author-banner
KolongLangit_15
KolongLangit_15
Author

Novel-novel oleh KolongLangit_15

Aku Di Antara Pernikahan Pertama

Aku Di Antara Pernikahan Pertama

Aleya memutuskan menikah dengan Harun, laki-laki yang pernah menjadi kekasih sekaligus mantan terindahnya sewaktu kuliah. Pertemuan mereka setelah tujuh tahun berpisah terasa seperti takdir yang sengaja mempertemukan kembali dua hati yang belum selesai. Awalnya, Aleya mengira semua bermula dari kebetulan setelah ia bertemu Mama Rieta, ibu Harun, yang masih tampak sangat mendukung hubungan mereka. Sikapnya begitu hangat, begitu meyakinkan, sehingga Aleya percaya bahwa ini benar-benar restu dan merasa menjadi salah satu wanita beruntung. Namun ternyata, dibalik dukungan itu memiliki tujuan lain. Mama Rieta menginginkan keturunan laki-laki, sesuatu yang belum ia dapatkan dari menantu pertama. Semua rahasia mulai terungkap ketika Aleya hamil. Di saat ia seharusnya bahagia, kenyataan pahit justru menghantamnya bertubi-tubi. Harun sudah menikah lebih dulu. Ia memiliki seorang putri. Dan lebih buruk lagi, pernikahannya dengan wanita itu belum berakhir. Terjebak pada situasi itu, memaksa Aleya harus menghadapi fakta bahwa dirinya bukan istri utama, melainkan istri kedua yang tidak punya posisi.
Baca
Chapter: season 2
"Mah, beneran Aqilah gak boleh keluar?" Aqilah masih berusaha membujuk mamanya."Gak boleh, sayang. Tolong kali ini gak usah bandel. Lagian ada nenek Laras lho disini. Mama males ribut." ucap Aisyah tegas. Aqilah berdecak sebal. Hari ini dia ada meeting dengan klien dari luar negeri, tapi malah gak boleh keluar dengan alasan dipingit. Alasan apa itu, menyebalkan sekali. Selain itu, dia udah janjian sama Bian, akan pergi ke toko perhiasan untuk membeli cincin kawin. Maklum, semua serba dadakan, H-3 pernikahan mereka, cincin kawin masih belum dibeli."Ada apa sih, Nenek denger kok ribut-ribut?" tanya Bu Jamilah, ibunda dari Darren."Nek, Aqilah boleh keluar bentar ya. Bentar doang," rengek Aqilah sambil memegangi lengan neneknya. "Ada urusan penting. Aqilah harus ketemu klien dari luar negeri.""Gak boleh!" Bu Laras menyahut tegas. "Lagian sudah tahu mau nikah, kenapa masih bikin janji?""Bikin janjinya udah 2 minggu yang lalu. Ya mana tahu kalau mau nikah. Namanya juga gak sengaja, d
Terakhir Diperbarui: 2026-01-08
Chapter: season 2
Dini hari, Bian tebangun karena ingin buang air kacil. Musim hujan seperti ini, bawaannya memang seperti itu. Tidur tidak nyenyak gara-gara hasrat yang ingin dituntaskan. Langkah cepatnya terhenti saat mendapati ibunya duduk sendirian di kursi makan. Ini masih jauh dari waktu subuh, tumben ibunya sudah bangun."Bu."Panggilan Bian rupanya mengagetkan Bu Diah. Wanita itu gegas menyeka air mata, dan gerakan tersebut, tak lepas dari pengamatan Bian. Tapi karena hasrat ingin pipis yang tak bisa di tahan, dia terlebih dulu ke toilet, lalu kembali ke tempat ibunya. Menarik kursi, duduk bersebelahan."Tumben ibu jam segini udah bangun?"Mau tanya kenapa ibu menangis, rasanya terlalu to the point, makanya dia basa-basi dulu."Habis sholat malam, terus gak bisa tidur. Masih pengen lanjut dzikir, malah pengen buang air." Terlihat senyum diwajah wanita paruh baya tersebut. Tapi senyum itu tak selebar dan selepas biasanya.Beberapa saat, mereka terdiam. Yang terdengar hanya suara kodok yang berny
Terakhir Diperbarui: 2026-01-08
Chapter: season 2
Setelah membersihkan badan dan ganti baju, Aqilah rebahan di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan pertanyaan Bian saat di warung bakso tadi."Kamu minta mahar apa?"Dia tidak menyangka jika Bian akan menanyakan soal itu. Baginya ini hanya pernikahan sementara yang tidak perlu terlalu difikirkan tentang perintilannya, termasuk mahar. Tapi rupanya, Bian memikirkan tentang itu."Terserah kamu aja," jawabnya tadi.Bian menggeleng. "Kamu fikirkan dulu saja malam ini. Besok, baru kasih tahu aku mau minta mahar apa."Ternyata masalah mahar, membuat dia bingung juga. Apa yang akan dia minta pada Bian. Terlebih lagi saat ingat obrolannya tadi dengan Bu Diah, ibu Bian."Kamu yakin mau menikah dengan Bian?" Bu Diah bertanya saat Bian tak ada. Ke masjid untuk menunaikan sholat maghrib."Ibu bukannya tidak setuju. Tapi takut kamu menyesal nantinya. Bian itu gak punya apa-apa. Tempat usahanya juga masih ngontrak. Selain itu....." wanita paruh baya itu tampak ragu mengataka
Terakhir Diperbarui: 2026-01-07
Chapter: season 2
"Lho, Papa lagi disini? "Seru Aqilah kaget Papa Harun ada di rumah Mamanya. Bahkan sampai membukakan pintu untuknya.Bukannya menjawab, atensi Aisyah dan Harun langsung tertuju pada kaki Bian. Keningnya mengkerut melihat cowok itu tidak pakai alas kaki. Tahu kemana arah pandang mamanya, Aqilah langsung tepok jidat. Bisa-bisanya dia lupa mengembalikan sendal Bian."Sorry, lupa." Dia melepas sandal lalu menggeser ke arah Bian menggunakan kaki."Sepatu kamu mana, Nggi?" tanya Aisyah."Ada, di mobil. Kakiku lecet, terus dipinjemin sendal sama Bian."Aisyah dan Harun tersenyum. Memang hanya sandal, tapi jarang-jarang cowok mau melakukan hal seperti itu. Dan itu membuat kekaguman sekaligus menambah sedikit penilaian untuk Bian. "Maaf ya, Om. Tante, tadi saya ngajak Aqilah mampir beli bakso, jadi pulangnya kemalaman. Oh iya, ini." Bian menyodorkan kantong keresek berisi 3 bungkus bakso.Meski belum melihat isinya, aromanya sudah membuat Aisyah tahu jika itu bakso."Repot-repot aja kamu." Di
Terakhir Diperbarui: 2026-01-07
Chapter: season 2
Mereka berjalan beriringan menuju warung. Namun Aqilah tak bisa jalan cepat karena kakinya sakit."Kenapa, kesleo lagi?" Bian menyadari jika Aqilah seperti mengalami kesulitan jalan.Cewek itu menggeleng. "Kakiku sakit. Kayaknya lecet."Bian melihat kebawah lalu membuang nafas kasar. Heran sama makhluk bernama wanita. Sudah tahu sepatu gak nyaman, masih aja maksa pakai. Demi apa coba?"Mau ngapain kamu?" Aqilah reflek menarik mundur kakinya saat Bian berjongkok di depannya dan menyentuh kakinya."Udah diem dulu." Bian melepas pengait sepatu Aqilah, lalu menarik hingga sepatu tersebut terlepas."Ya Allah, Aqilah. Sampai lecet gini tumit kamu." Dia sampai geleng-geleng saat memperhatikan kaki Aqilah."Udah, pakai sandal aku aja." Dia melepas sandal gunungnya, meletakkan di dekat kaki Aqilah."Terus kamu pakai apa?""Udah nurut aja."Aqilah memindahkan kakinya ke sandal Bian. Sementara Bian, mengambil sepatu Aqilah lalu menentangnya."Busyet, ini sepatu tinggi amat," Bian memperhatikan u
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Chapter: season 2
Sampai malam, Aqilah terjebak di rumah Bian gara-gara hujan yang tidak kunjung reda. Sebenarnya tidak masalah baginya menerobos hujan, toh dirinya membawa mobil. Namun Bu Diah, ibunya Bian menyuruhnya menunggu dulu hingga hujan reda."Kayaknya bakal sampai tengah malam ini nanti hujannya. Aqilah pulang aja ya." Aqilah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 lebih."Ya sudah kalau gitu biar diantar Bian," ujar Bu Diah yang baru muncul dari dalam. Dia tidak sengaja mendengar ucapan Aqilah barusan."Gak usah, Bu. Aqilah pulang sendiri aja. Gak mau ngerepotin Bian," tolak Aqilah."Ya gak ngerepotin. Bian yang ngajak kamu kesini, udah jadi tanggung jawab dia juga buat nganterin kamu sampai di rumah."Aqilah tersenyum simpul, tidak enak juga harus berdebat dengan orang tua meski debat adalah keahliannya. Apalagi Bu Diah baik sekali padanya. Wanita itu ramah dan hangat, sama sekali tidak seperti bayangan ibu mertua yang seliweran di otaknya."Ini ibu bungkusin sambal pecel." Bu Diah menyo
Terakhir Diperbarui: 2026-01-04
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status