasan, berarti mereka tahu target sudah tidak ada di sana. Kembali sekarang justru bisa jadi langkah yang tidak mereka duga.Saat masuk ke apartemen, suasana langsung terasa berbeda. Biasanya sepi, kini ada lima orang di dalamnya. Ruangan yang sempit jadi t
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 34
Roni terbangun mendadak, sebelum subuh benar-benar menyingsing. Bukan karena ada suara atau mimpi buruk—tapi karena instingnya yang sudah seperti alarm sejak liontin itu menempel di lehernya.Dadanya terasa sesak. Ada yang tidak beres.Ia langsung bangun dari kursi tempat dia duduk semalaman, lehernya begitu kaku. Matanya langsung tertuju ke jendela. Di luar masih gelap, jalan kecil di depan penginapan terlihat sepi.Tapi di ujung jalan, sekitar lima puluh meter dari situ, ada sebuah mobil hitam parkir dengan mesin mati. Gelap total. Roni cukup yakin mobil itu tidak ada tadi malam."Sial," gumamnya pelan.Ia langsung mengambil ponsel, jarinya bergerak cepat."Bangun. Ada tamu."Balasan Dewi datang dalam hitungan detik."Udah ngintip dari tadi. Dua orang di dalam. Nggak gerak-gerak.Roni menoleh ke tempat tidur. Kirana sudah duduk tegak, matanya tajam, seolah dia tidak pernah tidur sama sekali."Ras Gagak?" tanya Kirana langsung, suaranya rendah."Paling nggak itu yang aku curigai," ja
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 33
Satu jam pertama perjalanan pulang hampir sepenuhnya sunyi. Tidak ada yang bicara. Semua orang capek.Safitri ketiduran lagi lima belas menit setelah mobil mulai jalan. Kepalanya bersandar ke bahu Gita, mulutnya sedikit terbuka.Gita sendiri hanya menatap keluar jendela, sesekali mengganti posisi duduk karena pegal.Dewi duduk tegak di belakang Roni, mata terpejam tapi jelas tidak tidur—tangannya sesekali mengepal di pangkuan.Kirana duduk di sudut paling belakang dekat jendela. Lututnya ditekuk, tangan memeluk lutut, matanya terus memperhatikan jalan yang berubah dari tanah berlubang menjadi aspal yang lebih halus, lalu ke jalan provinsi yang lebih lebar. Ekspresinya datar, tapi sesekali ia mengerjap lebih lama, seolah masih memproses segala yang terjadi.Roni fokus menyetir, sesekali melirik spion untuk memastikan tidak ada mobil yang mencurigakan di belakang.Setelah lampu-lampu jalan menyala dan langit benar-benar gelap, Kirana akhirnya bicara."Kita mau ke mana?" tanyanya pelan.
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 32
Roni mengerutkan alis tapi memperlambat langkah, membiarkan kakinya menyentuh tanah perlahan. Ia tidak melepas pegangannya sepenuhnya—tangannya masih di punggung wanita itu sampai ia yakin kaki wanita itu bisa menopang tubuhnya sendiri.Wanita itu berdiri. Goyah sebentar, satu tangannya mencengkeram lengan Roni untuk keseimbangan, tapi tidak jatuh.Ia menarik napas panjang."Berapa lama aku di sini?" tanyanya, matanya menatap hutan di sekitarnya."Itu yang harusnya kamu ceritakan kepada kami," jawab Dewi dari depan, berbalik menatapnya. "Kami tidak tahu kondisimu sebelum kami datang."Wanita itu menatap Dewi. Sesuatu bergerak di matanya—bukan pengenalan seperti saat ia melihat Roni, tapi sesuatu yang lebih berhati-hati."Kamu dari Ras Merpati," ucapnya."Ya." Dewi mengangguk. "Dan kamu dari Ras Merak."Wanita itu tidak menyangkal.Roni menatap keduanya bergantian. "Kalian saling kenal?""Tidak," jawab keduanya hampir bersamaan.Mereka melanjutkan perjalanan, kali ini dengan wanita itu
Last Updated: 2026-06-01
Chapter: Bab 31
Bibirnya yang pucat dan kering bergerak.Suaranya keluar sangat pelan—serak, nyaris habis, tapi terdengar jelas di tengah keheningan hutan itu."Kamu... datang juga."Roni berjongkok di depannya, matanya memeriksa kondisi wanita itu dengan cepat—wajah yang terlalu kurus, tangan yang gemetar, napas yang tidak merata."Aku di sini," ucapnya pelan. "Kamu aman sekarang."Wanita itu menatapnya beberapa detik lagi. Lalu—seperti tubuhnya baru mendapat izin untuk menyerah setelah terlalu lama bertahan sendirian—kepalanya jatuh ke samping, matanya terpejam, dan tubuhnya terkulai lemas.Roni menangkapnya sebelum ia menyentuh tanah.Di belakangnya, Dewi sudah bergerak mendekat. Safitri membuka tas perbekalan dengan cepat. Gita berlutut di sisi lain sambil memeriksa denyut nadi di leher wanita itu."Masih hidup," ucap Gita dengan napas lega. "Tapi lemah sekali. Dia butuh makan dan istirahat."Roni menatap wajah wanita yang kini ia pegang di tangannya.Dari dekat, ia lebih muda dari yang ia bayang
Last Updated: 2026-05-29
Godaan Mama Muda

Godaan Mama Muda

“Dit, kamu mau kan memberikannya pada mama?” pinta Mama Jessica. Aku menelan ludah, napasku tercekat. “Ta-tapi, Ma…” Ibu tiriku menginginkan sesuatu yang mampu kuberikan, namun tak bisa kulakukan!
Read
Chapter: Bab 348
Kara berdiri di tengah ballroom mewah yang penuh lampu kristal berkilauan. Gaun hitam sederhana yang dikenakannya terasa biasa saja di antara gaun-gaun mewah para tamu. Semua mata keluarga Lang tertuju padanya. Ada yang melihat dengan iri, ada yang curiga, dan ada pula yang tersenyum palsu seolah-olah mereka mendukungnya.Mira, wanita yang kemarin mengajaknya ke sini, berdiri di samping Kara sambil menyentuh bahu gadis itu dengan lembut. “Kamu pewaris tunggal sekarang, Kara. Semua milik kakekmu, Victor Lang, jatuh ke tanganmu. Ratusan miliar rupiah, rumah-rumah besar, perusahaan-perusahaan, bahkan saham di luar negeri. Tinggal bilang ‘ya’, dan kamu tidak perlu lagi hidup susah di rumah kecil itu.”Kara menunduk, melihat surat wasiat asli yang masih dipegangnya. Tulisan tangan kakeknya yang dulu terasa dingin kini seperti janji kekayaan yang menggoda. Ia ingat bagaimana hidupnya selama ini—rumah kecil yang bocor kalau hujan deras, makan seadanya, dan ibunya yang selalu capek bekerja.
Last Updated: 2026-06-05
Chapter: Bab 347
Waktu berlalu cepat. Sudah dua belas tahun berlalu sejak Kara kecil dulu diselamatkan dari situasi sulit di keluarga asalnya. Kini Kara sudah berusia 12 tahun.Gadis yang dulu rapuh dan sering menangis diam-diam itu kini telah tumbuh menjadi remaja yang cantik. Rambutnya panjang sebahu, hitam dan lurus, biasanya diikat rapi saat berangkat sekolah.Matanya masih menyimpan kedalaman luka masa kecil, tapi sekarang ada kekuatan dan ketegasan di sana yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa kagum.Arka, adik laki-lakinya yang sekarang berusia 9 tahun, sudah menjadi bocah yang sangat aktif dan nakal. Ia selalu mengikuti kakaknya ke mana-mana, seperti bayangan kecil yang ribut. Rumah mereka yang dulu kecil dan sederhana sudah diganti dengan rumah dua lantai yang lebih nyaman di pinggiran kota. Meski lebih besar, rumah itu tetap terasa hangat.Ada taman kecil di belakang, ruang keluarga yang selalu penuh mainan Arka, dan dapur yang menjadi pusat kegiatan setiap pagi.Radit masih memimpi
Last Updated: 2026-06-05
Chapter: Bab 346
Pagi itu Radit belum memejamkan mata sama sekali. Sejak subuh, ia duduk diam di teras depan rumah kecil mereka, sebatang rokok menyala di antara jari-jarinya yang kasar. Asap tipis mengepul pelan di udara dingin pagi.Matanya lelah, lingkaran hitam tebal menggantung di bawah kelopak, tapi tatapannya tetap waspada. Sesekali ia melirik ke dalam rumah melalui jendela kaca yang buram.Di kamar utama, Kara tidur meringkuk di tengah, dipeluk Maya di satu sisi dan Arka di sisi lain. Ketiganya terlihat seperti sedang berjaga-jaga, seolah takut ada sesuatu yang datang dan mengganggu ketenangan yang rapuh itu.Radit menghela napas panjang. Sudah berhari-hari ia seperti ini—gelisah, takut, dan penuh penyesalan. Kehidupan mereka yang baru mulai membaik kembali terguncang setelah rekaman lama itu beredar. Rekaman yang membuat Kara menangis berhari-hari, yang membuatnya mempertanyakan segalanya tentang ayahnya.Pukul 08.45, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan gerbang rumah. Radit l
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 345
Pagi itu udara terasa dingin. Radit sudah berdiri di teras rumah sejak subuh, matanya terus tertuju ke arah gerbang. Sesekali ia melirik jam di ponselnya. Kara masih tidur di dalam rumah, tapi Radit sudah merasa gelisah sejak bangun. Hari ini rasanya akan jadi hari yang berat.Pukul 09.15, terdengar suara motor mendekat. Seorang kurir ojek online turun sambil membawa kotak kecil berwarna hitam. Kotak itu diikat dengan pita merah yang mencolok. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada tulisan tangan rapi di atasnya:Untuk Kara, Dari Seseorang yang Tahu Semua Rahasia PapamuRadit merasa tangannya dingin saat mengambil kotak itu. Tak lama kemudian, Maya keluar dari rumah dengan wajah tegang. “Buka di luar saja, Dit. Jangan dibawa masuk dulu,” kata Maya pelan.Mereka membuka kotak itu di teras. Di dalamnya hanya ada sebuah flashdisk kecil dan selembar kertas lipat.Radit membaca surat itu dengan suara pelan:“Kara, ini hadiah terakhir dariku. Rekaman malam ketika papamu memutuskan untuk menin
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 344
Paket itu datang keesokan paginya, tepat pukul 09.00. Sebuah amplop cokelat tebal tanpa perangko, hanya ditulis tangan dengan huruf besar menggunakan tinta hitam.Untuk Kara Pranata, Dari Kakekmu, Victor Lang.Radit yang menerima paket dari kurir langsung membeku di teras rumah. Tangannya gemetar saat memegang amplop itu. Maya muncul di belakangnya, wajahnya langsung pucat.“Kita buang saja,” bisik Maya cepat. “Nggak usah dibuka.”Tapi Kara sudah muncul di pintu, masih memakai piyama kuningnya. Boneka kelinci kesayangannya didekap erat di dada. “Itu untuk Kara ya, Pa?” tanyanya polos.Radit tidak bisa bohong. Ia berlutut di depan putrinya, memegang amplop tebal itu dengan tangan yang terasa dingin. “Ini surat dari kakekmu, Kara. Orang yang dulu pernah bilang hal-hal buruk tentang kamu. Kamu nggak harus baca kalau nggak mau. Papa nggak maksa.”Kara menatap amplop itu cukup lama. Matanya berkaca-kaca, tapi ada tekad yang sudah kuat di sana. “Kara mau baca, Pa. Kara mau tahu semuanya. Su
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 343
Pagi sidang darurat itu datang dengan suasana yang berat. Langit mendung menggantung di atas kota sejak subuh, membuat udara terasa dingin dan menekan. Di rumah kecil keluarga Pranata, tidak ada satu pun yang benar-benar bisa menikmati sarapan.Maya berkali-kali memeriksa tas Kara, memastikan semua kebutuhan putrinya sudah lengkap. Arka yang biasanya cerewet hanya duduk diam di meja makan sambil sesekali melirik kakaknya.Sementara itu, Kara berdiri di depan cermin kamarnya.Gadis kecil itu mengenakan baju putih sederhana yang dipilih Maya malam sebelumnya. Rambutnya disisir rapi, dan di kedua tangannya ia memeluk boneka kelinci kesayangannya dengan erat.Meski berusaha terlihat kuat, wajah Kara menunjukkan kegelisahan yang sulit disembunyikan.Saat pintu kamar terbuka, Radit masuk perlahan."Kamu sudah siap, Sayang?" tanyanya lembut.Kara menoleh. Matanya tampak sedikit merah karena kurang tidur."Pa..." suaranya lirih. "Kara takut."Jantung Radit terasa diremas.Ia berlutut hingga s
Last Updated: 2026-06-02
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status