LOGINAleya memutuskan menikah dengan Harun, laki-laki yang pernah menjadi kekasih sekaligus mantan terindahnya sewaktu kuliah. Pertemuan mereka setelah tujuh tahun berpisah terasa seperti takdir yang sengaja mempertemukan kembali dua hati yang belum selesai. Awalnya, Aleya mengira semua bermula dari kebetulan setelah ia bertemu Mama Rieta, ibu Harun, yang masih tampak sangat mendukung hubungan mereka. Sikapnya begitu hangat, begitu meyakinkan, sehingga Aleya percaya bahwa ini benar-benar restu dan merasa menjadi salah satu wanita beruntung. Namun ternyata, dibalik dukungan itu memiliki tujuan lain. Mama Rieta menginginkan keturunan laki-laki, sesuatu yang belum ia dapatkan dari menantu pertama. Semua rahasia mulai terungkap ketika Aleya hamil. Di saat ia seharusnya bahagia, kenyataan pahit justru menghantamnya bertubi-tubi. Harun sudah menikah lebih dulu. Ia memiliki seorang putri. Dan lebih buruk lagi, pernikahannya dengan wanita itu belum berakhir. Terjebak pada situasi itu, memaksa Aleya harus menghadapi fakta bahwa dirinya bukan istri utama, melainkan istri kedua yang tidak punya posisi.
View MoreMobil yang dikendarai Bian sampai di basement apartemen. Melihat Aqilah yang tertidur nyenyak meski dalam posisi duduk, membuat dia kasihan hendak membangunkan. Sepertinya, wanita itu sangat lelah. Dia fikir, bos kerjanya santai, hanya pakai jari, tanda tangan dan sibuk nunjuk orang buat ngerjain ini dan itu. Tapi sepertinya, dia salah sangka. Buktinya, Aqilah terlihat sangat lelah, tiap hari lembur, pulang malam, bahkan lebih malam dari bawahannya.Bian melepas seatbelt Aqilah. Dia meneguk ludah melihat bibir pink menggoda yang sedikit terbuka. Bibir itu, seperti minta di kulum. Sebagai pria normal, jelas dia punya yang namanya nafsu. Mumpung Aqilah tidur, sepertinya tak masalah kalau mencicipi sedikit manisnya madu bibir tersebut. Lagian sudah halal, sudah jadi hak dia. Namun saat bibir mereka hanya tinggal berjarak beberapa centi, Bian mengurungkan niatnya, kembali menegakkan badan.Astaga Bian! Tidak, ini namanya mencuri, memaksa. Kamu sudah pernah janji untuk tidak menyentuh Aqil
Bian mondar-mandir sambil melihat jam yang ada di dinding atas TV. Sudah pukul 8 lebih, tapi Aqilah belum pulang juga. Wajar sebagai suami, dia merasa cemas. Selama ini meski lembur, paling cuma sampai jam 7, tak pernah selarut ini. Apalagi saat ini, hujannya sangat deras, dia khawatir terjadi sesuatu pada Aqilah di jalan.Sudah dua kali dia mencoba menghubungi, tapi tak dijawab. Pesannya juga tidak di balas. Untungnya dulu dia pernah di beri nomor telepon Sita, jadi Bian berinisiatif menelepon wanita tersebut."Saya sudah sampai rumah satu jam yang lalu, Pak. Tadi sih Bu Aqilah masih di kantor saat saya pulang," ujar Sita via telepon.Setelah mengucapkan terimakasih, Bian langsung menuju kantor tempat Aqilah bekerja menggunakan taksi online. Mobilnyamemang sengaja dia taruh di rumah ibunya karena kemana-mana, dia lebih suka naik motor.Di kantor, Aqilah yang baru menyelesaikan pekerjaan, segera berkemas lalu turun ke bawah. Karena terlalu fokus, dia sampai lupa waktu, tak sadar jika
Aqilah tak langsung menjawab. Untuk beberapa saat, matanya dengan Bian saling bersitatap. Jantungnya berdebar kencang, apalagi saat pria di hadapannya itu tersenyum, jantungnya terasa mau meledak. Enggak, dia gak sedang jatuh cintakan? Mana mungkin dia jatuh cinta secepat ini, dengan pria yang baru dia kenal kurang dari sebulan. 28 tahun saja, dia tak pernah jatuh cinta, mana mungkin sekarang tiba-tiba jatuh cinta."Mbak!" suara cempreng Karin mengagetkan Aqilah. Dia mengalihkan tatapan dari Bian, gugup. "Mbak, kamu siapanya Bang Bian?" gadis itu tampak kesal karena lelah menunggu jawaban."A-aku......istrinya."Oh my God, Karin rasanya mau pingsan. Tadi saat mau berangkat ke tempat Bian, ibunya sempat melarang. Bilang jika Bian udah nikah, jangan ngejar lagi. Dia fikir ibunya bohong, hanya mengarang cerita agar dia putus asa pada Bian. Tapi ternyata....Bian tersenyum, puas dengan jawaban Aqilah. Dia melepaskan pinggang wanita itu karena wajahnya sudah bersih dan hatinya sudah puas d
Bian hendak masuk menyusul Aqilah, tapi suara cempreng yang memanggilnya, membuat langkahnya berhenti lalu menoleh."Bang Bian, aku bawain makan siang buat kamu." Bukan, bukan Ayu, tapi Karin, anak pemilik warteg yang tak jauh dari bengkel. Dengan senyuman khasnya, berjalan lenggak lenggok mendekati Bian, dengan sekatong keresek berisi makanan.Heis, kenapa juga cewek centil itu datang, ujar Bian dalam hati."Aku bawain ayam bakar kesukaan Abang. Gak lupa pakai sambal terasi sama lalapan," ujarnya penuh semangat dengan senyum lebar. Tak lupa mengangkat kantong keresek berisi makanan yang aroma sedapnya sudah bisa tercium."Buat kita ada juga gak?" tanya Putra."Ada," sahut Karin cepat. "Sana ke warung ibu, masih banyak makanan. Tapi jangan lupa, bawa uang.""Ish, beli dong jatuhnya," sahut Putra."Ya iyalah. Namanya juga ke warung, ya beli," sahutnya nyolot."Bos aja di kasih gratis.""Iri?" tanya Karin."Ya iyalah.""Ya udah, besok aku kasih gratis, tapi ada syaratnya. Permak dulu wa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.