LOGINAleya memutuskan menikah dengan Harun, laki-laki yang pernah menjadi kekasih sekaligus mantan terindahnya sewaktu kuliah. Pertemuan mereka setelah tujuh tahun berpisah terasa seperti takdir yang sengaja mempertemukan kembali dua hati yang belum selesai. Awalnya, Aleya mengira semua bermula dari kebetulan setelah ia bertemu Mama Rieta, ibu Harun, yang masih tampak sangat mendukung hubungan mereka. Sikapnya begitu hangat, begitu meyakinkan, sehingga Aleya percaya bahwa ini benar-benar restu dan merasa menjadi salah satu wanita beruntung. Namun ternyata, dibalik dukungan itu memiliki tujuan lain. Mama Rieta menginginkan keturunan laki-laki, sesuatu yang belum ia dapatkan dari menantu pertama. Semua rahasia mulai terungkap ketika Aleya hamil. Di saat ia seharusnya bahagia, kenyataan pahit justru menghantamnya bertubi-tubi. Harun sudah menikah lebih dulu. Ia memiliki seorang putri. Dan lebih buruk lagi, pernikahannya dengan wanita itu belum berakhir. Terjebak pada situasi itu, memaksa Aleya harus menghadapi fakta bahwa dirinya bukan istri utama, melainkan istri kedua yang tidak punya posisi.
View MoreKeriwehan terjadi di bengkel Bian sejak pagi. Hari ini, grand opening Bengkel Mobil Arjuna. Mungkin untuk sebagian orang, nama itu kurang keren, tapi tidak bagi Bian. Itu adalah nama yang dipilih ayahnya dengan menggunakan namanya. Dan dia yakin, ayahnya tidak tiba-tiba saja menggunakan nama itu.Bu Diah dan Ayu, jadi orang paling sibuk, bahkan mereka sudah bangun jam 2 dini untuk membuat tumpeng. Mama Aisyah memesan banyak sekali kue, sedang Tante Aleya mempersiapkan jamuan makanannya. Mereka bertiga memang sengaja berbagi tugas untuk acara ini.Selain keluarga, syukuran tersebut mengundang beberapa orang terdekat dan tetangga sekitaran bengkel baru.Ada banyak sekali papan bunga ucapan selamat di depan bengkel. Mulai dari Sasena Grup, Papa Harun sekeluarga, toko burung Om Darren, JM Corp milik Pak Bagas, sampai dari Dave dan Keyla yang berada di NTT. Adik iparnya itu tak ingin ketinggalan ambil bagian di hari bahagia sang kakak meski mereka tak bisa hadir."Cantik sekali, kayak yang
Bian berdiri di depan bengkel barunya dengan perasaan campur aduk. Senang, terharu, tak percaya, semua rasa itu bercampur menjadi satu. Ya, rasanya masih tak percaya kalau akhirnya dia bisa memiliki bengkel sendiri, meskipun modal terbanyaknya dari Aqilah.Bengkel di hadapannya itu tampak sangat berkelas. Selain besar dan mewah, alat-alatnya juga lengkap, begitupun dengan sparepart yang dijual.Mungkin inilah yang dinamakan musibah membawa berkah. Ganti rugi dari Pak Bagas, membuat bengkelnya bisa melebihi ekspektasi.Di dalam bengkel, ada Putra, Reza dan tentunya Jimmy yang sejak kemarin sibuk untuk mempersiapkan pembukaan besok. Dan hari ini, semua sudah terlihat begitu rapi setelah kemarin dan tadi pagi mereka sibuk menata sedemikian rupa."Gila Bos, ini sih bukan keren lagi, tapi keren banget," ujar Putra saat Bian masuk. "Bengkel sebesar ini, kayaknya butuh pegawai tambahan deh.""Tuh," Bian menunjuk dagu ke arah Jimmy yang sedang bermalas-malasan di sebuah kursi panjang."Heh, g
Ayu memperhatikan setiap sudut rumah. Mungkin sedikit kurang sopan, tapi semua itu karena dia sangat kagum dengan rumah ini, sangat mewah.“Biasa aja kali lihatnya.”Ayu seketika menunduk. Padahal Rangga ada di depannya, bagaimana pria itu bisa tahu kalau dia sedang memperhatikan rumahnya.“Katanya tadi setia, gak bisa ditikung dengan wajah ganteng dan materi. Eh.... ”“Eh... Apa?” potong Ayu.“Lihat rumah bagus kepincut.”Ayu terkekeh pelan, membuat Rangga yang berjalan di depannya berhenti dan langsung menoleh.“Cakep banget rumahnya. Besar, mewah, tapi..... ”“Tapi apa?”“Tapi kayaknya Om Harun gak ada niat mau nikung aku deh.”Rangga mengerutkan dahi. Kok jadi papanya? Hubungannya apa?“Gak usah bangga dengan milik orang tua.” Ayu bersedekap sambil tersenyum mengejek.Sialan! Rangga mengumpat dalam hati.Sepertinya dia salah target. Ayu mahasiswi kedokteran, yang bisa dipastikan otaknya encer.“Ayu.”Ayu melihat kearah sumber suara mendengar suara Aqilah memanggilnya.“Bye,” Ayu b
Rangga langsung meluncur ke rumah sakit yang disebutkan H. Imam. Sesampainya disana, dia mendapati Bian yang sedang diobati oleh seorang dokter. Wajahnya babak belur. Dan mungkin, bagian tubuh lainnya juga."Astaga, Bang!" Rangga mendekati Bian. "Siapa yang ngelakuin ini?""Aku gak tahu," sahutnya sambil meringis menahan perih diwajah saat dokter memberi obat.Rangga sebenarnya masih ingin banyak bertanya, tapi dia malah dimarahi dokter, disuruh menunggu di luar. Dengan berat hati, dia akhirnya keluar. Di luar, dia bertemu dengan H. Imam. Pria itu langsung menyodorkan ponsel Bian padanya."Aqillah beberapa kali telepon, Bapak gak berani angkat. Tadi kata Bian, jangan dulu dikasih tahu, takut dia panik."Rangga meraih ponsel yang disodorkan H. Imam. Dia paham kenapa Bian tak mau memberitahu Aqillah terlebih dahulu, dia tak mau membuat wanita yang sedang hamil itu khawatir. Ponsel Bian kembali berdering. Takut kakaknya kepikiran, Rangga mengangkat panggilan tersebut."Hallo, Kak.""Ini.
Yang akan dinikahkan pertama kali, adalah Aqilah dan Bian. Melihat mahar yang akan diberikan Bian pada Aqilah, penghulu sedikit memberi masukan. Tentang mahar yang lebih baik adalah sesuatu yang memiliki nilai.Hafalan surat memang bisa dijadikan mahar, namun itu tidak disarankan. Karena sudah ada
Kedua mempelai laki-laki, sudah berada di tempatnya, begitu pula dengan petugas KUA. Yang akan menjadi saksi, adalah Darren dan salah satu pemuka agama di daerah tempat tinggal Aisyah. Selain kursi wali yang masih kosong, Darren juga belum menduduki tempatnya. Pria itu masih dibuat kelimpungan deng
Malam hari, Bu Diah mendatangi kamar Ayu. Menyerahkan satu set perhiasan pada gadis itu."Perhiasan siapa ini, Bu?" Ayu memperhatikan perhiasan pemberian ibunya."Sore tadi, perhiasan lama ibu, ibu tukar dengan yang model baru. Besok, belikan kotak yang cantik, untuk seserahan.""Terus kalau ini bu
Ayu, gadis itu sampai di rumah dengan wajah ditekuk. Langkah kakinya tidak lagi bersemangat seperti saat berangkat tadi. Usai meletakkan barang belanjaannya di atas meja makan, Ayu menarik kursi, lalu duduk dengan wajah muram. Dia baru saja pulang dari toko depan pasar yang menjual aneka perlengka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.