LOGINMenikah dengan lima pria dengan begitu sang ayah akan memberikan posisi Presiden Direktur Chevalier Inc. yang sudah lama diinginkan oleh Aquene. Jelas itu ide yang gila terutama lima pria yang akan dinikahi oleh Quen membuat wanita itu semakin gila. 1.Ace Maverick, anggota Boyband Blade Storm yang super mesum. 2.Levin Godfrey, CEO perusahaan game Cogent yang sangat aneh. 3.Vinson Beardsley, Insinyur luar angkasa NASA yang sedingin Nebula. 4.Owen Delwyn, angota kepolisian New York yang sangat bar-bar. 5.Zane Walford, direktur galeri seni Sotheby's bermulut pedas. Bagaimana kehidupan pernikahan Quen bersama kelima suaminya yang tidak normal ini?
View More“Lantai ini harus cukup bersih sampai kau bisa melihat bayangan wajah menjijikkanmu di sana, Revana.”
Revana Jovanka, gadis cantik berusia 24 tahun itu kini tengah bersimpuh dengan lutut gemetar.
Baru seminggu yang lalu dia berdiri tegak dengan toga wisudanya sambil memegang ijazah sarjana dengan mimpi setinggi langit.
Kini, mimpi itu runtuh. Sebagai ganti nyawa Carlo Leonardo yang tewas dalam kecelakaan sabotase yang didalangi ayahnya, Revana harus menanggalkan harga dirinya.
Seragam pelayan yang dikenakannya terasa terlalu tipis, kasar, dan menghina, potongan kain abu-abu kusam yang menandakan kasta terendahnya di rumah ini.
Damian Leonardo berdiri di hadapannya, menjulang seperti malaikat maut dengan setelan jas seharga ribuan dolar. Sepatu pantofelnya yang mengkilap menginjak ujung jemari Revana yang sedang memegang kain pel.
“Kau dengar aku, Revana?” Damian menekan sepatunya hingga membuat Revana meringis tertahan.
“D-dengar, Tuan Damian,” bisik Revana parau. Matanya yang sembap menatap lantai karena tak berani mendongak.
“Bicara lebih keras! Di mana harga diri putri tangan kanan ayahku yang hebat itu?” Damian menjambak rambut Revana dan memaksa gadis itu mendongak hingga lehernya terasa ingin patah.
“Ayahmu membunuh ayahku. Dia mengkhianati kepercayaan keluarga ini demi tumpukan uang Moretti. Dan sekarang, kau adalah cicilan pertama dari utang itu.”
“Ayahku tidak mungkin melakukan itu,” rintih Revana. Air mata jatuh melewati pipinya yang memar. “Dia sangat setia pada Tuan Carlo. Dan Anda pun tahu itu, Tuan Damian.”
Pria berusia 34 tahun itu menyunggingkan senyum sinis lalu menekan bahu Revana dengan keras hingga membuat Revana meringis kesakitan.
“Aturan pertama di rumah ini,” Damian membungkuk dan membisikkan kata-katanya tepat di telinga Revana yang berdenging.
“Kau tidak punya hak untuk membela pengkhianat. Kau tidak punya hak untuk bicara kecuali aku memerintahkannya. Jika kau membuka mulutmu lagi tanpa izin, aku akan memastikan adik SMA-mu, Arkan, tidak akan pernah sampai ke sekolahnya besok pagi.”
Revana tersedak isak tangisnya sendiri. Nama adiknya adalah rantai yang mengunci seluruh keberaniannya. Dia tahu Damian tidak main-main. Keluarga Leonardo menguasai polisi, pelabuhan, dan nyawa di kota ini.
“Maafkan aku, Tuan,” bisik Revana dan tubuhnya gemetar hebat. “Aku akan bekerja sebaik mungkin di rumah ini.”
Damian berdiri tegak lalu merapikan jasnya dengan gestur yang sangat tenang, seolah dia tidak baru saja menyiksa seorang wanita.
“Bagus. Habiskan sisa malam ini dengan membersihkan seluruh koridor sayap barat. Jangan berani-berani tidur sebelum semuanya selesai!”
Langkah kaki berat Damian mulai menjauh, namun suara langkah kaki lain terdengar mendekat. Terlalu santai, tidak seperti langkah Damian yang begitu tegas dan menakutkan.
“Wah, wah. Jadi ini 'pembayar utang' yang kau bicarakan, Damian?”
Sebuah suara yang lebih ringan dan bernada ceria terdengar. Revana tetap menunduk, namun dia bisa melihat sepasang sepatu sneakers mahal berhenti di depannya.
Itu Raphael, si bungsu berdiri dengan tangan terlipat di dada, tengah menatapnya dengan ekspresi yang lebih ceria dibanding Damian.
“Namanya Revana, kan? Cantik juga,” Raphael berjongkok di depan Revana bahkan dia mengabaikan tatapan tajam Damian.
Dia lalu mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh dagu Revana yang kotor. “Hei, manis. Jangan menangis begitu, nanti matamu yang indah jadi bengkak.”
“Jauhkan tanganmu darinya, Raphael,” geram Damian dari kejauhan.
Raphael sontak tertawa kecil, suara tawanya terasa seperti musik yang salah di tempat yang salah.
“Ayolah, Damian. Dia pelayan baru kita, kan? Aku hanya ingin menyapa mainan baru di mansion ini. Siapa tahu dia lebih asyik diajak bicara daripada patung-patung di lorong ini.”
“Dia bukan mainan, Raphael,” ucap Damian dengan nada rendah dan tenang. “Dia adalah peringatan. Peringatan tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang mencoba menusuk punggung Leonardo.”
Damian kembali mendekat satu langkah hingga bayangannya menutupi tubuh mungil Revana. “Bersihkan noda-noda sisa kopi itu dari lantai sampai bersih, Revana.”
Revana hanya bisa mengangguk pelan, jemarinya yang gemetar kembali memeras kain pel di ember yang airnya sudah mulai kotor akibat noda kopi yang tumpah di ruang tengah itu.
Damian kemudian berjalan ke arah adik bungsunya, matanya menyipit tidak suka melihat perhatian yang adik bungsunya itu berikan pada Revana. Dia kemudian mencengkeram bahu Raphael dan menariknya menjauh.
“Jangan pernah menganggapnya lebih dari sampah, Raphael,” tegas Damian dengan nada memerintah.
“Dia ada di sini bukan untuk menghiburmu. Dia adalah anak dari pria yang membuat ayah kita terkubur di bawah tanah. Dia pelayan rendahan yang menanggung dosa ayahnya. Perlakukan dia sebagaimana mestinya seorang budak.”
Raphael mengangkat bahunya dan memberikan kedipan mata sekilas pada Revana saat Damian berbalik.
Raphael kemudian melangkah mendekati Revana dan menatapnya dengan tatapan lekatnya. Tangannya terulur pada pucuk kepala Revana dan mengusapnya seperti peliharaan baru di rumah itu.
“Tentu, Bos. Tapi budak pun perlu diberi makan, kan? Kalau dia mati kelaparan, siapa yang akan membersihkan sepatuku?”
“Dia akan makan jika pekerjaannya selesai. Dan sejauh ini, aku belum melihat lantai ini mengkilap,” potong Damian dingin.
Damian kemudian menatap Revana untuk terakhir kalinya malam itu. “Ingat, Revana. Setiap tetes keringatmu adalah penebusan. Jangan coba-coba melarikan diri, atau kau akan menerima potongan tubuh adikmu di depan pintu kamar pelayanmu!”
Brandon berdecak takjub melihat berbagai wahana besar dengan lampu kelap-kelip yang memeriahkan suasana. Orang-orang berlalu lalang dengan wajah ceria, berteriak histeris saat menaiki wahana ekstrem, dan tampak senang melihat beberapa atraksi. Benar, setelah beberapa waktu tadi ia dan Levin melihat anak-anak bermain di taman bermain, kini mereka berdua pergi ke sebuah taman hiburan terbesar, Coney Island."Kenapa harus tempat ini? Apakah ada sesuatu yang khusus?" tanya Levin, melirik pada ayah mertuanya.Brandon tersenyum tipis. Matanya terlihat memancarkan sesuatu yang tak bisa diartikan saat melihat seorang anak kecil bergandengan tangan bersama dengan ayah dan ibunya, sementara tangannya memegang permen loli besar. Brandon jadi ingat cita-cita sederhana Quen dulu."Karena Quen pernah merajuk sampai menangis karena ingin pergi ke tempat ini, Levin," pungkas Brandon pelan. Wajahnya menengadah, menatap ke atas, pada wahana bianglala yang berputar dengan kecepatan konstan lalu pada rol
Taman bermain terlihat tidak begitu ramai karena ini adalah hari kerja. Hanya terlihat beberapa orang anak yang tampak main ditemani oleh orang tua atau pengasuhnya di sana. Ada yang duduk di atas ayunan, ada yang ceria menaiki perosotan, ada pula yang begitu bahagia bermain bola di dalam kolam khusus yang diisi oleh bola kecil berwarna-warni.Levin berjalan bersama Brandon di tempat tersebut usai turun dari mobil beberapa saat lalu. Keduanya beriringan dan lalu duduk di sebuah kursi panjang di depan wahana bermain tersebut, di depan sebuah jungkat-jungkit yang tidak ada seorang pun anak yang bermain di sana. Taman bermain itu memang cukup luas dan lengkap."Kenapa Papa ingin ke taman?" tanya Levin, seraya menyodorkan minuman ringan yang sebelumnya mereka beli di jalan.Benar, hari ini adalah giliran Levin yang menemani Brandon untuk menghabiskan waktu bersama. Dan Brandon secara tiba-tiba mengatakan ingin pergi ke sebuah taman bermain yang lengkap di kota. Meski terdengar agak aneh,
Quen masih tak habis pikir dengan pengakuan yang Owen berikan padanya tadi. Bagaimana bisa pria dewasa seperti Owen, yang gagah, memiliki rupa yang sama sekali tidak berada di bawah rata-rata, juga penampilan yang sebenarnya cukup menarik, tidak pernah bercinta sekali pun? Oh, ayolah! Setidaknya jika dia tidak memiliki waktu untuk berkencan, bukankah dia memiliki waktu sedikit saja untuk pergi ke tempat hiburan dan melakukan one night stand dengan wanita-wanita cantik yang haus akan belaian?"Kamu bukan biksu, kan?" tanya Quen, menatap Owen dengan nanar.Owen yang saat ini sudah berlutut di lantai, di sisi ranjang yang ditempati oleh Quen, menggeleng pelan. Dia seperti terdakwa yang hendak dihukum oleh Ratu. Apalagi dengan ekspresi wajahnya yang terasa begitu menghayati peran."Lalu bagaimana bisa ...." Quen kehabisan kata untuk Owen.Wanita itu lalu menggeleng pelan dan kembali memusatkan atensi pada Owen dengan tatapan yang begitu nyalang, seolah dia sadar bahwa ada hal lain yang le
Quen baru saja membersihkan diri usai pulang dari makan malam mereka yang diadakan di luar rumah. Dia begitu begah usai menghabiskan berbagai makanan di restoran tadi. Membuat dirinya juga ikut mengantuk.Quen melihat Owen sudah berbaring setengah duduk di atas ranjang. Pria itu menyadari kehadiran Quen dan menepuk sisi ranjang di sebelahnya, memberi isyarat agar Quen datang dan duduk di sisinya.Quen pun dengan segera menghampiri pria tersebut dan ikut berbaring di sisinya. Keduanya berbagi selimut yang sama di sana untuk menutupi kaki sampai pinggang mereka berdua."Kamu tidak mengantuk?" tanya Owen, melirik Quen. Owen tahu seharian ini pasti melelahkan bagi Quen karena dia harus bekerja dengan keras di kantor, makan malam di luar dengan kelima suaminya, kemudian melakukan perjalanan pulang yang cukup alot karena terjadi kemacetan sebab terjadi kecelakaan di jalur menuju rumah mereka tadi."Sedikit, tetapi belum cukup untuk membuatku bisa segera tertidur," jawab Quen pelan.Owen me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.