
Topeng Sempurna Istri Pamong
Di balik wibawanya sebagai istri Pamong Desa Sukamaju, Nyonya Rina menyimpan rahasia kotor: ia gemar menjadikan suami orang sebagai 'koleksi' ranjangnya.
Dunia Santi runtuh seketika saat memergoki suaminya yang lugu, tak lebih dari sekadar pemuas nafsu sang istri pejabat. Alih-alih menangis dan meratapi nasib, Santi memilih bangkit. Ia diam-diam menyelidiki, mengumpulkan bukti, dan menemukan fakta mengejutkan bahwa suaminya bukanlah satu-satunya korban. Rina adalah predator yang telah merusak banyak rumah tangga warga kecil di desa itu.
Santi pun merangkul para istri yang tersakiti dan saksi mata yang selama ini dibungkam. Target mereka satu: menguliti kebusukan Rina tepat di tengah Rapat Kader PKK desa.
Namun, rencana balas dendam ini berubah menjadi pertaruhan harga diri dan keselamatan ketika sebuah rahasia gila terkuak. Pak Pamong, sang penguasa desa, ternyata mengetahui semua perselingkuhan istrinya dan sengaja menggunakan jabatannya untuk menutupi skandal tersebut.
Mampukah Santi dan aliansi para istri ini melawan kekuasaan mutlak sang pejabat? Atau justru keluarga mereka yang akan hancur menjadi tumbal selanjutnya?
Read
Chapter: Bab 10: Ratu yang Salah TempatHari yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Sejak jam delapan pagi, Balai Desa Sukamaju sudah ramai oleh ibu-ibu berseragam biru khas kader PKK. Suara obrolan dan tawa terdengar bersahutan. Mereka sibuk menata kursi plastik, menyiapkan daftar hadir, dan menata kotak makanan ringan di atas meja panjang. Aku datang lebih awal bersama Bu Tini dan Bu Yati. Kami bertiga sengaja memilih tempat duduk di barisan tengah, agak ke pinggir. Posisinya sangat pas karena kami bisa melihat ke arah pintu masuk dan meja pimpinan di depan dengan jelas. Suasana hati kami bertiga sangat tegang. Bu Tini terus meremas ujung kerudungnya karena gugup. Sementara Bu Yati, wajahnya terlihat keras dan rahangnya kaku. Sesekali napas Bu Yati terdengar berat. Dia sedang berusaha keras menahan amarahnya. "Neng Santi, rasanya tanganku gatal sekali," bisik Bu Yati di telingaku. Matanya terus menatap tajam ke arah pintu masuk balai desa. "Kalau perempuan gatal itu datang, aku nggak janji bisa diam terus. Bawaannya
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Bab 9: Rahasia di Ruang Tamu Bu KadesKeesokan paginya, udara Desa Sukamaju masih terasa cukup dingin. Setelah Bimo berangkat ke bengkel, aku langsung bersiap. Aku memakai baju yang rapi dan kerudung sederhana. Tujuanku hari ini sangat jelas: rumah Kepala Desa. Rumah Pak Kades terletak di tengah desa, halamannya sangat luas dan selalu bersih. Aku sengaja memilih jalan memutar melewati pinggir sawah agar tidak banyak warga yang melihatku. Aku tidak mau ada orang suruhan Pak Pamong yang curiga melihatku datang ke rumah orang nomor satu di desa ini. Sesampainya di depan pagar besi rumah Bu Kades, jantungku berdebar agak kencang. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Aku menekan bel pintu pelan. Tidak lama kemudian, pintu utama terbuka. Bu Kades sendiri yang keluar. Beliau adalah wanita paruh baya yang selalu tampil sederhana tapi sangat berwibawa. Wajahnya tegas namun keibuan. "Eh, Santi. Tumben pagi-pagi ke sini. Ada perlu apa, Neng?" sapa Bu Kades dengan ramah. Ia membukakan pintu pagar untukku. "Maaf
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Bab 8: Mencari Tameng PelindungRuang tamu Bu Yati mendadak terasa sangat dingin, padahal cuaca di luar sedang panas terik. Kabar bahwa Pak Pamong mengetahui perselingkuhan istrinya dan bahkan membayar Kang Bagong untuk tutup mulut, benar-benar membuat nyaliku menciut. Bu Tini yang duduk di sebelahku mulai menangis lagi. Tubuhnya gemetar hebat. "Neng Santi, kita batalkan saja rencananya," ucap Bu Tini dengan suara bergetar. "Pak Pamong itu orang gila. Kalau dia berani bayar selingkuhan istrinya, berarti dia bisa melakukan hal yang lebih jahat ke kita. Sertifikat tanah saya pasti ditahan selamanya." Bu Yati yang tadi menggebu-gebu juga ikut terdiam. Wajah garangnya berubah menjadi ketakutan. Menghadapi istri pejabat yang gatal adalah satu hal, tapi berhadapan langsung dengan pejabat desa yang punya uang dan kekuasaan adalah hal yang sangat berbeda. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kepalaku terasa pusing, tapi aku sadar aku tidak boleh ikut panik. Kalau aku mundur sekarang, suamiku akan
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Bab 7: Sandal Jepit Hijau Pembawa LukaSiang itu, matahari bersinar sangat terik di atas Desa Sukamaju. Sesuai rencana, aku dan Bu Tini berjalan menuju rumah Bu Yati. Di tangan Bu Tini, ada sebuah kantong plastik hitam yang dipegangnya erat-erat. Kantong itu berisi bukti paling penting hari ini: sandal jepit karet warna hijau milik Kang Bagong yang tertinggal di kebun pisang semalam. Jantungku berdebar agak cepat. Menghadapi Bu Yati butuh kesabaran ekstra. Wanita berbadan subur itu terkenal punya suara paling keras di desa kami. Kalau dia mengamuk, urusannya bisa panjang. Kami sampai di depan rumah Bu Yati. Bau harum bumbu semur daging langsung tercium dari arah dapur. Bu Yati rupanya sedang asyik memasak daging mahal hasil dari uang "kerja lembur" suaminya. "Bu Yati! Ada orang di rumah?" panggil Bu Tini dari depan pintu yang terbuka setengah. "Eh, Bu Tini, Neng Santi! Masuk, masuk! Kebetulan saya lagi masak semur daging. Nanti cicipi ya," sahut Bu Yati dari dapur. Ia keluar sambil mengelap tangannya dengan serbet.
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 6: Kesepakatan Dua KorbanPagi harinya, aku bangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Semalam aku tidur sangat nyenyak setelah mendapatkan rekaman suara Bu Rina di kebun pisang. Rekaman itu adalah senjata pertamaku. Seperti biasa, aku menyiapkan sarapan untuk Bimo. Suamiku itu makan dengan lahap, sama sekali tidak merasa bersalah. Setelah ia pamit pergi ke bengkel dengan motor bebeknya, aku langsung bersiap. Tujuanku hari ini hanya satu: menemui Bu Tini. Aku berjalan kaki menyusuri jalan desa menuju rumah Bu Tini yang terletak di sebelah kebun pisang semalam. Udara pagi terasa sejuk, tapi pikiranku sedang menyusun rencana panas. Sesampainya di depan rumah Bu Tini, aku melihat ibu paruh baya itu sedang menyapu halaman kotornya dengan sapu lidi. Wajah Bu Tini terlihat sangat pucat. Kantung matanya hitam dan tebal, menandakan dia tidak tidur semalaman. Gerakan menyapunya juga pelan dan tidak bertenaga. Pikirannya pasti masih dihantui ancaman Bu Rina semalam. "Pagi, Bu Tini," sapaku ramah sambil m
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Bab 5: Saksi Mata di Balik GelapTiga hari berlalu sejak aku mendengar gosip di pasar pagi itu. Selama tiga hari itu pula, aku membagi waktuku untuk mengurus rumah, pura-pura melayani Bimo dengan senyum palsu, dan diam-diam memantau rumah Kang Bagong yang hanya berjarak dua gang dari rumahku.Malam ini, Bimo pulang ke rumah dalam keadaan sangat lelah. Ia langsung tertidur pulas setelah makan malam, bahkan sampai mendengkur keras. Kesempatan ini tidak boleh kusia-siakan.Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Suasana Desa Sukamaju sudah sangat sepi. Sebagian besar warga sudah masuk ke dalam rumah. Hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing dari kejauhan. Lampu jalan di desaku juga banyak yang mati, membuat jalanan desa menjadi gelap dan sepi.Aku kembali memakai jaket gelapku, memakai masker kain, dan keluar rumah lewat pintu belakang secara perlahan. Malam ini aku tidak membawa motor matikku. Suara mesinnya terlalu berisik di malam yang sunyi ini. Aku memilih berjalan kaki.Aku berjalan mengen
Last Updated: 2026-03-15