LOGINDi balik wibawanya sebagai istri Pamong Desa Sukamaju, Nyonya Rina menyimpan rahasia kotor: ia gemar menjadikan suami orang sebagai 'koleksi' ranjangnya. Dunia Santi runtuh seketika saat memergoki suaminya yang lugu, tak lebih dari sekadar pemuas nafsu sang istri pejabat. Alih-alih menangis dan meratapi nasib, Santi memilih bangkit. Ia diam-diam menyelidiki, mengumpulkan bukti, dan menemukan fakta mengejutkan bahwa suaminya bukanlah satu-satunya korban. Rina adalah predator yang telah merusak banyak rumah tangga warga kecil di desa itu. Santi pun merangkul para istri yang tersakiti dan saksi mata yang selama ini dibungkam. Target mereka satu: menguliti kebusukan Rina tepat di tengah Rapat Kader PKK desa. Namun, rencana balas dendam ini berubah menjadi pertaruhan harga diri dan keselamatan ketika sebuah rahasia gila terkuak. Pak Pamong, sang penguasa desa, ternyata mengetahui semua perselingkuhan istrinya dan sengaja menggunakan jabatannya untuk menutupi skandal tersebut. Mampukah Santi dan aliansi para istri ini melawan kekuasaan mutlak sang pejabat? Atau justru keluarga mereka yang akan hancur menjadi tumbal selanjutnya?
View MoreMalam merangkak semakin larut, menyelimuti Desa Sukamaju dalam keheningan yang pekat. Jarum jam dinding tua di ruang tengah rumah kontrakan kami yang sederhana sudah menunjuk ke angka dua belas lewat seperempat. Di luar, rintik hujan mulai turun, menciptakan suara gemericik berirama saat membentur atap seng rumah kami yang di beberapa bagian sudah mulai berkarat.
Udara malam yang dingin menyusup lewat celah jendela kayu yang tidak tertutup rapat. Namun, rasa dingin itu tak sebanding dengan kegelisahan yang tiba-tiba merayapi hatiku malam ini. Mataku tak bisa terpejam barang sedetik pun. Entah mengapa, ada perasaan tidak enak yang mengganjal di dada, seolah instingku sebagai seorang istri sedang memberikan peringatan bahaya. Di sebelahku, Bimo suamiku yang selama lima tahun pernikahan ini kukenal pendiam, pekerja keras, dan setia tertidur pulas. Dengkur halusnya terdengar teratur. Wajahnya tampak begitu damai di bawah cahaya remang lampu tidur. Laki-laki ini adalah satu satunya alasanku bertahan hidup ditengah himpitan ekonomi yang serba paspasan. Bimo hanyalah seorang mekanik bengkel motor kecil di ujung desa, sementara aku mengurus rumah tangga dan sesekali menerima jahitan demi menyambung hidup. Aku memandangi punggung Bimo yang berbalut kaus oblong pudar. Dulu, punggung itu adalah tempat paling aman bagiku untuk bersandar. Tapi malam ini, entah kenapa, jarak di antara kami di atas ranjang yang sama terasa membentang sejauh ribuan kilometer. Tiba-tiba, keheningan kamar itu terpecahkan. Ponsel pintar milik Bimo yang tergeletak di atas nakas kayu di samping ranjang menyala terang. Sebuah getaran singkat menyusul,menandakan ada pesan masuk. Cahaya dari layar ponsel itu menembus kegelapan kamar, menyilaukan mataku sejenak. Awalnya, aku tidak peduli. Paling-paling itu hanya pesan dari grup ronda desa, atau mungkin dari teman sesama mekanik yang menanyakan sparepart motor. Bimo jarang sekali mendapat pesan selarut ini. Tapi entah setan apa yang merasuki pikiranku malam ini, tanganku bergerak sendiri. Seolah ada benang tak kasat mata yang menarikku, aku membuka selimut yang sudah lusuh, lalu perlahan ponsel tersebut. Aku menahan napas, takut gerakanku membangunkan Bimo yang masih terlelap. Jantungku mulai berdegup kencang tak karuan saat mataku menangkap tulisan di layar yang masih terkunci. Bukan nama teman bengkelnya, bukan pula nama kerabat kami. Melainkan sebuah nama kontak yang disamarkan dengan sangat mencurigakan: "Pelanggan VIP". Pelanggan? Alisku berkerut tajam. Sejak kapan suamiku melayani pelanggan di tengah malam buta begini? Bengkel tempat Bimo bekerja sudah tutup sejak jam lima sore tadi. Rasa penasaran kini berubah menjadi curiga yang membakar. Tanganku mulai gemetar dingin. Bimo tidak pernah mengunci ponselnya dengan kata sandi yang rumit, hanya pola huruf 'Z' yang sangat kuhafal. Dengan satu sapuan jari yang ragu-ragu, kunci layar itu terbuka. Aku langsung membuka aplikasi pesan hijau tersebut. Mataku membelalak lebar. Darahku seolah berhenti mengalir, lalu sedetik kemudian mendidih seketika, naik hingga ke ubun-ubun dan membuat kepalaku pening bukan main. Pesan itu terpampang jelas di depan mataku. "Mas Bimo, besok siang jam sepuluh ditempat biasa ya. Bapak lagi dinas ke kecamatan dari pagi untuk mengurus berkas sengketa tanah warga. Jangan lupa pakai parfum yang kubelikan minggu lalu. Aku kangen banget sama 'servis' kamu yang kuat. Jangan sampai telat ya,Sayang." Nafasku tercekat di tenggorokan. Udara di dalam kamar ini mendadak terasa lenyap. Kata 'servis' dan panggilan 'Sayang' di akhir kalimat itu menghantam dadaku layaknya godam besi bertonton. Mataku berkaca-kaca menatap layar. Kutelan ludah yang entah mengapa terasa seperti pecahan kaca. Tanganku yang gemetar mengklik foto profil si pengirim pesan, mencoba mencari tahu siapa pelacur murahan yang berani menggoda suamiku ini. Saat foto itu membesar memenuhi layar, dunia kuseakan runtuh saat itu juga. Di dalam foto tersebut, tampak seorang wanita cantik dengan riasan wajah yang sempurna. Ia mengenakan kebaya merah menyala yang pas di badan, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang terawat. Rambutnya disanggul modern, dihiasi jepit emas yang berkilauan. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat manis, senyum keibuan yang selama ini berhasil menipu seluruh warga desa. Wajah itu sangat kukenal. Bahkan, seluruh penduduk Desa Sukamaju sangat menghormatinya. Wajah wanita yang selalu duduk dibarisan paling depan setiap ada hajatan desa, pengajian, maupun rapat kader PKK. Wanita yang selalu membagikan sembako saat lebaran sambil menebar pesona sebagai istri pejabat yang dermawan. Itu Bu Rina. Istri Pak Ario, sang Pamong Desayang sangat berkuasa di Sukamaju. "Astaghfirullah..." bisikku lirih,nyaris tak bersuara. Ponsel di tanganku nyaris terjatuh. Lututku lemastak bertulang. Aku mundur selangkah hingga punggungku menabrak lemari pakaiandari plastik di sudut kamar. Kepingan-kepingan memori selama sebulan terakhir tiba-tiba berputar di kepalaku layaknya kaset rusak. Semuanya mendadak menjadi sangat masuk akal. Pantas saja! Pantas saja akhir-akhir ini Bimo sering pulang terlambat dengan alasan lembur di bengkel, padahal tidak ada uang lembur tambahan yang dia bawa pulang. Pantas saja suamiku yang biasanya bau oli dan peluh, belakangan ini selalu berbau harum menyengat dari parfum mahal yang ia klaim dibeli dari pasar malam dengan harga diskon. Bahkan minggu lalu, saat aku mengeluh beras dirumah hampir habis, Bimo tiba-tiba memberiku uang lima ratus ribu rupiah. Katanya itu uang tip dari pelanggan yang motornya ia perbaiki. Ternyata... uangitu adalah hasil keringatnya melayani nafsu kotor istri Pamong Desa! Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jebol. Pandanganku mengabur. Hatiku hancur lebur berkeping-keping. Suami yang selama ini kuanggap sebagai pelindungku, laki-laki yang kupercaya menuntun langkahku, ternyata tak lebih dari sekadar pemuas nafsu seorang wanita kaya yang haus belaian. Aku menatap Bimo yang masih mendengkur. Kemarahan yang teramat sangat menguasai relung jiwaku. Kuangkat tanganku tinggi-tinggi. Aku ingin sekali menampar wajahnya saat ini juga. Aku ingin berteriak di depan wajahnya, memakinya, dan menyeretnya keluar dari rumah ini. Aku ingin menangis sejadi-jadinya dan bertanya apa kurangnya pengabdianku selama lima tahun ini! Namun, saat tanganku nyaris mendarat di pipinya, gerakanku terhenti di udara. Akal sehatku yang tersisa menampar kesadaranku dengan keras. Tunggu, Santi. Berpikir jernihlah, batinku menjerit memperingatkan. Siapa lawanku saat ini? Bu Rina. Istri seorang Pamong Desa yang punya pengaruh besar. Pak Ario, suaminya, adalah orang yang memegang kendali atas banyak hal di desa ini. Mulai dari urusan administrasi, bantuan sosial, hingga perizinan usaha warga. Jika aku melabrak Bimo malam ini dengan modal menangis dan marah-marah, Bimo pasti akan mengelak. Dia bisa saja menghapus pesan itu dan menuduhku gila atau cemburu buta. Lebih buruk lagi, jika masalah ini sampai ke telinga Rina tanpa persiapan matang, wanita licik itu pasti akan memutarbalikkan fakta. Dia punya uang, dia punya kekuasaan. Dia bisa dengan mudah menghancurkan hidupku dan suamiku. Dia bisa membuat kami diusir dari desa ini dengan fitnah keji. Aku menarik napasku dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dada yang rasanya ingin meledak. Kuturunkan tanganku yang bergetar hebat. Kuusap air mata di pipiku dengan kasar. Tidak. Aku tidak boleh gegabah. Kemarahan sesaat hanya akan membawaku pada kehancuran yang lebih dalam. Dengan tangan masih sedikit gemetar, aku mengarahkan kamera ponsel milikku ke layar ponsel Bimo. Aku memotret isi pesan itu beserta foto profil Rina dengan jelas. Klik. Bukti pertama berhasil kudapatkan. Setelah itu, kukembalikan ponsel Bimo ke tempat asalnya di atas nakas, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku duduk di tepi ranjang, menatap nanar ke arah jendela yang basah oleh hujan. Rasa cinta dan hormatku pada laki-laki yang tidur di sampingku ini telah mati malam ini, terkubur bersama rintik hujan yang jatuh ke bumi. "Silakan nikmati waktu kalian besok, Mas," bisikku pelan ke arah Bimo, suaraku terdengar begitu dingin dan asing, bahkan di telingaku sendiri. "Karena aku bersumpah, senyum manis nyonya Pamong itu tidak akan bertahan lama." Malam ini, Santi yang lugu dan penurut telah mati. Mulai besok, aku akan memastikan bahwa setiap tetes air mata yang jatuh malam ini, akan dibayar mahal oleh mereka berdua. Permainan baru saja dimulai.Hari yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Sejak jam delapan pagi, Balai Desa Sukamaju sudah ramai oleh ibu-ibu berseragam biru khas kader PKK. Suara obrolan dan tawa terdengar bersahutan. Mereka sibuk menata kursi plastik, menyiapkan daftar hadir, dan menata kotak makanan ringan di atas meja panjang. Aku datang lebih awal bersama Bu Tini dan Bu Yati. Kami bertiga sengaja memilih tempat duduk di barisan tengah, agak ke pinggir. Posisinya sangat pas karena kami bisa melihat ke arah pintu masuk dan meja pimpinan di depan dengan jelas. Suasana hati kami bertiga sangat tegang. Bu Tini terus meremas ujung kerudungnya karena gugup. Sementara Bu Yati, wajahnya terlihat keras dan rahangnya kaku. Sesekali napas Bu Yati terdengar berat. Dia sedang berusaha keras menahan amarahnya. "Neng Santi, rasanya tanganku gatal sekali," bisik Bu Yati di telingaku. Matanya terus menatap tajam ke arah pintu masuk balai desa. "Kalau perempuan gatal itu datang, aku nggak janji bisa diam terus. Bawaannya
Keesokan paginya, udara Desa Sukamaju masih terasa cukup dingin. Setelah Bimo berangkat ke bengkel, aku langsung bersiap. Aku memakai baju yang rapi dan kerudung sederhana. Tujuanku hari ini sangat jelas: rumah Kepala Desa. Rumah Pak Kades terletak di tengah desa, halamannya sangat luas dan selalu bersih. Aku sengaja memilih jalan memutar melewati pinggir sawah agar tidak banyak warga yang melihatku. Aku tidak mau ada orang suruhan Pak Pamong yang curiga melihatku datang ke rumah orang nomor satu di desa ini. Sesampainya di depan pagar besi rumah Bu Kades, jantungku berdebar agak kencang. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Aku menekan bel pintu pelan. Tidak lama kemudian, pintu utama terbuka. Bu Kades sendiri yang keluar. Beliau adalah wanita paruh baya yang selalu tampil sederhana tapi sangat berwibawa. Wajahnya tegas namun keibuan. "Eh, Santi. Tumben pagi-pagi ke sini. Ada perlu apa, Neng?" sapa Bu Kades dengan ramah. Ia membukakan pintu pagar untukku. "Maaf
Ruang tamu Bu Yati mendadak terasa sangat dingin, padahal cuaca di luar sedang panas terik. Kabar bahwa Pak Pamong mengetahui perselingkuhan istrinya dan bahkan membayar Kang Bagong untuk tutup mulut, benar-benar membuat nyaliku menciut. Bu Tini yang duduk di sebelahku mulai menangis lagi. Tubuhnya gemetar hebat. "Neng Santi, kita batalkan saja rencananya," ucap Bu Tini dengan suara bergetar. "Pak Pamong itu orang gila. Kalau dia berani bayar selingkuhan istrinya, berarti dia bisa melakukan hal yang lebih jahat ke kita. Sertifikat tanah saya pasti ditahan selamanya." Bu Yati yang tadi menggebu-gebu juga ikut terdiam. Wajah garangnya berubah menjadi ketakutan. Menghadapi istri pejabat yang gatal adalah satu hal, tapi berhadapan langsung dengan pejabat desa yang punya uang dan kekuasaan adalah hal yang sangat berbeda. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kepalaku terasa pusing, tapi aku sadar aku tidak boleh ikut panik. Kalau aku mundur sekarang, suamiku akan
Siang itu, matahari bersinar sangat terik di atas Desa Sukamaju. Sesuai rencana, aku dan Bu Tini berjalan menuju rumah Bu Yati. Di tangan Bu Tini, ada sebuah kantong plastik hitam yang dipegangnya erat-erat. Kantong itu berisi bukti paling penting hari ini: sandal jepit karet warna hijau milik Kang Bagong yang tertinggal di kebun pisang semalam. Jantungku berdebar agak cepat. Menghadapi Bu Yati butuh kesabaran ekstra. Wanita berbadan subur itu terkenal punya suara paling keras di desa kami. Kalau dia mengamuk, urusannya bisa panjang. Kami sampai di depan rumah Bu Yati. Bau harum bumbu semur daging langsung tercium dari arah dapur. Bu Yati rupanya sedang asyik memasak daging mahal hasil dari uang "kerja lembur" suaminya. "Bu Yati! Ada orang di rumah?" panggil Bu Tini dari depan pintu yang terbuka setengah. "Eh, Bu Tini, Neng Santi! Masuk, masuk! Kebetulan saya lagi masak semur daging. Nanti cicipi ya," sahut Bu Yati dari dapur. Ia keluar sambil mengelap tangannya dengan serbet.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.