
Topeng Sempurna Istri Pamong
Di balik wibawanya sebagai istri Pamong Desa Sukamaju, Nyonya Rina menyimpan rahasia kotor: ia gemar menjadikan suami orang sebagai 'koleksi' ranjangnya.
Dunia Santi runtuh seketika saat memergoki suaminya yang lugu, tak lebih dari sekadar pemuas nafsu sang istri pejabat. Alih-alih menangis dan meratapi nasib, Santi memilih bangkit. Ia diam-diam menyelidiki, mengumpulkan bukti, dan menemukan fakta mengejutkan bahwa suaminya bukanlah satu-satunya korban. Rina adalah predator yang telah merusak banyak rumah tangga warga kecil di desa itu.
Santi pun merangkul para istri yang tersakiti dan saksi mata yang selama ini dibungkam. Target mereka satu: menguliti kebusukan Rina tepat di tengah Rapat Kader PKK desa.
Namun, rencana balas dendam ini berubah menjadi pertaruhan harga diri dan keselamatan ketika sebuah rahasia gila terkuak. Pak Pamong, sang penguasa desa, ternyata mengetahui semua perselingkuhan istrinya dan sengaja menggunakan jabatannya untuk menutupi skandal tersebut.
Mampukah Santi dan aliansi para istri ini melawan kekuasaan mutlak sang pejabat? Atau justru keluarga mereka yang akan hancur menjadi tumbal selanjutnya?
Baca
Chapter: Bab 69: Kehancuran Menteri HaryoKamis pagi, tepat pada pukul sepuluh, aku sudah duduk di dalam sebuah ruang tamu pribadi atau *VIP room* di sebuah restoran mewah di pusat kota Jakarta. Ruangan ini tertutup rapat dan memiliki penjagaan ketat di luar pintu masuk. Tidak ada orang luar yang bisa mendengar percakapan di dalam ruangan ini. Aku memakai gaun berlengan panjang berwarna hitam pekat, tanpa perhiasan apa pun. Riasan wajahku sengaja kubuat sedikit pucat. Aku ingin terlihat sebagai wanita yang sedang bersedih dan membawa kabar buruk. Pintu ruangan terbuka. Nyonya Ratna berjalan masuk. Istri Menteri Perdagangan itu memakai gaun berwarna kuning cerah dan membawa tas bermerek mahal. Wajahnya terlihat sangat gembira. Dia langsung duduk di kursi tepat di depanku. "Selamat pagi, Santi," sapa Nyonya Ratna dengan suara yang keras dan penuh rasa bangga. "Aku sangat senang kamu mengundangku minum teh hari ini. Uang sumbangan satu miliar rupiah darimu kemarin sudah masuk ke dalam rekening yayasan amalku. Kamu benar-benar
Terakhir Diperbarui: 2026-05-24
Chapter: Bab 68: Rekaman di Kamar HotelRabu siang, pukul satu, aku tiba di sebuah hotel mewah berbintang lima di pusat kota Jakarta. Hari ini, Nyonya Ratna, istri dari Menteri Perdagangan Haryo, mengadakan acara perkumpulan dan makan siang bersama puluhan istri pejabat dan pengusaha wanita. Aku memakai gaun panjang berwarna putih polos dan perhiasan berlian berukuran kecil. Aku sengaja memilih gaya pakaian yang elegan namun tidak terlihat mencolok. Aku ingin Nyonya Ratna melihatku sebagai wanita yang sopan dan tidak berniat menyaingi kekuasaannya. Aku berjalan masuk ke dalam ruang aula hotel yang disewa khusus untuk acara tersebut. Banyak meja bundar yang sudah diisi oleh para wanita kaya. Aku melihat Nyonya Ratna sedang duduk di meja paling depan. Nyonya Ratna memakai gaun berwarna merah terang dan perhiasan emas berukuran besar di lehernya. Dia sedang berbicara dengan nada suara yang keras dan tertawa bangga. Aku meminta pelayan hotel untuk mengantarku ke meja Nyonya Ratna. Saat aku sampai di depan mejanya, aku memberi
Terakhir Diperbarui: 2026-05-19
Chapter: Bab 67: Target Baru di Ibu KotaSinar matahari pagi menyinari halaman rumah Bapak Sudirman, Kepala Desa Sukamaju. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku duduk di kursi kayu ruang makan, menikmati sarapan pagi berupa nasi goreng dan telur dadar yang dimasak oleh istri kepala desa. Aku memakai gaun panjang berwarna biru muda yang sangat sopan. Rambutku diikat rapi ke belakang. Di sebelah kiriku, Gala duduk dengan tenang. Suamiku memakai kaus lengan pendek berwarna abu-abu gelap yang memperlihatkan otot lengannya yang besar. Bapak Sudirman duduk di seberang meja kami. Dia terus menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepadaku. "Kami sangat berterima kasih atas bantuan uang sepuluh miliar rupiah dari Anda, Nyonya Santi," ucap Bapak Sudirman dengan suara yang tulus. "Pekerja bangunan akan mulai memperbaiki atap masjid desa siang ini juga. Dokter dari kota juga sudah saya hubungi untuk mulai bekerja di klinik kesehatan gratis besok lari." Aku meletakkan sendok makanku di atas piring. Aku memberikan senyum lembut ya
Terakhir Diperbarui: 2026-05-19
Chapter: Bab 66: Uang dan Ancaman di Hutan JatiKeesokan harinya, tepat pada pukul sembilan pagi, lima buah mobil mewah berwarna hitam masuk secara beriringan melintasi jalan tanah utama Desa Sukamaju. Mobil yang aku tumpangi bersama Gala berada di urutan kedua. Toni bertugas mengemudikan mobil kami di bagian depan. Tiga mobil van berukuran besar melaju di belakang mobil kami. Mobil-mobil van tersebut membawa uang tunai, ratusan paket bahan makanan pokok, serta beberapa anggota keamanan pribadi kami yang memakai pakaian biasa. Perjalanan dari Jakarta menuju Desa Sukamaju memakan waktu beberapa jam melalui jalan tol antarkota. Saat mobil kami memasuki batas desa, aku melihat banyak perubahan. Jalanan desa masih terbuat dari tanah yang dikeraskan, dan rumah-rumah warga sebagian besar masih terbuat dari papan kayu dan anyaman bambu. Kondisi ekonomi desa ini tidak banyak berubah sejak aku pergi meninggalkan tempat ini beberapa tahun yang lalu. Ratusan warga desa sudah berkumpul dan berdiri di halaman balai desa. Kepala Desa Sukamaju
Terakhir Diperbarui: 2026-05-12
Chapter: Bab 65: Ancaman di SukamajuSinar matahari pagi masuk menembus kaca jendela besar di kamar tidur utama rumah mewah kami di Jakarta. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Malam sebelumnya, aku dan suamiku, Gala, berhasil memanipulasi Jenderal Baskoro di acara pesta amal. Kami berhasil membuat jenderal polisi bintang tiga itu percaya bahwa kami adalah warga negara yang bersih dari kejahatan. Aku duduk di kursi meja makan di lantai bawah. Aku memakai pakaian santai berupa kemeja katun berwarna putih dan celana pendek selutut. Gala duduk di seberang meja. Dia tidak memakai baju atasan. Otot di dada dan lengannya terlihat jelas. Dia sedang meminum kopi hitam dari sebuah cangkir putih. Suasana pagi ini terasa sangat tenang, tetapi di dalam dunia kejahatan tingkat tinggi yang kami jalani, ketenangan biasanya adalah tanda bahaya yang sedang mendekat. Pintu ruang makan terbuka. Toni, kepala keamanan dan teknologi perusahaanku, berjalan masuk dengan langkah yang cepat. Wajah Toni terlihat sangat serius. Dia membawa sebu
Terakhir Diperbarui: 2026-05-09
Chapter: Bab 64: Panggung Sandiwara JakartaSatu bulan telah berlalu sejak pembantaian di rumah Viktor di negara Swiss. Aku dan suamiku, Gala, telah kembali ke kota Jakarta dengan selamat. Tidak ada satu pun polisi internasional yang mencari atau mengejar kami. Toni, kepala keamanan kami, telah mengatur penerbangan pulang dengan sangat rapi dan tertutup, sehingga nama kami tidak tercatat dalam daftar penumpang maskapai penerbangan mana pun. Tidak ada rekam jejak digital yang menghubungkan kami dengan kejadian malam berdarah itu. Uang tunai sebesar empat triliun rupiah yang kami curi dari rekening Viktor sudah berhasil kami pindahkan secara total. Uang tersebut masuk ke dalam sistem keuangan perusahaanku, PT. Santi Abadi Sejahtera. Aku mencuci uang kotor itu dengan cara menggunakan uang tersebut untuk membeli dua buah pelabuhan swasta berukuran sedang di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Selain itu, aku juga membeli sepuluh kapal kargo pengangkut barang baru yang berukuran raksasa. Semua dokumen pembelian, surat hak milik, dan
Terakhir Diperbarui: 2026-05-07