author-banner
lucky lulu
Author

Novels by lucky lulu

Pusaka Warisan Empu Herbal

Pusaka Warisan Empu Herbal

"Tugasmu belum selesai." Itu adalah kalimat terakhir yang Gatra Santara dengar sebelum dunianya menjadi gelap. Sebagai seorang poliglot jenius di masa depan, hidup Gatra berakhir tragis di tangan rekan kerja yang iri, dikhianati, dirampok, dan dibunuh di sebuah warung kumuh. Namun, kematian hanyalah gerbang pembuka. Gatra yang dulunya adalah seorang poliglot yang menguasai bantak bahasa asing, terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama di abad ke-14. Bukan lagi di ruang rapat berpendingin ruangan kantor tempay dia bekerja sebagai penerjemah profesional, dia kini terperangkap dalam intrik keluarga pemilik toko herbal, dipinggirkan oleh ayah kandung sendiri demi saudara tirinya yang ambisius, Awang. Di dunia yang asing ini, kemampuan Gatra untuk "menerjemahkan" bahasa tidak lagi terbatas pada kata-kata manusia. Ia kini mampu mendengar "napas" alam dan rahasia kuno yang tersimpan dalam lembaran kitab herbal yang telah lama hilang. Di bawah bimbingan misterius Ki Yaksa, Gatra menyadari bahwa setiap keadilan yang dia tegakkan, sistem akan memberinya kekuatan ajaib yang melampaui logika. Dari menyembuhkan putra mahapatih hingga membongkar konspirasi busuk di balik tembok istana, Gatra terjerat dalam benang merah takdir yang melintasi waktu. Bersama sahabat sejatinya, Nararya, serta para wanita tangguh dari berbagai penjuru dunia—Galuh, Melayu, Tiongkok, hingga Arab—Gatra harus berpacu dengan waktu. Apakah kembalinya Gatra ke masa lalu sekadar pelarian, atau ada misi tugas yang harus ia tuntaskan?
Read
Chapter: Bab 92. Sidang Darurat di Puing Pendopo
"Yang Mulia, kasihanilah punggung-punggung tua yang gemetar ini! Padang Galuh tidak lagi memiliki atap untuk menaungi kepala kami, dan Anda masih meminta kami membahas pajak dan loyalitas?"Suara Ki Demang Wirya bergetar hebat, bukan karena rasa hormat, melainkan karena kemarahan yang tertahan di balik kerutan wajahnya yang legam akibat jelaga kebakaran. Ia berdiri di atas lantai batu marmer hitam yang kini terbuka langsung ke langit kelabu, dikelilingi oleh belasan bangsawan daerah yang duduk bersila di atas pecahan genteng hangus.Ratu Matari tidak bergeming. Duduk di atas singgasana kayu darurat yang baru dipaku kasar oleh para prajurit, wanita itu menatap tajam ke arah sang Demang tua. Mahkota perunggunya ternoda noda hitam sisa abu ibu kota, namun posturnya tetap tegak tanpa cacat."Pajak tidak pernah diminta dari punggung yang gemetar, Ki Demang," jawab Matari, suaranya dingin dan menusuk, memotong riuh rendah keluhan para bangs
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Bab 91. Perjalanan Pulang ke Ibu Kota
Derap langkah kuda memecah kesunyian pagi yang pekat, menghentak tanah berdebu di sepanjang jalan utama yang menghubungkan bukit batu menuju pusat Padang Galuh. Di barisan paling depan, Nararya menarik tali kekang kudanya hingga binatang itu meringkik pelan, menghentikan laju rombongan tepat di atas punggung bukit yang langsung menghadap ke lembah ibu kota. Matanya menyipit tajam, menatap lurus ke depan pada lanskap yang kini berubah drastis dari kejayaan masa lalu."Ibu kota... benar-benar telah menjadi abu," bisik Gatra tertahan, suaranya tercekat di tenggorokan saat ia memegang erat lengan jubahnya yang bernoda jelaga. Di sampingnya, Ratu Matari yang duduk di atas pelana kuda tegap menatap pemandangan itu tanpa berkedip, rahangnya mengeras menahan gelombang amarah dan kepedihan yang bergemuruh di dada."Mereka membakar distrik perdagangan terlebih dahulu sebelum kita sempat menutup gerbang," kata Adipati Dirga dingin, men
Last Updated: 2026-10-02
Chapter: Bab 90. Kemenangan Kecil di Bukit Batu
"Jangan meremehkanku, Komandan!" teriak Nararya, suaranya mengiris deru angin malam dan suara kayu yang retak terbakar.Bilah pedang Nararya berbenturan keras dengan kapak besar musuh, menghasilkan percikan api yang menyilaukan mata di tengah kegelapan jembatan gantung. Keseimbangan mereka langsung diuji di atas papan kayu yang bergoyang hebat dan mulai runtuh di bawah kaki. Sang komandan bayaran mendengus buas, mengerahkan seluruh tenaga lengannya untuk mendorong Nararya jatuh ke jurang."Kau akan mati di sini, Jenderal!" bentak sang komandan, meludah darah ke papan kayu yang terbakar.Nararya mengatupkan rahangnya rapat-rapat, otot-otot di sekujur lengannya menegang menahan beban hantaman yang hampir meremukkan tulang selangkanya. "Aku tidak punya waktu untuk mati hari ini!"Dengan satu sentakan pinggul yang cepat, Nararya memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum goyangan jembatan untuk menyelip di bawah ayuna
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 89. Pertarungan di Jembatan Gantung
"Tahan formasi kavaleri! Hancurkan lambung pertahanan mereka!" seru Adipati Dirga, suaranya menggelegar menembus deru api yang membakar sisa-sisa kayu jembatan.Di hadapan mereka, kekacauan instan meletus di kubu tentara bayaran. Kehadiran pasukan kavaleri ringan Kadipaten dari arah hutan membuat para pemanah musuh panik dan membubarkan barisan."Manfaatkan celah ini! Kita harus menyeberang sekarang!" bentak Nararya, matanya tidak lepas dari sosok bertubuh kekar dengan bekas luka bakar di leher yang berjalan tegap ke arah mereka di atas reruntuhan jembatan gantung.Sang komandan bayaran tertawa dingin, kapak bermata dua di tangan kanannya diseret di atas papan kayu yang terbakar. "Kau pikir bisa kabur begitu saja, Jenderal bodoh? Nyawamu tertinggal di sini!""Pergilah bersama Ratu dan Gatra, Adipati!" perintah Nararya tanpa menoleh, mencabut bilah pedangnya sepenuhnya hingga suara gesekan baja bernyaring tajam memecah udara mal
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 88. Tembakan Panah Api
Chapter 88: Tembbakan Panah Api di Tebing BatuWusss-shh!Puluhan batang panah berapi melesat membelah udara malam yang pekat, menciptakan garis-garis cahaya merah yang menyala terang sebelum menghantam kerangka kayu jembatan gantung di hadapan mereka. Kayu-kayu tua yang kering itu langsung tersulut dalam hitungan detik, mengubah satu-satunya jalur penghubung antartebing tersebut menjadi lautan api yang mengamuk."Jembatan itu terbakar!" teriak Adipati Dirga, suaranya nyaris tenggelam di bawah gemuruh kobaran api dan deru angin lembah yang bertiup kencang. Ia mengacungkan pedangnya ke depan, menepis serpihan bara yang berjatuhan. "Kita kehilangan jalan pulang!"Nararya tidak membuang waktu untuk meratapi keadaan. Matanya bergerak cepat menyapu sekeliling, menghitung jarak, sudut lompatan, dan posisi musuh yang kini merangsek maju dari dua arah—dari dalam gua tempat mereka baru saja keluar dan dari menara penga
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 87. Tanda Bahaya Berbunyi
"Gatra! Jalur mana lagi yang bisa kita gunakan untuk keluar dari kepungan ini?!" teriak Nararya di atas suara dentuman panah api yang menghantam dinding batu.Gatra memelototi titik-titik merah yang berkerumun di retinanya, napasnya memburu di tengah kabut tebal dan debu runtuhan. "Sektor utara terkunci! Jalur timur penuh dengan barisan pemanah berkuda! Kita terjepit di ujung tebing!""Keluar lewat celah tebing barat!" Adipati Dirga menyergah, suaranya menggelegar menembus deru api yang mulai melalap jembatan kayu di luar gua. "Itu satu-satunya jalur yang belum tertutup rapat, tapi jalurnya curam dan licin!"Ratu Matari, meski lengannya tergores dan berdarah, berdiri tegak tanpa gentar, menatap tajam ke arah pintu gua yang membara. "Aku tidak akan lari seperti pengecut. Kita hancurkan barisan depan mereka sekarang juga!""Yang Mulia, bertahan hidup adalah kemenangan saat ini!" sergah Gatra sambil mencengkeram l
Last Updated: 2026-10-01
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status